| Foto bersama di halaman depan Gedung Sate JABAR |
Oleh: Jumardi Putra
Ancient walls, modern vibes. This place is a perfect blend of heritage and aesthetic perfection.
Saya mencoba mengingat
kembali, kapan tepatnya kaki ini pertama kali memijak
lantai Gouvernements Bedrijven—nama awal yang menyertai kelahiran Gedung
Sate di jantung Kota Kembang. Jika tak silap, sekira tahun 2012, kemegahan
arsitekturnya menyapa mata saya dari jarak yang begitu dekat. Sejak saat itu,
dalam rentang waktu yang panjang hingga hari ini, Bandung selalu punya cara
magis untuk memanggil saya (buat sesiapa saja yang pernah singgah) untuk kembali menemui pesonanya.
Kota berjuluk Paris van Java ini, sebagaimana daerah-daerah berkultur tua di tanah air, telah memberi saya banyak ruang untuk belajar sekaligus berefleksi. Khusus di Kota Bandung sendiri, saya telah menapaki jejak Bung Karno di Gedung Landraad (Indonesia Menggugat) dan Penjara Banceuy, dari stasiun Bandung ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga menyisir Jalan Braga di jantung malam. Saya juga pernah menyusuri seisi Gedung Asia Afrika (tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955), lalu menyesap sunyi di pusara Inggit Garnasih dan rumah pribadinya saat bersama Soekarno (resmi jadi meseum 23 Desember 2010), singgah shalat sekaligus kagum pada arsitektur Masjid terapung Gedebage atau familiar dengan nama Al Jabbar hingga ziarah ke makam pahlawan nasional Dewi Sartika. Selanjutnya, mencari buku-buku lawas di pasar buku Palasari, Gramedia di Jalan Merdeka, Toga Mas (kini sudah tutup) dan penerbit buku kenamaan Ultimus serta taman baca legendaris Hendra di Jalan Sabang yang berdiri sejak 1967. Semuanya bermuara pada satu ghirah: penghormatan pada nilai dan visi pemikiran.
Baru-baru ini (24-26 Februari
2026), tugas kedinasan kembali membawa saya ke jantung Jawa Barat. Di bawah
langit Bandung yang teduh—menggunakan gocar—saya melaju membelah kota menuju
Biro Hukum SETDA Provinsi Jawa Barat dan esoknya lanjut di BPKAD yang menempati
sudut-sudut megah serta terhubung dengan gedung sate. Dua hari sebelumnya saya giat di Kantor Inspektorat
Provinsi Jawa Barat. Giat lima hari ini dalam rangka membersamai Badan Anggaran DPRD Provinsi Jambi.
Melangkah di koridor Gedung Sate—gedung pemerintahan Provinsi Jawa Barat--kini terasa seperti melintasi lorong waktu yang panjang, nun jauh di kelampauan. Setelah melewati pintu utama, pengunjung disambut instrumen gamelan Sunda, tidak jauh darinya terdapat dua kereta kencana putih yang elok. Inilah "wajah baru" Gedung Sate di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. Kehadiran gapura bergaya Candi Bentar di setiap pintu masuk/keluar memberikan sentuhan harmoni antara otoritas pemerintahan dan akar budaya Nusantara.
![]() |
| Diskusi di Kantor Biro Hukum dan BPKAD JABAR |
J. Gerber, sang arsitek, pada tahun 1920 berhasil memadukan ketegasan Neoklasik dan keanggunan Art Deco Eropa dengan roh lokal yang kental pada gedung sate. Atapnya yang mengadopsi gaya Pura di Bali atau pagoda di Asia Tenggara memberikan kesan religius sekaligus agung. Enam ornamen "tusuk sate" di puncak menara—yang juga menyerupai jambu air—bukan sekadar pemanis estetis, melainkan monumen pengingat biaya 6 juta Gulden; sebuah nilai sejarah yang tak lagi bisa diukur dengan angka semata. Sementara bentuk bangunan gedung indah ini menyerupai persegi panjang, yang membentang dari Selatan ke Utara, bersumbu lurus ke tengah mengarah pada Gunung Tangkuban perahu.
