![]() |
| ilustrasi. makassarterkini.id |
Oleh: Jumardi Putra*
Setiap
kali musim pemilu tiba, pemandangan jalanan kita berubah drastis. Di sepanjang
jalan, wajah-wajah politisi bertebaran, namun ironisnya, mereka hadir dengan
cara yang menyakitkan: menutupi rimbunnya dedaunan dan memaku batang-batang pohon.
Di bawah tanah, akar-akar pohon berjuang menopang kehidupan, sementara di
atasnya, kayu dan bambu penopang baliho dipaksa menancap dengan kasar. Tak
jarang, kawat dan tali rafia melilit erat dahan-dahan muda, seolah mencekik
tumbuhan yang tak mampu bersuara itu.
Saya
sering tertegun menatap pemandangan ini baik saat berangkat maupun pulang dari
kantor ke rumah. Di samping baliho-baliho megah itu, ada rumput yang mulai layu
dan pepohonan yang meranggas. Padahal, pohon-pohon itu adalah sisa-sisa ruang
terbuka hijau yang kian menyempit di kota kita. Namun, ruang yang sedikit itu
pun tak luput dari "amukan" atribut kampanye.
Fenomena
ini bukan hanya terjadi di Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi,
melainkan sudah menjadi fakta umum di
berbagai penjuru tanah air. Pohon-pohon di tepi jalan dipaksa memikul beban
hasrat manusia yang—katanya—sedang beradu visi, misi, dan ambisi. Publik pun
dipaksa menyaksikan betapa "panasnya" suhu politik melalui
pohon-pohon yang terluka.
Selain
merusak estetika kota, praktik ini menunjukkan kekeringan kreativitas. Muncul
pertanyaan, di era digital saat ini, ketika gawai sudah menjadi bagian dari
tubuh kita, mengapa ruang publik dan makhluk hidup masih harus dikorbankan?
![]() |
| Ilustrasi kesemrawutan APK caleg/Foto: Fb Andri Bronk |
Seorang
politisi seharusnya memiliki kesadaran tinggi bahwa pohon adalah paru-paru
kehidupan yang mesti dirawat, bukan properti kampanye yang bisa dirusak.
Memanfaatkan tumbuhan untuk kepentingan politik adalah bentuk mencederai hak
asasi alam.
Jika kita
bicara dengan bahasa materi, pernahkah kita menghitung berapa harga kesetiaan
sebatang pohon? Menurut catatan Huffington Post, manusia dewasa
membutuhkan sekitar 550 liter oksigen murni per hari. Jika oksigen murni itu
dibeli dengan harga pasar Rp25.000 per liter, maka setiap orang harus merogoh
kocek sebesar Rp13.750.000 setiap harinya.
Alam
memberikannya kepada kita secara cuma-cuma, tanpa syarat, dan tanpa perlu
kampanye. Itulah sumbangan mutlak pepohonan bagi napas kita. Maka, adalah
sebuah keniscayaan bagi kita untuk merawatnya dengan sungguh-sungguh.
Melalui
tulisan ini, saya mengajak segenap elemen masyarakat—para akademisi, penyelenggara
pemilu, hingga partai politik—untuk kembali menaruh hormat pada alam. Peranan
pohon bagi seluruh makhluk di bumi harus disadari sejak dalam pikiran dan
diwujudkan dalam tindakan nyata. Jangan sampai mereka yang menyebut diri
bekerja "atas nama rakyat" justru menjadi pihak yang pertama kali
merampas hak rakyat untuk menghirup udara segar dari pohon-pohon yang sehat.
Sebab, suara rakyat bisa dihitung di kotak suara, namun napas rakyat sangat bergantung pada pohon-pohon yang kita jaga.
*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik esai portal kajanglako.com.
Tulisan saya lainnya berikut ini:
1) Di Balik Politik "Wani Piro"
2) Berpolitik Secukupnya, Berkawan Selamanya
3) Pilpres 2024: Maklumat Kebudayaan
4) Suatu Pagi Setelah 25 Tahun Reformasi
5) Sihir Rocky Gerung dan Paradoks Masyarakat Digital
6) Senyum Caleg Kegembiraan Kita Semua
7) Politik Identitas dan Sampah Politik
8) NU Jambi, Politik Kekuasaan dan Kemaslahatan Umat
9) May Day, Unjuk Rasa dan Protes Dengan Humor
10) Negeri Ini Tidak Kekurangan Calon Presiden, Tapi
11) Lisanul Hal, Kisah Teladan Kepemimpinan
13) Demokrasi dan Krisis Kepemimpinan



0 Komentar