Sepotong Kisah Pak Bitran di Jalan Veteran Raya


Penulis bersama Pak Bitran (22/10/20)

Oleh: Jumardi Putra*

Langit Jakarta menyeruak cerah. Dari arah Tugu Tani saya menuju Jalan Veteran Raya  menggunakan Go-car. Setiba di kawasan perkantoran Kementerian Dalam Negeri RI, saya singgah sejenak di lapak buku milik pak Bitran, tepat di pojok kanan halaman depan rumah makan Padang Veteran Siang Malam (VSM), tempat hari-hari ia menumpang tinggal sekaligus berjualan.

Pak Bitran, begitu ia biasa disapa, tengah menjajaki buku-buku miliknya ke setiap pengunjung rumah makan atau sesiapa saja yang melewati rumah makan tersebut. Sepemantauan saya saat itu tidak ada satu pun pengunjung yang membeli dagangannya.

“Berat berdagang buku sekarang Mas, lebih-lebih dalam situasi wabah korona. Mungkin orang-orang khawatir menyentuh buku bisa jadi terkena virus mematikan itu,” imbuhnya.

“Benarkah begitu,” balas saya meragukan.

“Bisa jadi, Mas, lah uang kertas harus disemprot disinsfektan bila terpaksa orang menggunakannya,” balasnya seolah berkelakar.

Saya pun dibuat senyum oleh pak Bitran, meski dalam hati saya terbesit rasa iba pada pria berusia 59 tahun ini. Apatahlagi sejak korona melanda Ibukota penghasilannya tidak menentu. Bahkan pernah hari-hari dagangannya tidak laku.    

Agaknya saya keliru. Rasa iba yang menyembul di hati saya sejatinya tidak berlaku pada seorang pak Bitran. Ia tahu kehidupannya sungguh sulit, tetapi ia tidak mau dikasihani. Ia tetap seperti biasa, selain menjual buku, ia juga tukang parkir paroh waktu. Dua jenis pekerjaan inilah yang menghidupi dirinya selama mengadu nasib di Ibukota.

Saya mengajak beliau makan siang bersama, tapi dengan lembut pak Bitran menolaknya. Saya pun mengurungkan niat makan dan melanjutkan percakapan bersama bapak tiga anak ini.   

Diakui pria murah senyum ini, profesi berjualan buku ia mulai sedari tahun 1984 di kota Solo, Jawa Tengah. Kali pertama ia berdagang koran dan berlanjut buku serta majalah dan tabloid. Profesi tersebut ia jalani hingga tahun 1999. Dan tahun 1999 ia memutuskan merantau ke Ibukota dengan menjalani profesi yang sama.

***

Hari itu pak Bitran menggunakan baju kemeja merah, bercelana panjang hitam dan memakai peci merah plus garis putih melingkar. Postur tubuhnya tidak begitu tinggi dan sosoknya mudah ditandai di antara lalu lalang pengunjung rumah makan itu. 

Koleksi dagangan buku dan majalah milik Pak Bitran berkisar soal politik, hukum, agama, otomotif dan pendidikan anak-anak.  Memang, kudapati sebagian dari koleksi jualannya adalah buku bajakan, untuk menyebut contoh, seperti roman Arus Balik dan tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer; Dari Penjara ke Penjara, Madilog, Merdeka 100%, yang ketiganya adalah karya ideolog Tan Malaka; Kumpulan Pidato Soekarno, Biografi Seokarno, buku-buku motivasi, dan beberapa novel Tere Liye. Tetapi umumnya yang lain orisinil.

Selama pagebluk korona, pendapatan pak Bitran menurun tajam. Yang dialami pak Bitran rasanya umum menimpa para pekerja sektor informal. Mereka hanya hidup dari penghasilan harian.

“Selama Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta, bagaimana dagangan bapak,” Tanya saya.

“Omset menurun drastis. Lapak buku saya tutup. Rumah Makan di sini juga ikut tutup,” jawabnya.

“Apa yang bapak lakukan ketika lapak tutup,” kilah saya.

“Saya mencari sumber penghasilan harian lainnya,” timpalnya.

“Apakah itu cukup menghidupi bapak selama di Jakarta,” sambung saya.

“Alhamdulilah masih cukup untuk makan. Tetapi saya sempat pulang kampung jelang lebaran,” ungkapnya.

Ia pun menuturkan bahwa hidupnya di Ibukota sangat terbantu oleh kedermawanan pemilik rumah makan dimana ia sehari-hari tinggal. Meski sudah lima kali berpindah lokasi sejak 1999 sampai sekarang, ia masih diperkenankan mengikuti pemiliknya. Ia membuka lapak buku dan tinggal bersama para pekerja di rumah makan tersebut secara cuma-cuma.

“Saya betul-betul terbantu atas kebaikan pemilik rumah makan ini. Bahkan saya juga diperkenankan makan di sini, tetapi saya tahu diri, sehingga untuk makan saya mesti bayar sendiri,” akunya.

Lapak buku milik pak Bitran

Selama pagebluk korona, pak Bitran tidak lagi menambah koleksi buku dagangannya. Ia hanya menjual yang sudah ada di lapak buku miliknya, yang ia beli jauh sebelum korona melanda.

