Oleh: Jumardi Putra*
Belum lama ini, saya melihat sebuah baliho di salah satu pertigaan Sungai Kambang, Kota Jambi, berisi informasi temu dan dialog seniman pada tanggla 30 Januari 2026 bertajuk “Art Talk Movement” di Taman Budaya Jambi--UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.
H-1 jelang temu-dialog, berkelabat di pikiran saya, apakah langkah itu sebuah usaha untuk kembali membicarakan (mungkin
lebih tepat mendudukkan) posisi institusi seni (dalam hal ini DK-Jambi),
Pemerintah Daerah (dalam hal ini SKPD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan UPTD
Taman Budaya Jambi, serta Ex-Officio lainnya),
serta seniman (kreator), yang kian ke sini seolah tabu dibicarakan secara kritis
dan terbuka?
Perkiraan saya sebelumnya lebih kepada tafsir bebas pada kalimat
sloganistik di baliho itu berbunyi “Tak ada Negara yang besar tanpa seni dan
budaya sebagai penopangnya.” Atau itu sekadar program yang bersifat
eksekusional semata (untuk menyebut reaktif dan belum mencerminkan cara kerja
sebuah lembaga resmi), sebagaimana jamak mengemuka belakangan ini.
Dua pertanyaan di atas menemukan titik-terangnya setelah saya
menerima pesan elektronik berisi undangan menghadiri Dialog Seni langsung dari
ketua pelaksana, Nukman Permindo, peneliti tradisi lisan Jambi.
Merujuk isi surat tersebut saya berkesimpulan, pertanyaan
pertama di atas lebih mendekati apa yang menjadi nawaitu pengurus DK-Jambi, terlebih lagi dalam surat undangan
digaris-bawahi “diharapkan lahirnya usulan dan saran program kerja kesenian
untuk diteruskan kepada pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai
rujukan dalam menyusun kebijakan tentang pembangunan kesenian”.
Hal itu bertalian dengan apa yang menjadi misi utama
DK-Jambi, salah satunya sebagai lembaga “ide” yaitu dapat meneropong kerja
artistik para seniman di seluruh Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi; mempromosikan kerja-kerja
artistik yang bermutu; merekomendasikan dan menawarkan program kepada
pemerintah atau pun stakeholder demi
terciptanya iklim kreatif yang inovatif dan alternatif.
Sebelum menjurus pada soal usulan, saran program kerja, dan
pembicaraan teknis lainnya, hemat saya terlebih dahulu masing-masing kita perlu
membicarakan beberapa hal dengan dimulai dari pertanyaan dasar yang
sesungguhnya menjadi usang dan menjadi klasik.
Pertama, apa dasar kebutuhan/ide
dari pertemuan/dialog semacam ini, yang sama-sama kita amini telah berulangkali
dilakukan, baik secara kelembagaan sampai obrolan ala warung kopi? Kedua, mengapa
institusionalisasi kesenian justru diperkuat? Ketiga, pengelolaan kesenian
macam apa yang dibutuhkan di tingkat Provinsi Jambi baik oleh masyarakat seni
atau pemerintah, sementara pengelolaan kesenian di tingkat Kabupaten/Kota masih
meninggalkan persoalan yang tidak kalah rumitnya, dan menuntut segera ditemukan
solusi?”
Selanjutnya, yang tidak kalah penting, bagaimana kita memaknai
kewenangan DK-Jambi sebagai lembaga yang memberi saran dan rekomendasi pada
eksekutif (dalam hal ini Gubernur) perihal tata kelola kesenian Jambi, sementara dalam
praktiknya, dukungan anggaran, infrastruktur, dan regulasi belum berorientasi
ke arah dan tujuan yang dimaksud.
Jawaban dari pertanyaan di atas, menurut hemat saya,
dapat mengantarkan masing-masing kita pada apa yang dibahasakan dalam undangan
resmi DK-Jambi yakni “menemukan pemahaman bersama untuk tujuan akhir membangun
iklim berkesenian yang lebih baik”.
Sejurus kemudian, masing-masing kita dapat menilai secara
obyektif, apakah DK-Jambi saat ini mengalami kendala baik secara internal
maupun eksternal, karena hingga saat ini belum terlihat program-program kerja
DK-Jambi di bawah kepemimpinan Fahmi Sabki secara organisatoris?
