![]() |
| Momen Pernikahan Bapak-Emak di kampung, Juli 1983 |
Oleh: Jumardi Putra*
Almanak di dinding rumah kembali menunjuk pada angka yang sama: 5 Juni 2025. Tepat delapan tahun lalu,
sekira pukul 20.31 WIB hari Senin 2017, bapak melangkah melewati tapal batas
kehidupan dunia, memenuhi panggilan Allah kembali ke haribaan-Nya. Di antara kami
sekeluarga, Emak-lah yang menanggung ruang kosong paling besar di rumah.
Sejak
kepergian Bapak, dan bahkan jauh sebelumnya ditinggal wafat oleh putri sulungnya,
almarhumah Yuk Jumarnis Putri, Emak belajar memeluk sepi. Kehilangan itu kian
terasa sejak Oktober 2023, saat Emak resmi purnatugas sebagai guru
Sekolah Dasar di kampung halamannya, Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal,
Kabupaten Bungo.
Rumah
yang dulu riuh dengan berbagai tingkah-polah anak-anaknya, kini melengang. Beruntung,
keluarga kecil adik saya, Manto-Mitha, di dusun bersetia menemani hari-hari Emak di rumah, menjaga
malam-malamnya agar tidak terlalu sunyi. Doa terbaik senantiasa tertuju untuk
Emak: semoga Allah SWT mengaruniakan kesehatan dan kemudahan dalam segala
urusan. Amin.
Ketetapan
Allah tentang kematian seseorang tidak menyediakan ruang untuk tawar-menawar bila
sudah tiba waktu untuk kembali ke pangkuan-Nya. Namun sebagai manusia biasa butuh waktu bagi kami sekeluarga hingga benar-benar menerimanya dengan ikhlas kala itu. Masih segar dalam
ingatan kami sekeluarga masa-masa mendampingi Bapak berobat, bolak-balik antara
Kota Bungo dan Padang, Sumatera Barat. Perhatian dan bantuan sanak keluarga tentulah menjadi penyemangat bagi kami kala itu. Kepergian Bapak terasa begitu
berhimpitan dengan takdir lain; ia berpulang hanya berselang satu bulan setelah
kelahiran putra kedua saya, Agrata Rendra Raffasya.
Namun,
ada sebuah keyakinan yang menghibur hati yang lara. Dua puluh lima tahun yang
lalu, kakak perempuan kami wafat saat menuntut ilmu di ujung timur Pulau Jawa,
di Pesantren Salafiyah Syafi’iah, Sukorejo, Situbondo. Kini bapak menyusulnya dalam usia belum genap 57 tahun,
berpulang saat bulan suci Ramadan baru berjalan beberapa hari. Saya percaya, keduanya
berada di sebuah "madrasah" yang sama—sebuah jalan sunyi yang
menuntun mereka kembali ke haribaan-Nya dengan husnul khatimah.
“Bahagialah di sana, Pak. Suatu hari nanti, entah kapan, perahu kami juga akan merapat ke dermaga yang sama,” batinku.
![]() |
| Penghormatan kepada almarhum dari rekanan seprofesi guru |
Secara
fisik Bapak telah tiada, namun ia meninggalkan jejak yang sangat terang. Sesaat
setelah kepergiannya, saya menemukan dompet dalam lacinya yang menyimpan arsip
masa lalu. Boleh dikata bapak adalah seorang pengarsip yang teliti, kendati ia
bukan seorang sarjana perpustakaan. Di dalam dompet itu ada secarik kertas lusuh berisikan seloko adat Jambi, serta kartu-kartu
penanda jenjang tugasnya sebagai seorang guru. begitu juga dokumen lama seputar rekam jejaknya sebagai seorang guru.
Melalui
kartu dan pelbagai macam dokumen itu, saya membaca ulang rute pengabdian Bapak yaitu mengajar di
Sekolah Dasar Negeri No 200/II Simpang Teluk Pandak, Kacamatan Tanah Tumbuh
(kini menjadi Desa/Dusun Embacang Gedang, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas) yang
berlokasi tidak jauh dari Simpang Saumil, sebelum akhirnya pindah mengajar ke
SDN No 11/II di Desa Teluk Pandak, Kecamatan Tanah Sepenggal, hingga tutup usia.
Di dalam
dompet tua itu pula, Bapak menyimpan foto Kaindra Gafna Al Farisi, cucu
pertamanya. Semasa hidup cinta Bapak kepada anak-anaknya sangat jarang hadir
lewat kata-kata verbal yang puitis. Beliau bagi kami--anak-anaknya--tipikal
lelaki yang keras bekerja dan hemat bicara. Baginya, kasih sayang
adalah tindakan nyata: memastikan anak-anaknya bisa tumbuh dan berkembang
sebagai mestinya. Puncaknya, memastikan masa depan kami lebih baik dari masa
lalunya. Sebagai manusia biasa, tentulah Yudisman--orangtua kami--kelahiran 10 Oktober 1960 ini memiliki kelebihan dan kekurangan baik sebagai orang tua bagi anak-anaknya, suami bagi istrinya dan guru di sekolah bagi murid-muridnya maupun selaku mahluk sosial.
