![]() |
| ilustrasi. sumber: starline/freepik |
Oleh: Jumardi Putra
....Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samudra serta mencipta dan mengukir dunia...- WS. Rendra.
Tak ada yang istimewa pagi ini, Kamis, 1 Januari 2026. Hanya syukur yang
meluap kepada Allah Azza Wa Jalla, yang masih meminjamkan napas bagi seonggok
tubuh berlumur dosa ini. “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut”
senantiasa menjadi pembatas antara hidup dan mati, sebuah garis tipis yang
sepenuhnya berada dalam kendali-Nya. Begitulah rahasia kehidupan; tak seorang
pun benar-benar mengerti kapan hayat akan purna dikandung badan.
Terbangun sekira pukul 05.20 WIB, saya bergegas menunaikan subuh. Tak
ada perayaan gegap gempita semalam di keluarga kecil kami. Di antara
sujud-sujud fardu, saya hanya menyelipkan pinta agar di tahun 2026 ini,
kehidupan berjalan lebih bermakna dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada
ritual bakar jagung atau aroma sate ayam di serambi rumah seperti tahun lalu.
Sebagai gantinya, kami menikmati kiriman dari Nenek; buah duku manis dari Dusun
Empelu, Bungo.
Di dalam rumah, anak-anak larut dengan laptop dan gawainya
masing-masing. Si Bungsu sempat sesaat menyalakan kembang api kecil—kategori consumer
fireworks—yang dibelinya di tepian jalan sore hari. Saya dan istri sepakat
memberi sedikit kelonggaran bagi mereka memakai laptop atau gawai lantaran masa
libur sekolah, tentu tetap dalam pengawasan.
Sembari mengupas duku, istri saya memilih menonton Sang Raja Dangdut,
Rhoma Irama, yang tengah berdendang bersama para jawara D’Academy di layar
televisi. Sebuah pemandangan ganjil, sebab kami sangat jarang nonton TV. “Tak
apalah, sesekali saja, Pa, ketimbang jalan-jalan di tengah keramaian malam di luar rumah” kilahnya
sambil tersenyum. Sementara itu, saya tetap tunak di depan laptop, mengulik isi
dokumen teknokratis terkait tugas kantor yang harus segera tuntas.
Malam tadi berlalu di bawah cahaya redup bulan. Meski Kota Jambi
kerap diguyur hujan menjelang tutup tahun, sisa basah di rerumputan tak
menyurutkan keriuhan tetangga. Dari balik dinding rumah, terdengar musik bervolume
tinggi dengan pelbagai genre. Mereka berkumpul di halaman, merayakan puncak
peralihan tahun dengan tawa dan kepulan asap jagung bakar.
Saya memilih merebahkan diri lebih awal, meski kantuk enggan bertamu. Di
bawah temaram lampu kamar, sembari membaca portal berita dan media sosial,
momen pergantian tahun itu tiba. Saat jarum jam tegak lurus di angka dua belas,
dentuman kembang api meledak di ketinggian langit malam, menggelegar memecah
kesunyian.
Begitulah cara manusia merayakan waktu. Semua terpulang pada diri
masing-masing. Namun, saya berharap segala tindak-tanduk kita bukanlah sekadar
bentuk "terjerembab" dalam kubangan konsumerisme yang didikte oleh
pasar—sebuah tipu daya yang sering kali memoles diri dengan label apapun,
bahkan memakai jargon-jargon agama sekalipun.
Waktu sejatinya bukan sekadar garis lurus yang banal, melainkan siklus
kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Hidup sering kali paradoks; ia tak
selalu berjalan sesuai logika, apalagi sesuai keinginan. Namun, mereka yang
berusaha memaknai detak waktu—bukan sekadar mengartikannya sebagai uang—akan
memiliki bekal untuk bertahan di tengah zaman yang kian sulit.
