Prof. Sri Soedewi, Sosok di Balik Gubernur Jambi Masjchun Sofwan (1979-1982)

 

Prof. Sri Soedewi pada Dies Natalis Universitas Jambi, 9 April 1981

Oleh: Jumardi Putra*

Siapa sih Sri Soedewi? Di Jambi, agaknya bila tanpa dibubuhi Masjchun Sofwan di belakang nama Sri Soedewi, sosok perempuan hebat itu masih sulit dikenal, lebih-lebih bagi generasi now. Usut penyut usut, Sri Soedewi tidak lain adalah istri dari Masjchun Sofwan, Gubernur Jambi Ke 4 periode 1979−1989.

Masjchun Sofwan dikenal luas karena terobosan triprogramnya di lingkup pemerintahan provinsi Jambi yaitu Penertiban Aparatur Pemda, Pengintensifan Aparatur Kontrol dan Pengendali, serta Tata Ruang dan Tata Laksana. Selain itu, pembangunan jembatan Muara Tembesi dan jembatan Muara Tebo, yang berhasil membongkar belenggu isolasi daerah Jambi di masa itu, membuat pria kelahiran Bilitar, Jawa Timur, 7 September 1927, itu masih dikenang oleh rakyat Jambi hingga sekarang.

Catatan ini tidak mengulik sosok serta kontribusi Masjchun Sofwan sebagai pelanjut tongkat estapet kepemimpinan Eddy Sabara sebagai Penjabat Gubernur sementara yang menggantikan Djamaluddin Tambunan di akhir jabatannya karena sakit tahun 1979, melainkan mengenalkan sosok Sri Soedewi, seorang perempuan pertama di Jambi yang didapuk sebagai guru besar Universitas Gajah Mada dan telah menulis berbagai buku tentang Hukum, salah satunya Himpunan Karya Tentang Hukum Jaminan, yang diterbitkan pada 1982.

Kurun waktu 1979-1982, Sri Soedewi dipercaya menjabat sebagai ketua Dharma Wanita Propinsi Jambi. Ia makin dikenal luas berkat gagasannya membangun SLB (Sekolah Luar Biasa)- sekolah untuk anak berkebutuhan khusus pada 1982 dan Taman Anggrek setahun sebelumnya (1981) sebagai tempat rekreasi masyarakat Jambi dan tempat belajar bagi siswa, yang keduanya berlokasi tidak jauh dari kompleks gedung pemerintahan Provinsi Jambi di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Telanaipura.

Sri Seodewi bersama Dr. Daoed Joesoef, Menteri Pendikan RI periode 1973-1983

SLB (Sekolah Luar Biasa) dan Taman Anggrek diresmikan pada 4 April 1984 oleh Ibu Tien Soeharto ditemani Nyonya Umar Wirahadikusumah, Mentri Pertanian dan Mendikbud serta pejabat lainnya. Kedua proyek tersebut diberi nama “Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan S.H” sebagai penghormatan atas dedikasi almarhumah istri Gubernur Jambi dalam usaha membangun masyarakat di Provinsi Jambi semasa hidupnya.

Pada tahun 1979 PKK di Jambi mulai di bentuk oleh Sri Soedewi. Melalui organisasi tersebut, perempuan kelahiran Malang, 9 April 1930 ini banyak mengembangkan para penggerak PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di tingkat Propinsi Jambi, selain ia juga menjadi ketua umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) tinggkat Propinsi Jambi. Saya pertama kali mendapatkan informasi tentang Sri Soedewi tahun 2014 di ruang Deposit Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi melalui buku terbitan Biro Humas Pemerintah Provinsi Jambi (1987 dan 1989) serta dua jilid buku Jambi Dalam Jamahan Pembangunan yang memuat kegiatan disertai dokumentasi foto semasa Gubernur Jambi Masjchun Sofwan periode 1979-1989. Buku tebal dan beberapa seris itu lebih banyak mengabarkan hal ihwal kegiatan resmi Gubernur Jambi di kabupaten/kota dalam provinsi Jambi, dimana Sri Soedewi kerap mendampinginya. Ringkasnya, sangat terbatas sekali informasi yang bisa saya gunakan sebagai pijakan untuk mengulik lebih jauh sosok dan pemikiran Sri Soedewi.

Namun, hemat saya Sri Soedewi sebagai perempuan pertama yang didapuk sebagai Guru Besar di Jambi tepat menjadi salah satu contoh bagi generasi perempuan Jambi sekarang. Apa pasal? Keterlibatan perempuan baik di dunia birokrasi pemerintahan maupun ranah politik praktis kudu disertai kompetensi dan integritas yang teruji. Dengan kata lain, perempuan mesti menjadi bagian integral dari percepatan pembangunan provinsi Jambi, tidak terkecuali memajukan pendidikan serta membuka lapangan pekerjaan bagi para perempuan di akar rumput. Belum lagi tantangan dan permasalahan perlindungan terhadap perempuan, terutama di dunia kerja baik dalam maupun di luar negeri, adalah isu utama yang memerlukan perhatian serius (keberpihakan), khususnya dari kelompok perempuan itu sendiri sehingga kehadiran negara benar adanya.

Sri Soedewi meninggal di Jambi pada 29 Agustus 1982 dan dikebumikan di Yogyakarta. Dari pernikahannya dengan Masjchun Sofwan, Sri Soedewi dikaruniai seorang putri bernama putri Ira Indira Kartini. Semasa mendampingi Masjchun Sofwan sebagai Gubernur Jambi dan bahkan setelah ia wafat, Sri Soedewi boleh dikata istri gubernur Jambi yang paling banyak ditabalkan sebagai nama jalan. Setidaknya di penjuru Jambi, namanya diabadikan menjadi nama jalan utama, sebut saja seperti di kota Jambi, di Muara Bungo, Muara Bulian, Sungai Penuh dan Kuala Tungkal.

Sebagai akademisi, sosok dan pemikiran Sri Soedewi belum banyak dianggit. Saya membaca buku berjudul Membangun Hukum Indonesia-sebuah buku kompilasi dari pidato pengukuhan guru besar 12 akademisi terkemuka, dan umumnya mereka semua memiliki ikatan pengetahuan dengan kampus-kampus beken di Yogyakarta. Kedua belas profesor tersebut berasal atau berlatar belakang ilmu hukum yang tidak sama. Di samping itu, mereka juga mewakili lintas generasi akademisi hukum, mulai dari pidato Prof. Muljatno yang diucapkan pada 19 Desember 1955 hingga Prof. Moh Mahfud MD yang dikukuhkan menjadi guru besar madya pada 1999. Oleh penyunting, kumpulan pidato yang diterbitkan Kreasi Total Media, 2008, Yogyakarta, ini dikelompokkan melalui tiga bidang yaitu teori hukum, filsafat hukum, serta pembangunan hukum masyarakat dan politik hak asasi manusia. Nah, salah satu pidato guru besar hukum yang dimuat dalam buku tersebut adalah buah pikiran Prof. Sri Soedewi yang sempat mengajar di Fakultas Hukum Universitas Jambi.

Tulisan ini jelas sangat terbatas. Karena itu saya berharap ke depan hadir tangan-tangan kreatif generasi di Jambi yang tekun menelusuri dan menulis buah pemikiran Sri Soedewi sebagai akademisi, tidak semata sebagai istri dari orang nomor satu di provinsi Jambi yakni Gubernur Masjchun Sofwan.

*Kota Jambi, 20 Agustus 2023.

0 Komentar