![]() |
| ilustrasi. anak korban perang. sumber: harian.disway.id |
Oleh:
Jumardi Putra
Perang selalu kejam, membingungkan, dan membunuh akal sehat. Meski begitu, sulit menyangkal bahwa di balik invasi maupun pembalasan atasnya, selalu tersimpan alasan-alasan kompleks dari sebuah negara. Di sinilah elit politik menjadi dirigen utama dari simfoni kepentingan yang melatarinya. Namun, di balik kerumitan geopolitik itu, ada satu fakta yang tak terbantahkan yaitu rakyatlah yang selalu menjadi tumbal. Bukan hanya orang dewasa, melainkan kaum disabilitas dan anak-anak yang masa depannya direnggut paksa. Mimpi, cita-cita, dan harapan mereka sirna sebelum sempat mekar. Pepatah Persia mengatakan, "Yang kering dan yang basah terbakar bersama". Ironi.
Mencermati
hiruk-pikuk palagan beberapa waktu belakangan ini—dari perang Israel-Amerika Serikat dengan Iran, luka yang belum mengering di Rusia-Ukraina,
hingga bara di Selat Taiwan—saya merasa kita tidak sekadar sedang melihat
konflik antarnegara. Kita sedang menyaksikan masa depan warga dunia yang hadir
lebih awal dengan wajah yang paling mengkhawatirkan.
Di tengah
narasi kemajuan peradaban yang konon mampu menaklukkan jarak dan waktu, perang
justru menyingkap sisi tergelap dari kecanggihan itu yaitu sebuah kemunduran
kemanusiaan yang diperisai oleh teknologi militer.
Dulu,
perang adalah pertemuan fisik yang brutal dan berdarah. Kini, maut datang tanpa
perlu saling menatap mata. Meski pertempuran darat belum sepenuhnya sirna,
kenyataan pahit menunjukkan ribuan nyawa gugur dan kota-kota luluh lantak oleh drone
serta rudal hipersonik yang dikendalikan dari sebuah layar monitor.
Teknologi
memang menciptakan presisi, namun ia juga melahirkan jarak psikologis
yang mematikan. Ketika serangan terasa semudah menekan tombol dalam sebuah
permainan video, empati perlahan menjadi variabel yang terlupakan. Kita tidak
lagi melihat manusia di ujung radar; kita hanya melihat koordinat yang harus
dihapuskan dari peta. Kematian kini menjadi statistik yang terhapus dari
catatan sipil dalam tempo yang teramat cepat.
Sesuatu
yang tak kalah menyesakkan adalah melihat reaksi warganet di ruang digital. Di
tengah dentuman rudal yang nyata, perang seolah menjelma menjadi hiburan atau
konten semata di pelbagai kanal media sosial seperti facebook, instagram, tik tok hingga threads, setidaknya itu yang saya cermati. Ada yang terjebak
dalam fanatisme buta, ada pula yang berusaha kritis, namun sering kali semuanya
tereduksi menjadi sentimen keagamaan atau politik yang sempit.
Padahal,
di balik perdebatan algoritma itu, ada manusia yang kehilangan segalanya.
Apapun alasannya, kemanusiaan adalah korban pertama yang dimakamkan tanpa
upacara. Situasi ini diperparah oleh kehadiran kecerdasan buatan (Artificial
Intelligence) yang mengaburkan batas antara fakta dan propaganda, sekaligus
mengerdilkan relevansi jurnalisme yang jujur dan independen.
Saya
bukan ahli militer dan geopolitik, namun satu hal yang sukar disanggah bahwa
peradaban dunia saat ini jauh lebih beringas dalam menghancurkan daripada
memahami. Ini adalah paradoks menyedihkan di abad ini. Saya teringat gagasan Bung Karno yang akan selalu relevan yaitu Nation and Character
Building.
Negara-negara
maju mampu menciptakan algoritma paling rumit untuk membidik target di belahan
benua lain, namun warga dunia gagal menggunakan logika dasar untuk
mengidentifikasi akar kebencian. Dunia sedang mengalami ketimpangan nalar:
evolusi alat perang melesat jauh melampaui evolusi kesadaran manusia untuk merawat
persaudaraan global.
Negara-negara
maju memiliki rudal berpemandu paling akurat, namun di saat yang sama, para
pemimpin dunia kehilangan kompas moral. Teknologi militer mungkin memberi kemenangan
taktis dalam hitungan detik, tetapi ia terbukti gagap melahirkan perdamaian
yang berkelanjutan.
Secara
teori, teknologi seharusnya menjadi tangga untuk mengangkat martabat manusia,
bukan alat untuk mengefisiensikan kehancuran. Maka, warga dunia harus berani bertanya pada
diri sendiri: untuk apa kita menguasai kecepatan cahaya jika hanya digunakan
untuk menghantarkan kegelapan yang lebih cepat?
Pada akhirnya, ukuran kemajuan peradaban bukanlah seberapa mematikan senjata yang mampu diciptakan, melainkan seberapa besar kebijaksanaan yang kita (warga dunia) miliki untuk memastikan senjata itu tidak akan pernah digunakan. Demikian itu mungkin tampak utopis, namun bersikap abai untuk selalu mengingatkan kepada dunia (terutama kepada penguasa bengis-imperialis) bukanlah kelalaian yang dianggap wajar.
*Kota
Jambi, 5 Maret 2026
*Tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Netanyahu-Donal Trump: Wajah Buram Penguasa Megalomania
2) Israel, Palestina dan Nasida Ria
3) Saya, Indonesia, dan Duka Palestina
4) Dinding Harapan: Solidaritas untuk Palestina


0 Komentar