Di Tepi Kali Gusur

ilustrasi

 Oleh: Jumardi Putra*

Tiga tahun menetap di sebuah rumah semipermanen Kampung Maju Sentosa, Yogyakarta, saya tak pernah sempat menyentuh sudut itu. Di balik pintu kayu yang mulai lapuk, tumpukan arsip dan kliping koran menggunung hingga hampir menyentuh langit-langit. Dindingnya diselimuti sarang laba-laba, berbau lembap, dan dipenuhi kotoran tikus.

Hari Minggu itu, niat saya sederhana: membersihkan gudang yang bersebelahan dengan kamar tidurku. Namun, saat pintu dibuka, puluhan tikus berlarian terbirit-birit. Tumpukan kertas yang saya kumpulkan sejak awal kuliah di Yogyakarta ternyata telah berubah menjadi sarang empuk bagi mereka.

Di bagian paling bawah, terhimpit dan hampir hancur, saya menemukan sebuah bundel berbungkus plastik kusam. Kertasnya menguning, pinggirannya rontok dimakan usia. Dengan hati-hati saya menariknya. Ternyata, itu adalah kumpulan liputan media nasional tentang penggusuran warga di pinggiran Kali Gajah Wong beberapa tahun silam.

Niat membersihkan gudang mendadak sirna. Saya mengunci pintu, lalu berjalan menuju warung burjo langganan di ujung gang.

Ditemani secangkir kopi hitam yang mulai dingin, saya membalik lembar demi lembar berita kusam itu. Ingatan saya langsung melayang ke masa lalu. Tulisan-tulisan itu merekam jeritan kaum miskin kota—mereka yang hidupnya selalu dibayangi ketakutan akan alat berat. Di mata pemerintah yang memburu predikat kota bersih dan rapi, keberadaan mereka dianggap sebagai aib pembangunan.

Padahal, di tepi Kali Gajah Wong yang kumuh itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana kemanusiaan dirawat. Mereka yang tidak punya apa-apa justru saling menjaga, bertahan hidup di tengah kemelaratan, seraya menyisipkan harapan sederhana agar nasib anak-anak mereka kelak tak serupa.

"Sesuai UUD 1945, kapan rakyat miskin benar-benar mendapatkan haknya?" batinku. "Ah, lamunan yang terlalu indah."

Dua hari kemudian, bayangan dalam kliping itu menjelma kenyataan yang mengerikan.

Hanya berjarak 10 kilometer dari Kali Gajah Wong, penggusuran melanda kawasan Kali Gajah Mungkur. Saya datang ke lokasi dan menyaksikan tiga ekskavator raksasa menghancurkan rumah-rumah warga tanpa ampun. Tangis histeris membumbung ke udara. Seorang ibu paruh baya, dengan napas tersengal dan mata memerah, nekat membuka bajunya di depan aparat demi mempertahankan tempat tinggalnya. Ia berteriak histeris, namun suaranya telan utuh oleh deru mesin alat berat yang terus merobohkan kenangan.

Dada saya sesak. Namun, tragedi tak berhenti sebagai tontonan.

Dua hari setelahnya, nasib itu sampai di depan pintu rumah saya sendiri. Tepat setengah jam sebelum mesin pembongkar menggeram di ujung gang Kampung Maju Sentosa, sebuah surat pemberitahuan mendadak disodorkan. Kawasan kami akan diratakan untuk perumahan elite.

Seketika, riuh kepanikan pecah. Saya berdiri terpaku di depan rumah, memandangi tetangga-tetangga yang berlarian menyelamatkan harta benda seadanya. Mbah Sanusi, sesepuh kampung yang paling lama menetap di sana, duduk bersandar di tiang kayu rumahnya yang ringkih dengan tatapan kosong. Dulu beliau selalu berseloroh bahwa Indonesia adalah bagian dari Desa Maju Sentosa. Hari ini, tanah yang diijaknya tak lagi menyisa ruang untuknya.

"Nestapa hidup di negeri ini," gumam saya lirih, menatap surat di tangan. Ke mana para wakil rakyat yang dulu mengemis suara kami?

Ternyata, kemiskinan membuat orang tak memiliki banyak pilihan selain pergi. Hari itu, saya mengemas barang seadanya saat ekskavator mulai menghantam dinding kamar saya.

Sejak saat itu, saya menyadari satu hal: bagi kaum miskin kota, negeri ini hanyalah lautan penggusuran tempat kami bergantian menunggu giliran untuk disingkirkan.

Sesampainya di tempat pengungsian sementara, saya membuka tas dan memandangi bundel arsip koran Kali Gajah Wong yang sempat saya selamatkan. Dengan tangan gemetar, saya melempar seluruh lembaran kertas kusam itu ke dalam tong sampah. Untuk apa merawat arsip tentang penggusuran orang lain, jika pada akhirnya diri sendiri hanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang digusur?

 

*Yogyakarta, 2009.

Posting Komentar

0 Komentar