Dari Hari ke Hari: Fragmen II

ilustrasi. 

Oleh: Jumardi Putra*

Terhadap buku-buku yang pernah saya baca, tempat-tempat yang saya kunjungi dan orang-orang yang pernah saya jumpai dan berdialog bersama mereka, saya berhutang budi dan karenanya saya menaruh hormat sekaligus berterima kasih. Melalui ruang-ruang demikian itulah, saya berkesempatan mencatat sekaligus menyerap saripati.

Berikut ini percikan permenungan saya, meneruskan edisi sebelumnya (Dari Hari Ke Hari: Fragmen I)) yang saya tulis singkat sebagai status di aplikasi perpesanan Whatsapp. Mungkin saja ada gunanya.

***

Di ruang perpustakaan pribadi acapkali ketegangan hidup menjadi terasa wajar, dan karenanya memilih kebebasan sebagai sebuah kemerdekaan mensyaratkan alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hidup ini paradoks, dan karenanya perubahan fundamental tidak terjadi oleh semata satu rezim kekuasaan. Hidup ini tak lain akumulasi dari banyak pilihan. Dan di ruangan ini pilihan-pilihan itu terdokumentasi menandai rentang waktu yang panjang.

Maka, membaca pilihan-pilihan itu adalah jalan panjang untuk tidak saja mengerti, tapi juga merengkuhnya sebagai bekal menapaki tapak-tapak baru. Di sinilah, di ruang yang tidak begitu luas ini, dengan segala pernak-perniknya, keluasan itu mengada.

(24 Maret 2021)

 

Hal penting dari setiap perjalanan bukan semata perpindahan fisikal dari satu tempat ke tempat (place) lainnya, tetapi lebih dari itu adalah berkemampuan memaknai ruang (space), yang penuh seluruh di dalamnya tidak dimutlakkan sebagai serba tunggal. Bahwa nun jauh di sana terbentang harapan, bahkan mungkin juga potensi bahaya, tetap saja mensyaratkan langkah pertama dengan memperisai diri dengan keterbukaan pandangan sekaligus kematangan jiwa.

Bahwa selama dalam perjalanan itu kita dituntut menemukan sudut-sudut yang tepat, tidak saja untuk mengerti, tapi juga menempatkan. Maka, setiap perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya, yaitu bertemunya makna “dimana” dan “ruang” yang melingkupinya, adalah usaha meraih kebahagiaan dalam kebermanfaatan. Sejatinya kebahagiaan itu sangat dekat sekali dengan kita. Tugas kitalah untuk menemukan sudut-sudut yang tepat mengartikannya.

(22 Maret 2021)

 

Usai membaca buku The Socrates Express, giliran The Geography of Bliss karya jurnalis Eric Weiner.  Tidak semua buku yang mengatasnamakan catatan perjalanan berhasil mempertemukan antara kepadatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu tarikan nafas. Eric Weiner, sebagaimana bukunya yang lain berjudul The Geography of Genius, tidak hanya piawai menyebut detail kisah perjalanan dengan ditulis memikat, tetapi juga berhasil menghubungkannya ke dalam ruang-ruang dialog, yang tidak saja praktis tetapi juga filosofis.

Eric Weiner, yang juga dijuluki sebagai pemandu jalan, boleh dikata dari sedikit penulis kisah perjalanan yang berhasil dewasa ini.

(21 Maret 2021)

 

Rinai hujan belum sepenuhnya berhenti. Berpasang-pasang inisial, berlangitkan mendung tebal, bergegas membersamai pagi. Memberi tidak sepenuhnya milik mereka yang menang, tetapi juga bisa datang dari yang kalah, sebagaimana mentari pagi tak pernah ingkar janji mendermakan kasihnya kepada makhluk seisi bumi.

Meski si “Binatang Jalang” Chairil Anwar  semasa hidup pernah berujar, “Ingin hidup seribu tahun lagi!”, tapi ia juga mengatakan “hidup hanya menunda kekalahan”. Demikian juga kata si “Burung Merak” WS Rendra bahwa hidup hanyalah prolog menuju Tuhan.

Maka, keduanya menyiratkan keberartian. Demikian itulah sebaik-baiknya orang yang tidak merugi. Selamat pagi. Selamat menunaikan tugas dan janji.

