Istana Matahari Timur Siak Sri Indrapura

Istana Siak Sri Indrapura
Oleh: Jumardi Putra*

Hari elok ketiko baik. Jumat, 11 Februari 2022, niat saya menginjakkan kaki di kota Siak Sri Indrapura benar-benar tercapai. Perjalanan menuju kota berjuluk Istana Matahari Timur itu dimulai pukul 08.45 WIB dari arah kota Pekanbaru. Lawatan saya kali ini tidak sendirian melainkan ditemani Ratna Dewi, sahabat yang sama-sama menaruh minat pada sejarah dan situs cagar budaya.

Berbekal pengalamannya berkunjung ke kota Siak sedikit mengurangi kekhawatiran saya, yang notabene belum pernah ke kabupaten berpenduduk 457.940 jiwa ini. Kekhawatiran saya lebih karena efektifitas waktu di tengah pekerjaan kantor hampir bersamaan dengan rute perjalanan berikutnya kembali ke kota Jambi.

Lawatan dari kota Pekanbaru ke Siak sama halnya perjalanan dari kota Jambi ke kota Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, salah satu kabupaten di Provinsi Jambi. Perkebunan sawit menghiasi sepanjang jalan menuju Siak. Kualitas jalan tidak seluruhnya bagus karena masih kami jumpai lobang di sana-sini. Pemandangan yang boleh dibilang membosankan, tetapi sedikit tertolong karena diskusi sepanjang jalan bersama Ratna Dewi, yang beberapa tahun terakhir ini bersama organisasi tempat ia bekerja fokus mengurusi ekosistem sungai. Jalur transportasi masyarakat Melayu di masa lampau, yang masa kini sudah jarang dilalui, dan bahkan dalam kondisi yang memperihatinkan lantaran tercemar limbah perusahaan dan ulah penambangan emas ilegal.

Di luar soal itu, galibnya perjalanan jalur darat, saya kerap memotret teks-teks di bokong truk yang saya jumpai. Selalu ada yang menarik buat saya dari peristiwa jalanan demikian itu. Soal yang satu ini saya pernah menuliskannya (baca di sini: https://www.jumardiputra.com/2020/06/bokong-truk-adalah-wajah-kita.html).

Kami sengaja memilih berangkat pukul 08.30 WIB dari kota Pekanbaru ke Siak karena saya berniat menunaikan shalat Jumat di masjid Syahbuddin. Alhamdulillah sekira pukul 11.57 WIB kami tiba di laman masjid kesultanan Siak setelah sebelumnya menikmati tata kota Siak yang penuh bunga dan sekaligus melewati Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, salah satu ikon kota Siak.

Jembatan Siak

Jembatan dengan panjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter itu membentang di atas Sungai Siak. Di kedua sisinya terdapat dua buah trotoar dengan lebar 2,25 meter. Ketinggiannya sekitar 23 meter di atas pemukaan Sungai Siak. Melewati jembatan ini mengingatkan saya pada jembatan Barelang di Batam beberapa tahun yang lalu. Pemandangan yang indah, dan tak pelak memantik saya mengabadikannya ke dalam sajak-sajak.

Usai shalat Jumat saya mengitari komplek masjid Syahbuddin yang terletak di Jalan Sultan Ismail Siak Sri Indrapura yang berjarak sekitar 500 meter dengan kompleks Istana Siak. Masjid ini dibangun pada tahun 1882 pada masa pemerintah Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak Ke-XI) dengan arsitektur sederhana terbuat dari kayu.

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II (sultan Siak ke 12) tepatnya tahun 1926 masjid ini dibangun permanen dengan gaya arsitektur Eropa Barat dan Turki. Di dalamnya terdapat pilar-pilar masjid yang diselimuti beton dengan 4 pilar. Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar berbahan kayu jati. Bagian luar bangunan masjid Syahbuddin ini dicat kuning dengan polesan cat hijau pada beberapa tiang penyangga. Sedangkan bagian dalam masjid dominan warna putih dengan polesan cat hijau serta kuning keemasan pada beberapa bagian, terutama tiang penyangga.

