![]() |
| hotel The Phoenix Jogja. |
Oleh: Jumardi Putra*
Yogyakarta
memang telah banyak berubah, namun sejarah Kota Gudeg ini tetap terasa
istimewa. Itulah mengapa banyak orang yang pernah tinggal lama di sini sering
bergumam bahwa ada "sesuatu" yang magis di dalam relung Jogja.
Perasaan itulah yang kembali menyapa saya malam ini saat mengunjungi The Phoenix
Hotel Yogyakarta—sebuah hotel ternama yang memadukan arsitektur Eropa klasik
dengan sentuhan Jawa.
Terletak
strategis di Jalan Jenderal Sudirman, hotel ini berada di jantung sejarah.
Lokasinya hanya sepelemparan batu dari Tugu Jogja—landmark paling ikonik
di Yogyakarta yang bisa dicapai hanya dengan lima menit berjalan kaki. Selain
itu, kawasan Malioboro pun cukup dekat untuk dijangkau dengan becak atau
transportasi daring.
Bagi saya
pribadi, kunjungan malam ini serasa melintasi lorong waktu menuju kemegahan era kolonial (Rabu, 17/12/25). Kendati pernah bermukim di Yogyakarta dua dekade silam, baru malam ini saya benar-benar menjejakkan kaki pertama
kali di dalam bangunan bergaya Art Deco tersebut.
Begitu memasuki lobi, saya langsung disambut oleh fasad bangunan yang masih mempertahankan struktur asli dari tahun 1918. Dahulu, bangunan ini merupakan kediaman pribadi milik pengusaha Tionghoa, Kwik Djoen Eng. Bangunan tersebut kemudian dibeli oleh Liem Djoen Hwat atau Bernie Liem dan menjadi Splendid Hotel pada tahun 1930.
Selanjutanya, hotel tersebut kemudian disewakan kepada pemerintah dan digunakan sebagai The Hotel National and Tourism Office atau NV Honet dari tahun 1951 hingga 1988. NV Honet Itu adalah lembaga yang mengelola hotel-hotel yang sebelumnya dimiliki oleh Belanda pada masa kolonial.
![]() |
| Bangunan The Phoenix tahun 1918. sumber foto: hotel |
| Penulis di depan Kamar Soekarno di hotel The Phoenix |
Ciri khas kolonialnya begitu kuat yakni pilar-pilar tinggi yang megah, lantai marmer, ubin kunci bermotif geometris klasik, hingga berbagai barang antik seperti furnitur kayu jati dan telepon kuno yang menghiasi setiap sudut. Ruang tengah setelah lobi kini difungsikan sebagai ruang tamu sekaligus "museum mini" yang memajang artefak bersejarah. Bahkan di sepanjang koridor, foto-foto arsip menceritakan transformasi bangunan ini dari masa ke masa.
Di balik kemolekan arsitekturnya, The Phoenix Hotel menyimpan sejarah yang sangat erat dengan Presiden Soekarno. Bung Karno pernah berkantor di Yogyakarta saat ibu kota negara pindah dari Jakarta. Pada 4 Januari 1946, Jakarta diduduki oleh Netherlands Indies Civil Administration atau NICA, sehingga ibu kota negara harus pindah dari Jakarta ke Yogyakarta.
Beruntung,
berkat bantuan salah satu pegawai hotel, Mas Bagus, saya berkesempatan melihat
langsung ruang kerja sang Proklamator di lantai dua sisi kiri bangunan utama.
Ruangan bersejarah ini memiliki langit-langit tinggi, lantai kayu asli, meja
kerja, dan jendela besar khas arsitektur kolonial yang memastikan sirkulasi
udara tetap maksimal. Di dindingnya, berderet foto-foto Bung Karno bersama
keluarga serta dokumentasi aktivitas penting beliau selama di Yogyakarta.
Menariknya
lagi, keberadaan sebuah pintu rahasia berupa panel kayu di dinding ruangan
tersebut. Konon, pintu ini digunakan sebagai jalur evakuasi demi keamanan
presiden di masa perang. Selama sekitar 45 menit di ruangan ini, ingatan saya
berkelana, membayangkan suasana puluhan tahun silam saat Bung Karno bekerja di
sini, merajut masa depan Republik di tengah ancaman kolonial yang masih
mengintai.
| Penulis di ruang Kerja Bung Karno di Phoenix Hotel 1946 |
| Penulis di depan hotel The Phoenix Jogja |
Napak tilas bersejarah ini berlanjut ke kamar nomor 201, yang kini dikenal sebagai The Merdeka Suite. Di kamar inilah Bung Karno dahulu beristirahat. Interiornya tetap dipertahankan dengan gaya vintage yang elegan. Dari balkonnya, Bung Karno dulu kerap memandang langsung ke arah jalan raya, menyaksikan denyut nadi kehidupan rakyat Yogyakarta.
Tidak
hanya soal ruang dan bangunan, hotel ini juga mengabadikan kegemaran kuliner
Sang Proklamator melalui paket "Soekarno Signature". Tamu dapat
mencicipi hidangan favorit beliau, seperti Sayur Lodeh Rebung dan Tempe yang
sederhana namun penuh makna, serta minuman "Sang Saka"—minuman
berwarna merah-putih yang terinspirasi dari semangat kemerdekaan.
Jejak
langkah Soekarno di The Phoenix Hotel bukan sekadar cerita pelipur lara,
melainkan alasan kuat mengapa bangunan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
Malam ini, di bawah lampu temaram hotel, saya sadar bahwa selalu ada cerita menarik dari kota ini bagi mereka yang mau merawat ingatan.
*Kamis, 17 Desember 2025. Keterangan
dalam tulisan ini bersumber dari Mas Bagus, salah satu pegawai Hotel The
Phoenix Yogyakarta dan buku bangunan-bangunan bersejarah di Yogayakarta yang bisa
diakses oleh pengunjung di lobi hotel.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Sepulang dari Pusat Studi Kearsipan Pesiden RI Soekarno
4) Dari Gedung Lanraad ke Penjara Benceuy
5) Aku Kembali ke Bandung, Kepada Cintaku yang Sesungguhnya
6) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih
7) Bung Karno di Mata Mahbub Djunaidi
8) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Soekarno
9) Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi untuk Kemerdekaan RI
10) Sutan Sjahrir: Hidup yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layang Dimenangkan



0 Komentar