Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

ilustrasi. sumber: Kompas.id




Oleh: Jumardi Putra*


Musuh terbesar guru bukanlah teknologi, melainkan rasa puas diri dan keengganan untuk terus belajar kembali.


Di antara jajaran penulis berlatar belakang guru yang karyanya saya ikuti dalam dua dekade terakhir, J. Sumardianta adalah salah satu sosok yang patut dicatat. Setelah sukses dengan Simply Amazing (2009) dan Guru Gokil, Murid Unyu (2011), karya terbarunya yang bertajuk Guru Update Berdiri, Murid Update Berlari (2022) kembali mencuri perhatian. Kali ini ia berkolaborasi dengan Dita Puti Sarasvati. Meski keduanya aktif mengajar, mereka berangkat dari latar belakang berbeda: Sumardianta adalah guru di salah satu SMA swasta di Yogyakarta, sedangkan Dita merupakan pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna, Jakarta.

Kehadiran buku ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan di Indonesia saat ini. Penulis mengajak kita melihat realitas bahwa ruang kelas kita—bahkan hingga ke pelosok desa—kini dihuni oleh para "Digital Natives" (generasi yang lahir berdampingan dengan teknologi). Ironisnya, mereka sering kali dididik oleh para "Digital Immigrants" (generasi yang baru mengenal teknologi di usia dewasa) yang tidak jarang masih gagap teknologi.

Saya pribadi sering terkejut melihat murid-murid sekarang memiliki gawai bermerek dengan fitur canggih yang harganya tidak murah. Meski secara fungsional belum sepenuhnya relevan dengan usia mereka, gawai tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian—mulai dari sekadar berswafoto, menjelajah media sosial, hingga menyunting video menggunakan aplikasi berbasis AI.

Data BPS tahun 2024 memperkuat fakta ini: pengguna telepon seluler mendominasi sebesar 82,05%, selaras dengan peningkatan penggunaan internet sebesar 72,78% pada penduduk usia 5 tahun ke atas dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Akses informasi yang melimpah ini secara radikal telah mengubah cara pandang murid terhadap sekolah dan kedudukan guru. Sekolah kini bukan lagi sekadar gedung fisik, melainkan "ruang kelas baru" di jagat digital. Di sana, guru bukan lagi pemegang otoritas tunggal penyedia informasi.

Dalam konteks inilah judul buku ini menemukan relevansinya. Judul yang out of the box ini bermakna ganda yaitu selain memuat sindiran juga menghadirkan tantangan bagi para guru. Pesannya terasa jelas bahwa jika guru tidak segera melakukan pembaruan kapasitas diri (update), mereka akan tertinggal oleh murid yang sudah berlari kencang bersama internet.

karya J. Sumardianta dan Dita Puti Sarasvati

Buku ini tidak menyajikan teori pedagogi yang kaku dan membosankan, melainkan kumpulan esai reflektif yang tajam. Melalui kepiawaiannya, Sumardianta mengurai kompleksitas pembelajaran di tengah kerumunan virtual—dicirikan dengan penggunaan teknologi digital di lingkungan pendidikan secara masif. Setidaknya, ada tiga kapasitas guru yang ditekankan dalam buku ini agar proses belajar tetap humanis, dialogis, dan efektif.

Pertama, di tengah banjir informasi, tugas guru bukan lagi menyuapi materi yang mudah dicari di Google melalui pelbagai aplikasi Artificial Intellegence, melainkan mengurasi informasi mana yang benar, berbobot, dan relevan. 

Data Kemendikdasmen 2024/2025 menyebutkan sebanyak 316.167 sekolah telah terhubung dengan jaringan internet, mencakup jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 122.596 satuan pendidikan, Sekolah Dasar (SD) sebanyak 120.394 sekolah. Selanjutnya, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 36.541 sekolah, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 13.122 sekolah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 13.178 sekolah, Pendidikan Masyarakat (Dikmas) sebanyak 8.136 satuan, serta Sekolah Luar Biasa (SLB) sebanyak 2.200 sekolah. itu artinya, kemampuan guru menavigasi belantara informasi sesuai satuan pendidikan masing-masing menjadi tidak terelakkan.