Tersebab, jangankan janji orang tua kepada anak-anaknya, bahkan negara
ini pun belum benar-benar bisa menggaransi kemudahan bagi warganya di tahun
2026. Di tengah kondisi fiskal yang terbatas dan gejolak ekonomi-politik
global yang tak menentu, kita masih menyaksikan pelayanan publik yang berantakan, korupsi yang
menggurita, hingga jerat judi online dan narkoba yang kian marak. Begitu juga kekerasan
seksual menjadi berita harian dan tragedi kemanusiaan dalam keluarga kian
sering mengisi kolom kriminal media cetak maupun online. Bahkan, urusan kecil
yang semestinya tuntas di tangan Ketua RT pun masih "diadukan" kepada
Tuhan karena kebuntuan sistem pelayanan publik. Ambil misal, laten terjadi
saban hari, pemandangan tumpukan sampah di tepi sungai, jalan atau
tempat-tempat umum, yang tidak jauh dari situ terpampang papan pengumuman atau
selempar kain putih bertuliskan kalimat himbauan bernada kecaman sekaligus melibatkan
nama Tuhan. Ironi.
Di tengah riuh kembang api semalam, pikiran saya mendadak melayang pada
para korban bencana hidrometeorologi dan ekosida di Aceh, Sumatera Utara, dan
Sumatera Barat yang terjadi akhir November lalu. Daya rusaknya luar biasa.
Lebih dari seribu nyawa melayang, ribuan rumah tersapu air bah dan gelondongan
kayu. Jalur logistik terputus, listrik padam, dan duka masih menggelayut di
sana. Saya tak bisa berbuat banyak, selain menyisihkan sedikit donasi dan
melangitkan doa agar pemulihan pasca bencana dilancarkan bagi saudara-saudara
kita.
Terima kasih kepada setiap tangan—baik perorangan maupun lembaga—yang telah bahu-membahu meringankan beban di tiga daerah bencana tersebut. Saya yakin, negeri ini tak akan pernah kekurangan orang baik.
Kini, fajar 1 Januari 2026 telah menyingsing. Kita masih berdiri di bawah matahari yang sama, bergelut dengan sistem pasar, ekonomi dan politik yang sama. Bismillahirrahmanirrahiim, mari melangkah dengan optimisme. Mari jalani tanggung jawab di tempat kerja dengan penuh integritas dan hati yang tulus. Tidak ada yang tahu pasti apa yang menanti di hari-hari berikutnya, tetapi awal dari setiap langkah akan sangat menentukan setiap tujuan yang ditambatkan.
Menutup catatan ini, saya teringat penggalan puisi karya penyair bergelar "Burung Merak" WS Rendra berjudul "Sajak Seorang Tua untuk Istrinya"
(1970-an) berikut ini:
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup,
bekerja membalik tanah,
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Sebuah puisi yang bernas--bertenaga, mengingatkan kita bahwa daya hidup adalah
kehormatan kita sebagai manusia. Selamat menempuh tahun yang baru. Semoga
keberkahan membersamai langkah kita semua. amin
*Kota Jambi, 1 Januari 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Kilas Balik Jambi 2025: Refleksi Akhir Tahun
3 APBD Anjlok: Meneroka Kebijakan Dana Transfer 2026
4) Reformasi Birokrasi Pemerintah Provinsi Jambi
5) Quo Vadis BUMD PT Jambi Indoguna Internasional (JII) ?
6) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025
7) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi
8) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?
9) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan
10) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi
11) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023
12) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024
13) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023
14) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023
15) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024
16) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023
17) Dua Tahun Jambi Mantap Al Haris-Sani, Sebuah Timbangan
18) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan
19) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
20) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini
21) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi
22) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi
23) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi
24) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai
25) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik
26) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park
27) Kode Keras "Palu Godam" KPK di Jambi
28) Menguji Kebijakan Anti Korupsi Al Haris-Sani
29) Menyingkap Tabir Disertasi Sekda Provinsi Jambi
30) Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jambi 2025, Quo Vadis?


0 Komentar