![]() |
| ilustrasi. sumber: id.pngtree.com |
Oleh: Jumardi Putra
Media sosial ibarat pisau bermata dua—bisa membawa mudarat, bisa pula mendatangkan
manfaat. Di tengah riuhnya jagat maya, saya memilih menepi pada sisi positifnya,
sebuah ruang di mana teknologi justru menjadi jembatan bagi sesiapa saja untuk “pulang”
ke masa lalu. Lewat berbagai platform,
kini saya dengan mudah dapat mengakses syair dan lagu Melayu yang
dahulu akrab di telinga waktu kecil, namun kini kembali populer oleh tangan-tangan netizen kreatif tanah air.
Beberapa hari terakhir, jempol saya kerap terhenti pada konten-konten media sosial berisikan syair-syair Melayu seperti bertajuk "Petuah Orang Tua".
Liriknya sederhana, namun menghujam dalam, berikut saya sertakan di sini:
Bila diri ingin dikenang, semailah benih di tengah sawah
Bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi tunduk ke bawah.
Bila diri ingin terpandang, jauhi kata tinggi melambung
Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung.
Jauhi sifat mengaku pandai, angkuh dan sombong, menepuk dada
Ingat petuah penyu di pantai, telur beratus namun tak bangga.
Bila ingin harum bak mawar, jauhi sifat meninggi diri/
Bisa ular tidakkan tawar, walau menyuruk batang berduri.
Mendengar bait-bait syair di atas, hati saya bergetar. Secara substansi, syair ini mengajarkan tentang adab sebelum ilmu, menjauhi sifat angkuh dan sombong, dan rasa syukur atas apa yang ada di tangan. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan tetap relevan untuk menjaga jati diri dari gempuran budaya tak terpuji seperti permisif, egois, "munggunting dalalam lipatan" dan nir-empati.
Tak syak,
syair ini berulang kali saya putar selama dalam perjalanan sembari membaca buku.
Bukan sekadar musik, menurut hemat saya, lantunan syair ini adalah mesin waktu
yang membawa saya kembali pada sosok Emak di kampung halaman era 80-90an.
Saya teringat mulai dari ayunan hingga seusia sebelum masuk ke bangku esde, emak kerap mendendangkan syair ini
dengan syahdu. Kadang dalam ayunan di atas rumah panggung milik kakek, kali
lain di pinggir sawah saat panen tiba. Emak, yang saat remajanya sudah mahir
tilawatil Qur'an, kerap mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui cengkok Melayu
yang meresap hingga ke kalbu. Kala iu, menjadikan syair sebagai metode pengajaran
nilai-nilai kebaikan dengan cara menghibur anak-anaknya, jamak dijumpai sesama
orang tua di bagi hulu/mudik Jambi.
Waktu terus menggelinding. Kehidupan berlari dengan cepat dengan atas
nama waktu, meraih cita-cita dan mengejar seabrek kepentingan duniwai lainnya. Syair pun lamat-lamat berganti
dengan lagu, macam-macam genrenya hingga sekarang abad kontemporer.
Selain syair petuah orang tua, saya juga tertarik pada syair panjang gubahan Haji
Syukur Terusan dari Batanghari, Jambi. Sebuah sindiran halus namun tajam
tentang hakikat manusia yang tercerabut dari kehidupan terpuji. Syair Haji
Syukur kelahiran 1899 di Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten
Batanghari, pertama kali saya ketahui 13 tahun yang lalu (2012). Berikut saya
serta penggalan syairnya di sini:
Tigo macam orang hidup yang dipuji
Satu ngajar, keduo ndengar, ketigo ngaji
Tigo macam orang hidup ditempelak
Ngaji idak, amal idak, congkak pula
Sembahyang idak, puaso idak, malu idak...
Bajudi galak, maling pulak, minum arak
Kerjo mungkar seumur hidup sekato awak.
Kedua syair di atas bukan sekadar hiburan telinga di waktu lapang. Ia
adalah juga instrumen pendidikan moral yang dibungkus dalam estetika bahasa.
Dalam kacamata budaya (tradisi lisan), syair ini berfungsi sebagai "jangkar"
etika bagi generasi muda nun jauh di masa kelampauan.
Namun, di tengah badai disrupsi teknologi sekarang, relevansi pesan dari
kedua syair di atas justru menemukan konteksnya untuk dicakap-renungkan bersama.
Apa sebab?
Kekuatan utamanya terletak pada penggunaan metafora. Alih-alih menggurui
dengan bahasa yang kasar, petuah disampaikan melalui alam—seperti ilmu padi
atau ketulusan penyu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya Melayu, cara
menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan isi kebenaran itu sendiri.
Di era yang serba bergegas ini, syair acapkali dianggap kuno
(bagian dari masa lalu). Namun secara substansi, ia adalah software yang dapat memfilter sisi negatif
modernitas lewat revolusi teknologi informasi yang sulit dielak, karena
praktis seluruh manusia di planet bumi sekarang terhubung antara satu sama lain—itu
artinya bertemu dengan banyak wujud kebudayaan dengan segala kompleksitasnya
pula.
Secara psikologis, nasehat lisan yang kaku seringkali "masuk
telinga kanan, keluar telinga kiri". Namun, ketika syair dibalut melodi, ia
berubah menjadi pelukan, bukan teguran. Pada akhirnya, pesan itu pun menetap
abadi dalam memori.
Setakat hal itu, agar tidak hilang ditelan zaman, warisan intelektual
ini perlu "bermetamorfosis". Saya berharap pesan-pesan baik seperti dalam syair di atas makin banyak diaransemen ulang ke dalam genre modern
seperti folk atau pop-akustik tanpa
menghilangkan esensi liriknya. Dengan begitu, anak muda tidak akan merasa
sedang mendengarkan "ceramah", melainkan sedang menikmati mahakarya
seni.
Puncaknya, syair Melayu adalah penanda betapa leluhur kita dahulu menaruh
kepedulian yang tinggai pada pembentukan karakter manusia. Kehilangan apresiasi
terhadap syair ini berarti kehilangan kompas moral yang sudah teruji oleh
waktu.
*Kota Jambi, 3 Februari 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya:
1) Crito Kito: Kekayaan Kultural Seberang Jambi
2) Bengawan Kekasih dalam Balutan Realisme Magis
3) Rumah Batu Olak Kemang: Puing-Puing Ingatan Masa Silam
4) Fiona Kerlogue dan Batik Jambi
5) Akulah si Telaga, Berlayarlah di Atasnya
7) Jerebu di Tanah Pilih Jambi: Sepilihan Pantun
8) Cerita Rakyat Jambi yang Dipertaruhkan
9) Lantak La: Dramaturgi Anonim-anonim
10) Menimbang Isi Novel dan Menulis Ulang Cerita
11) Petuah Gibran (Bukan) Rakabuming Raka
12) Budi Prihatna dan Studi Regalia Kesultanan Jambi


0 Komentar