| Taman Baca Hendra di Kota Bandung. sumber foto: JP. |
Oleh: Jumardi Putra
Selasa siang itu, Kota Bandung diselimuti udara sejuk
(24/2/2026). Langit cerah seakan memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi
sebuah perjalanan yang berbeda. Usai menyelesaikan tugas di Biro Hukum SETDA
Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate (sehari sebelumnya di Inspektorat), saya melangkah menyusuri jalanan kota yang
masih lengang. Menggunakan layanan ojek daring, saya menuju sebuah titik di
Jalan Sabang No. 28, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan yaitu Taman Baca (TB)
Hendra.
Ini adalah kali pertama saya mengunjungi taman baca
legendaris di kota berjuluk Paris van Java ini. Berdiri sejak tahun 1967, TB
Hendra tercatat sebagai taman baca tertua di Bandung yang masih tegak bertahan
hingga saat ini. Sosok di baliknya adalah Juliana Huwae, perempuan tangguh yang
kini telah berusia 80 tahun.
Tempat ini lahir dari sebuah pengorbanan dan kasih sayang.
Dahulu, Juliana yang berprofesi sebagai model dan pegawai BUMN mengalami dilema
dalam mengasuh buah hatinya, Hendra. Ia akhirnya mengambil keputusan besar:
berhenti bekerja demi fokus membesarkan anak. Ia kemudian menyulap garasi
rumahnya menjadi ruang baca, dan mengabadikan nama sang anak sebagai identitas
tempat tersebut.
Kini, tongkat estafet kepengurusan telah memasuki generasi
ketiga—dari Juliana, turun ke menantunya Atie Hendra, hingga sang cucu, Derian.
Informasi berharga ini saya dapatkan dari Annisa, penjaga taman baca yang
dengan setia melayani pengunjung setiap harinya. Ia tidak sendirian, melainkan
bersama dua sejawat lainnya bergiliran setiap hari.
Begitu melangkah masuk, suasana seketika berubah. Aroma khas
kertas tua menyambut akrab, seperti kawan lama yang telah lama menunggu untuk
disapa kembali. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela, jatuh perlahan di
atas halaman-halaman yang terbuka, menciptakan harmoni yang menenangkan.
Meski bangunannya tidak besar, koleksinya tergolong
fantastis. Annisa menuturkan bahwa koleksi yang tercatat resmi mencapai 70 ribu
buku, meski diyakini jumlah aslinya jauh melampaui angka tersebut. Di sini,
saya menemukan "harta karun" literasi seperti karya Silat Klasik
yaitu ratusan jilid Api di Bukit Manoreh karya SH Mintardja (hampir 398 seri
lengkap) hingga Naga Sasra Sabuk Inten. Begitu juga karya Sastra &
Populerseperti deretan karya Mochtar Lubis, Agatha Christie, Sandra Brown,
hingga Danielle Steel. Lalu ada juga komik & Serial berupa koleksi lengkap
Dragon Ball, Kung Fu Boy, hingga Harry Potter. Bagi peminat cerita bergambar,
TB Hendra adalah rujukan yang sempurna. Berbagai novel remaja dan komik Jepang
berjajar rapi di rak-rak kayu yang tampak bersahaja namun penuh cerita. Saya
menyaksikan langsung seorang anak perempuan usia sekolah dasar datang ke sini
meminjam komik. Rona wajah gembiranya tampak jelas saat memilih komik yang ia
suka.
| Penulis di TB Hendra, Kota Bandung |
"Setelah ada ponsel pintar, e-book, dan game online, jumlah pembaca memang berkurang jauh," ungkap Annisa dengan nada getir. Namun, TB Hendra tak bergeming. Mereka tidak melakukan promosi besar-besaran, melainkan percaya pada loyalitas pembaca dan kekuatan sejarah yang mengakar.
Untuk beradaptasi dengan zaman, pengelola TB Hendra kini
menghadirkan EncyKoffee, sebuah kafe mungil yang dirancang agar pengunjung
betah berlama-lama menyesap kopi sambil menyelami dunia di balik buku.
Usai menyusuri seluruh rak-rak buku dan bercakap-cakap dengan Annisa, saya memilih duduk di meja dekat pintu masuk, membuka sebuah buku tentang Soekarno Muda, terbitan Pustaka Yayasan "Antar Kota" tahun 1978. Buku lawas ini bersumber dari penuturan langsung Ibu Wardoyo, Kakak kandung Bung Karno, kepada wartawan S. Saiful Rahim. Buku tersebut tidak saja mengungkit pelbagai kisah seputar Soekarno masa muda yang belum banyak diketahui publik, melainkan juga memuat foto-foto jadul Soekarno bersama tokoh-tokoh penting sezaman.
Perlahan, hiruk-pikuk kota di luar sana memudar.
Kata demi kata mengalir membawa saya melintasi ruang dan waktu. Di sudut lain,
beberapa pengunjung tampak larut dalam dunia masing-masing—tanpa suara gaduh,
hanya bisikan halaman-halaman buku yang dibalik dengan takzim.
Kunjungan saya mungkin singkat, hanya sekitar 90 menit,
namun maknanya menetap lama di palung hati. Saya pulang menuju hotel dengan
langkah ringan dan batin yang penuh. Dari ruang sunyi ini saya belajar bahwa di tengah deru Kota
Bandung yang bergegas, taman baca adalah paru-paru bagi pikiran. Ia memberikan
oksigen berupa gagasan, saat udara di luar sana terasa terlalu sesak oleh
polusi rutinitas.
*Kota Bandung, 24 Februari 2026.
*Tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Sepulang dari Pusat Studi Arsip Kepresidenan Sukarno
2) Sejarah Jambi di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
3) Monumen Kisah Cinta Bung Karno dan Inggit Garnasih
4) Sepulang dari Pusara Inggit Garnasih
5) Bung Karno di Mata Mahbub Djunaidi
6) Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi Untuk Kemerdekaan RI
7) Sejarah dalam Tangkapan Lensa Guntur Sukarno
8) Kisah Puteri Gubernur Jambi 1975 Tentang Bung Karno

0 Komentar