Gus Dur, Santri Par Exellence

 

Gus Dur di waktu muda

Oleh: Jumardi Putra*

Gus Dur, sosok yang kerap melontarkan ungkapan “Gitu Aja Kok Repot” ini kerap disematkan sebagai santri neo modernis par excellence. Sebutan demikian rasanya tak berlebihan bila melacak sepak terjang maupun pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid hingga ia mendapat legitimasi menahkodai organisasi kegamaan terbesar di republik ini, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan puncaknya menjadi presiden Indonesia ke-4.

Meski tumbuh dari kalangan Islam tradisional, Gus Dur yang memiliki nama kecil Abdurrahman Ad-Dakhil (sang Penakluk) ini adalah pribadi berpikiran maju, yang berhasil membangun hubungan kesetaraan dengan kalangan lintas iman, budaya dan negara. Sikap kosmopolit Gus Dur tentu saja berkat tempaan dimulai sejak dirinya nyantri di berbagai pesantren besar di Jawa, pengalaman belajar di Mesir, Irak, Eropa dan Kanada. 

Selain sejak kecil dikarunai kesempatan berjumpa tokoh dari pelbagai ideologi pemikiran sezaman ayahnya, K.H. Wahid Hasyim, Gus Dur sejak remaja sudah melahap karya-karya bereputasi internasional, untuk menyebut contoh, seperti buku Das Kapital mahakarya Karl Marx , filsafat Plato, Thalles, Aera Eropa karya J.M. Romein, The Moral Economy of Peasant karya James C. Scott, dan novel-novel karya Ernest Hemingway, John Steinbach serta William Faulkner.

Saya pertama kali berjumpa Gus Dur pada tahun 2000an saat nyantri di pesantren Tebuireng di bawah asuhan K.H. Yusuf Hasyim, anak bungsu dari Hadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari. Gus Dur, di sela kunjungan kerjanya sebagai presiden di provinsi Jawa Timur, kerap ziarah malam hari ke makam K.H. Hasyim Asya’ri, tak lain kakeknya sendiri, dan tentu juga ayah-ibunya yaitu K.H. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah.

Galibnya santri, melihat Gus Dur saat itu tak lain menaruh hormat terhadap Kiai atau keluarga ulama. Barulah kemudian saya membaca tulisan-tulisan Gus Dur di media cetak baik koran maupun majalah di perpustakaan Tebuireng. Hanya saja ketika itu koleksi tulisan-tulisan Gus Dur terbatas, tidak seperti sekarang yang mudah kita jumpai di linimaya. Alhamdulillah hingga sekarang saya berusaha mengoleksi dan membaca buku-buku Gus Dur maupun buku yang mengkaji pemikiran Gus Dur lebih dari 35 eksemplar, tidak terkecuali buku yang sempat ramai dibicarakan setahun lalu yaitu Menjerat Gus Dur karya Virdika Rizky Utama (NUmedia Digital Indonesia, 2019), yang berhasil menyingkap tabir gelap skenario melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan 19 tahun yang lalu.

Laiknya Bung Karno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka, untuk menyebut contoh, Gus Dur adalah seorang intelektual publik yang banyak menuliskan pemikirannya di koran, makalah seminar, dan buku. Kolom-kolomnya di media cetak yang dimulai sejak medio 1970an menyentuh hampir semua aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, kiai dan pesantren, sastra dan musik, perkembangan politik internasional sampai urusan sepak bola, dan satu lagi Gus Dur piawai mengetengahkan humor di berbagai forum dan kesempatan (baca juga pengantarnya untuk Buku Mati Ketawa Ala Rusia, terjemahan dari buku aslinya, Russia Dies Laughing, tahun 1986). Soal yang terakhir ini, humor bagi Gus Dur, selain untuk menertawakan diri sendiri (agar orang tidak terlalu tegang dan penuh sentimen), juga otokritik  terhadap situasi sosial maupun ketidakberesan rezim kekuasaan. Keduanya tak lain jalan kultural yang dewasa ini justru berada dalam kedaruratan.

