Sudah tentu seorang yang menghendaki kemerdekaan buat umum, mestilah sedia dan ikhlas menderita kehilangan kemerdekaan dirinya sendiri, sebagian atau seluruhnya.- Tan Malaka
Mendapati badan truk bertuliskan slogan maupun kalimat menggugah, penuh kritik, dan intrik di sepanjang jalan lintas Sumatera adalah momen yang selalu membahagiakan bagi saya. Pada sebuah malam di penghujung Desember 2020, saat menempuh perjalanan dari Pasar Muaratembesi, Kabupaten Batanghari, menuju Kabupaten Bungo—bumi yang dijuluki Langkah Serentak Limbai Seayun—saya bersitatap dengan lukisan sosok Tan Malaka pada sisi kanan bawah sebuah truk. Di sana, wajah sang ideolog bersanding dengan kibaran sang saka Merah Putih di bucu kiri atas.
Ingatan saya langsung melenting ke medio Agustus 2016. Usai menziarahi
makam penyair si “Binatang Jalang” Chairil Anwar dan sastrawan Pramoedya Ananta
Toer di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, saya menjumpai hal serupa. Sebuah
baliho merah berukuran sedang membalut badan bemo, bertuliskan: “Berpikir
Besar Kemudian Bertindak”. Di samping teks itu, siluet wajah Tan Malaka
menatap tajam, dengan tulisan berukuran kecil di bawahnya: Madilog.
Dua fragmen visual di ruang publik tersebut segera menghidupkan kembali
memori kolektif kita atas mahakarya pria kelahiran Nagari Pandam Gadang,
Gunuang Omeh, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 tersebut. Tan Malaka
adalah figur bergerak yang mewariskan teks-teks monumental seperti Naar de
Republik Indonesia (1925), Massa Aksi (1926), Semangat Muda
(1926), Manifesto Bangkok (1927), Madilog (1943), Gerpolek
(1948), dan tentu saja otobiografi tiga jilidnya, Dari Penjara ke Penjara
(1947).
Salah satu karya penting dari pria bernama lengkap Ibrahim bergelar adat Datuk Sutan Malaka ini adalah Dari Penjara ke Penjara. Majalah Tempo dalam edisi khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional (1908-2008) memberikan penghormatan tinggi dengan mendudukkan trilogi otobiografi ini sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah yang membentuk gagasan kebangsaan Indonesia [1].
Saya sepenuhnya sepakat. Meskipun Naar de Republik Indonesia (1925) tidak kalah monumental karena ditulis beberapa langkah lebih maju mendahului konsep "Indonesia" dari para bapak bangsa lainnya, Dari Penjara ke Penjara adalah lanskap batin sekaligus dokumen politik pada masanya. Sedangkan teks Naar de Republik terbukti menginspirasi Mohammad Hatta saat menulis pembelaannya, Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) di depan Pengadilan Belanda di Den Haag pada 1928, serta memantik Sukarno merumuskan risalah Menuju Indonesia Merdeka pada 1933 [2].
Awal Mula Mengenal Karya Tan Malaka
Saya tergolong terlambat membaca isi buku Dari Penjara ke Penjara.
Ada jeda waktu hampir 57 tahun sejak buku itu ditulis pertama kali hingga
mendarat di jemari saya. Mula-mula, saya mengenali gagasan Tan Malaka pada
tahun 2004 melalui magnum opusnya yaitu Madilog
(Materialisme, Dialektika, dan Logika)—terbit
pertama kali untuk umum tahun 1951 oleh penerbit CV. Widjaya dan diterbit ulang
oleh LPPM Tan Malaka tahun 1980 dan berlanjut tahun 2008). Buku tersebut bukan sekadar teks filsafat, melainkan kritik
kebudayaan yang keras terhadap kesadaran magis masyarakat Indonesia kala itu.
Menariknya lagi, Madilog lahir murni dari kedalaman ingatan, ketajaman analisis,
dan kemampuan sintesis Tan Malaka yang luar biasa atas realitas geopolitik
dunia dan kondisi sosiologis bangsanya.
