2025 Pergi, 2026 Datang

 

ilustrasi. sumber: starline/freepik


Oleh: Jumardi Putra


....Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samudra serta mencipta dan mengukir dunia...- WS. Rendra.


Tak ada yang istimewa pagi ini, Kamis, 1 Januari 2026. Hanya syukur yang meluap kepada Allah Azza Wa Jalla, yang masih meminjamkan napas bagi seonggok tubuh berlumur dosa ini. “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut” senantiasa menjadi pembatas antara hidup dan mati, sebuah garis tipis yang sepenuhnya berada dalam kendali-Nya. Begitulah rahasia kehidupan; tak seorang pun benar-benar mengerti kapan hayat akan purna dikandung badan.

Terbangun sekira pukul 05.20 WIB, saya bergegas menunaikan subuh. Tak ada perayaan gegap gempita semalam di keluarga kecil kami. Di antara sujud-sujud fardu, saya hanya menyelipkan pinta agar di tahun 2026 ini, kehidupan berjalan lebih bermakna dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada ritual bakar jagung atau aroma sate ayam di serambi rumah seperti tahun lalu. Sebagai gantinya, kami menikmati kiriman dari Nenek; buah duku manis dari Dusun Empelu, Bungo.

Di dalam rumah, anak-anak larut dengan laptop dan gawainya masing-masing. Si Bungsu sempat sesaat menyalakan kembang api kecil—kategori consumer fireworks—yang dibelinya di tepian jalan sore hari. Saya dan istri sepakat memberi sedikit kelonggaran bagi mereka memakai laptop atau gawai lantaran masa libur sekolah, tentu tetap dalam pengawasan.

Sembari mengupas duku, istri saya memilih menonton Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, yang tengah berdendang bersama para jawara D’Academy di layar televisi. Sebuah pemandangan ganjil, sebab kami sangat jarang nonton TV. “Tak apalah, sesekali saja, Pa, ketimbang jalan-jalan di tengah keramaian malam di luar rumah” kilahnya sambil tersenyum. Sementara itu, saya tetap tunak di depan laptop, mengulik isi dokumen teknokratis terkait tugas kantor yang harus segera tuntas.

Malam tadi berlalu di bawah cahaya redup bulan. Meski Kota Jambi kerap diguyur hujan menjelang tutup tahun, sisa basah di rerumputan tak menyurutkan keriuhan tetangga. Dari balik dinding rumah, terdengar musik bervolume tinggi dengan pelbagai genre. Mereka berkumpul di halaman, merayakan puncak peralihan tahun dengan tawa dan kepulan asap jagung bakar.

Saya memilih merebahkan diri lebih awal, meski kantuk enggan bertamu. Di bawah temaram lampu kamar, sembari membaca portal berita dan media sosial, momen pergantian tahun itu tiba. Saat jarum jam tegak lurus di angka dua belas, dentuman kembang api meledak di ketinggian langit malam, menggelegar memecah kesunyian.

Begitulah cara manusia merayakan waktu. Semua terpulang pada diri masing-masing. Namun, saya berharap segala tindak-tanduk kita bukanlah sekadar bentuk "terjerembab" dalam kubangan konsumerisme yang didikte oleh pasar—sebuah tipu daya yang sering kali memoles diri dengan label apapun, bahkan memakai jargon-jargon agama sekalipun.

Waktu sejatinya bukan sekadar garis lurus yang banal, melainkan siklus kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Hidup sering kali paradoks; ia tak selalu berjalan sesuai logika, apalagi sesuai keinginan. Namun, mereka yang berusaha memaknai detak waktu—bukan sekadar mengartikannya sebagai uang—akan memiliki bekal untuk bertahan di tengah zaman yang kian sulit.

