Caleg Gila: Potret Buram Demokrasi

ilustrasi. sumber: edi wahyono.detik.com




Oleh: Jumardi Putra*

Pemilihan anggota legislatif yang baru saja usai masih menyisakan persoalan pelik, terutama pasca-pengumuman kemenangan. Meski berbagai kalangan berulang kali menyerukan agar semua pihak menerima hasil dengan dingin, damai, dan elegan, sejarah politik republik ini menunjukkan bahwa imbauan tersebut sering kali masih "jauh panggang dari api."

Fenomena yang paling menyita perhatian—sekaligus memprihatinkan—adalah stres berat yang menimpa para calon anggota legislatif (caleg). Banyak dari mereka tumbang saat mendapati kenyataan bahwa perolehan suaranya jauh di bawah harapan.

Gejala yang muncul beragam mulai dari penyakit fisik seperti hipertensi dan kendala jantung, hingga gangguan mental yang mengharuskan mereka dirawat di pusat rehabilitasi. Akar masalahnya serupa yakni salah kaprah dalam menakar antara harapan dan kenyataan.

Merujuk pandangan budayawan Radhar Panca Dahana, fenomena "kegilaan" caleg ini bukan sekadar soal kultur politik yang tidak matang. Lebih dalam dari itu, praktik demokrasi kita telah menjadi hampir tidak manusiawi. Praktik politik sekarang perlahan menghancurkan karakter kemanusiaan baik secara individu maupun kolektif.

Kursi legislatif yang seharusnya dihormati karena nilai sejarah dan fungsinya, kini hanya dipandang sebagai instrumen kekuasaan. Jabatan politik diukur semata-mata sebagai akses menuju sumber daya ekonomi dan sosial, bukan sebagai amanah untuk pengabdian.

Pada Pemilu 2009, penerapan sistem suara terbanyak menggantikan nomor urut menciptakan kompetisi yang sangat sengit. Dengan jumlah kontestan yang membludak namun kursi yang terbatas, persaingan menjadi terbuka lebar dan sering kali menghalalkan segala cara—mulai dari yang rasional hingga yang irasional, seperti meminta bantuan paranormal.

Masalah kian pelik karena diferensiasi antarcaleg kerap bertumpu pada kekuatan uang. Demi mengenalkan diri ke masyarakat, banyak caleg yang terjebak dalam skema seperti berhutang besar-besaran untuk biaya kampanye, kehabisan harta benda saat pemungutan suara usai dan menanggung beban hutang yang menumpuk saat kalah.

Kondisi ini tidak hanya menghancurkan mental sang caleg, tetapi juga merusak ketenteraman rumah tangga dan lingkungan sekitar. Tragedi calon Bupati di Jawa Timur yang kehilangan kewarasan serta ditinggalkan keluarga setelah menghabiskan Rp3 miliar menjadi pengingat pahit bagi kita semua.

Melihat potret buram ini, partai politik memiliki pekerjaan rumah. Parpol tidak sepatutnya hanya merekrut orang atas dasar popularitas dan kemampuan logistik untuk mengejar kursi semata tanpa melalui proses kaderisasi yang matang.

Pendidikan politik yang komprehensif adalah kunci agar caleg memiliki perencanaan dana kampanye yang terukur dan berimbang, siap secara mental menghadapi kemenangan maupun kekalahan dan memahami nilai-nilai ideologis jabatan yang mereka incar.

Jika proses pendidikan politik di negeri ini berjalan baik, masyarakat tidak akan lagi disuguhi tontonan elite yang rapuh—kemasan (citra) lebih penting dibanding isi (subtansi). Sebaliknya, kita akan menemukan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara politik, tetapi juga memiliki kemantapan jiwa, keluasan gagasan, serta kesantunan yang membuat mereka benar-benar dicintai oleh publik.

*Yogyakarta, 2009.

0 Komentar