Pada tahun 2004 itu, nama Tan Malaka laksana mantra yang kerap diucapkan
oleh para aktivis gerakan maupun pers mahasiswa. Dalam diskusi di Lembaga Pers
Mahasiswa (LPM) Arena dan organisasi Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi
(KMPD) di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta,
pemikiran Tan dibedah bersama dialektika kiri lainnya. Di ruang-ruang
alternatif itulah, selain di dalam kelas-kelas formal, saya menimba air jernih
pengetahuan sosiopolitik.
Generasi seangkatan saya saat itu masih beruntung sempat mencicipi semaraknya diskursus pemikiran kritis lintas faksi dan generasi. Kami membaca—dan memperdebatkan—gagasan para tokoh pergerakan tanah air: mulai dari Haji Misbach, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Musso, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, KH. Wahid Hasyim, Tirto Adhi Soerjo, Mas Marco Kartodikromo, hingga tokoh kontemporer seperti Wiji Thukul dan Soe Hok Gie.
![]() |
| Karya Tan Malaka (Teplok Press, Cetakan II, 2008) |
Diskusi-diskusi itu kian kaya dengan persilangan referensi teoritis dari para pemikir global seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, Henk Sneevliet, Friedrich Nietzsche, Max Weber, Adam Smith, Antonio Gramsci, Ali Syari’ati, Karl Popper, Muhammad Abduh, Hassan Hanafi, Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Samuel P. Huntington, James C. Scott, Clifford Geertz, Bertrand Russell, hingga para Indonesianis kenamaan seperti Ruth T. McVey, Benedict Anderson, George McTurnan Kahin, dan M.C. Ricklefs [3].
Menuju Jaringan Komintern Asia Timur
Buku Dari Penjara ke Penjara ditulis oleh Tan Malaka ketika
raganya mendekam dari satu jeruji besi ke jeruji besi lainnya—sebuah wilayah
sunyi yang menyita sebagian besar porsi hidupnya. Narasi buku ini membentang
sejak ia menyelesaikan pendidikan di Rijkskweekschool (Sekolah Guru
Kerajaan) di Haarlem, Belanda, pada 1913. Sekembalinya ke Hindia Belanda pada
1919 hingga 1920, ia bekerja sebagai guru bagi anak-anak kuli perkebunan
tembakau di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Di tanah Deli
inilah, benturan nuraninya menyaksikan eksploitasi manusia oleh kapitalisme
kolonial mulai membentuk watak radikalnya [4].
Tan Malaka kemudian memilih merantau ke Semarang dan mendirikan Sekolah
Rakyat di bawah naungan Sarekat Islam (SI). Ketajaman analisis politik Tan
memikat dua tokoh utama Sarekat Islam Merah, Semaun dan Darsono, terutama
setelah mereka menyaksikan argumen Tan dalam Kongres Sarekat Islam pada 2-4 Maret
1921 di Yogyakarta. Pada Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) tanggal 24-25 Desember
1921 di Semarang, dalam usia yang masih sangat muda, Tan Malaka terpilih
menjadi Ketua PKI menggantikan Semaun yang harus meninggalkan Indonesia [5].
Aktivitasnya yang progresif—mulai dari mendirikan Sarekat Islam
School hingga memimpin aksi-aksi mogok buruh—membuat gerah pemerintah
kolonial. Sikap militan ini tidak lepas dari pengaruh persingguhan awalnya
dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi
sosialis yang didirikan oleh Henk Sneevliet pada 1914. Menilai kehadiran Tan
Malaka sebagai ancaman stabilitas rust en orde, Pemerintah Hindia
Belanda menangkapnya dan menjatuhkan hukuman pembuangan (interning)
kembali ke Belanda pada Mei 1922.
Namun, pengasingan justru membuka cakrawala baru. Jaringan internasionalnya meluas. Di Belanda, ia sempat dicalonkan sebagai anggota parlemen dari Partai Komunis Belanda (Communistische Partij Holland). Tak lama berselang, ia ditunjuk oleh Eksekutif Komunis Internasional (Komintern) menjadi agen untuk wilayah Asia Timur yang berbasis di Canton dan Manila.
