![]() |
| ilustrasi. sumber: anetherorion.com |
Oleh: Jumardi Putra
Mereka yang memiliki kampung halaman adalah mereka yang pantas merayakan kenangan.
Begitu
saya berseloroh kepada beberapa kawan. Mereka tersenyum tipis—entah karena
mengamini, atau sekadar memaklumi bahwa usia memang sering kali menuntun kita
untuk "pulang". Namun, pulang bagi saya bukan sekadar menempuh jarak
menuju sebuah titik koordinat (place), melainkan memasuki sebuah ruang
sunyi bernama ingatan.
Di era global
village ini, saat gawai mampu memangkas jarak dan percakapan melintasi
benua dalam hitungan detik, makna kampung halaman seolah memudar dari batas
administratif. Internet telah mengaburkan sekat menjadi nir-teritori. Kita bisa
merasa begitu dekat dengan seseorang yang tak pernah kita jumpai, namun di saat
yang sama, kerap merasa asing di tanah kelahiran sendiri.
Namun,
ada hal-hal yang tak mampu direnggut oleh teknologi dengan segala kebaruannya
yaitu ingatan tentang suasana jamban saat matahari pulang ke peraduan;
bayang-bayang kanak-kanak yang mengeja alif, ba, ta hingga piawai
melantunkan kalam Ilahi di rumah guru ngaji; serta lantunan azan dan tahrim
yang menggema syahdu membelah dinginnya subuh. Bagi saya, seluruh fragmen itu
tercatat dalam sebuah buku agenda Ramadan yang kini telah kusam, namun tetap
mampu menyeruapkan wangi kenangan dari tiga dasawarsa silam.
Sebelum
menempuh pendidikan menengah hingga kuliah di pulau Jawa, saya lahir dan tumbuh
besar di Desa Empelu, sekira tiga
puluh kilometer dari pusat Kabupaten Bungo—daerah berjuluk Langkah Serentak
Limbai Seayun. Di sanalah berdiri Masjid Al Falah, saksi bisu masa kecil
saya bersama teman sebaya. Di masjid itu, saya tidak hanya menunaikan shalat
Isya dan Tarawih, tetapi juga merawat sebuah "monumen penuh kenangan"
bernama buku agenda Ramadan.
Buku itu
tipis dan bersahaja, namun ia adalah saksi perjalanan masa kecil saya di dusun.
Bagi generasi saya, buku itu adalah bukti kehadiran di hadapan imam, bilal, dan
ustaz atau penceramah. Di balik lembar-lembar halaman penuh coretan, tersimpan
pergulatan batin seorang anak kecil: keinginan kuat untuk bermain dengan teman
sebaya yang beradu dengan kewajiban merangkum tausiah demi segaris tanda tangan
penceramah saban malam di bulan ramadan.
Kenangan
itu menyeruap kembali saat saya melihat anak-anak di Masjid Darul Husna,
Kelurahan Beliung, Kota Jambi—tempat saya bermastautin kini. Melihat anak-anak datang
ke masjid beriringan sambil mendekap buku agenda, seolah memutar ulang pita
seluloid masa lalu. Wajah-wajah mungil itu tampak serius sekaligus bingung;
jemari mereka kaku mencatat kalimat penceramah yang kadang melompat-lompat,
berkejaran dengan bisikan tawa teman di sebelah yang menggoda untuk bercanda.
Sebagai
orang tua, saya kini menemukan arti di balik buku tipis itu. Dahulu, demi satu
halaman rangkuman, saya dipaksa untuk benar-benar menyimak. Lengah sedikit
saja, pokok pikiran sang penceramah akan hilang ditelan riuh suasana.
Saya
teringat betapa ayah kerap memisahkan saya dari kerumunan teman sebaya dan
menempatkan saya di shaf orang dewasa. Siasat itu efektif; saya diapit oleh
ketenangan orang-orang tua. Dari situ saya belajar disiplin dan menahan diri
untuk tidak bersendagurau selama shalat berlangsung. Meski sesekali terdengar
teguran dari jamaah dewasa kepada anak-anak yang riuh di barisan belakang,
masjid tak pernah menutup pintu bagi anak-anak. Hal itu bukan tanpa sebab,
karena kelak merekalah yang diharapkan memakmurkan masjid.
Masih segar
dalam ingatan saya, begitu penceramah menyebutkan judul pidato, pulpen saya dan
teman lainnya sudah sigap di atas sajadah. Galibnya kami duduk bergerombol,
saling melirik catatan, dan berbagi tawa polos. Usai tarawih kami pun mengantre
tanda tangan sang imam layaknya berburu tanda tangan artis, meski sering kali
sang imam memberi "ujian" mendadak: "Tadi isi ceramahnya
tentang apa?" Seketika, masjid riuh oleh jawaban kami yang bersahutan.
Sebuah keriuhan yang membuat para orang tua tersenyum, barangkali melihat
refleksi masa kecil mereka sendiri nun jauh di kelampauan.
Selama
Ramadan, buku agenda itu jarang kembali ke rumah dalam keadaan mulus. Ia
mungkin basah oleh percikan air wudu, atau lecek karena terinjak saat kami
berlarian di sekitaran masjid. Namun, justru di situlah letak kenangannya.
Dari
dusun kecil di Bungo hingga kini saya sekeluarga bermukim di Kota Jambi, saya
merengkuh sebuah hikmah bahwa mengisi buku agenda Ramadan bukan sekadar tugas
sekolah. Ia adalah cara halus para guru dan orang tua kita terdahulu untuk
menanamkan benih kecintaan pada masjid dan ilmu pengetahuan.
Ramadan
selalu datang dengan sukacita dan pergi dengan haru. Ia meninggalkan lebih dari
sekadar harapan akan pahala; ia meninggalkan jejak yang tak lekang oleh zaman.
Semoga kita semua senantiasa dipertemukan dengan Ramadan-Ramadan berikutnya,
untuk terus merawat ingatan dan jalan pulang.
*Kota Jambi, 4 Maret 2026.


0 Komentar