Kritisisme dan Konsistensi Seorang Soe Hok-Gie

 

Soe Hok-Gie

Oleh: Jumardi Putra*

Ketika Soe Hok-Gie atau Gie meninggal dunia pada 16 Desember 1969, saya belum lahir. Anak dari Soe Lie Piet (Salam Sutrawan), sastrawan cum wartawan di masa pergerakan nasional pada zaman Jepang itu menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Gunung Semeru di Jawa Timur.

Kepergiannya jelang sehari menginjak usia ke-27 tahun (17 Desember 1947-16 Desember 1969) menghentak jagad perpolitikan ketika itu, lantaran ia merupakan salah satu tokoh kunci angkatan 66 (non partisan) yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah Soekarno dan turut membuka gerbang bagi rezim Orde Baru yang kelak sepeninggalannya justru bertindak represif dan otoritarian.

Gie juga tidak sempat menyaksikan Indonesia baru tanpa Bung Karno yang dikeruk kekayaan alamnya dan ketimpangan sosial yang tak berujung akibat jatuhnya Indonesia ke dalam pelukan kapitalisme. Apakah Soe Hok-Gie akan menyesal mengetahui kenyataan rezim baru yang terbentuk? Kita tidak tahu, itu juga pertanyaan yang tidak bisa kita temukan jawabannya.

Kali pertama saya mengenal nama Soe Hok-Gie tahun 2002 di sebuah toko buku di Desa Cukir, Kabupaten Jombang, melalui catatan hariannya yang dibukukan pada tahun 1983 dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Dengan kata lain, menginjak usia 15 tahun barulah saya membaca penggalan catatan harian adik dari Soe Hok Djin atau yang akrab disebut Arif Budiman itu. Dua bersaudara dari keluarga berdarah Tionghoa yang sama-sama saya hormati karena dedikasi dan keilmuannya.

Sedari 2002 hingga puncaknya saat menempuh studi S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saya berkesempatan memperluas sumber bacaan dan mulai mengoleksi tulisan-tulisan Soe Hok-Gie, antara lain Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920 (skripsi sarjana muda di UI) yang diterbitkan Bentang pada tahun 1999, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997), Zaman Peralihan: sehimpun artikel-artikel Soe Hok-Gie tahun 1967-1969 (Bentang, 1999) dan Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 1983). Menyusul obituari Soe Hok-Gie yang ditulis indonesianis Ben Anderson di jurnal Indonesia Cornell University, edisi April 1970, buku Soe Hok-Gie Sekali Lagi, Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya (KPG, 2009) dan Memoar Gie oleh Agus Santosa (Gradien Books, 2005).

Tulisan Gie tajam, tanpa tedeng aling-aling, dan kerapkali sinis. Tak jarang sikap terus terangnya menuai protes dan bahkan permusuhan dari mereka yang terganggu karena hantaman kritiknya. Tetapi Gie tidak bergeming, dan justru berujar, “Saya telah memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan, daripada menyerah kalah pada kemunafikan.” (30 Jui 1968). Kata-kata penuh tenaga itu begitu familiar bagi generasi muda yang mengakrabi pikiran-pikirannya, dan akan terlihat jelas bahwa kritiknya tidak semata ditujukan pada kekuasaan melainkan juga ke kalangan intelektual yang menjadi teknokrat alias sekrup-sekrup dalam roda pemerintahan.

Warisan Soe Hok-Gie bukan semata cerita tentang buku, pesta dan cinta, sebagaimana belakangan ini mudah kita jumpai kata-kata bijak dan puisi-puisinya di linimaya, tetapi tulisan-tulisannya merupakan pandangan sekaligus sikapnya melihat situasi ekonomi dan politik pada masanya, sebagaimana dapat kita baca dalam goresan penanya, “Kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Merujuk pengantar Stanley dan Aris Santoso, editor buku Zaman Peralihan karya Soe Hok-Gie (Bentang, 199), medio 1960 sampai akhir 1970-an (tepatnya 1969) merupakan periode transisional pada tingkat kekuasaan: dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada umumnya periode transisional selalu ditandai dengan situasi kondusif bagi muculnya pemikiran-pemikiran baru, kalau tidak hendak mengatakan: radikal. Indonesia saat itu sedang “cair” belum ada sentralisasi dan penyeragaman produksi gagasan. Situasi seperti ini memungkinkan munculnya pemikiran-pemikiran baru dari mana saja.