Kedua, penulis buku ini mengkritik sistem pendidikan yang mekanistik layaknya pabrik. Karena itu, J. Sumardianta mendorong para guru untuk menyentuh sisi kemanusiaan, minat, dan bakat unik setiap murid. Untuk sampai di tahap itu, menurut hemat saya, kematangan seorang guru baik secara intelektual, emosional dan spiritual menjadi satu kesatuan. Kondisi murid yang sehari-hari bersinggungan dengan teknologi digital—dengan segala efek turutannya—ibarat dua belah mata pisau--memerlukan relasi saling mengapresiasi sebagai “subjek” pembelajar agar tidak terjerembab dalam hubungan yang dilandasi oleh hirarkis jabatan ansikh, yang menggantungkan pada aturan sekolah sehingga menekankan ketertiban secara paksa, ketimbang memunculkan kehendak belajar secara langsung dari sang murid. 

Ketiga, guru tidak boleh bersikap reaktif atau melarang murid menjelajahi dunia digital secara serampangan. Sebaliknya, guru harus mampu membangun harmoni dengan murid di "ruang kelas baru" itu tanpa meninggalkan esensi belajar di ruang kelas konvensional di sekolah. Hal ini bukan perkara mudah, tapi kemampuan seorang guru mengakses keluasan informasi di belantara internet serta didukung hubungan yang dialogis dengan murid menjadi langkah jitu untuk  membentuk komunitas pembelajaran yang menyenangkan di sekolah.

Sebagai karya intelektual, buku ini menggunakan bahasa populer yang kaya akan metafora, jauh dari kesan kaku seperti buku diktat pelatihan yang sering dipakai guru-guru di tanah air. Referensi yang digunakan Sumardianta sangat luas—mulai dari filsafat, film, musik pop, hingga tren teknologi terkini—sehingga pembaca diajak berkelana di horizon pengetahuan yang menyegarkan.

Meski bagi pembaca yang terbiasa dengan panduan teknis yang sistematis, buku ini mungkin terasa sedikit "melompat-lompat", tapi di situlah letak kekuatannya sebagai pemantik pemikiran bersama. Hal itu tercermin dari struktur buku ini yang terbagi menjadi tiga bagian utama yakni Bagian I bertajuk Senja Gutenberg Fajar Zuckerberg (memuat 9 esai), lalu Bagian II bertitimangsa tentang Kesederhanaan Pembelajaran, Kebenaran Pendidikan (memuat 26 esai), dan dipungkasi perihal Seni Berbagi Kebaikan (21 esai) pada bagian III.

Pada akhirnya, buku ini semacam alarm bagi kita semua bahwa musuh terbesar seorang guru bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan rasa puas diri dan keengganan untuk belajar kembali (unlearn and relearn).


*Kota Jambi, 26 Januari 2026.

*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:

1) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

2) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

3) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

4) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu

5) Aku Bertanya, Apa Gunanya Pendidikan?

6) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

7) Intelektual Organik

8Kegenitan Intelektual

9) Kemalasan Intelektual

10) Ilusi "Yang Terhormat"

11) Rektor dan Kemimpinan Intelektual, Sebuah Autokritik

12) Belajar dari Bung Karno

13) Karena Bung Hatta

14) Sutan Sjahrir: Hidup yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layang Dimenangkan

15) Dari Penjara ke Penjara: Jejak Ideolog Tan Malaka

16) Kritisisme dan Konsistensi Soe Hok Gie

17) Merawat Tradisi Akademik, Oase dari Mandalo

18) Dilarang Belok Kiri!

19) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi

20) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri

21) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM

22) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa

23) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif

24) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra

25) Membaca Pemikiran Kwik Kian Gie

26) Membaca Sabeni, Mengenal Marzuki Usman

0 Komentar