(18 Maret 2021) 

 

Melangkahlah dengan sepenuh-penuhnya keyakinan. Bahwa dalam perjalanan engkau tertusuk oleh tajamnya duri, maka bersikaplah sebagaimana engkau bahagia ketika menghirup aroma wewangian bunga-bunga. Hidup ini sekali, maka berartilah!

(18 Maret 2021)

 

Tersebab tidak semua buku bagus ada di toko-toko buku besar di pusat kota. Pandangan demikian yang kerapkali memandu saya untuk mencari tempat-tempat baru yang menjual buku-buku bermutu, salah satunya toko buku mungil “Post Bookshop” di pasar Santa, Jakarta Selatan, dua hari lalu.

Sayangnya,  setelah berhasil mewujudkan keinginan yang sudah lama berkunjung ke toko buku ini berujung sedikit kekecewaan lantaran selama pandemi corona menyerang negeri ini sedari Maret 2020 sampai sekarang, Post Bookshop memilih tutup (sementara) dan mengalih sepenuhnya ke niaga online melalui aplikasi belanja yang familiar di tanah air.

Tak ada yang perlu disesalkan. Selain membaca, membeli dan mencintai buku dengan segala pernak-perniknya, juga adalah peristiwa. Peristiwa yang mentabalkan “keimanan” kita sebagai “penggila” buku. Nikmatilah perjalanan penuh onak duri yang demikian itu.

Putar kepala, karena pulang mesti membawa buku, saya memilih mengunjungi pasar buku-buku lawas di Blok M Square. Hanya diperlukan ongkos gojek sebesar 13 ribu dari lokasi pasar Santa tadi. Alhamdulillah, menemui buku adalah perayaan. Semacam pesta kecil di ruang-ruang sunyi, tetapi berarti.

(17 Maret 2021)

 

Menjadi “awam” di era pasca-kebenaran dan disrupsi informasi tidaklah mudah. Fakta dan rasio tidak lagi menjadi kompas yang memandu arah jalan, melainkan sentimen dan kepercayaan.

(17 Maret 2021)

 

Pandemi corona merubah segalanya. Meski tak boleh berhenti beraktivitas, semuanya tidak sebagaimana galibnya (untuk menyebut perlunya penyesuaian dengan kebiasaan baru). Meski makan bersama mudah kita jumpai di ruang-ruang publik sekarang ini, tapi harus membuat jarak. Bahkan hotel-hotel tempat saya menginap dalam sebulan terakhir ini, meniadakan makan dengan cara perasmanan. Makanan langsung diantar ke kamar-kamar penginapan.

Penyanitasi tangan tak boleh tertinggal dalam tiap kesempatan, karena itu sebuah ikhtiar yang menentukan agar tranmisi virus corona tidak masuk ke area-area vital di tubuh kita. Di ruang publik, memakai masker menjadi sebuah kesemestian agar tidak terpapar virus yang telah menelan ribuan nyawa manusia di planet bumi ini. Pemberlakuan jam malam bagi warung-warung di tepi jalan terus diberlakukan. Begitu juga pada tempat-tempat yang mengundang keramaian.

Keberangkatan melalui jalur udara mensyaratkan swab antigen, dan itu hanya berlaku selama 2 x 24 jam. Demikian itu hanya sebagian kecil dari praktik penyesuaian yang tidak bisa tidak menjadi perhatian bersama untuk dipatuhi selama dalam masa pagebluk Corona. Perhatian dan kepatuhan pada protokol kesehatan tersebut menjadi kunci utama kita sebagai pembelajar, selain tentu saja tidak melupakan keberadaan alam dan Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Mari tiada henti bermunajat padaNYA.

(20 Februari 2021)

 

Saya punya kenangan khusus dengan buku “Intelegensia Muslim Kuasa” karya pemikir kebangsaan, kang Yudi Latif. Untuk membeli buku tebal itu saya harus menyisihkan sebagian gaji dari hasil bekerja paruh waktu di percetekan buku Pilar Media, Yogyakarta. Bersamaan itu, selain menulis di tabloid, koran dan majalah, saya juga kadang-kadang mengumpulkan dan menjual kertas habis pakai di kantor-kantor, dan uangnya juga untuk membeli buku. Sementara biaya kos dan makan masih bergantung pada kiriman orangtua di kampung.

Kali lain, kuliah sembari membuka jasa sampul buku dari satu pameran buku ke pameran buku lainnya. Pameran buku semacam hari raya bagi para pecinta buku. Dan hari raya itu yang kerapkali saya nantikan.

