![]() |
| Sutami bersama Hatta dan Nyonya Maryati Sutami saat pengukuhan gelar Profesor. |
Oleh: Jumardi Putra
Mahakarya di tangannya. Kejeniusan dan integritasnya tak diragukan. Toh, Sutami mengidap penyakit yang tak seorangpun akan menyangka diderita oleh seorang selevel menteri yaitu kurang gizi.
Saya mengagumi kisah hidup para pejabat publik di negeri ini yang
memilih bersetia pada kesederhanaan di tengah gemuruh kekuasaan. Di hari-hari
ketika layar gawai kita sesak oleh kabar duka tentang korupsi di lini
eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, saya merasa perlu menengok kembali
jejak langkah para penjaga amanah—baik yang masih mengabdi, terlebih lagi
mereka yang telah berpulang.
Sebenarnya, bangsa ini tidak pernah kekurangan teladan. Kita memiliki
deretan "raksasa" moral yang bekerja dengan sepenuh hati tanpa
menggadaikan harga diri. Sebut saja antara lain Bung Hatta, Haji Agus Salim, Mohammad
Natsir, Jenderal Hoegeng, Mar’ie Muhammad, Baharuddin Lopa, hingga Artidjo
Alkostar. Mereka datang dari latar belakang profesi yang beragam, sehingga membuktikan
bahwa integritas bisa tumbuh di lahan mana pun.
Namun kali ini, hati saya tertambat pada satu nama yaitu Ir. Sutami. Beliau adalah Menteri
Pekerjaan Umum (PU) dan Tenaga Listrik yang mengabdi sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden
Soeharto (1964-1978). Dalam sejarah pembangunan Indonesia, namanya boleh dikata personifikasi dari kejujuran yang ekstrem.
Mencermati rekam jejak pendidikannya, Sutami adalah sosok jenius.
Setelah menamatkan sekolah dasar pada tahun 1943, lanjut merampungkan SMP tahun 1946 hingga lulus SMA di Surakarta tahun 1950, ia "hijrah" ke Bandung untuk
berkuliah hingga berhasil menyandang gelar insinyur pada tahun 1956 di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (yang pada tahun 1959
bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung atau ITB).
Kecemerlangan intelektualnya diakui secara luas. Pada tahun 1967, ia diangkat menjadi Anggota Dewan Pembina Ilmu Pengetahuan Indonesia pada LIPI (kini BRIN). Puncaknya, pada 20 Nevember 1976, Sutami dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Wilayah oleh Universitas Indonesia (UI). Gelar ini merupakan buah dari produktivitasnya menulis berbagai karya ilmiah di bidang konstruksi, ilmu wilayah, dan manajemen sumber daya manusia. Suami dari Maryati ini juga pernah dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dalam ilmu teknik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 3 Maret 1976. Rekam jejaknya menjabat lebih dari 12 tahun, melewati 6 kabinet dari era Soekarno hingga Soeharto, sejatinya menegaskan dedikasi sekaligus kompetensi keilmuannya.
Mahakarya di Tangan
Menemukan literatur spesifik tentang Ir. Sutami agak menantang. Sosoknya
yang rendah hati membuat beliau enggan mempublikasikan diri. Namun, jejaknya
abadi dalam dunia konstruksi Indonesia. Pria kelahiran 19 Oktober 1928 ini
adalah otak di balik mahakarya arsitektur yang kita nikmati hingga hari ini antara
lain seperti Gedung Conefo (sekarang kita lebih mengenalnya sebagai
Gedung DPR/MPR), Waduk Jatiluhur, Bandara Ngurah Rai, dan Hotel Indonesia. Begitu juga Jembatan Ampera di Palembang (merevisi desain
pihak Jepang) dan Jembatan Semanggi.
Ironisnya, kondisi sang "Bapak Beton Pratekan" ini berbanding terbalik dengan gaya hidup banyak pejabat masa kini, terutama di sektor infrastruktur yang kerap dicap sebagai "jabatan basah". Sebagai pengendali proyek raksasa, Sutami punya segala peluang untuk kaya raya, namun ia memilih jalan sunyi yang bersih. Tak pelak, ia dijuluki sebagai menteri "termiskin" dalam sejarah Indonesia.
