Lebaran Terakhir Datuk di Kampung Halaman

Cik Rah dan Datuk Zal di IGD RSUD Mattaher (6 Mei 2026)


Oleh: Jumardi Putra


Kita seringkali baru menghargai hidup justru saat hidup itu melambat hingga hampir berhenti.

 

"Datuk Zal sakit pagi ini, sekarang terbaring di IGD.” Suara Emak dari Dusun menginterupsi rutinitas saya melalui sambungan telepon. Beliau berpesan agar saya menjenguknya di RUSD Mattaher--di kota tempat saya tinggal. Meski mengiyakan, kaki saya tak bisa langsung melangkah ke rumah sakit plat merah itu, lantaran tertahan pekerjaan di waktu bersamaan yang tak mungkin ditinggalkan (6 Mei 2026).

Barulah selepas Maghrib, saya berangkat ke rumah sakit menggunakan motor, berjarak sekitar 15 menitan dari rumah. Rupanya, sejak pukul 09.30 pagi, Datuk masih tertahan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kendati telah ditangani dokter IGD, waktu seolah membeku di sana, dan saya tidak mengerti mengapa segalanya terasa begitu lambat sehingga Datuk belum dipindahkan ke kamar rawat sesuai penyakit yang dideritanya.

Memasuki ruang IGD, saya mendapati Cik Rah dan Cik Mis duduk di sisi Datuk, sementara Datuk Pen dan Randi berjaga bergantian di luar—tepat di depan pintu utama. Di ruang yang beraroma obat itu, kami larut dalam percakapan pelan tentang diagnosis dokter: Datuk terserang stroke. Kaki kanannya mendadak kehilangan kekuatan, bahkan sekadar menggerakkan tidak bisa (monoplegia). Kini, Datuk bertumpu sepenuhnya pada Cik Rah, sang istri, dan Randi, anak lelakinya yang terus mendampingi dengan setia. Sementara itu, Wia, putri sulungnya, masih berada di Tebo bersama keluarga kecilnya. Karena tinggal dan bekerja di Rimbo Bujang, ia baru bersiap menempuh perjalanan menuju Kota Jambi.

Hampir satu setengah jam di IGD, saya seolah menyaksikan sebuah teater "kekacauan" yang terorganisir. Galibnya IGD adalah panggung bagi rupa-rupa lara. Di sebelah Datuk, seorang lelaki etnis Tionghoa berjuang melawan gagal ginjal. Tak jauh dari sana, seorang perempuan paruh baya tampak terengah, meski selang oksigen terpasang di hidungnya.

Di IGD, waktu terasa paradoks. Di satu sisi, segalanya menuntut kecepatan—tangan perawat yang lincah, monitor yang berkedip gelisah, dan bau antiseptik yang menusuk tajam. Namun bagi kami yang menunggu, waktu justru membeku. Tirai coklat dan abu-abu di kiri dan kanan menyembunyikan drama hidup dan mati. Tidak ada kasta di ruang ini; semua tunduk pada hukum biologis yang sama. Harapan kini diukur dalam satuan mililiter, menetes selambat cairan infus yang jatuh satu demi satu.

Jarum jam mengarah ke angka 20.55 WIB, barulah petugas rumah sakit membawa Datuk menuju Unit Stroke. Perjalanan kami menyusuri koridor rumah sakit itu terasa seperti menyeberangi samudera tanpa tepian. Saya melihat beberapa pasien tua menyeret tiang infus dengan tatapan layu, dan kursi roda yang melintas membawa raga-raga pucat yang telah kehilangan cahaya.

Setibanya di Unit Stroke, suasana hening seketika. Berbeda dengan hiruk-pikuk IGD, ruangan ini menyambut dengan kesunyian yang berat. Tiba-tiba, slogan “Speed is part of my life” terasa hambar. Jika di luar rumah sakit orang-orang berlari mengejar tenggat dan produktivitas, di sini kita dipaksa duduk diam hanya untuk menunggu satu gerakan jari atau satu kedipan mata.

Di ruangan ini, tubuh-tubuh pasien tampak "terikat" oleh teknologi yang mengonversi nyawa menjadi data digital. Di dekat pasien, kulihat layar monitor berdenyut tanpa henti, menampilkan grafik gelombang warna-warni. Kabel-kabel elektroda merekam irama jantung, sementara sensor saturasi oksigen melingkar di ujung jari seperti cincin cahaya merah yang kecil namun krusial. Saya awam soal kesehatan, sehingga tak bisa menyebut detail setiap fungsi mesin-mesin di dekat pasien itu, yang bekerja menjaga keseimbangan pasien di tengah krisis.