Di luar kafasitasnya sebagai presiden, dengan masa jabatan yang tergolong sebentar (1999-2001), menempatkan Gus Dur sebagai intelektual publik sekaligus tokoh prodemokrasi membawa kita pada pemahaman yang proporsional di tengah pelbagai kontroversi yang muncul merespon gagasan atau pernyataan dari penyuka novel “My Name Asher Lev” karya penulis Chaim Potok (1929-2003) ini. Tentu kita masih ingat, tulisan panjangnya berjudul “Pribumisasi Islam”, sebuah istilah yang amat maju pada zamannya  (dimuat dalam buku Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan, Depok: Desantara, 2001);  “Islam Kaset dengan Kebisingannya” (Tempo, 20 februari 1982); “Fatwa Natal: Ujung dan Pangkal” (Tempo, 30 Mei 1981); “Kasus Terjemahan H.B. Jassin (Tempo, 21 Agustus 1982);  dan “Tuhan Tidak Perlu Dibela” (Tempo, 26 Juni 1982); untuk menyebut contoh dari banyak gagasan lainnya yang telah memantik para intelektual Islam menanggapinya.  

Begitu juga di luar soal pemikiran, pernyataan tanpa tedeng aling-aling Gus Dur menyikapi situasi politik tanah air baik sebelum maupun pascareformasi kerap menjadikannya sebagai “News Maker”. Tak syak, bila Gus Dur menjadi pusat perhatian jurnalis baik lokal, nasional maupun internasional.  Barangkali buku berjudul Jurus Dewa Mabuk Ala Gus Dur: Kumpulan Rekam Jejak K.H. Abdurrahman Wahid di Media Massa, yang disusun M. Rafiq Madji, terbitan Pustaka Tebuireng tahun 2012, dan buku berjudul Gus Dur di Istana Rakyat: catatan tahun pertama yang ditulis Hendra Lesmana, dkk, dengan editor Mohammad Sobary (LKBN Antara & Bright Communication, 2000), menjadi salah dua rujukan penting untuk memahami jejak langkah Kiai karismatik dan humoris ini.

Setakat hal itu, memosisikan Gus Dur sebagai pemikir dan pemimpin Islam dalam majelis keilmuan (untuk menyebut tukar-pikiran), sehingga baik yang bersetuju maupun sebaliknya dapat dibaca secara seksama oleh publik, apalagi dibukukan, jelas akan mengembalikan elan kebebasan dalam dunia pemikiran dengan tradisi panjangnya maupun mekanisme pertanggungjawaban sebuah pemikiran yang tidak semata didasarkan pada prasangka, asumsi, rasa tidak suka (dislike), serba pokoke dan cocokologi. Kultur tabayyun demikian yang mesti kita pupuk sungguh-sungguh sekarang, meski kita menyadari di era disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, ekonomi yang naik turun, seolah menjadikannya suatu hal yang mustahal, lebih-lebih saat ujaran kebencian dan hoax terus menggerogoti akal sehat dan hati nurani.

Sebagai contoh mekanisme tabayyun itu dapat kita baca dalam buku berjudul “Kiai Menggugat, Gus Dur Menjawab (Ircisod, Oktober 2020), yang disusun oleh K.H. Husein Muhammad, yang pernah menjadi sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Jawa Barat tahun 1989. Dalam buku itu, pembaca dapat mengetahui bagaimana pandangan-pandangan, aktivitas dan langkah-langkah Gus Dur dibicarakan, dikaji dan diperdebatkan dengan hangat di hadapan sekitar 200-an Kiai. Gus Dur menjawab dengan elegan dan tentu saja disertai argumentasi, data, dan satu lagi yang menjadi kekhasan pria kelahiran 7 Septmber 1940 ini, yaitu humor. 

Saat yang sama para Kiai yang hadir dapat mengklarifikasi secara langsung terkait kegaduhan yang berkembang di media maupun di masyarakat seputar pemikiran maupun komentar Gus Dur, seperti pembelaannya terhadap Salman Rusdhie; penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan); Menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta (DKJ); Membuka “Malam Puisi” Yesus Kristus; Pembelaaannya terhadap kelompok minoritas; “Rukun Tetangga: mendampingi “Rukun Iman” dan “Rukun Islam”; dan lain-lain.

