Pesan Terakhir untuk Mama; Luka di Pelosok Negeri

ilustrasi. sumber: kompas.id.



Oleh: Jumardi Putra

Sebagai seorang ayah, sesak dada saya membaca berita tentang YBS, murid kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengakhiri hidupnya dengan cara tragis di sebuah pohon pada Kamis siang (29/1/2026). Tragedi memilukan ini terjadi hanya berselang dua hari sebelum Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada seluruh kepala daerah dan jajaran Forkopimda se-Indonesia. Sungguh ironi, di saat para pengambil kebijakan memusatkan perhatian pada program prioritas nasional, seorang anak di pelosok negeri justru menyerah kalah oleh keadaan.

Berdasarkan laporan Kompas.id (2/2/2026), sebelum peristiwa tragis itu terjadi, YBS sempat meminta uang Rp10.000 kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, apa daya, keterbatasan ekonomi yang mencekik membuat permintaan sederhana itu tak mampu dikabulkan.

Keputusasaan itulah yang diduga membawa langkah kecil anak berusia 10 tahun ini menuju dahan sebatang pohon cengkeh di dekat pondok neneknya. Di sana, seutas tali mengakhiri segala mimpi-mimpinya. Luka ini semakin dalam ketika di sekitar lokasi ditemukan secarik kertas berisi pesan terakhir untuk sang ibu dalam bahasa daerah Bajawa yang sangat menyayat hati:


Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

 

Tragedi YBS bukan sekadar berita duka di kolom kriminal atau pesan sekilas lewat di grup WhatsApp. Peristiwa ini adalah penanda betapa rapuhnya jaring pengaman sosial kita, terutama di tingkat kaum akar rumput. Fenomena ini memaksa kita merobek narasi "dunia anak yang selalu bahagia" dan melihat kenyataan pahit bahwa tekanan mental kini telah merembes hingga ke jiwa anak-anak miskin.

sumber: Kompas.id

Bagi orang dewasa, kemiskinan mungkin hanyalah persoalan angka dan beban ekonomi. Namun bagi anak-anak seperti YBS, kemiskinan menjelma menjadi beban eksistensial. Anak yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem kerapkali merasa diri mereka adalah "beban" bagi orang tuanya. Rasa bersalah karena tak mampu membeli alat tulis, bercampur dengan rasa malu di hadapan teman sebaya, menciptakan tekanan psikologis yang tak tertanggungkan. YBS tidak hanya kekurangan materi, ia telah kehilangan harapan bahwa esok akan menjadi lebih baik.

Kasus ini sekaligus menunjukkan potret ketimpangan pembangunan yang akut di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kemiskinan tidak boleh lagi hanya dianggap sebagai "nasib" atau garis hidup yang terberi. Intervensi negara tidak boleh terus gagap, terlambat, atau sekadar bersifat superfisial—seperti bantuan sembako sesaat tanpa adanya perlindungan mental yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, sekolah yang seharusnya menjadi suaka atau tempat pelarian dari kesulitan hidup, justru kerap berubah menjadi panggung penghakiman. Ketika kemiskinan mengekor hingga ke ruang kelas—dalam bentuk tunggakan biaya atau peralatan tulis yang tak terbeli—sistem pendidikan kita terbukti gagal menunjukkan sensitivitasnya. Di tengah situasi ini, kepekaan komunal dan semangat gotong-royong warga juga perlu terus digalakkan agar tak ada lagi anak-anak yang merasa berjuang sendirian.

Kematian YBS boleh dikata fenomena bunuh diri struktural, sebuah kematian yang disulut oleh kegagalan sistem negara melindungi hak paling dasar seorang anak, terlebih lagi dari kalangan keluarga miskin ekstrem. Fakta pahit ini menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem telah membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. 

Pada akhirnya, tragedi YBS adalah alarm keras bagi kemanusiaan kita. Segera muncul pertanyaan, jika untuk membeli buku dan pulpen saja seorang anak harus menukarnya dengan nyawa, masih pantaskah kita bermimpi tentang Indonesia Emas 2045?


*Kota Jambi, 3 Februari 2026.

0 Komentar