Penulis baca buku di koridor RS

Pemandangan di ruangan ini menciptakan kesan yang ganjil: pasien tampak tenang seperti tidur lelap, namun di sekeliling mereka, mesin-mesin sedang bekerja dalam keriuhan yang amat sibuk. Tak ada satu pun pihak keluarga yang mendampingi pasien, karena sepenuhnya di bawah pengawasan ketat dokter dan perawat. Pihak keluarga masih diperbolehkan membesuk pada jam-jam tertentu, sesuai SOP khusus ruang unit stroke, yang berbeda dengan ruang perawatan lainnya.

Malam mulai larut. Jarum jam menunjukkan pukul 23.35 WIB. Saya memilih duduk di luar ruangan atau di tepi koridor, sambil membaca buku tipis kumpulan cerita pendek karya sastrawan Damhuri Muhammad berjudul Anak-anak Masa Lalu (Marjin Kiri, 2015) yang sengaja saya bawa dari rumah. Tidak ada ruang tunggu khusus bagi pihak keluarga pasien stroke di rumah sakit ini. Saya tidak sendirian, melainkan bersama pihak keluarga pasien lainnya. Sebagian dari mereka tidur lelap di tepi lantai koridor, ada juga yang menunaikan shalat serta bercakap-cakap sambil minum kopi. Waktu terus menggelinding, paroh malam terlewati dalam sunyi.

Di Unit Stroke, saya belajar tentang makna “lambat”. Berada di sini memberikan kejutan lain daripada yang lain tentang memaknai waktu. Apa pasal? Dunia luar menuntut kecepatan pada banyak fokus, sementara rumah sakit memaksa kita untuk single-focus hanya pada satu detak jantung, satu botol infus, dan satu harapan.

Suasana kontras ini menyadarkan saya betapa rapuhnya kecepatan yang selama ini kita banggakan. Kecepatan (dengan segala konsekuensinya) itu sering kali hanyalah cara kita lari dari kenyataan tentang kefanaan. Kurang lebih enam jam saya berada di rumah sakit ini, menyadari sebuah ironi yang indah sekaligus getir: kita kerapkali baru menghargai hidup justru saat hidup itu melambat hingga hampir berhenti.

Di tengah jalan pulang, berkelabat di pikiran saya bahwa hiruk-pikuk di luar rumah sakit adalah ilusi tentang keabadian—seolah kita punya waktu selamanya untuk menumpuk harta, lalu mengejar jabatan dan segala daya-upaya mewujudkan ambisi serta kepentingan lainnya. Sedangkan keheningan di Unit Stroke tadi menunjukkan kebenaran tentang kerapuhan. Pada akhirnya, mendampingi (temasuk membesuk) orang sakit boleh dikata cara semesta menarik rem darurat pada hidup kita. Ia seolah memaksa kita berhenti dari perburuan duniawi semata untuk sekadar menyentuh tangan orang yang kita cintai dan berbisik dalam hati: ternyata, hanya ini yang benar-benar nyata.

Datuk Zal Benar-benar Berpulang

Tiga hari setelah menjalani perawatan di RSUD Raden Mattaher, Datuk kembali ke rumahnya di kawasan Rawasari, tidak jauh dari Kompleks Makam China. Suasana hangat rumah sempat membasuh lelahnya. Namun, takdir memiliki rahasia yang tidak pernah kita duga. Esoknya, pada Minggu pagi yang tenang, sesak napas yang hebat tiba-tiba menyergapnya. Sekitar pukul 09.00 WIB, Datuk harus dilarikan kembali ke ruang IGD RSUD Raden Mattaher dalam kondisi kritis.

Upaya medis telah dikerahkan secara maksimal oleh tim dokter IGD. Namun, garis usia adalah hak prerogatif mutlak milik Allah SWT. Sekitar pukul 10 lewat sedikit, Datuk benar-benar mengembuskan napas terakhirnya. Saya sendiri tidak tahu persis menit ke berapa Datuk berpulang, karena kabar duka itu sampai ke saya dari Datuk Pen via telepon sekitar pukul 10.35 WIB. Di hari itu, 10 Mei 2026, Datuk benar-benar menyisir jalan pulang ke haribaan-Nya.

Seketika itu juga, runtuhlah pertahanan Cik Rah. Isak tangis istrinya pecah—begitu juga sanak saudara di dekatnya, berbaur dengan rasa tidak percaya yang teramat sangat atas kepergian Datuk yang begitu cepat. Kalimatnya terbata-bata, berulang kali mengenang bahwa pagi itu Datuk masih tampak bugar. Beliau bahkan sempat sarapan dan menikmati hangatnya mentari pagi di serambi depan rumah. Kendati kaki kanannya belum pulih benar akibat sakit, secara umum Datuk terlihat sehat. Di kepala Cik Rah, sudah tersusun rencana dan harapan untuk terus mendampingi Datuk berobat serta menjalani terapi di hari-hari berikutnya. Namun, ikhtiar manusia kini telah selesai; Allah telah menggenapkan ketetapan-Nya dalam usia genap 62 tahun (4 April 1964-10 Mei 2026).

