![]() |
| Buya Syafi'i Ma'arif. Sumber: hidayatullah.com |
Oleh: Jumardi Putra
Jumat pagi, 27 Mei 2022, sekira pukul 10.15 WIB, sebuah kabar duka
melesat, menembus batas-batas wilayah, dan meruntuhkan hati banyak kalangan
warga Indonesia: Buya Profesor Ahmad Syafi'i Ma'arif telah berpulang.
Kepergiannya hanya berselang empat hari sebelum beliau genap berusia 87 tahun.
Ia menghembuskan nafas terakhir kalinya di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Seketika, jagad media sosial dipenuhi doa sekaligus ucapan belasungkawa.
Rasa kehilangan datang tidak hanya dari kalangan Muhammadiyah—organisasi yang pernah
dipimpinnya—tetapi juga dari para pajabat atau politisi, akademisi, teolog lintas iman,
aktivis, seniman/budayawan, santri, hingga rakyat biasa di pelosok negeri.
Kepergian Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta ini menegaskan satu hal
bahwa Buya Syafii adalah milik semua orang. Ia kerap disebut-sebut sebagai oase
di tengah tandusnya keteladanan etis dalam lapangan politik kiwari.
Resonansi sang Guru
Ingatan saya melayang ke tahun 2001 di Jombang, Jawa Timur. Itulah momen
pertama kali saya membaca tulisannya berjudul "Islam dan Tantangan Sejarah" yang dimuat di Majalah Tebuireng edisi April 1986. Akses terhadap karya tulisnya berlanjut hingga saya
menempuh studi di Yogyakarta, lebih dua dekade lalu. Di kota Gudeg tersebut, saya
beberapa kali berpapasan dengan beliau saat mengajar di Pascasarjana UIN Sunan
Kalijaga atau saat menjadi pembicara kunci sebuah seminar. Selebihnya, saya membaca
kolom Resonansi-nya di Republika, sesekali opininya di Kompas,
dan menonton ulasan pemikirannya di kanal-kanal YouTube.
Meski kini saya terpisah jarak antar-pulau (Yogyakarta-Jambi), pemikiran
Buya tetap menjadi lentera. Bahkan, melalui media sosial, saya kerap membaca
kesaksian warga atau nitizen tentang kesederhanaan sehari-hari Buya seperti mengayuh sepeda
tua ke masjid, mengantre di rumah sakit tanpa fasilitas VIP, atau duduk tenang
di gerbong kereta komuter tanpa pengawalan. Di era tatkala kuasa dipertontonkan
dengan kemewahan berbagai fasilitas, laku hidup Buya adalah tamparan keras sekaligus
pelipur lara.
Dalam panggung sejarah pemikiran Islam modern di Indonesia, KH.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyematkan julukan ikonik bagi Buya Syafii,
Nurcholish Madjid (Cak Nur), dan Amien Rais sebagai "Tiga Pendekar dari
Chicago". Ketiganya adalah generasi pertama cendekiawan Muslim Indonesia
yang meraih gelar Ph.D dari Universitas Chicago di bawah bimbingan langsung
pemikir neo-modernisme Islam asal Pakistan, Prof. Dr. Fazlur Rahman.
Namun, pasca-berpulangnya Cak Nur pada 2005 dan Gus Dur pada 2009, Buya
Syafi'i memikul beban sejarah yang kian berat. Di usia senjanya, beliau harus
"turun gunung" untuk melawan arus radikalisme eksklusif atau “infiltrasi
teologi impor” yang mengancam tenun kebangsaan negeri ini. Buya dengan lantang
mengkritik apa yang ia sebut sebagai "teologi maut"—sebuah paham
keagamaan sempit yang memanipulasi "otoritas langit" demi syahwat politik
jangka pendek elit dan pemodal.
Bagi Buya, Islam harus dihadirkan secara substantif dan inklusif.
Melalui wadah perjuangan kultural seperti Ma'arif Institute for Culture and
Humanity serta gerakan sosial-kemasyarakatan Muhammadiyah di bidang
pendidikan dan kesehatan, Buya menegaskan bahwa mayoritas kuantitas umat Islam
di Indonesia harus dibarengi dengan kualitas peradaban yang tinggi.
Ada satu kalimat Buya Syafi'i yang paling menghunjam sanubari saya dan
rasanya akan terus relevan untuk dicakap-renungkan bersama:
Seandainya di dalam Al-Qur'an ada perintah untuk putus asa (pesimis), sayalah orang pertama yang akan melakukannya.
Kalimat ini menurut hemat saya lebih kepada "kemarahan etis"
seorang guru bangsa yang terluka melihat Indonesia tak kunjung keluar dari
krisis multidimensional. Buya gelisah melihat struktur politik kita diaduk-aduk
oleh politisi "rabun ayam"—mereka yang jangkauan pandangnya rabun,
hanya sebatas pemilu lima tahunan dan kepentingan perut kelompoknya sendiri.