***
Setiap
kali saya pulang ke dusun Empelu, ingatan-ingatan lama mendadak menebal. Mesin waktu
seperti berputar di dinding media sosial, menampilkan foto-foto lawas saat
Bapak membonceng saya dan Kaindra melewati jembatan gantung yang menghubungkan
Desa Empelu dengan Desa Sungai Mancur menuju umo (ladang) miliknya
bersama emak.
Kaindra,
yang kini beranjak besar, mengingat betul bagaimana sang kakek
mengajaknya memetik buah duku langsung dari batangnya. Jika kami tiba dari Jambi,
dengan langkah ringannya Bapak akan menuju pekarangan kecil di belakang rumah,
menjatuhkan beberapa buah kelapa muda untuk melepas dahaga bersama-sama.
Ingatan saya melompat jauh ke masa kecil, medium 80-90an. Selepas magrib, setelah kami mengaji di rumah guru kampung, aktivitas berlanjut di bawah temaram lampu teplok atau strongking karena desa kami belum dialiri listrik. Di hadapan Bapak dan Emak, kami memantapkan bacaan dan hitungan. Ketiadaan fasilitas dan raungan jenset yang baru masuk bertahun-tahun kemudian, justru menempa keheningan malam menjadi ruang belajar yang sakral.
| Bapak (berdiri kedua dari kiri) mengajar di SDN 200/II (tahun tidak diketahui) |
Di luar ruang kelas--sehari-hari-Bapak mengajari kami agar mampu membaca alam. Kami mengingat perjalanan ke umo dan talang: menanam benih karet, menebas ilalang yang meninggi, memanen padi, hingga momen sederhana namun mewah saat kami mandi bersama sembari membersihkan kendaraan motor atau mobil bututnya di sungai dekat kebunnya di tepi Jalan Lintas Sumatera, Desa Sungai Mancur, Tanah Sepenggal Lintas.
***
Satu hal
yang menjadi prinsip hidup Bapak dan Emak: ilmu perisai kehidupan. Demi
prinsip itu, Bapak dan Emak rela melepaskan anak-anaknya pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Mereka
merelakan kami tumbuh dewasa di perantauan demi menuntut ilmu. Yuk Jumarnis,
Saya, dan Hatta dikirim menyeberang ke Pulau Jawa (Situbondo dan Jombang—keduanya
di Provinsi Jawa Timur serta Yogyakarta). Sedangkan Manto menempuh jalan
studinya di sebuah perguruan tinggi kesehatan di Kota Padang, Provinsi Sumatera
Barat.
Pilihan menimba ilmu—jauh meninggalkan kampung halaman itu--harus dibayar mahal dengan waktu
kebersamaan yang tersita. Idul Fitri yang harusnya menjadi penawar rindu, kerap
kami lewati masing-masing di tanah rantau. Dalam rentang tahun 1998 hingga
2009, saya dan almarhumah Ayuk tidak selalu bisa pulang ke kampung halaman setiap tahun.
Kami merindukan rumah, namun Bapak-emak selalu meyakinkan bahwa perjuangan di tanah
rantau adalah juga ibadah sekaligus meniti jalan masa depan masing-masing kelak.
Kesungguhan
Bapak dan Emak menyekolahkan kami telah membuahkan faedahnya hari ini, menjadi
suluh yang menerangi jalan hidup kami--dengan segala pernak-perniknya. Penggalan catatan perjalanan saya dan bapak dari Empelu ke Pesantren Tebuireng-Jombang-Jawa Timur telah saya abadikan
sebagai pengingat bagi diri sendiri dan kedua adik saya (lebih lanjut baca di sini: https://www.jumardiputra.com/2021/04/dari-empelu-sampai-yogyakarta-penggalan.html).
***
Mengingat
Bapak hari ini, di senja 5 Juni, membawa ingatan saya pada bait-bait magis
dalam sajak Mata Jendela (2001) karya Sapardi Djoko Damono:
Akulah si
telaga: berlayarlah di atasnya;
Berlayarlah
menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
Berlayarlah
sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai
di seberang sana, tinggalkan begitu saja perahumu biar aku yang menjaganya.
Bapak
telah sampai di seberang telaga itu. Beliau telah menambatkan perahunya dengan
tenang. Kini, giliran kami yang melanjutkan pelayaran di laut penuh gelombang,
membawa seluruh tunjuk ajar dan keteladanan yang telah ia wariskan,
hingga kelak Sang Pemilik Kehidupan menjemput kami satu per satu untuk kembali
berkumpul di surga-Nya. Amin.
*Kota Jambi.



0 Komentar