Tersebab, jangankan janji orang tua kepada anak-anaknya, bahkan negara ini pun belum benar-benar bisa menggaransi kemudahan bagi warganya di tahun 2026. Di tengah kondisi fiskal yang terbatas dan gejolak ekonomi-politik global yang tak menentu, kita masih menyaksikan pelayanan publik yang berantakan, korupsi yang menggurita, hingga jerat judi online dan narkoba yang kian marak. Begitu juga kekerasan seksual menjadi berita harian dan tragedi kemanusiaan dalam keluarga kian sering mengisi kolom kriminal media cetak maupun online. Bahkan, urusan kecil yang semestinya tuntas di tangan Ketua RT pun masih "diadukan" kepada Tuhan karena kebuntuan sistem pelayanan publik. Ambil misal, laten terjadi saban hari, pemandangan tumpukan sampah di tepi sungai, jalan atau tempat-tempat umum, yang tidak jauh dari situ terpampang papan pengumuman atau selempar kain putih bertuliskan kalimat himbauan bernada kecaman sekaligus melibatkan nama Tuhan. Ironi.  

Di tengah riuh kembang api semalam, pikiran saya mendadak melayang pada para korban bencana hidrometeorologi dan ekosida di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi akhir November lalu. Daya rusaknya luar biasa. Lebih dari seribu nyawa melayang, ribuan rumah tersapu air bah dan gelondongan kayu. Jalur logistik terputus, listrik padam, dan duka masih menggelayut di sana. Saya tak bisa berbuat banyak, selain menyisihkan sedikit donasi dan melangitkan doa agar pemulihan pasca bencana dilancarkan bagi saudara-saudara kita.

Terima kasih kepada setiap tangan—baik perorangan maupun lembaga—yang telah bahu-membahu meringankan beban di tiga daerah bencana tersebut. Saya yakin, negeri ini tak akan pernah kekurangan orang baik.

Kini, fajar 1 Januari 2026 telah menyingsing. Kita masih berdiri di bawah matahari yang sama, bergelut dengan sistem pasar, ekonomi dan politik yang sama. Bismillahirrahmanirrahiim, mari melangkah dengan optimisme. Mari jalani tanggung jawab di tempat kerja dengan penuh integritas dan hati yang tulus. Tidak ada yang tahu pasti apa yang menanti di hari-hari berikutnya, tetapi awal dari setiap langkah akan sangat menentukan setiap tujuan yang ditambatkan.

Menutup catatan ini, saya teringat penggalan puisi karya penyair bergelar "Burung Merak" WS Rendra berjudul "Sajak Seorang Tua untuk Istrinya" (1970-an) berikut ini:

 

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.

Hidup adalah untuk mengolah hidup,

bekerja membalik tanah,

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.


Sebuah puisi yang bernas--bertenaga, mengingatkan kita bahwa daya hidup adalah kehormatan kita sebagai manusia. Selamat menempuh tahun yang baru. Semoga keberkahan membersamai langkah kita semua. amin


*Kota Jambi, 1 Januari 2026.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Kilas Balik Jambi 2025: Refleksi Akhir Tahun

2) Turbulensi APBD Jambi 2026

APBD Anjlok: Meneroka Kebijakan Dana Transfer 2026

4) Reformasi Birokrasi Pemerintah Provinsi Jambi

5) Quo Vadis BUMD PT Jambi Indoguna Internasional (JII) ?

6) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025

7) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi

8) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?

9) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

10) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi

11) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023

12) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024

13) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023

14) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023

15) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024

16) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023

17Dua Tahun Jambi Mantap Al Haris-Sani, Sebuah Timbangan

18) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan

19) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar

20) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini

21) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi

22) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi

23) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi

24) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai

25) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik

26) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park

27) Kode Keras "Palu Godam" KPK di Jambi

28) Menguji Kebijakan Anti Korupsi Al Haris-Sani

29) Menyingkap Tabir Disertasi Sekda Provinsi Jambi

30) Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jambi 2025, Quo Vadis?

31) MCP Merosot, Gubernur Al Haris Berang

0 Komentar