Belajar dari Bung Karno

Bung Karno membaca buku (Istimewa)


Oleh: Jumardi Putra 

Mengingat Bung Karno selalu membawa saya pada sosok pejuang sekaligus pemikir--juga seorang pelahap buku (bookworm). Saya hingga kini membaca dan mengoleksi buku-buku Sukarno maupun buku-buku yang mengulas sosok dan pemikiran tentang Bung Karno. Bahkan, hampir semua pidato Bung Karno terdokumentasi dengan baik hingga saat ini sehingga bisa dibaca publik luas.

Kecerdasan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, bukanlah bakat yang turun dari langit begitu saja, melainkan hasil dari dialektika batin yang intim dengan buku sejak usia muda. Saat masih menempuh studi di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, di bawah asuhan ideologis sang Raja Tanpa Mahkota, H.O.S. Cokroaminoto (De Ongekroonde van Java), Sukarno remaja telah menumpahkan bongkahan pikirannya ke dalam ratusan artikel di koran Oetoesan Hindia.

Jika kita mencermati teks-teks pidato dan tulisan Sukarno yang melegenda--termasuk penggalian konsep dan istilah Pancasila--kita akan dibuat terkesima oleh keluasan cakrawala berpikir putra sang Fajar--julukan Bung Karno. Ide-ide bernasnya tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merujuk pada teori-teiri besar pemikir dunia. Dari tangannya, mengalir sintesis pemikiran Karl Marx, Pieter Jelles Troelstra, Karl Kautsky, Henriette Roland Holst, Jean Jaures, Ernest Renan, Otto Bauer, hingga Vladimir Lenin. Ia juga menyerap spirit pergerakan dari Timur melalui Sun Yat Sen, Kemal Atatürk, Rudolf Hilferding, Mahatma Gandhi, hingga Sarojini Naidu.

Daya imajinasinya merengkuh banyak aspek, bertolak dari persinggungan zahir dan batinnya dengan realitas konkret bangsa yang sedang terjajah, sehingga dengan penuh kesadaran ia menggelorakan tuntutan kemerdekaan. Sungguh sebuah kebanggaan historis memiliki seorang pemimpin dengan kapasitas intelektual secemerlang itu. Hal ini tercermin pada buku-buku yang ia tulis sendiri seperti Di Bawah Bendera Revolusi, Mencapai Indonesia Merdeka, Sarinah, Islam Sontoloyo, dan Nasionalisme, Islamisme, Marxisme. Kesemua itu adalah teks-teks berat yang menandingi kualitas pemikiran para intelektual sezamannya di tingkat internasional.

Warisan pemikiran Bung Karno selain terus ditelaah oleh banyak akademisi dan peneliti, juga kini dirawat oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) melalui penerbitan seri buku berlabel Sukarnologi—sebuah konsep pengkajiian yang berpangkal pada pemahaman tentang Bapak Proklamator melalui arsip foto, dokumen, dan rekaman pidato autentik.

Soekarno tidak sendirian. Ia hidup dan berdialektika dalam ekosistem para pejuang yang juga pembaca tulen—seperti Tjokroaminoto, Sjahrir, dan Haji Agus Salim. Bahkan, pada taraf tertentu, Mohammad Hatta dan Tan Malaka berada di garis terdepan dalam menghasilkan buku-buku teks pemikiran yang rigid dan berdisiplin tinggi, tak ubahnya karya akademik.

Bung Hatta, misalnya, menorehkan tinta emasnya untuk tiga cabang ilmu sekaligus melalui karya-karya monumental yaitu Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi (1957) untuk disiplin ilmu ekonomi, Alam Pikiran Djunani (1943) untuk bidang sejarah filsafat—sebuah buku yang bahkan dijadikan maskawin pernikahan beliau dan Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan (1964) untuk disiplin filsafat ilmu pengetahuan.

Di luar segala kontroversi politik pasca-kemerdekaan—termasuk era Demokrasi Terpimpin dan silang sengkarut peristiwa kelam 1965—sejarah tidak bisa menghapus fakta bahwa republik ini didirikan oleh sekumpulan raksasa pemikiran yang gila membaca.

