Mengantar ke Gerbang Sekolah

ilustrasi. 


Oleh: Jumardi Putra


Intelligence plus character—that is the goal of true education


Pagi ini, matahari terbit membawa riuh yang berbeda di beranda rumah. Setelah jeda liburan yang panjang, kedua putra saya bersiap menuju sekolah. Si sulung resmi memulai kisah baru sebagai remaja berseragam putih-abu-abu di salah satu SMAN di Kota Jambi. Sementara si bungsu, dengan langkah kecil namun mantap, menapaki hari pertamanya di kelas IV SD.

Bagi banyak orang tua, hari pertama sekolah adalah momen emosional. Saya dan istri sepakat membersamai langkah mereka pagi ini. Kami berbagi tugas seraya menengadahkan doa kepada Allah Azza Wajalla buat mereka berdua. Saya mengantarkan si Abang, sedangkan istri mengantar si Adik—searah jalan dengan tempatnya mengabdi sebagai guru di salah satu SMKN di kota berjuluk "Tanah Pilih Pusako Betuah".

Tahun ajaran baru seringkali diidentikkan dengan segala hal yang serba baru: teman-teman baru, seragam baru, buku yang masih wangi cetakan, topi, dasi dan tas, hingga sepasang sepatu baru. Tak pelak, beberapa hari menjelang masuk sekolah, toko-toko perlengkapan sekolah--setidaknya yang saya kunjugi--tampak sesak dipenuhi orang tua dan anak-anak. Raut bahagia terpancar jelas dari wajah mereka.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada riak perjuangan yang sunyi. Sebagian orang tua harus memeras keringat lebih deras, memutar otak demi mencukupi kebutuhan sekolah di tengah isi dompet yang kian menipis. Kenyataan ini terasa kian getir saat ingatan kita diusik oleh berita-berita korupsi para pejabat dan penegak hukum akhir-akhir ini. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati: di saat warga di akar rumput pontang-panting berjuang demi masa depan pendidikan anak-anak mereka, di atas sana keadilan justru dikhianati.

Beberapa hari ke depan, si sulung masih menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebagai orang tua, saya menaruh harapan besar agar momentum ini menjelma menjadi ruang interaktif yang hangat dan menyenangkan. Kita tentu berharap bayang-bayang kelam masa orientasi masa lalu yang diwarnai perpeloncoan, tugas tak relevan, dan tekanan fisik, tidak lagi berulang. MPLS harus menjadi jembatan ramah yang menghapus kecemasan sosial anak, bukan justru menanam ketakutan.

Hari pertama ini harus menjadi bekal yang menguatkan kesehatan batin mereka sebelum menyelami aktivitas belajar secara normal. Rasa tenang sedikit membuncah saat pihak sekolah mengirimkan salinan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS kepada para orang tua. Begitu juga siswa pendamping MPLS berdasarkan Gugus masing-masing aktif mengabarkan kerja kreatif siswa baru kepada orangtua via kanal WhatsApp. Kini, tugas pihak sekolah, juga para orang tua adalah konsisten dan konsekuen dalam mengawal amanah peraturan tersebut.

Bukan tanpa alasan saya berharap demikian. Sekolah pada hakikatnya bukanlah sebuah menara gading, bukan pula pabrik robot yang mencetak manusia menjadi seragam. Sekolah adalah taman untuk mengasah intelegensi sekaligus menyemai kemanusiaan, empati, dan nurani. Dalam konteks ini, sangat relevan bagi kita merenungkan kembali petuah bijak Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, mengenai esensi terdalam dari proses belajar:

"Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya... Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu."

Berpijak pada konsepsi luhur tersebut, sudah saatnya ekosistem pendidikan—mulai dari kepala sekolah yang bertanggungjawab atas jalannya arah kebijakan dan implementasi kurikulum di sekolah, para guru yang menyalakan pelita literasi di ruang kelas, tenaga kependidikan dan stakeholder lainnya yang menopang jalannya birokrasi sekolah seraya optimalisasi pemanfataan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran, hingga orang tua dan lingkungan sekitar—bergerak dalam satu simfoni yang selaras. Apatahlagi di era banjir informasi dan kecerdasan buatan, kita sama-sama memikul tanggung jawab besar bersama untuk menciptakan budaya belajar yang memanusiakan manusia.

Tugas negara (dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) bersama Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota, sesuai kewenangan masing-masing--memastikan fasilitasi dan pemenuhan atas akses, infrastruktur, sarana dan prasarana pembelajaran serta segala hal yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan sekaligus mutu tenaga pendidik dan kependidikan, sebagaimana digariskan dalam peraturan perundang-undangan.

Saya sepakat dengan apa yang pernah ditegaskan oleh Martin Luther King Jr.: "Intelligence plus character—that is the goal of true education" (Kecerdasan ditambah karakter—itulah tujuan pendidikan yang sejati). Dengan demikian, sekolah tidak boleh terjebak hanya untuk menajamkan kecerdasan kognitif berlandasakan lembar-lembar ujian. Tugas utama pendidikan hari ini adalah merawat keseimbangan hidup: mengasah otak siswa agar kritis memilah informasi, melembutkan hati agar peka secara emosional di tengah dunia digital yang riuh, serta memperkokoh spiritualitas agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana.  

Saat si sulung melewati pintu masuk sekolah, lalu disambut beberapa guru dan kakak-kakak kelas pendamping MPLS, saya pun perlahan meninggalkannya lalu menyusuri jalan di kota yang konon Walikotanya sedang berjuang membuat warganya bahagia. Benarkah demikian atau sebaliknya, entahlah. Yang Pasti, jalanan masih banyak yang berlobang. 

Selamat kembali ke sekolah, anakku. Temukan sahabat-sahabatmu, reguklah ilmu dari guru-gurumu dan pelbagai sumber alternatif lainnya, berbahagialah mengarungi setiap proses, dan tetaplah tumbuh menjadi individu yang tangguh di dunia yang kian keras ini.


*Kota Jambi, Senin 13 Juli 2026.

*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

2) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

3) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

4) Pendidikan Tinggi dalam Pusaran Kapitalisme

5) Orang Miskin Dilarang Sekolah

6) Reinvensi "Ruh" Menjadi Dosen

7) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

8) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

9) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu

10) Ilusi Yang "Terhormat"

11) Kegenitan Intelektual

12) Kemalasan Intelektual

13) Rumah Pemikir, Inkubator Pemimpin

14) Merawat Tradisi Akademik: Oase dari Mandalo

15) Sarjana Organik

16) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi

17) Rejuvenasi Gerakan Pemuda Jambi, Kritik Epistemologis

18) Potret Buram Pendidikan Jambi

19) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri

20) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM

21) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa

22) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif

23) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra

24) Membaca Pemikiran Kwik Kian Gie

Posting Komentar

0 Komentar