Beliau juga kecewa karena pendidikan yang diharapkan menjadi lokomotif
pencerdas bangsa, justru kerap ditaruh di urutan buncit di bawah kuasa ekonomi
kapitalistik. Pun demikian dengan penegakan hukum yang tumpul. Korupsi yang
merajalela di lini eksekutif, legislatif, dan yudikatif ditatap Buya dengan
rasa perih yang mendalam, sebab beliau tahu betul, korupsilah yang melahirkan
kemiskinan struktural yang menjepit kaum mustadh'afin (kaum tertindas).
Namun, semarah-marahnya melihat kondisi negeri ini, itu tidak lantas menjadikan
Buya Syafi’i Ma’arif putus asa. Kecintaannya terhadap negeri tetap terjaga
hingga akhir hayatnya dan bahkan semasa hidup ia pernah berkata, “Indonesia
harus tetap bertahan hingga satu hari sebelum kiamat tiba”.
Lantas, bisakah Islam menjadi jawaban atas carut-marut ini? Pemikiran
Buya Syafii memberikan jawaban yang benderang dalam buku monumentalnya berjudul Islam
dalam Bingkai Keindonesiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (Mizan, 2015). Bagi
Buya, pembumian Islam di Indonesia sama sekali tidak membutuhkan konsep
formalistik-utopis seperti sistem Khilafah yang kerap digaungkan kelompok
transnasional. Segendang sepenarian, dalam sebuah artikel berjudul Pesan untuk
Muhammadiyah-NU (Kompas, Selasa, 5 Januari 2021), Buya Syafi'i Ma'arif menulis
begini, “NU-Muhammadiyah (bersama dengan kekuatan masyarakat sipili lainnya
yang sudah teruji menjaga negeri ini) yang mewakili arus utama Islam Indonesia
harus semakin menancapkan jangkarnya di Samudera Nusantara sedalam-dalamnya.
Generasi baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis
dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang
terasa masih goyah. Pertanyaan kemudian, lanjut Buya, apakah generasi baru
Muhammadiyah-NU yang lebih terbuka dan relatif punya radius pergaulan yang lebih
luas bersedia keluar dari kotak-kotak sempit selama ini? Semestinya tidak ada
alasan lagi untuk terkurung dalam lingkaran terbatas yang bisa menyesakkan
napas dan sia-sia.
Islam bagi Buya sudah selesai dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, dan
NKRI. Paradigma yang ditawarkannya adalah Islam yang memberi rasa aman,
keadilan, dan perlindungan bagi siapa saja yang bernaung di bawah langit
Indonesia, tanpa peduli apa latar belakang agamanya. Tugas umat beragama
bukanlah saling mengafirkan, melainkan berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul
khairat) demi tegaknya kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kepergian Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif adalah kehilangan bagi bangsa ini.
Membaca lembar demi lembar karya yang ditinggalkannya adalah petualangan
intelektual sekaligus spiritual. Kita bisa melacak pencarian otentisitas
pemikirannya melalui deretan karya tulisnya semasa hidup seperti Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara:
Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante (LP3ES, 2006) yang merupakan
disertasinya di Chicago; Percaturan
Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965
(Ircisod, 2021) yang diangkat dari tesisnya di Ohio University; Benedetto
Croce (1866-1952) dan Gagasannya tentang Sejarah (Suara Muhammadiyah, 2003); Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan
Muslim (Grasindo, 2005); Al-Quran
dan Realitas Umat (Republika, 2010); Ahmad Syafii Maarif: Memoar Seorang Anak Kampung (Ombak, 2013); Gilad
Atzmon: Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme (Mizan,
2012); Tuhan
Menyapa Kita (Orcisod, 2020); dan Bulir-bulir Refleksi Seorang Mujahid (Kompas,
2023).
Buya Syafi’i Ma’arif kini telah tiada, namun lenteranya tidak boleh
padam. Mengirimkan doa terbaik untuk beliau adalah kewajiban kita sebagai yang
ditinggalkan. Namun, bentuk penghormatan tertinggi yang bisa kita berikan
kepada sang “Muazin Bangsa” adalah dengan membumikan kembali bulir-bulir
pemikirannya: merawat Islam yang ramah, menjaga Indonesia yang utuh, dan
membela kemanusiaan yang terluka.
Selamat jalan, Buya. Istirahatlah dengan damai di keabadian. Lahu
Al-Fatihah.
*Tulisan ini terbit pertama kali di portal kajanglako.com dan jamberita.com. Penulis melakukan penyuntingan tanpa mengubah substansi tulisan.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Membaca "Jalan Sunyi" Emha Ainun Najib
2) Menggugat Ingatan Politik: Refleksi 28 Tahun Reformasi
3) Setelah Tiga Tahun Buya Syafi'i Ma'arif Berpulang
5) Naoka Nemoto: Madam Soekarno
9) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan
10) Membaca Kritik Ekonomi Politik Karl Marx
13) Gusdur: Santri, Politisi dan Pemikir
14) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad
15) Membaca Ekonom Kwik Kian Gie
16) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
17) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
18) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
19) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
21) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
24) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan
25) Mengenal Demografer Riwanto Tirtosudarmo


0 Komentar