Di balik dinding putihnya yang
kokoh, tersimpan keringat dan keahlian ribuan tangan. Sebanyak 2.000 pekerja,
termasuk 150 pemahat terampil dari Konghu (Kanton) serta warga lokal dari
Kampung Sekeloa, Coblong Dago, hingga Cibarengkok, bahu-membahu membangun mahakarya
ini selama empat tahun hingga September 1924.
Gedung Sate bukan sekadar bangunan tempo dulu peninggalan kolonial Belanda. Ia adalah saksi bisu yang tegar. Saya teringat demonstrasi berakhir rusuh sekaligus perusakan fasilitas publik dan bangunan milik pemerintah Jawa Barat pada penghujung Agustus 2025. Di tengah kecemasan itu, Gubernur Dedi Mulyadi turun ke tengah massa demonstran lalu mengingatkan dengan cara elegan namun tegas bahwa gedung sate (satu dari sekian bangunan Pemprov Jabar) jangan sampai dirusak, karena ia bukan sekadar gedung administrasi pemerintahan, melaikan juga bangunan cagar budaya sekaligus saksi bisu perjalanan bangsa yang harus dijaga.
| Penulis di halaman depan Gedung Sate |
Makin dibuat kagum karena keasrian halaman di area gedung Sate. Taman-taman yang dirawat dengan baik, pohon-pohon besar yang rindang, menciptakan oase yang kontras dengan hiruk-pukuk kota di luar pagar. Di sini, di antara pusparagam bunga yang mekar dan sisa embun pagi, Gedung Sate berdiri anggun menjadi latar cerita bagi setiap jiwa yang pernah singgah. Hebatnya lagi, gedung tua ini menolak untuk renta.
Tidak berhenti di situ saja, saat giat di BPKAD, saya melihat langsug ruang kerja bagi pegawai (working space) didesain cozy, menjadi titik temu yang ramah bagi generasi Milenial dan Gen Z sehingga tercipta suasana kerja lincah dan produktif. Menggenapi jejak itu semua, medio tahun lalu, saya mengunjungi Museum Gedung Sate yang canggih dengan teknologi Virtual Reality, hingga langkah kaki yang membawa saya menuju Lapangan Gasibu dan Museum Geologi. Agaknya tak berlebihan saya merengkuh makna alternatif dari keberadaan gedung bersejarah ini dengan segala pernak-perniknya yaitu "Ancient walls, modern vibes. This place is a perfect blend of heritage and aesthetic perfection".
Pada akhirnya, mengunjungi tempat
ini bukan sekadar menunaikan tugas administratif. Ini adalah perjalanan sarat
pelajaran. Gedung Sate yang instagramble
ini boleh dikata sebagai monumen cinta antara arsitektur dan alam, antara masa
lalu yang kelam dan masa kini serta hari depan yang menjanjikan. Ia tetap
tegak, putih, dan bersahaja—menunggu siapa pun untuk datang dan jatuh cinta
kembali pada pesonanya.
*Kota Jambi, 2 Maret 2026. Sejarah pembangunan Gedung Sate dalam tulisan ini bersumber dari data dan informasi yang tersaji di Museum Gedung Sate Pemprov Jawa Barat.
*Tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Aku Kembali Ke Bandung, Kepada Cinta yang Sesungguhnya
2) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih
3) Dari Gedung Landraad ke Penjara Banceuy
4) Dari Palasari Ke Pasar Kenari
5) Jantung Malam di Jalan Braga
6) Al Jabbar: Eksotika Masjid Terapung Gedebage
7) Oase di Jalan Sabang, Bandung Wetan
8) Sepulang dari Pusat Studi Arsip Kepresidenan Sukarno
9) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Sukarno
10) Kisah Puteri Gubernur Jambi 1975 Tentang Bung Karno
12) Menimbang Naoko Nemoto, Madam Soekarno
13) Langkah Kaki Haruki Murakami
(15) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja
(16) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron
(17) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja
(18) Jogja yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang
(19) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
(20) Cerita dari Desa Tirnonirmolo, Bantul
21) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946
22) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman
23) Jejak Pangeran Diponegoro di Tegalrejo


0 Komentar