![]() |
| Karya Tan Malaka: Madilog (CV Widjaya, 1951) |
Dalam Kongres Komintern IV di Moskow (1922), Tan Malaka menunjukkan independensi berpikirnya yang kokoh. Ia menentang garis keras Komintern dan mengajukan tesis berani: komunisme di Asia harus bersekutu dengan gerakan Pan-Islamisme jika ingin menumbangkan imperialisme Barat. Gagasan ini ditolak oleh mayoritas pimpinan Komintern, sebuah keretakan awal yang kelak mengubah garis hidup politiknya secara dramatis [6].
Pelarian Tan Malaka
Sejak ketegangan di Moskow tersebut, Tan Malaka memulai petualangan
nomaden yang legendaris, melintasi perbatasan berbagai negara: Jerman, Rusia,
Filipina, Tiongkok, Myanmar, Malaysia, Singapura, hingga akhirnya menyusup
kembali ke Indonesia pasca-runtuhnya kekuasaan Belanda di bawah serbuan tentara
Jepang di awal-awal perang dunia II.
Dalam kata pengantar Jilid I Dari Penjara ke Penjara, Tan
menegaskan bahwa memoar yang ditulisnya bukanlah otobiografi konvensional yang
patuh pada kronologi “life and work” (sejak masa kanak-kanak, sekolah,
hingga bekerja). Sebaliknya, buku ini adalah anyaman dialektis antara satu
peristiwa dengan peristiwa lain, keterbacaan situasi sosiopolitik pra- dan
pasca-penahanan, serta potret sosiologis dari satu penjara ke penjara lainnya.
Bagi Tan Malaka, penjara bukanlah ruang asing; ia adalah
"rumah" kedua. Sebelum diasingkan pada 1922, ia telah mencicipi
pengapnya sel di Bandung, Semarang, dan Batavia. Di luar negeri, penjara Manila
dan Hong Kong turut merekam keteguhan hatinya. Seolah-olah, setiap jeruji besi
membisikkan kalimat ramah di telinganya: "Silakan masuk."
Untuk mengecoh dinas intelijen lintas negara—baik Politieke
Inlichtingen Dienst (PID) Belanda, Kempeitai Jepang, maupun dinas rahasia
Inggris—Tan Malaka merawat seni bertahan hidup dengan penyamaran yang luar
biasa. Ia hidup dengan belasan identitas palsu dan menguasai berbagai bahasa
lokal secara fasih (Minang, Indonesia, Belanda, Rusia, Jerman, Mandarin, dan
Tagalog).
Sejurus kemudian, selama pelariannya, Tan
Malaka kerap berganti nama sesuai tempat dimana ia singgah, untuk menyebut
contoh, seperti di Banten ia menggunakan nama samaran Legass Husein, Ramli
Hussein, dan Ilyas Hussein (Indonesia), Elias Fuentes, Estahislau Rivera, dan
Alisio Rivera (Filipina), Hasan Gozali (Singapura), Ossorio (Sanghai), Ong Song
Lee (Hongkong), Tan Ming Sion (Burma), dan Cheung Kun Tat, Howard Lee (China).
![]() |
Tan Malaka (ketiga kanan dari atas) bersama utusan bangsa-bangsa dari Timur di Kongres Komintern |
Kisah pelarian geopolitik inilah yang menjadi menu utama Dari Penjara ke Penjara. Di setiap jengkal tanah yang diinjaknya, ia menuliskan analisis tajam mengenai dinamika sosial setempat, taktik mengelabuhi mata-mata, hingga cara membangun jaringan logistik dengan bekerja sebagai juru tulis, kontributor pers, maupun guru bahasa. Semua ia lakukan demi satu muara: mematangkan konsepsi kemerdekaan Indonesia.
