Bung Karno dan Sumbangan Rakyat Jambi untuk Kemerdekaan RI

Presiden Soekarno ke Jambi (1948)

Oleh: Jumardi Putra*

Kali pertama Presiden Soekarno ke Jambi pada Juni 1948 setelah menyinggahi Bukittinggi dan Pekanbaru. Masa itu perjuangan rakyat kian memuncak akibat agresi militer Belanda pertama.

Kehadiran Soekarno ketika itu disambut meriah dengan acara Delfie dalam bentuk unjuk kekuatan (show of force) pasukan TNI Sub Teritorium Djambi (STD) dengan persenjataan antara lain Anti Air Craft (AAC) dan senapan mesin berat 12,7. Acara defile ini juga diikuti oleh pasukan ALRi, AURI, pasukan polisi RI, dua peleton Kesatuan Tentara Pelajar, organisasi-organisasi pejuang, palang merah dan organisasi wanita.

Pada saat yang sama, Bung Karno menerima dana hasil pengumpulan dari rakyat Jambi untuk pembelian pesawat Dakota dengan kode nomor RI 002. Terhadap bantuan rakyat Jambi itu, Soekarno berkata, “Djambi adalah satu Daerah Republik Indonesia jang teristimewa jang daerahnja aman dan makmur dan ekonominja berdjalan dengan baik dan satu daerah pula jang dapat mengexport hasil buminja (karet) dan mengimport barang-barang dari luar negeri".

Aksi pengumpulan dana masa itu memanglah masuk akal, lantaran memenuhi perlengkapan Negara dalam mempertahankan kedaulatan dari cengkraman kolonial, yakni salah satunya membeli empat Dakota.

Masa itu empat Dakota seharga 1500 ton getah kering. Maka, untuk memenuhi pengumpulan dana tersebut, ada dua skema yang diterapkan masa itu. Pertama, Menarik 5 persen dari hasil penjadapan getah, dan hasil pertanian yang berkesesuaian dengan djumlah getah yang ditetapkan di Kewedanan jang tidak menghasilkan getah.

Kedua, pertama kali untuk pembeli sebagian dari djumlah 4 Dakota pemerintah Daerah Jambi dapat meminjam dari saudagar-saudagar di kota Djambi sedjumlah $ 120.000, dengan djalan menarik 30 persen dari djumlah harga barang-barang jang dikeluarkan. Djumlah ini mesti telah tersedia sebelum bulan Agustus 1948. 50 persen dari djumlah harga 4 Dakota dipandang sebagai bakti. 50 persen dari djumlah harga 4 Dakota dipandang sebagai andeel.

Waktu terus berjalan. Agresi militer Belanda masih terjadi berbagai daerah di tanah air. Sekira empat belas tahun kemudian, yaitu tepatnya 11 April 1962, Soekarno kembali datangi Jambi.

Penyambutan kali kedua ini berbeda bila dibandingkan tahun 1948, yaitu disambut oleh kaum pemuda secara adat, penyerahan cinderamata dari warga, ramah tamah bersama pemuka Kerisedenan Jambi dan beberapa aktivitas lain bersama kelompok warga.

Perbedaan itu menandai situasi pemerintah RI dalam posisi di bawah tekanan kolonial Belanda dan membutuhkan dukungan penuh dan merata dari seluruh rakyat Ind48onesia. Tetapi dalam dua kedatangan itu, Bung Karno tetaplah sosok yang karismatik sekaligus jd pemersatu. Dan Rakyat Jambi senantiasa setia di garis perjuangan RI.

*Diolah dari berbagai sumber. Tulisan ini pertama kali terbit di kajanglako.com pada 11 Juli 2017.

0 Komentar