Agaknya, itu kenapa mencintai buku sampai sekarang telah menempa saya agar menerima konsekuensinya yaitu jumlah buku yang terus bertambah (sementara ruang penyimpanan terbatas), dan tentu saja kesiapan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya gemar membeli buku tidak pula menunjukkan bahwa saya punya uang berlebih, tetapi dengan sadar memilih membeli buku, maka saya tidak punya kehendak memiliki sesuatu yang lebih dari padanya.

Puncaknya, kehendak membeli, dan berusaha tekun membaca sekaligus menulis semampunya, selain sebagai wujud penghormatan pada ilmu, dedikasi para penulisnya, juga sebuah pengakuan bahwa saya masih bodoh, dan karenya jangan pernah berhenti belajar.            

(19 Februari 2021)

 

Membaca buku berjudul “Miskin Itu Menjual” mengingatkan saya pada sebuah tulisan mendiang budayawan mbeling Prie GS, yang saya baca empat hari lalu, yaitu kemiskinan itu sungguh begitu dekat, begitu menjerat. Jeratan itu telah melilit kita bersama sehingga kita kebingungan harus berbuat apa, menolong atau menertawaknnya.

Penuh paradoks, memang. Tetapi begitulah relitas pahit di negeri ini mengamati kemiskinan yang direka sebagai komoditi. Tak jarang pula firman-firman Tuhan juga diperdagangkan untuk meligitimasinya.

Buku karya Saiful Totona ini membongkar fenomena “reality show” tentang orang miskin yang marak ditayangkan di tivi-tivi di tanah air sebagai hiburan yang mengundang rating dan berujung pada meningkatnya pengiklan (itu artinya banyak uang masuk sebagai keuntungan perusahaan).

Tak hanya itu, saya melihat sebagian besar konten Youtube juga menjadikan kemiskinan sebagai konten semata, dan pendapatan yang diterima orang-orang miskin tidak pula sepadan dengan pundi-pundi yang didapatkan para kreator youtube tersebut.

(16 Februari 2021)

 

Sebagaimana ilmuwan, ekonom, epidimolog, hukum, dan kesehatan, ketika membicarakan dan meneliti musabab datangnya virus mematika corona, esais dan penyair Afrizal Malna juga berusaha melihat corona dalam perspektif kebudayaan. Ia meneroka manusia dalam lintas sejarah yang panjang secara ontologis. Ia juga berupaya mendekonstruksi dalam garis waktu yang panjang (sedari wabah Athena) melalui genre seni dan teknologi. Teknologi di sini tidak dimaksudkan sebagaimana kita membaca buku-buku tutorial membuat sebuah perangkat lunak, melainkan sebuah usaha masuk lebih jauh dan dalam mengamati sekaligus mendewasakan makna simbol-simbol kebudayaan dalam perjalanan peradaban manusia. Covid-19 tidak bisa dibaca melalui kacamata hitam putih, melainkan ia tidak lain peristiwa bersegi banyak. Karena itu meniscayakan beragam pendekatan dan sudut panjang.

(14 Februari 2021)


Hujan sudah berhenti. aku khawatir kau juga akan begitu. Makin jauh dari penglihatanku. Kala hujan kusiapkan payung untukmu. Tidak untuk menolak kehadirannya. Kecuali aku ingin melihat dari jarak terdekat  saat rerintik hujan jatuh perlahan dari bucunya, lalu berlabuh di pipimu. sanggupkah aku menjumlahkan rintik hujan di sabana pipimu? Bukan itu yang kutuju, karena jernih hujan tak lain adalah matamu. menyatu.

(11 Februari 2021)

 

Pada mereka yang bertanggung jawab, tiap beban pekerjaan ditunaikan dengan penuh seluruh. Tidak perlu menjadi “liyan” hanya karena ingin menunjukkan telah jatuh bangun menuntaskannya. Tugas adalah tugas. Jangan berhenti berbuat yang terbaik, meski kita tahu ada orang-orang yang piawai bersolek di hadapan pengendali mikropon kekuasaan, yang seolah-olah telah menunaikan tugas dengan sungguh-sungguh.

Tanggung jawab menuntaskan pekerjaan tidak lain adalah pelaksanaan dari hati dan pikiran yang mengabdi. Bukan hati dan pikiran yang durja sehingga dengan pongah melimpahkan beban kepada orang lain, yang semestinya itu tidak perlu terjadi, apatahlagi harus berulang dari waktu ke waktu.