Kisah yang paling menyayat hati adalah tentang rumah pribadinya yang bocor. Bayangkan, seorang Menteri PU yang ahli membangun bendungan raksasa, justru tak punya biaya untuk memperbaiki atap rumahnya sendiri. Bahkan, cicilan rumah sederhana itu baru bisa dilunasi menjelang masa pensiunnya.
Keteguhannya tidak berhenti di sana. Pernah suatu ketika, aliran listrik di rumahnya diputus oleh PLN karena terlambat membayar tagihan. Alih-alih menggunakan wewenang untuk meminta dispensasi, Sutami menerimanya dengan lapang dada karena memang sedang tidak memegang uang tunai. Ia sangat ketat memisahkan harta pribadi dan fasilitas negara; ia merasa berdosa jika mobil dinas digunakan untuk kepentingan keluarga.
Kisah menyayat hati ini mengingatkan saya pada Bung Hatta yang tak mampu membeli
sepatu Bally, atau Haji Agus Salim—sang "The Grand Old Man"—yang
hidup berpindah-pindah kontrakan. Bagi mereka, integritas adalah penjelasan
konkret yang tidak butuh banyak teori untuk dipahami.
Integritas yang Tak Goyah
Bagi Sutami, jabatan adalah amanah, bukan ladang komisi guna menumpuk
keuntungan pribadi. Penderitaan materi ini bahkan membekas pada fisiknya. Rekan
sejawatnya, Suyono, mengisahkan bahwa Sutami sering kurang makan karena sakit
gigi yang tak kunjung diobati. Hal ini dipicu rasa takutnya pada dokter gigi
dan keengganannya mengeluarkan biaya pribadi yang terbatas.
![]() |
| Daftar Riwayat Hidup Ir. Sutami (1977) |
Aktivitas tinggi tanpa nutrisi cukup membuat sang Menteri mengidap penyakit yang terdengar mustahil bagi pejabat selevelnya: kurang gizi. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1980, ia sempat ragu berobat ke rumah sakit karena khawatir tak mampu membayar biaya. Akhirnya, pemerintah turun tangan menanggung seluruh biaya pengobatannya sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kesederhanaannya terjaga hingga ke liang lahat. Sebelum meninggal pada 13 November 1980 (dalam usia 52 tahun), ia berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di TPU Tanah Kusir. Penerima anugerah Bintang Mahaputera Adipradana (Keppres No.012/TK/TH.1973) ini juga menolak tawaran jabatan di Dewan Pertimbangan Agung (DPA) setelah pensiun, karena lebih memilih kembali menjadi warga biasa.
Kini, nama Ir. Sutami abadi pada nama Waduk Karangkates di Malang yang diresmikan pada 16 April 1981, setahun setelah ia wafat, sebagai bentuk penghormatan Presiden Soeharto atas kinerjanya. Namun, lebih dari sekadar beton fisik, warisan terbesarnya adalah pesan bagi generasi muda bahwa untuk maju, kita harus belajar sungguh-sungguh, bekerja keras, memegang teguh integritas, dan menjunjung tinggi disiplin.
Bangsa ini merindukan "Sutami-Sutami" muda. Seseorang yang
sanggup berdiri tegak di tengah godaan, yang merasa malu jika hidup mewah di
atas keringat rakyat. Karena pada akhirnya, jembatan dan gedung akan melapuk,
namun integritas akan terus dikenang oleh zaman.
*Sumber referensi: Biografi Ir.
Sutami: Pendekar Pembangunan, Hendropranoto Suselo, dkk. (Yayasan Badan
Penerbit PU), Sutami: Biografi Tokoh, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan (1980-an), Jurnal Prisma: Edisi Khusus 20 Tahun (LP3ES, 1991), Kiprah Ir. Sutami: Membangun Infrastruktur Indonesia (Tempo Publishing), dan Buletin Dwi Wulan Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian PU, Edisi
IV Tahun 2014.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
2) Naoka Nemoto: Madam Soekarno
3) Menziarahi Bung Hatta dan Mula Berjumpa Datuk Syahrul Akmal
6) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan
8) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad
9) Menimbang Meriyati dan Jenderal Polisi Hoegeng
10) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
11) Membaca Ekonom Kwik Kian Gie
12) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
13) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
14) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
16) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
19) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan
20) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi
21) Bambang Budi Utomo, Sepotong Dunia Penekun Studi Sriwijaya
22) Jokpin: Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
23) Jang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916




0 Komentar