Kepergian Datuk Zal—meski sempat didahului sakit selama empat hari terakhir, serta riwayat medis beberapa tahun lalu yang mengharuskannya berobat hingga ke Jakarta—tetaplah sebuah kehilangan yang mengejutkan. Badai duka itu datang terlalu cepat bagi Cik Rah, kedua anak, serta cucu-cucunya. Kehilangan yang sama juga dirasakan oleh kerabat dan tetangga. Doa-doa tulus dan ucapan belasungkawa segera mengalir deras, baik dari sanak keluarga, sejawat seprofesi semasa beliau mengabdi di RRI Jambi, hingga setiap orang yang pernah merasakan keramahannya. Sebagai seseorang yang pernah mencecap getirnya kehilangan—saat melepas kepergian Bapak sembilan tahun yang lalu dan Kakak Sulung dua puluh enam tahun yang lalu (bisa dibaca di link berikut ini: Akulah si Telaga: Berlayarlah di Atasnya)—saya sungguh memahami betapa sepi dan runtuhnya hati Cik Rah sekeluarga saat ini.

Di mata saya, Datuk Zal adalah personifikasi dari kehangatan: sosok yang selalu periang dan ramah. Salah satu ingatan yang paling lekat tentang beliau adalah kepiawaiannya sebagai pembawa acara ala-ala zaman keemasan radio bagi pendengar setianya. Dedikasinya yang panjang sebagai ASN di lingkungan RRI hingga masa pensiun telah menempa suaranya menjadi karib di telinga banyak orang. Maka, setiap kali Datuk didaulat menjadi pemandu acara keluarga—mulai dari memimpin yasinan hingga rangkaian resepsi pernikahan sanak famili—gayanya selalu khas. Beliau berbicara dengan artikulasi yang jelas, komunikatif, dan penuh keceriaan, persis seperti seorang penyiar yang sedang menyapa pendengarnya dari balik corong radio. Tentu tidak persis sama dan seriang kala di depan mikropon di ruang studio RRI.

Bukan sebuah kebetulan, pada Idul Fitri 1447 Hijriah (Maret 2026) kemarin, kami sama-sama merayakan hari kemenangan di kampung halaman tercinta: Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo—sebuah desa yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Kota Jambi, tempat kami sehari-hari bermastautin. Galibnya berjumpa, pria kelahiran 4 April 1964 ini kerap mengajak bertukar pikiran tentang isu-isu aktual yang sedang ramai di televisi, biasanya ia mengeluh melihat tingkah polah pejabat di negeri ini yang korup.

Momen Lebaran kemarin boleh dikata menjadi lembar kenangan yang indah bagi sebagian keluarga keturunan Haji M. Juni bin Ludin--Hj. Siti Noer binti Abdul Majid (kami biasa menyebut Nenek Ateh). Kami pergi beranjangsana, mengunjungi rumah-rumah sanak keluarga dari dusun hingga ke Bungo dan Rimbo Bujang, tepatnya di kediaman putri sulung Datuk Zal-Cik Rah, Wia dan Agus sekeluarga. Sepanjang perjumpaan itu, tak ada yang berubah dari Datuk Zal. Beliau tetaplah pria hangat yang saya kenal sejak lama. Siapa yang mengira, tawa di beranda rumah Wia di Rimbo Bujang waktu itu adalah salam pamit terselubung darinya. Tak dinyana, itulah lebaran terakhir kali Datuk Zal di hampung halaman orangtuanya.

Selamat jalan, Datuk Juprizal Bin Ghazali. Beristirahatlah dengan damai dan bahagia di sana. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Bagi kami yang ditinggalkan, kini membentang kewajiban untuk melanjutkan sisa usia yang dipinjamkan oleh Tuhan. Semoga kami kelak lulus merawat iman dan menjalani kehidupan ini, hingga tiba masanya ketetapan dari Allah Azza wa Jalla menjemput kami pulang. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. 


*Rabu, 6-10 Mei 2026.

*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

2) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

5) Ilusi "Yang Terhormat"

7) Besak Ota

8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah

10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri

11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan

12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

13) Menapak Senja di Ujung Jabung

14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

16) Langkah Kaki Haruki Murakami

18) Ketindihan Teknokratis

19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

21) Kegenitan Intelektual

22)Kemalasan Intelektual

23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

25) Menemukan Kembali "Ruh" Menjadi Dosen

Posting Komentar

0 Komentar