Masjid Syahbuddin. Dok foto: Jumardi Putra

Komplek masjid Syahbuddin berada tepat di bibir Sungai Siak. Pemerintah Siak menyiapkan trek dengan sebutan tepian Bandar Sungai Jantan 10000 langkah untuk mengunjungi beberapa objek wisata yaitu masjid Syahbuddin, Water front City, Tepian Sungai Jantan, Kelenteng, Pentas Siak Bermadah, Pasar Seni, Masjid Muhajirin, makam koto Tinggi, Istana Siak dan sebuah sekolah dasar.

Sungai Siak yang membentang panjang dengan riak terjaga. Saya melihat beberapa perahu warga dan sebuah kapal pengangkut pasir berukuran raksasa sedang melintasinya. Kondisi air sungai Siak tampak bersih di permukaan. Saya tidak tahu persis kualitas airnya, apalagi situasi di dasar sungai. Setidaknya berbanding terbalik dengan kondisi air sungai Batanghari di Tanah Pilih Pusako Betuah Kota Jambi, yaitu kuning pekat.

Sultan Syarif Kasim II bersama permaisuri

Selanjutnya saya berziarah ke makam Sultan Syarif Kasim II yang terletak di sisi barat dari komplek masjid Syahbuddin. Di komplek pemakaman ini terdapat makam Sultan Syarif Kasim beserta permaisuri Tengku Agung Sultanah Latifah dan Tengku Maharatu beserta panglima Sultan. Saya tidak sendirian di komplek peristirahatan terakhir keluarga Sultan Siak itu, melainkan bersama para peziarah lainnya yang sengaja datang dari luar kabupaten Siak.

Sultan Syarif Kasim II merupakan Sultan Siak yang kedua belas atau yang terakhir. Ia memerintah dari tahun 1915 sampai 1945. Berkat jasanya terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, pada masa presiden B.J. Habibie, Sultan Syarif Kasim II disematkan tanda kehormatan Bintang Maha Putra Adi Pradana pada tanggal 6 November 1998 dan mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Penulis di komplek makam Sultan Syarif Kasim II

Istana Matahari Timur

Keinginan kuat ke Siak lebih karena keingintahuan saya terhadap seisi Istana Siak Sri Indrapura yang merupakan bangunan serupa kastil di benua Eropa. Istana ini mulai dibangun pada tahun 1889 yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Istana ini juga dikenal dengan nama Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur, yang diarsiteki pria asal Jerman yang bernama Vande Morte.

Usai dari komplek masjid Syahbuddin, kami langsung menuju istana Sultan Syarif Kasim II yang hanya berjarak sekitar 500 meter. Sayangnya loket tiket masuk bagi pengunjung belum dibuka. Sembari menunggu loket dibuka kami memilih makan siang di salah satu warung yang tidak jauh dari istana. “Sembari makan kita bisa mantau loket,” kilah Ratna.

Penulis di depan alat musik Komet.

Santap siang sudah. Energi kembali pulih. Kami menuju loket masuk istana dengan berjalan kaki. Untuk memasuki Istana Siak Sri Indrapura, pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 10.000 per orang untuk dewasa dan Rp 5.000 per orang untuk anak-anak. Harga yang terjangkau bagi wisatawan.

Loket tiket masuk resmi dibuka. Tiket masuk sudah kami kantongi. Kami pun melangkah menuju gerbang utama istana. Sungguh bahagia hati saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di komplek istana tersebut. Usai mengisi buku tamu, berkat bantuan pak Zulyamri, salah satu pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, penelusuran istana Siak dimulai.

Ruang makan tamu kehormatan Sultan Siak. Dok. JP.

