Berguru ke Suwarnadwipa

kaver buku (Kompas, 2025).

 


Oleh: Jumardi Putra

Menutup tahun 2025 di sebuah toko buku di Kota Jambi, perhatian saya tertuju pada buku berjudul Berguru ke Suwarnadwipa. Keberadaannya di sudut rak tampak mencolok berkat sampul hardcover yang elegan, halaman berbahan art paper mengkilap, serta dilengkapi gambar full colour. Sayangnya, keinginan saya untuk segera mengoleksi buku ini tertunda karena harganya yang cukup tinggi—hampir Rp600.000 untuk wilayah Sumatra. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk mengetahui jeroannya. Berkat izin petugas toko, saya diperbolehkan membaca buku karya arkeolog Prof. Aris Munandar bersama sembilan penulis lainnya ini.

Buku yang diterbitkan oleh Kompas bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI (akhir 2025) ini merupakan dokumen penting dalam format narasi populer. Fokus utamanya adalah Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi yang kini telah dilengkapi museum seluas hampir 10 hektar. Keistimewaan situs ini semakin dipertegas oleh temuan sejumlah artefak terbaru yang memperkirakan keberadaan kawasan ini telah ada sejak abad ke 6 Masehi. Kabar ini menggeser hasil penelitian terdahulu yang menyebutkan bermula pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Sebagai “museum hidup”, narasi dan gerakan rumah peradaban ini akan diuji oleh waktu, terutama dalam rangka menjembetani antara hasrat ekonomi melalui arus modal besar yang acapkali eksvansi ke area-area destinasi wisata (tak terkecuali KCBN Muarajambi) dengan pelestarian kebudayaan terhadap benda cagar budaya (tangible heritage) dan tak benda (intangible heritage). Kendati permasalahan ini tidak dibahas secara khusus, tetapi tercermin dalam narasi bab V (halaman 185-215).

Sepembacaan saya, buku setebal 264 halaman ini merangkum catatan perjalanan dan proses revitalisasi besar-besaran di KCBN Muarajambi oleh Pemerintah Pusat, yang dimulai sejak periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga berlanjut di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo melalui entitas mandiri Kementerian Kebudayaan (sebelumnya di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan—bagian dari kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek).

Gagasan pokok dalam buku ini menjelaskan bagaimana situs-situs candi (bersamaan dengan proyek revitalisasi) yang sebelumnya tertimbun tanah dan vegetasi dipugar kembali dengan tetap menjaga ekosistem lingkungannya--dari yang semula dirancang sebagai taman wisata kini diubah menjadi konsep cagar budaya. Pelibatan banyak sarjana dan stakeholder terkait lainnya dalam pemugaran candi maupun revitalisasi tak benda di KCBN Muarajambi berangkat dari sebuah kesadaran untuk menyatu dengan alam (ekologi) sehingga menjamin keberlangsungan kawasan situs cagar budaya ini dalam kurun waktu yang panjang ke depan (lebih lanjut baca bab VI, hal 225-244).

Candi Tinggi di KCBN Muarajambi

Selain itu, penulis buku ini menyoroti kecanggihan tata kelola air dan pemukiman berbasis kanal yang menunjukkan betapa majunya peradaban Batanghari nun jauh di masa kelampauan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hal ini bisa dibaca dalam bab wajah baru Muarajambi, seperti dinarasikan ke dalam beberapa sub bagian tulisan dalam bab III, yang mengangkat tentang Candi Kotomahligai, sebuah perpaduan artsitektur menawan dan keindahan alam, lalu Candi Parit Duku, komplek stupa dengan temuan bata berornamen paling karya, dan terbukanya tabir jejak kapal dan kanal kuno (hal 100-117).

Bagi peminat kajian arkeologi, informasi dalam buku ini mungkin bukan hal baru, namun bagi publik secara luas, buku ini menjadi jendela penting untuk mengenal kawasan cagar budaya nasional yang memiliki luas sekitar 3.981 hektar. Luas ini bahkan jauh melampaui kompleks Angkor Wat di Kamboja maupun Candi Borobudur, sehingga menjadikannya salah satu situs arkeologi berbahan bata terluas di dunia, sebuah peradaban yang hilang selama berabad-abad di Muaro Jambi—sebuah kabupaten dalam kesatuan wilayah administratif Provinsi Jambi.

Strategi penulisan buku ini menggunakan gaya bahasa naratif yang mengalir serta tidak begitu panjang dengan tujuan agar bisa dibaca semua kalangan. Penulis dalam buku ini tidak hanya mengutip data-data arkeologis, tetapi juga menyertakan pengamatan lapangan yang humanis dan dilengkapi foto dokumentasi dari tim fotografer yang memberikan visualisasi megah, khususnya sesi proses ekskavasi dan restorasi candi-candi dan kanal-kanal kuno.

Dalam konteks “arkeologi publik”, kehadiran buku seperti ini (dalam makna konsep-hingga praktik) menemukan relevansinya agar kawasan situs cagar budaya di banyak daerah di tanah air selalu terhubung dengan masyarakat pendukung di sekitarnya, tak tekecuali di KCBN Muarajambi. Bahkan, konsep pengembangan kawasan cagar budaya ini sekarang diarahkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan situs.