Ia menyadari bahwa menambah koleksi buku atau majalah sekarang ini beresiko. Ambil misal, lanjut pak Bitran, menjual Majalah sekelas Tempo pun sepi pembeli.  Persoalan lain yang dialami pak Bitran adalah tidak bisa menjual majalah atau buku-buku terbaru bila tidak membelinya dengan cara dibayar di muka. Artinya, laku atau tidak majalah maupun buku-buku tersebut sepenuhnya ditanggung oleh Pak Bitran. (baca: Sepotong Kisah Mas Rudin di Pasar Kenari). Kondisi ini umum dirasakan oleh padagang buku di tanah air sekarang. 

“Berbeda dengan dahulu, dimana kita bisa bekerjasama dengan penerbit atau toko buku besar dalam bentuk bagi hasil setelah penjualan,” kenangnya.

Mengetahui situasi sulit plus kenyataan bahwa membeli buku bukanlah prioritas utama warga Indonesia, saya memberanikan bertanya, “Sampai kapan bapak memilih berjualan buku?”

“Saya hanya tamat Sekolah Dasar, Mas. Profesi yang mampu saya lakukan sejauh ini adalah berjualan buku. Dan itu sudah cukup buat saya,”  kilahnya dengan suara pelan.

“Adakah terpikir memilih profesi lain, pak?” sambung saya.

“Iya mas, Jika memang profesi ini betul-betul tidak bisa lagi diharapkan, saya akan pulang kampung. Saya akan bertani,” jawabnya.

Pak Bitran dan dagangan buku miliknya

***

Sepanjang obrolan bersama pak Bitran, ia tidak menampik kehidupannya berada dalam kesulitan. Lebih-lebih hidup di Jakarta. Tetapi kesulitan tak membuatnya mengeluh berlebihan, apatahlagi mengemis. Ia berulangkali mengatakan kepada saya, dan saya menyadari bahwa itu tidak dimaksudkannya kehendak menggurui, melainkan bahwa hidup sederhana membuatnya tak murka, apatahlagi menyalahkan Tuhan.

“Alhamdulillah, Mas, sejauh ini saya masih bisa bertahan, dan meski tak banyak penghasilan, masih bisa menghidupi istri dan anak di kampung halaman,” tuturnya.

“Iya pak, semoga jenengan terus sehat,” balas saya.

Sejak memilih merantau ke Jakarta Pak Bitran berhadapan dengan kehidupan yang serba tergesa. Menurutnya, orang-orang mesti keluar rumah dini pagi dan bekerja hingga larut malam. Tak pandang siang maupun malam. Uang segalanya di Ibukota ini. Jika tidak demikian, siap-siap terpinggirkan.

Mendengar pandangan sekaligus otokritik semacam itu saya memilih diam sembari mendengar pak Bitran mengungkapkannya dengan leluasa.

Ia melanjutkan, hidup di Ibukota membuat orang tak punya waktu leluasa untuk bercengkrama satu sama lain. Sulit rasanya orang sekarang mencari sesuatu yang bukan melulu uang, yaitu kebersamaan dan rasa persaudaraan, senasib dan sepenanggungan.  Situasi di Ibukota sekarang ini, lanjut pak Bitran, berbanding terbalik dengan orang-orang di kampung halamannya di Solo. Umumnya mereka di kampung masih bisa hidup santai. Bila hujan maka istirahat. Tak perlu tergesa-gesa. Tak perlu ngoyo. Kalau ada tetangga ditimpa kesulitan maka orang sekampung ikut memikirkan. Demikian  panjang lebar pak Bitran menuturkan kepada saya.

Mendengar langsung pengakuan sekaligus pandangan pak Bitran tentang kesulitan hidup yang melilitnya mengingatkan saya pada sebuah esai budayawan Mohammad Sobary berjudul Kang Sejo Melihat Tuhan (Majalah Tempo, 12 Januari 1991).  Pada esai itu, kang Sobary menunjukkan ketauhidan sekaligus sikap hidup tak putus asa kang Sejo, lelaki tunanetra yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijit. Kang Sejo, dalam hidupnya yang serba terbatas, dihimpit pelbagai cobaan, tidak lantas membuatnya lupa akan Tuhan, dan justru dirinya mensyukuri nikmat rizki yang didapatkan. Dalam hidupnya, Kang Sejo tiada henti mewiridkan penggalan ayat kursi “Ya Hayyu, Ya Qayyuum”. Ia sebegitu yakin, apapun jenis cobaan yang menimpa dirinya, bahwa Tuhan tidak tidur. Gusti Ora Sare!  

Bagi Kang Sobary, kang Sejo, ibarat berjalan ia sudah sampai. Dalam kegalapan matanya ia justru sudah melihat  Tuhannya.  Sementara aku (Sobary) dan bisa jadi orang-orang yang hidup berlebihan secara ekonomi, pandai tentang agama, dan bahkan mabuk terhadap yang serba ke Arab-araban, justru masih dalam taraf terpesona. Terus menerus.

Sebagaimana kang Sejo, agaknya dalam wujud yang berbeda, tetapi masih dalam satu tarikan nafas yang sama, Pak Bitran juga yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tidak tidur. Gusti Ora Sare. Tuhan mendengar doanya yang saban waktu ia panjatkan.

***

Kami pun berpisah. Saya kembali melanjutkan pekerjaan. Sementara Pak Bitran masih bersama tumpukan buku di tangannya. 

*Kota Jambi, 22 November 2020.  

0 Komentar