Di Balik Tirai IGD dan Ruang Unit Stroke


ilustrasi. dok. istimewa


Oleh: Jumardi Putra

 

Kita seringkali baru menghargai hidup justru saat hidup itu melambat hingga hampir berhenti.

 

"Datuk Zal sakit pagi ini, sekarang terbaring di IGD.” Suara Emak dari kampung memecah rutinitas saya melalui sambungan telepon. Beliau berpesan agar saya menjenguknya di sebuah rumah sakit pemerintah di kota tempat saya tinggal. Meski mengiyakan, kaki saya tak bisa langsung melangkah; lantaran tertahan pekerjaan di waktu bersamaan yang tak mungkin ditinggalkan.

Barulah selepas Maghrib, saya berangkat ke rumah sakit menggunakan motor, berjarak sekitar 15 menitan dari rumah. Rupanya, sejak pukul 09.30 pagi, Datuk masih tertahan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kendati telah ditangani dokter, waktu seolah membeku di sana, dan saya tidak mengerti mengapa segalanya terasa begitu lambat.

Memasuki ruang IGD, saya mendapati Cik Rah dan Cik Mis duduk di sisi Datuk, sementara Datuk Pen dan Randi bergilir menjaga di luar. Kami larut dalam percakapan tentang diagnosa penyakit yang menimpa datuk yaitu stroke. Kaki kanan Datuk mendadak lumpuh, kehilangan kekuatan untuk sekadar menopang raga, apalagi melangkah. Kini, Datuk bertumpu sepenuhnya pada Cik Rah—sang istri—dan Randi, anak lelakinya yang tak beranjak mendampingi.

Hampir satu setengah jam di IGD, saya seolah menyaksikan sebuah teater "kekacauan" yang terorganisir. Galibnya IGD adalah panggung bagi rupa-rupa lara. Di sebelah Datuk, seorang lelaki etnis Tionghoa berjuang melawan gagal ginjal. Tak jauh dari sana, seorang perempuan paruh baya tampak terengah, meski selang oksigen terpasang di hidungnya.

Di sini, waktu terasa paradoksal. Di satu sisi, segalanya menuntut kecepatan—tangan perawat yang lincah, monitor yang berkedip gelisah, dan bau antiseptik yang menusuk tajam. Namun bagi kami yang menunggu, waktu justru membeku. Tirai kuning bercampur abu-abu di kiri dan kanan menyembunyikan drama hidup dan mati. Tak ada kasta di ruang ini; semua tunduk pada hukum biologis yang sama. Harapan kini diukur dalam satuan mililiter, menetes selambat cairan infus yang jatuh satu demi satu.

Pukul 20.55 WIB, petugas akhirnya membawa Datuk menuju Unit Stroke. Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit itu terasa seperti menyeberangi samudera tanpa tepian. Saya melihat pasien-pasien tua menyeret tiang infus dengan tatapan layu, dan kursi roda yang melintas membawa raga-raga pucat yang telah kehilangan cahaya.

Setibanya di Unit Stroke, suasana hening seketika. Berbeda dengan hiruk-pikuk IGD, ruangan ini menyambut dengan kesunyian yang berat. Tiba-tiba, slogan “Speed is part of my life” terasa hambar. Jika di luar rumah sakit orang-orang berlari mengejar tenggat dan produktivitas, di sini kita dipaksa duduk diam hanya untuk menunggu satu gerakan jari atau satu kedipan mata.

Di ruangan ini, tubuh-tubuh pasien tampak "terikat" oleh teknologi yang mengonversi nyawa menjadi data digital. Di dekat pasien, kulihat layar monitor berdenyut tanpa henti, menampilkan grafik gelombang warna-warni. Kabel-kabel elektroda merekam irama jantung, sementara sensor saturasi oksigen melingkar di ujung jari seperti cincin cahaya merah yang kecil namun krusial. Saya awam soal kesehatan, sehingga tak bisa menyebut detail setiap fungsi mesin-mesin di dekat pasien itu, yang bekerja menjaga keseimbangan pasien di tengah krisis.

Pemandangan di ruangan ini menciptakan kesan yang ganjil: pasien tampak tenang seperti tidur lelap, namun di sekeliling mereka, mesin-mesin sedang bekerja dalam keriuhan yang amat sibuk. Tak ada satu pun pihak keluarga yang mendampingi pasien, karena sepenuhnya di bawah pengawasan ketat dokter dan perawat. Pihak keluarga masih diperbolehkan membesuk pada jam-jam tertentu, sesuai SOP khusus ruang unit stroke, yang berbeda dengan ruang perawatan lainnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.35 WIB. Saya memilih duduk di luar ruangan atau di tepi koridor, sambil membaca buku tipis kumpulan cerita pendek karya sastrawan Damhuri Muhammad berjudul Anak-anak Masa Lalu (Marjin Kiri, 2015) yang sengaja saya bawa dari rumah. Tidak ada ruang tunggu khusus bagi pihak keluarga pasien stroke di sini. Saya tidak sendirian, melainkan bersama pihak keluarga pasien lainnya. Sebagian dari mereka tidur lelap di tepi lantai koridor, ada juga yang menunaikan shalat serta bercakap-cakap sambil minum kopi. Waktu terus menggelinding, paroh malam terlewati dalam sunyi.

Di Unit Stroke, saya belajar tentang makna “lambat”. Berada di sini memberikan kejutan lain daripada yang lain tentang memaknai waktu. Apa pasal? Dunia luar menuntut kecepatan pada banyak fokus, sementara rumah sakit memaksa kita untuk single-focus hanya pada satu detak jantung, satu botol infus, dan satu harapan.

Suasana kontras ini menyadarkan saya betapa rapuhnya kecepatan yang selama ini kita banggakan. Kecepatan (dengan segala konsekuensinya) itu sering kali hanyalah cara kita lari dari kenyataan tentang kefanaan. Hampir enam jam saya berada di rumah sakit ini, menyadari sebuah ironi yang indah sekaligus getir: kita kerapkali baru menghargai hidup justru saat hidup itu melambat hingga hampir berhenti.

Di tengah jalan pulang, berkelabat di pikiran saya bahwa hiruk-pikuk di luar rumah sakit adalah ilusi tentang keabadian—seolah kita punya waktu selamanya untuk menumpuk harta, lalu mengejar jabatan dan segala daya-upaya mewujudkan ambisi serta kepentingan lainnya. Sedangkan keheningan di Unit Stroke tadi menunjukkan kebenaran tentang kerapuhan. Pada akhirnya, mendampingi (temasuk membesuk) orang sakit boleh dikata cara semesta menarik rem darurat pada hidup kita. Ia seolah memaksa kita berhenti dari perburuan duniawi semata untuk sekadar menyentuh tangan orang yang kita cintai dan berbisik dalam hati: ternyata, hanya ini yang benar-benar nyata.


*Rabu, 6 Mei 2026.

0 Komentar