Tradisi emas literasi founding fathers ini terus berlanjut, kemudian diwarisi secara apik oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Sejak remaja, Gus Dur telah melahap karya-karya bereputasi internasional mulai dari kitab ekonomi-politik Das Kapital karya Karl Marx, filsafat klasik Plato dan Thales, analisis sosiologis The Moral Economy of the Peasant karya James C. Scott, karya historis Aera Eropa tulisan J.M. Romein, hingga novel-novel sastra dunia gubahan André Gide, Ernest Hemingway, John Steinbeck, serta William Faulkner.

Gaya literasi Gus Dur mewujud dalam ratusan kolom di Majalah Tempo lama dan berbagai harian nasional sejak medio 1970-an. Tulisan-tulisannya menyentuh seluruh spektrum kehidupan: dari urusan kiai dan pesantren, sosial-politik internasional, sastra dan musik, hingga ulasan sepak bola. Karakteristik tulisan Gus Dur terasa ringan, mengalir, jenaka (seperti yang terlihat dalam pengantarnya untuk buku terjemahan Mati Ketawa Ala Rusia, 1986), namun selalu melontarkan perspektif yang tidak terduga (out of the box). Jika Sukarno tampil dengan gaya yang serius dan sarat teori makro, Gus Dur hadir dengan kelenturan budaya yang membumi. Namun keduanya memiliki kesamaan: menjadi magnet yang paling banyak ditulis oleh para peneliti di dalam maupun luar negeri.

pada akhirnya, membaca rekam jejak para pemimpin kita, sebuah pertanyaan besar memukul kesadaran kita yaitu mengapa generasi hari ini yang memiliki akses tak terbatas terhadap informasi, justru mengalami kemunduran dalam kedalaman berpikir?

Buku-buku yang dahulu menjadi senjata para pendiri bangsa untuk merebut kemerdekaan, kini kerap kali hanya menjadi hiasan berdebu di sudut ruangan atau komoditas yang asing bagi anak-anak kita. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak negeri ini tumbuh menjadi penonton di tanah airnya sendiri—menjadi generasi yang gagap membaca realitas, mudah diombang-ambingkan oleh hoaks, dan kehilangan daya kritis.

Membangkitkan literasi anak negeri bukan sekadar tugas menteri, guru di sekolah, atau pustakawan. Ini adalah utang moral kita, orang dewasa yang hari ini menikmati indahnya pengetahuan. Menghidupkan tradisi membaca adalah upaya menjemput kembali cahaya di balik jendela buku, agar anak-anak kita mampu menatap masa depan dengan kepala tegak dan pikiran yang merdeka.

Mari turun tangan, bukan sekadar urun angan. Karena pada setiap lembar buku yang dibuka oleh anak-anak kita hari ini, di situlah denyut nadi kejayaan Indonesia masa depan sedang dipertaruhkan.


*Kota Jambi, 1 Juni 2025. Foto Soekarno sedang membaca buku dalam masa pembuangannya di Prapat, Danau Toba, Sumatera Utara (1949). Sumber: Bob Hering dalam bukunya Soekarno: Arsitek Bangsa (Kompas, 2012).

*Tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1)  Sepulang dari Pusat Studi Arsip Kepresidenan Sukarno

2) Sejarah Jambi di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

3) Monumen Kisah Cinta Bung Karno dan Inggit Garnasih

4) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih

5) Bung Karno di Mata Mahbub Djunaidi

6) Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi Untuk Kemerdekaan RI

7) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Sukarno

8) Dari Gedung Landraad ke Penjara Banceuy

9) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946

10) Kisah Puteri Gubernur Jambi 1975 Tentang Bung Karno

11) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman

12) Gus Dur: Presiden, Santri dan Pemikir

13) Jalan Terjal B.J. Habibie

14) Dari Penjara Ke Penjara: Jejak Tan Malaka

15) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tidak Dipertaruhkan, Tak Akan Pernah Dimenangkan

16) Lahirnya Fajar Kesadaran Nasional

Posting Komentar

0 Komentar