Hal demikian juga akan membuka tabir yang selama ini seolah
dibiarkan tertutup rapat, apakah mereka yang “antipati”, pasif dan bahkan mendukung
DK-Jambi (di luar kepengurusan) telah secara sungguh-sungguh turut
berkontribusi bagi pemecahan masalah sekaligus memperkuat DK-Jambi secara
kelembagaan, sehingga menjadi lebih baik dari DK-Jambi periode
sebelumnya, sebagaimana tercermin dari nama sebuah grup bincang-bincang
kesenian di jejaring sosial facebook
yang umumnya berisi pengurus DK-Jambi, memproklamirkan agenda besar yaitu “DKJ
Menjalankan Perubahan!” Betulkah demikian?
Agar tidak
terjebak pada seremonial belaka, perlu kiranya masing-masing kita (seniman)
memikirkan secara suntuk (paling tidak sebelum bertemu di arena dialog) perihal
potret institusi pengelola kesenian Jambi dewasa ini, sehingga pada puncaknya dengan dukungan argumentasi plus data yang akurat, terbit semacam “Deklarasi
Sungai Kambang” sebagai bentuk komitmen sekaligus pernyataan bersama masyarakat
seni seprovinsi Jambi kepada pemerintah, apatahlagi dalam satu-dua bulan ke
depan, Jambi dipimpin Gubernur baru, Zumi Zola, yang katanya menaruh kepedulian
yang tinggi pada kesenian.
*Tulisan ini dibuat pada tanggal 29 Januari 2016, sehari
sebelum temu-dialog Dewan Kesenian Jambi yang berlangsung di Taman Budaya Jambi.
*Tulisan-tulisan saya lainnya seputar isu kebudayaan Jambi di link berikut ini:
- Menakar Urgensi Dewan Kebudayaan Melayu Jambi (2025)
- LAM Jambi dan Polemik Plagiasi (2025)
- Uli Kozok dan Jambi (2025)
- Bengawan Kekasih dalam Balutan Realisme Magis (2025)
- Tarian Sang Aktor (2025)
- Kembali Ke Candi Muaro Jambi: Dari Madilog Tan Malaka sampai Mimpi-mimpi Pulau Emas (2025)
- Prematur: Catatan Atas Buku Biografi Abdurrahman Sayoeti (2025)
- Membaca Bangsa Pelaut: Menyibak Tabir Sejarah Muara Sabak (2025)
- Dari Malam Keagungan Melayu Jambi hingga Konser NDX A.K.A (2025)
- Anugerah Kebudayaan Indonesia 2017-2024 Tanpa Jambi, Kenapa? (2024)
- Pilgub Jambi 2024 dan Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan (2024)
- Pilkada Jambi dan Nyanyian Sunyi Sepanjang Oktober (2024)
- Najwa Sihab dan Peradaban Yang Hilang di Muaro Jambi (2024)
- Polemik di Balik Gelar Adat Melayu Jambi (2024)
- Apa dan Kenapa MWCF Jambi? (2024)
- Festival Literasi Jambi, Dari Militansi ke Retrospeksi (2023)
- Di Balik Layar Beranda Budaya TVRI Jambi (2022)
- Di Balik Panggung Pemilihan Bujang-Gadis Jambi (2022)
- Quo Vadis Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi (2022)
- Al Haris-Sani dan Pengarusutamaan Kebudayaan: Sebuah Autokritik (2021)
- Duta Baca Prov Jambi, Kerja Apa? (2021)
- Mengenal Dr. Fiona Kerlogue dan Batik Jambi (2021)
- Profesor Bill Watson dan Kerinci (2021)
- Quo Vadis Dewan Kesenian Jambi (2020)
- Djang Aisjah Muttalib dan Penelitian Sejarah Sarikat Abang di Jambi (2020)
- Maryam dan Anugerah Maestro Seni Tradisi (2019)
- Menyoal Warisan Budaya Tak Benda Prov Jambi (2018)
- Quo Vadis Taman Budaya Jambi (2017)
- Jambi TUNTAS Defisit Kebudayaan (2016)
- Melampaui Kekisruhan FIB Universitas Jambi (2016)
- Pilgub Jambi: Pariwisata Tunabudaya (2015)
- Kabut Asap dan Ekonomi Tunabudaya (2015)
- Malam Keagungan Melayu Jambi dan Hal-Hal Yang Belum Selesai (2015)
- Jambi EMAS Minus Kebudayaan (2014)
- Urgensi Konferensi Studi Jambi (2013)
- Revitalisasi Budaya Lokal Jambi, Sebuah Catatan (2011)


0 Komentar