| membaca karya Rusdi Mathari di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta (13/3/26) |
Oleh: Jumardi Putra
Penerbangan Jambi-Jakarta saya baru-baru ini ditemani oleh buah pikir mendiang jurnalis kawakan, Rusdi Mathari. Buku berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya ini sebenarnya telah menghuni rak buku di rumah saya sejak pertama kali diterbitkan oleh Mojok pada 2016. Namun, entah mengapa, setiap kali Ramadan menyapa, tangan ini selalu tergerak untuk meraihnya kembali. Seolah ada dahaga spiritual yang bisa terobati dengan menyelami setiap kisahnya, lagi dan lagi.
Ketertarikan awal saya pada buku ini bermula dari judulnya yang
menggelitik. Cak Rusdi seolah ingin menelanjangi fenomena sosial kita hari ini:
orang-orang yang merasa paling tahu ajaran agama, namun kehilangan esensi
kerendahhatian. Tipikal judul provokatif ini mengingatkan saya pada kumpulan
esai Putut EA, Enaknya Berdebat dengan Orang Goblok, atau karya Muhidin
M. Dahlan, Nakal Boleh, Bodoh Jangan.
Meski substansi ketiga penulis ini berbeda—tergantung isu sekaligus konteks
yang menyertai kelahirannya—ketiganya menyeruapkan rona yang sama, yaitu
“kurang ajar” dalam arti positif: sebuah upaya merangsang pikiran kritis
pembaca agar tidak nyaman dalam kemapanan berpikir.
Buku yang memuat fragmen kisah sufi dari tanah Madura ini jauh dari
kesan teks keagamaan yang kaku. Kepiawaian Cak Rusdi merangkai dialog dengan
latar cerita sepanjang Ramadan berhasil mengajak pembaca merenungi kembali
sejauh mana pengetahuan manusia tentang agama dan Tuhan. Tidak berlebihan
rasanya menyebut buku ini sebagai "tamparan lembut" bagi siapa saja
yang merasa sudah "selesai" dengan urusan iman, lalu merasa lebih
suci dibanding orang lain.
Karena dikemas dalam bentuk prosa naratif, isinya menjadi sangat
inklusif. Ia bisa dinikmati siapa saja tanpa perlu merasa dibebani dalil atau
teori keagamaan yang ndakik-ndakik (muluk). Melalui tokoh Cak Dlahom,
sahabatnya Mat Piti, dan si cantik Romlah plus tokoh dengan pelbagai karakter lainnya yang menarik, pembaca diajak masuk ke ruang-ruang komunal yang akrab seperti pelanta rumah, dapur, kandang kambing, kuburan, tepi kali, surau, hingga warung kopi.
Cak Dlahom, sang tokoh utama dalam buku ini, digambarkan sebagai
"sufi ndeso" yang eksentrik. Ia kerap dianggap gila, bodoh, atau tak
berpendidikan oleh masyarakat sekitar. Namun, justru dari sosok yang dipandang
sebelah mata inilah lahir pikiran-pikiran kritis-reflektif yang tak terduga. Ia
memaksa tokoh lain—dan kita sebagai pembaca—untuk berpikir ulang tentang
praktik keagamaan yang selama ini dianggap mapan; mulai dari hakikat salat,
puasa, zakat, haji, hingga sedekah. Cak Rusdi sendiri mengakui bahwa
kisah-kisah tersebut terinspirasi dari kedalaman kalam para ulama dan tokoh
sufi ternama dunia.
Membaca buku ini mengingatkan saya pada karakter Markesot karya Cak Nun atau Soto Sufi dari Madura: Kisah-kisah Spritual Orang Desa milik KH. Dzawawi Imron yang juga seorang penyair. Meski memiliki napas serupa, Rusdi Mathari memiliki keunikan tersendiri dalam membedah tasawuf yang rumit menjadi obrolan harian yang renyah dengan bahasa khas "Timuran" yang jenaka namun mendalam.
Menurut hemat saya, Rusdi berhasil menggunakan logika terbalik untuk
menelanjangi ego para pemeluk agama, tidak terkecuali para pendakwah yang kerap menyampaikan pesan agama kepada masyarakat. Ia menunjukkan bahwa banyak dari kita
terlalu sibuk menghakimi orang lain (merasa pintar), padahal untuk menyadari
kekurangan diri sendiri saja kita tidak mampu. Melalui Cak Dlahom, Rusdi tidak
sedang menggurui, tetapi ia justru menawarkan perspektif tentang bagaimana mencintai
Tuhan dan agama melalui kemanusiaan dan kerendahhatian.
Buku ini boleh dikata oase di tengah keriuhan media sosial yang penuh
debat hukum fikih yang kaku sekaligus membosankan, dan tak jarang menghakimi. Cak Dlahom berhasil
menyentil ego tanpa membuat telinga merah meradang. Agama tampil dengan wajah
yang ramah, penuh humor, dan sangat relevan dengan kehidupan masyarakat umum.
Membaca buku ini mungkin tidak akan membuat Anda merasa lebih pintar setelah membacanya. Sebaliknya, ia akan membuat Anda pulang dengan sebuah pertanyaan reflektif: "Jangan-jangan, selama ini saya hanya merasa pintar?"
Pada akhirnya, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya adalah cermin
besar yang menyadarkan kita bahwa jalan menuju Tuhan sering kali tidak
ditemukan dalam riuh perdebatan, melainkan dalam kesadaran akan kefakiran kita
sebagai manusia.
*Jakarta, 13 Maret 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Sepotong Hati Rodiyati Ningsih
2) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
3) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica
4) Langkah Kaki Haruki Murakami
5) Besak Ota
6) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
7) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
8) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka dari Pelosok Negeri
11) Ramadan dan Kampung Halaman
14) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita
15) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

0 Komentar