Memasuki bagian dalam Istana Siak Sri Indrapura, saya menjumpai banyak barang peninggalan yang masih terawat dengan baik. Mulai dari singgasana raja bersepuh emas, baju kebesaran Sultan Siak, replika mahkota raja, silsilah kesultanan Siak, patung ratu Wilhelmina, aneka keramik, alat makan, cermin kristal, kursi kristal yang dibuat pada tahun 1896, tombak, payung, dan bahan patung perunggu. Begitu juga pengunjung bisa melihat meriam beragam ukuran baik di dalam istana maupun tersebar di halaman istana Siak Sri Indrapura dan alat musik komet yang dibawa Sultan Syarif Hasyim (Ayah Sultan Syarif Khasim II) dari Jerman sekitar tahun 1890.  

“Alat musik komet ini hanya ada dua di dunia. Satu terdapat di Jerman dengan nomor seri 95131, sedangkan satunya lagi terdapat di Siak dengan nomor seri 95132,” ungkap pak Zul meyakinkan. Hanya saja alat musik tersebut tidak bisa dipakai lantaran operatornya tidak berada di tempat.

Tidak hanya itu, di sebelah kanan Istana, terdapat kapal besi berukuran panjang 12 meter dan berat 15 ton. Peninggalan Sultan Siak dari Abad ke-17 ini dulunya digunakan beliau untuk menyambangi daerah kekuasaannya sembari melintasi Sungai Siak. Beberapa foto-foto di lantai dua istana Siak menunjukkan bukti kuat keberadaan dan fungsi kapal tersebut pada masanya. Kondisi bekas kapal yang penuh lumut dan berkarat lebih karena terik matahari.

Kapal peninggalan Sultan Siak. Dok. JP.

Menurut penuturan pak Zulyamri, bangunan istana ini merupakan perpaduan gaya arsitektur antara Eropa, Arab, dan Melayu. Kompleks Istana Siak Sri Indrapura dibangun di atas lahan seluas 32.000 meter persegi. Di kompleks ini terdapat 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Panjang, dan Istana Baroe. Pintu dan jendela istana dirancang dengan bentuk kubah serta dihiasi mozaik kaca. Diakui pak Zulyamri mozaik kaca itu merupakan siasat untuk menambah pencahayaan di dalam gedung supaya terang benderang.

Istana Siak sendiri berada di lahan seluas 1.000 m2. Istana ini memiliki dua lantai. Di lantai pertama pengunjung  bisa menemukan 6 ruangan yang berfungsi sebagai ruang tunggu tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang sidang, ruang tamu perempuan, dan ruang pesta. Sementara lantai dua memiliki 9 ruangan yang dulu digunakan untuk tempat istirahat Sultan serta tamu-tamu istana. Untuk sampai ke lantai dua pengunjung melewati dua tangga berukiran unik.

Usai menyusuri dua lantai bangunan Istana, kami melanjutkan penelusuran ke sebuah bangunan di sebelah kiri yaitu Istana Peraduan Siak yang merupakan hadiah dari Sultah Syarif Kasim II kepada permaisurinya. Umumnya bangunan tersebut berisi perabot rumah tangga, salah satu di dalamnya terdapat Ranjang Sultan Siak. Bangunan ini selesai direstorasi pada tahun 2021 oleh PT Riau Andalan Pulp Paper (RAPP).

Istana Peraduan Siak. Dok. JP.

Membaca buku restorasi oleh PT RAPP disebutkan bahwa genteng pada bangunan istana peraduan khusus didatangkan dari Eropa melalui Singapura dan diproduksi oleh "Tuileries Romain Boyer" yang merupakan pabrik produksi terakota yang dibangun oleh Etienne Boyer, seorang industrialis Marseilles pada tahun 1857 di kota Six-Four. Begitu juga lantai ubin istana peraduan merupakan produksi Petrus Regrout & Co, sebuah pabrik yang berada di Netherland, tepatnya di kota Maastricht.

Bersambung…..


*Kota Jambi, 6 Maret 2022.

Keterangan: foto istana diambil dari instagram.com/syir-08.

2 Komentar