Namun, kesadaran subjektif Soe Hok-Gie juga turut menentukan. Walau situasinya kondusif, kalau tidak memiliki keprihatinan sosial, tentu momentum itu akan lewat begitu saja. Inilah yang membedakan Soe Hok-Gie dengan aktivis-aktivis mahasiswa pada masa itu, terutama sikap konsistensinya. Sementara rekan seperjuangannya yang lain sebagian besar larut pada struktur kekuasaan, ia memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Bentuk ketidakpuasannya terhadap anak-anak muda masa itu, yang notabene rekannya sendiri yang menjadi bagian dari sekrup-sekrup dalam roda pemerintahan, sebelum berangkat ke Gunung Semeru, Soe Hok-Gie mengirimkan paket lipstik dan bedak yang ditujukan pada anggota DPR. Tindakan Gia demikian itu tak lain adalah sindirannya agar teman-teman lama aktivis kampus yang sudah jadi anggota DPR pandai bersolek di hadapan pemerintah. Soe Hok-Gie sangat kecewa pada teman-teman seperjuangan yang dianggap telah melupakan perjuangan. Teman-teman Gie ketika itu yang menjadi anggota DPR-GR diangkat untuk mewakili mahasiswa  terdiri dari 13 orang, antara lain Fahmi Idris, Mari'e Muhamad, Slamet Sukirnanto, Soegeng Sarjadi, Cosmas Batubara dan Liem Bian Khoen (Sofyan Wanandi).

Berjalannya waktu, Gie, yang gamang akan jalan sunyinya sebagai intelektual dan aktivis karena dia anggap tak menghadirkan perubahan, sebelumnya memang sempat menunjukkan sepucuk surat dari seorang kawan di Amerika Serikat kepada sang kakak, Arief Budiman,  yang intinya mengatakan, ’’Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu.’’

Namun, peristiwa kepergian Gie untuk selamanya saat mendaki Gunung Semeru menyadarkan Arief bahwa perjuangan sang adik menyuarakan apa yang diyakininya benar itu ternyata tak sia-sia. Bahkan seorang penjual peti mati menangis saat tahu peti mati itu disiapkan untuk Gie. Dan, seorang pilot angkatan udara menyebut Gie akan bisa berbuat lebih banyak lagi seandainya masih hidup.

Dari situ, Arief merasa mata batinnya terbuka bahwa ketidakadilan bisa merajalela, terlebih lagi bila sistem politik membuatnya makin sulit dikontrol, tapi bagi seseorang yang secara jujur dan berani mengkritik semua itu, dia akan mendapat dukungan tanpa banyak suara dari banyak orang. Maka, di dekat peti mati sang adik saat bersiap melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Jakarta, Arief menulis, ’’Gie kamu tidak sendirian.’’

Gie adalah intelektual berpikiran luas dan berani. Meski disergap kesepian, sikap konsisten menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang keliru pada masa itu adalah teladan bagi generasi sekarang. Begitu juga melalui tulisan-tulisannya, meski merupakan pandangan sekaligus refleksi atas realitas sosial pada masanya, memiliki relevansinya dengan situasi tanah air sekarang. Kerusakan alam imbas penetrasi kapitalisme, oligarki, korupsi, dan ketimpangan sosial yang menjadi-jadi adalah problem akut sekarang, yang sedari dulu juga menjadi perhatian serius Soe Hok-Gie.

Setelah 51 tahun kematian Soe Hok-Gie (1969) dan menyusul Bung Karno setahun setelahnya (1970), dan kita yang hari-hari ini masih berjibaku melawan virus corona sekaligus berusaha bertahan di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, melihat kian pudarnya keyakinan akan terjadi perubahan yang fundamental dalam mewujudkan tata kelola pemerintah yang mampu mengejawantahkan kemerdekaan yang hakiki. Bukan kemerdekaan palsu yang muncul dari hipokrisi.

*Tulisan ini terbit pertama kali di portal Jamberita.com. 

*Tulisan saya lainnya tentang Soe-Hok Gie: Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie

0 Komentar