Misteri Tan Malaka
Tan Malaka kerap digambarkan sebagai tokoh yang kesepian dan diselimuti
kabut misteri. Riwayat hidupnya memiliki banyak segi yang tidak mudah dilacak.
Aspek asmaranya sunyi, dan pilihan politiknya penuh riak kontroversi. Salah
satu titik balik paling krusial dalam sejarah pergerakan nasional adalah
keputusannya memisahkan diri secara total dari PKI pasca-pemberontakan prematur
tahun 1926-1927.
Tan Malaka menilai rencana pemberontakan yang digerakkan oleh trio
pimpinan PKI di domestik—Musso, Alimin, dan Sugono—sebagai sebuah
"petualangan putus asa" (putsch) yang tidak berbasis pada
kesiapan massa aksi, dan berakibat pada bunuh diri politik bagi gerakan
kemerdekaan Indonesia menghadapi represi Belanda [7].
Akibat sikap keras kepalanya yang menolak tunduk pada garis Moskow dan
faksi domestik, Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di
Bangkok pada 2 Juni 1927 sebagai wadah baru perjuangan bawah tanah. Di kemudian
hari, gerbong politik ini bermutasi menjadi Partai Murba (Musyawarah Rakyat
Banyak) pada tahun 1948, didukung oleh tokoh-tokoh muda radikal seperti
Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, Mohammad Yamin, Maruto Nitimiharjo, dan Iwa
Kusumasumantri [8].
Bahwa nama Tan Malaka hari ini dapat dibaca secara objektif, kita berutang budi yang besar kepada sejarawan asal Belanda, Harry A. Poeze. Indonesianis dari KITLV ini mendedikasikan sebagian besar umur akademisnya untuk meneliti, melacak, dan merekonstruksi teka-teki hidup sang Pacar Merah [9].
![]() |
Karya Tan Malaka: Menuju Republik Indonesia (1925) |
Pada akhirnya, membaca Dari Penjara ke Penjara adalah membaca keteguhan prinsip yang menolak kompromi. Setelah proklamasi 1945, Tan Malaka berdiri di barisan paling depan mengkritik kebijakan diplomasi Sjahrir maupun Amir Sjarifuddin. Bagi Tan, diplomasi seperti Perjanjian Linggajati (1947) dan Renville (1948) hanyalah bentuk penyerahan kedaulatan secara sukarela. Ia menuntut "Kemerdekaan 100%"—sebuah jargon yang membuatnya harus berhadapan secara politik dengan dwi-tunggal Sukarno-Hatta.
Melalui Dari Penjara ke Penjara,
Tan Malaka meninggalkan warisan moral yang kokoh bagi generasi saat ini: "Bagi mereka yang ingin menikmati
hakikat kemerdekaan secara utuh, maka harus ikhlas menjalani pahit serta
getirnya hidup terpenjara. Begitu juga mereka yang menghendaki kemerdekaan
untuk umum, maka ia harus ikhlas dan bersedia untuk menderita kehilangan
kemerdekaan dirinya sendiri.
*Tulisan ini terbit pertama kali pada 11 Februari 2021 di rubrik sosok portal kajanglako.com. Penulis telah melakukan penyuntungan dari tulisan awal.
*Sumber Referensi / Catatan Kaki:
[1] Tim Buku Tempo. (2010). Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
[2] Malaka, Tan. (2014). Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Jakarta: Penerbit Narasi.
[3] Anderson, Benedict R. O'G. (1972). Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946. Ithaca: Cornell University Press.
[4] Malaka, Tan. (2000). Dari Penjara ke Penjara (Jilid I, II, dan III). Jakarta: Teplok Press.
[5] McVey, Ruth T. (2006). The Rise of Indonesian Communism. Jakarta: Equinox Publishing.
[6] Malaka, Tan. (2008). Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Jakarta: Pusat Data Purba.
[7] Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
[8] Kahin, George McTurnan. (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
[9] Poeze, Harry A. (2008). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 1: 1945-1947. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
[10] Poeze, Harry A. (2014). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.






0 Komentar