Conscious Unbossing: Bukan Berhenti Mendaki, Tetapi...

ilustrasi. sumber: indiatimes.com



Oleh: Jumardi Putra


Untuk apa mengabdi sampai habis, jika pada akhirnya birokrasi atau perusahaan hanya melihat kita sebagai angka yang bisa diganti kapan saja?


Balum lama ini, sebuah video dari Prof. Rhenald Kasali melintas di beranda Instagram saya. Guru Besar Universitas Indonesia tersebut mengulas fenomena Conscious Unbossing—sebuah gerakan sadar dari pekerja muda (Gen Z dan milenial) yang memilih untuk menolak kursi manajerial. Kondisi ini bukan sekadar tren malas bekerja, melainkan sebuah pergeseran orientasi hidup yang mendalam.

Studi Robert Walters, sebuah perusahaan rekrutmen dan konsultasi bakat global menunjukkan lebih dari 52% Gen Z menolak posisi manajerial. Laporan Randstad pun menguatkan bahwa hampir 40% pekerja enggan menerima promosi jika harus mengorbankan keseimbangan hidup. Bagi mereka, puncak karier bukan lagi tentang duduk di kursi empuk pimpinan, melainkan tentang memiliki kendali penuh atas waktu dan jiwanya sendiri.

Dahulu, sukses adalah pendakian vertikal berupa tangga jabatan yang tinggi, gelar mentereng, dan seabrek fasilitas mewah yang melekat. Namun kini, sukses sedang mengalami reposisi makna menjadi bersifat horizontal. Gen Z dan Mileneal muda saat ini lebih menghargai fleksibilitas, ruang untuk hobi, dan side hustle yang memberi kepuasan batin daripada sekadar tambahan angka di slip gaji yang dibayar dengan stres tanpa henti.

Fakta pahit di balik pilihan ini adalah kesehatan mental. Penelitian Walton Family Foundation menemukan 42% Gen Z berjuang melawan depresi, sementara 61% lainnya didiagnosis dengan gangguan kecemasan. Sejurus kemudian, ketika survei Deloitte 2025 menyebut kesejahteraan sebagai prioritas utama, itu sebenarnya adalah sebuah jeritan minta tolong agar mereka tidak "digilas" oleh mesin pekerjaan.

Secara kritis, mereka sedang melakukan perhitungan matematis yang logis. Jika kenaikan gaji hanya sebesar 15% namun menuntut peningkatan stres hingga 50%, itu adalah investasi hidup yang buruk. Mereka enggan terjebak dalam rapat-rapat kantor tanpa akhir (bahkan merampas akhir pekan) atau memikul tanggung jawab atas kesalahan tim yang berisiko hukum—sebuah dilema nyata, baik di lingkungan korporasi maupun birokrasi.

Keengganan ini juga lahir dari memori masa kecil yang pahit dan getir. Mereka tumbuh melihat orang tua mereka (Gen X dan Boomer) mengalami burnout; berangkat subuh, pulang larut, dan menjadikan rumah tak ubahnya sebatas halte persinggahan untuk tidur. Namun, setelah pengabdian puluhan tahun yang menguras raga, banyak dari mereka yang tetap terhempas PHK atau jatuh sakit di hari tua.

Suatu waktu, saya pernah menerima curhatan langsung dari seorang pegawai di sebuah perangkat daerah di Jambi. Energi dan pikirannya terkuras habis mengikuti pola dan ritme pekerjaan yang rumit--kompleks. Ia terjebak dalam burnout hebat, sementara Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang diterima tak sebanding dengan risiko dan tekanan mental yang dipikul. Ia pun tak menampik bahwa kawan sejawat di bawahnya kini mulai berpikir dua kali untuk menapaki jalan yang sama.

Maka, tak heran jika 72% Gen Z (menurut survei Robert Walters) lebih memilih menjadi Individual Contributor yang andal. Mereka memilih setia pada pertumbuhan diri sendiri daripada terjebak dalam politik kantor dan struktur organisasi kaku yang sering kali berakhir dalam kejumudan.

Keengganan ini memang menyimpan risiko krisis regenerasi kepemimpinan. Namun, ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap organisasi maupun perusahaan untuk mendesain ulang peran pemimpin agar lebih manusiawi, bukan sekadar memberikan beban kerja yang lebih berat dengan iming-iming jabatan.

Pada akhirnya, mereka tidak menolak kemajuan. Mereka hanya menolak model kemajuan yang mengorbankan kualitas hidup. Di tengah dunia kerja yang serba bergegas—bahkan menggilas—menjaga kewarasan adalah keberanian. Hal ini bukan karena mereka tidak sedang berhenti mendaki, tetapi memilih jalan setapak yang lebih indah untuk dinikmati.

 

*Kota Jambi, 11 Februari 2026. Publikasi studi Robert Walters lebih lanjut baca di link berikut ini: https://www.robertwalters.co.uk/insights/news/blog/conscious-unbossing.html, pada tanggal 23 September 2024.


*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

3) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

4) Ilusi "Yang Terhormat"

5) Indeks Pelayanan Publik 2025: Jambi di Simpang Jalan

6) Quo Vadis Reformasi Birokrasi Pemprov Jambi?

7) Besak Ota

8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah

10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri

11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan

12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

13) Menapak Senja di Ujung Jabung

14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

16) Langkah Kaki Haruki Murakami

18) Ketindihan Teknokratis

19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

21) Kegenitan Intelektual

22)Kemalasan Intelektual

23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

0 Komentar