Islam dan Keindonesiaan

Membaca tulisan-tulisan Gus Dur maupun pandangan para cerdik-cendekia tentang sepak terjang maupun goresan pemikiran ketua PBNU yang terpilih pada Muktamar NU ke-27, bulan Desember 1984, di Situbundo, ini menunjukkan adanya dialektika terus menerus antara Islam, Indonesia dan Kemanusiaan. Ketiga hal demikian itu, dengan segala tarik-menariknya sepanjang sejarah, senantiasa dikontekstualisasikan Gus Dur hingga akhir hayatnya dengan tujuan agar Indonesia dan terutama umat Islam bisa berkontribusi bagi peradaban yang ditandai dengan pencapaian luar biasa di bidang teknologi, ekonomi-politik global dan ancaman ekslusivisme berbasis identitas agama dan kesukuan dengan memakai jubah populisme.   

Pandangan Gus Dur demikian kembali meyakinkan kita bahwa Indonesia adalah sebuah proyek bersama untuk masa depan. Indonesia yang menempatkan seluruh warganegara tanpa kecuali, saling menghormati dan tidak ada yang merasa paling berhak dari yang lain. Maka, tak heran keseriusan Gus Dur saat membela hak-hak warga minoritas maupun kaum mustadh’afin  di Indonesia tanpa dibedakan oleh agama, etnis, gender, dan kelas sosial. 

Sikap dan pandangan Gus Dur yang demikian dapat dimaknai sebagai perjuangan untuk kesetaraan warga negara yang telah digariskan oleh konstitusi sebagai pijakan sekaligus pegangan dalam berbangsa dan bernegara. Kebenaran agama dan hak kewargaan untuk beragama betul-betul diperlihatkan secara gamblang, dan tugas negara adalah menjamin hak kewargaan untuk beragama. Dan Gus Dur, dengan berpegang teguh pada konstitusi, sejauh ini adalah tokoh yang paling konsisten menunjukkan keberpihakannya.

Merujuk Suaedy, dalam bukunya, Gus Dur Islam Nusantara Dan Kewarganegaraan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua (Gramedia, 2018), yaitu sebagai sebuah “nation-state”, kewarganegaraan bisa dilihat dari dua sisi, “state” dan “nation” yang semestinya berjalan beriringan. Krisis kewarganegaraan acapkali muncul karena sisi kewarganegaraan yang melekat pada “nation” tidak mewujud, padahal aspek ini sangat menentukan untuk terciptanya sebuah sebuah perasaan sebangsa (nationhood). Dengan cara pandang seperti ini, Suaedy memandang bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Dur yaitu menitikberatkan perasaan sebangsa, kesetaraan dan penghormatan pada aspek-aspek sosial kultural sebuah masyarakat. Dengan demikian, pandangan sekaligus pendekatan penyelesaian semasa Gus Dur sebagai presiden terhadap masalah Aceh dan Papua, tak lain adalah model kepemimpinan yang berpegang teguh pada amanat konstitusi, bukan kebijakan yang lebih mementingkan status quo rezim kekuasaan.

Demikian secuil yang saya ketahui tentang Gus Dur melalui warisan pemikirannya. Sosok Kiai karismatik dan berani, pemikir yang menghadirkan Islam ke gelanggang pemikiran sehingga terhindar dari penyakit inferiority complex, dan tentu saja pribadi yang bersahaja. Saya sepakat yang dikatakan K.H. Husein Muhammad (prolog buku Kiai Menggugat, Gus Dur Menjawab, Ircisod, 2019), bahwa Gus Dur ibarat sebuah cermin banyak gambar. Ia memerlukan banyak sekat pemisah agar gambar yang terpantul tidak kabur. Lebih-lebih, jika dipandang dari jauh. Tapi, coba lihat dari dekat! Cermin dasarnya tetap utuh, satu dan tidak akan berubah. Cermin santri tulen.

Tidak terasa, sudah 11 tahun Gus Dur tutup usia (30 Desember 2009-30 Desember 2020), tapi tidak dengan pemiikiran maupun keteladanannya. Betapa orang-orang di negeri ini begitu merindukan sosoknya, terlebih di saat paham keagamaan yang ekslusif acapkali menjadi problem ketimbang solusi terhadap pelbagai masalah yang menimpa bangsa dan negara ini. Sebagai manusia biasa, tentu Gus Dur tak luput dari kesalahan. Karena itu, pada haul Gus Dur ke-11 ini, selain generasi muda perlu menziarahi pemikirannya, juga memanjatkan doa, semoga Allah SWT merahmati Gus Dur. Amin

*Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang-Jawa Timur.  Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Perspektif portal kajanglako.com: Gus Dur, Santri Par Exellence

0 Komentar