Si Jelita Naoko Nemoto: Madam Soekarno

Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi, istri Bung Karno

 


Oleh: Jumardi Putra

Apa yang membuat tanggal 6 Februari begitu istimewa? Jawabannya tentu bergantung pada perspektif siapa yang memaknainya. Bagi keluarga besar Partai Gerindra, hari ini adalah perayaan hari lahir partai yang ke-18—sebuah momentum yang kian spesial karena sang pendiri, Prabowo Subianto, kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.

Dalam lintasan peradaban dunia, tanggal ini juga menjadi saksi lahirnya para legenda. Mulai dari ikon reggae Bob Marley, Presiden AS ke-40 Ronald Reagan, penyanyi Rick Astley, hingga idola K-Pop U-Know Yunho. Mereka semua mengukir nama besar di bidang musik, politik, dan budaya pop. Bahkan, bagi Anda yang ingin menelusuri tokoh-tokoh lainnya, kanal onthisday menyediakan data sangat lengkap.

Namun, bagi saya pribadi, 6 Februari memiliki resonansi yang berbeda. Hari ini merupakan momen kelahiran salah satu raksasa sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925–2006). Mengagumi karya-karyanya—terutama Tetralogi Buru—telah menjadi perjalanan intelektual saya sejak 2001. Dari seorang Pram, kita belajar tentang keteguhan prinsip dan stamina menulis yang luar biasa meski dihimpit situasi ekonomi-politik yang menyesakkan.

Menariknya, di tanggal yang sama dengan Pram, sejarah juga mencatat lahirnya sosok yang mempesona sekaligus kontroversial yaitu Naoko Nemoto, yang kelak kita kenal sebagai Ratna Sari Dewi, yang dipersunting Bung Karno menjadi istrinya pada 3 Maret 1962. Begitu pula status agamanya menjadi Islam.

Pertemuan Naoko yang baru berusia 19 tahun dengan Bung Karno di Hotel Imperial, Tokyo pada 16 Juni 1959, bukanlah sekadar romansa biasa. Di balik selubung cinta, terdapat dimensi geopolitik yang kental. Jepang saat itu tengah berupaya memperbaiki hubungan dengan Asia Tenggara pasca-Perang Dunia II melalui skema kompensasi perang. Dalam konteks inilah, Dewi hadir sebagai jembatan kultural dan personal yang mempererat hubungan Jakarta dan Tokyo. Sayang, pernikahan Soekarno-Ratna Sari tak lama. Mereka cerai pada 1970.

Ratna Sari Dewi bersama Bung Karno. Sumber: instagram@kartikasoekarnofoundation

Sejarah sering kali menyederhanakan sosoknya hanya sebagai "istri cantik dari Jepang". Namun, jika menelisik lebih dalam, Dewi memegang peran krusial di masa-masa senja kekuasaan Bung Karno seperti saat ia menjadi perantara komunikasi antara Bung Karno dengan pihak Jepang serta beberapa pemimpin dunia lainnya, lalu ia berada di episentrum badai politik 1965—sebuah peristiwa berdarah yang hingga kini residunya masih menjadi komoditas politik ketimbang dituntaskan secara jernih. Saat yang sama, ia menyaksikan langsung pudarnya kekuasaan sang suami dan sempat mengupayakan rekonsiliasi yang sayangnya kandas oleh kerasnya arus politik saat itu.

Pasca-wafatnya Bung Karno, Dewi membuktikan dirinya sebagai penyintas. Ia membesarkan putrinya, Kartika Sari Dewi, di pengasingan (Prancis dan Amerika Serikat) sambil tetap menjaga martabat nama besar suaminya. Di masa tuanya, ia bertransformasi menjadi "Madame Dewi" di Jepang—seorang figur publik yang vokal, eksentrik, dan blak-blakan. Meski sering menuai kontroversi, vitalitas dan ketahanannya dalam kegiatan sosial kemanusiaan patut dikagumi. Di usinya kini menginjak 86 tahun (1940-2026), ia adalah simbol dari era di mana cinta dan politik bersinggungan secara dramatis. 

Sejak 2008, Ratna Sari Dewi Soekarno tak lagi tinggal di Indonesia. Dia memutuskan tinggal di Jepang sampai akhirnya melepas status WNI pada tahun 2025. Keputusan tersebut diambil untuk menjadi warga negara Jepang agar dapat mendirikan partai politik dan mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Tinggi Parlemen Jepang di usia 85 tahun.

Bagi pembaca yang ingin mendalami jejak langkah Ratna Sari Dewi, beberapa literatur berikut ini dapat menjadi pintu masuk antara lain (1) Ratna Sari Dewi Sukarno: Sakura di Tengah Prahara karya M. Yuanda Zara (2010), sebuah biografi komprehensif mengenai perjalanannya di Indonesia, (2) Sukarno, Ratna Sari Dewi & Pampasan Perang karya Masashi Nishihara, yang menjelaskan latar belakang politik di balik kehadiran Dewi Soekarno dalam kehidupan Bung Karno, terutama kaitannya dengan kompensasi perang Jepang, (3) Cintaku pada Bung Karno, Dendamku pada Soeharto (1998), sebuah memoar yang memotret perspektif personal Dewi terhadap transisi kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru, dan terakhir Madame de Syuga, kumpulan foto seni yang membentuk identitas publiknya sebagai ikon estetika.

Selain itu, laporan jurnalistik seperti di Majalah Tempo (edisi "Kasus Dewi Soekarno", 1992 dan "Di Balik Sensasi Dewi Soekarno", 1993) serta artikel di kanal Tirto.id atau Historia.id memberikan perspektif tambahan yang tajam mengenai peran diplomatiknya, tidak terkecuali sisi kontroversinya.

Mengingat 6 Februari bukan sekadar merayakan lahirnya seorang perempuan berjuluk Dewi Fujin atau Nyonya Dewi ini, melainkan menimbang salah satu saksi kunci yang membawa warna unik dan berani dalam narasi besar bangsa ini dengan segala pernak-perniknya.

 

*Kota Jambi, 6 Februari 2026.


*Tulisan-tulisan saya lainnya berikut ini:

1) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri

2) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM

3) Membaca Kwik Kian Gie

4) Belajar dari Bung Karno

5) Monumen Kisah Cinta Bung Karno dan Inggit Garnasih

6) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih

7) Bung Karno di Mata Mahbub Djunaidi

8) Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi Untuk Kemerdekaan RI

9) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Sukarno

10) Kisah Puteri Gubernur Jambi 1975 Tentang Bung Karno

11) Jejak Bung Karno di Phoenix Hotel Jogja 1946

12) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan

13) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad

14) Karena Bung Hatta

15) Menziarahi Bung Hatta dan Mula Berjumpa Datuk Syahrul Akmal

0 Komentar