Buku ini dibagi ke dalam enam bagian. Mencermati isi bab I dan II menurut hemat saya memuat catatan dalam versi populer-mengalir dari banyak sumber literatur tentang sejarah KCBN Muarajambi yang telah ada sebelumnya seraya menambah informasi berdasarakan temuan sejumlah artefak terbaru. Kedua bagian tersebut lebih menekankan peran historis Muarajambi (Suwarnadwipa) sebagai pusat ilmu pengetahuan dan spiritualitas terbesar di Asia Tenggara pada masanya (sekitar abad ke-7 hingga ke-13 Masehi). Hal ini ditandai melalui keberadaan seorang tokoh spiritual besar seperti Atisha Dipamkara Shrijnana, yang menyeberangi samudra demi berguru pada Serlingpa (Dharmakirti) di Muarajambi selama 12 tahun, sebelum akhirnya membawa ajaran tersebut ke Tibet. Bagai peminat sejarah Melayu Kuno, sosok ini tidaklah asing. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Muarajambi sebagai "universitas" purba setara dengan Universitas Nalanda di India.

Penulis membaca buku Berguru ke Suwarnadwipa

Setakat hal itu, isi buku ini berupaya "mendudukkan" kembali posisi Muarajambi dalam peta sejarah dunia. Secara historis, hal ini tidaklah mengada-ngada, karena memang Suwarnadwipa (Pulau Emas)—sebutan kuno untuk Sumatra—tercatat pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan pada masa silam, khususnya sebagai universitas internasional tempat ribuan pelajar dari berbagai penjuru Asia memperdalam logika, filsafat, hingga kedokteran. Tak syak, pemilihan judul dari buku ini laksana mengangkat "batang" terendam.

Hal menarik lainnya--sesuatu yang baru bagi saya--adalah usaha melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama pelestarian KCBN Muarajambi, selain saat yang sama revitalisasi juga menganggit kembali nilai-nilai serta kebudayaan material seperti kuliner, seni tradisi, teknologi tradisional dan keanekaragaman lainnya berbasis biodiversiti budaya yang melingkupi kawasan ini—dengan mengadaptasi hal-hal baru sesuai kebutuhan zaman tanpa harus tercerabut dari akar historis maupun kebudayaan yang turut membentuknya selama ini.

Ambil contoh, setelah belajar di Pasar Papringan, Temanggung, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V mengirimkan beberapa kepala desa dan tokoh-tokoh penggerak budaya dan ekonomi di KCBN Muarajambi ke Vietnam, tepatnya di situs-situs percandian pinggiran Sungai Mekong di negara tersebut (lebih lanjut baca bab IV, hal 170-177). Di tempat ini mereka belajar bagaimana mengelola kawasan cagar budaya seraya meningkatkan ekosistem perekonomian warga sekitar.

Sebagai bagian dari proses revitaliasi, hal ini patut diapresiasi, sekalipun dalam realitasnya akan menemukan wujudnya yang kompleks, serta memunculkan pelbagai konsekuensi, seperti ekosistem ekonomi kerakyataan berbasis luasan dan wawasan budaya tak benda antar warga di delapan Desa yang mengelilingi KCBN Muarajambi sekaligus perjumpaan dengan pelbagai wujud kebudayaan yang datang dari luar sebagai konsekuensi dari mobilitas wisatawan yang datang.

Pada akhirnya, KCBN Muarajambi bukan sekadar situs mati (dead monument), tapi sebagaimana tercatat dalam sejarah, ia adalah rumah peradaban yang menyimpan nilai-nilai kebajikan setelah berabad-abad terkubur dalam kesenyapan. Merevitalisasinya kembali bukan lagi dalam konteks beromantika belaka, tapi tantangan untuk kebangunan jagad mental kebudayaan masyarakat Jambi untuk bisa berkontribusi bagi dunia.


*Kota Jambi, 27 Januari 2026.

*Tulisan-tulisan saya lainnya tentang kebudayaan:

1) Menemukan Peradaban Yang Hilang di Muarajambi

2) Mimpi-mimpi Pulau Emas: Cangkang Bagi Budi dan Kecendekiaan

3) Dari Madilog Tan Malaka Sampai Mimpi-Mimpi Pulau Emas

4) Candi Muarojambi Gagal Menjadi Warisan Dunia

5) Merebut Hati dengan Petisi: Selamatkan Candi Muaro Jambi

6) Al Haris-Sani dan Pengarus-utamaan Kebudayaan; Sebuah Autokritik

7) Pemeringkatan Cagar Budaya Jambi

8) Piknik di Tengah Pandemi: Catatan Perjalanan Ke Candi Muaro Jambi 

9) Menyingkap Tabir Sejarah Sabak

10) Urgensi Dewan Kebudayaan Melayu Jambi

12) Pilkada Jambi dan Nyanyian Sunyi Sepanjang Oktober

13) Polemik di Balik Gelar Adat Melayu Jambi

14) Quo Vadis Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi

15) LAM Jambi dan Polemik Plagiasi

16) Apa dan Kenapa MWCF Jambi?

17) Batu Bara sebagai Persoalan Kebudayaan: Sebuah Autokritik

18) Festival Literasi Jambi, Dari Militansi ke Retrospeksi

19) Di Balik Layar Beranda Budaya TVRI Jambi

20) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang-Gadis Jambi

21) Mengenal Dr. Fiona Kerlogue dan Batik Jambi

22) Profesor Bill Watson dan Kerinci

23) Quo Vadis Dewan Kesenian Jambi

24) Maryam dan Anugerah Maestro Seni Tradisi

25) Menyoal Warisan Budaya Tak Benda Prov Jambi

26) Quo Vadis Taman Budaya Jambi

27) Jambi TUNTAS Defisit Kebudayaan

28) Melampaui Kekisruhan FIB Universitas Jambi

29) Pilgub Jambi: Pariwisata Tunabudaya

30) Malam Keagungan Melayu Jambi dan Hal-Hal Yang Belum Selesai

31) Jambi EMAS Minus Kebudayaan

32) Urgensi Konferensi Studi Jambi

33) Revitalisasi Budaya Lokal Jambi, Sebuah Catatan

0 Komentar