(11 Februari 2021)

 

Penulis yang bagus adalah juga pembaca buku yang tekun.  Anda tentu boleh tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Apatahlagi sebuah ide atau gagasan pada sebuah tulisan, bisa saja datang dari yang bukan melulu buku sebagai sumber pengetahuan.

Menulis sajalah bila ingin menjadi penulis (biasa). Tetapi menulislah dengan selalu belajar bagaimana teknis menulis yang tidak saja baik, tetapi juga apik. Demikian itu jauh lebih memberikan kesempatan bagi pembaca memahami sekaligus memaknai lembar-lembar gagasan yang kongkrit, dan karenanya penulis mendapat tempat di hati dan pikiran para pembacanya.

Bukan penulis yang sedari awal diinterupsi oleh pembaca lantaran terusik oleh perkara semata belum kelarnya sang penulis memahami perkara EYD dan aspek teknis kepenulisan standard lainnya.

Sampaikanlah pandangan dengan tulisan secara terang benderang, argumentatif dan sekaligus didukung dengan data, untuk menguatkan sudut pandang. Mari merayakan gagasan!

(11 Februari 2021).

 

Masing-masing kita tentu pernah membaca buku. Tak peduli seberapa tipis atau pun tebal halaman buku. Pointnya adalah pernahkah kita menjadikan membaca buku sebagai sebuah pengalaman? Pernahkah kita mencatat pengalaman tersebut? Sungguh sangat disayangkan bila membaca sebagai sebuah pengalaman abai kita abadikan ke dalam sebuah catatan. Mari menuliskannya.

(10 Februari 2021)

 

Buku Kata-Kata karya Jean-Paul Sartre tergolong rumit lantaran ditulis rinci dan tajam, di samping juga karena memakai pola retorika beragam yang memerlukan pengetahuan dan tafsiran mendalam. Tidak cukup sekali dibaca. Sebuah memoar yang mengangkat kisah seorang anak borjuis Paris awal abad ke 20 . Membacanya sekaligus memberi kita kesempatan meneroka suatu golongan masyarakat Prancis tertentu. Yang tampak jelas di buku ini adalah perenungannya terhadap identitasnya sebagai seorang pembaca sekaligus penulis. Menyeruak kritik tajam dalam perenungannya sebagai seorang filusuf eksistensialis. Ia tidak hanya mengomentari buku-buku serius yang dibacanya saat ia sudah dewasa, tapi juga buku cerita anak-anak yang dibacanya saat masih kecil.

(17 Januari 2021)

 

Covid-19 belum berakhir. Bahkan menunjukkan grafik peningkatan. Beberapa negara berhasil menekan angka penularan, tapi tidak sedikit negara di planet bumi ini masih terus berjuang dengan jumlah warga meninggal dunia yang terus melonjak. Dunia ilmu pengetahuan tiada henti mengidentifikasi virus mematikan ini dengan harapan menemukan solusi. Vaksin jelas membuat sedikit lega, kendati realitas pengendalian virus corona belum sepenuhnya membuat kita sepenuh-penuhnya yakin. 

Kurun satu tahun ini Covid-19 menelanjangi sikap gegabah institusi negara (birokrasi) dalam merespon pandemi, dan batas antara negara maju dengan negara berkembang menjadi kabur. Covid-19 tidak terkendalikan. Sistem kesehatan dan ekonomi nasional betul-betul berada di bibir jurang. 

Kritik atas ekonomi politik secara global terus menguat, lebih pada paradoks yang selama ini diakibatkan oleh neoliberalisme, yang memosisikan negara lemah, di bawah kuasa modal yang menelorkan kebijakan ekstraktif atas sumber daya alam, dan berujung pada gagalnya mewujudkan keseimbangan. Covid-19 kembali mengajak seluruh planet bumi berpikir keras tentang solidaritas global.

(16 Januari 2021)

 *Catatan:  pragmen dari hari ke hari akan selalu penulis mutakhirkan di web ini ke depan. Kebiasaan penulis membuat status refleksi-kritis beraroma politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan agama, di status whatsapp juga facebook dimulai beberapa tahun belakangan ini. Saya terpikir mengumpulkannya agar dapat dibaca kembali oleh sesiapa saja. Mungkin saja ada gunanya.

*Sumber ilustrasi :www.youtube.com/embed/5mI2KSeto4M

0 Komentar