| Penulis saat ziarah ke makam Ngah Bus (24 Maret 2026) |
Oleh: Jumardi Putra
Simpang Saumil adalah sebuah "ruang tunggu" paling emosional dalam sejarah hidup saya, selain tentu saja bagi mendiang almarhumah kakak perempuan saya yang telah lebih dulu menginjakkan kaki di daerah tapal kuda, nun jauh di ujung timur bagian utara pulau Jawa. Dari Simpang Saumil itu hadir sosok mendiang Ngah Bus, “ruh” dari tulisan ini.
Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah ini membawa langkah saya kembali mengunjungi
tanah kelahiran. Saya mengajak istri dan anak-anak pulang ke Desa Empelu,
Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Sebuah perjalanan menempuh lebih
dari 250 kilometer dari Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi—tempat keluarga
kecil kami bermukim sejak 2012—menuju kampung halaman orang tua.
Galibnya momen lebaran, saya dan istri mengunjungi sanak saudara di
Rimbo Bujang Unit I dan II, Tebo, setelah tiga hari sebelumnya silaturrahmi ke
sanak famili (keluarga belah bapak-emak) di Desa Empelu dan Kota Bungo. Tidak
hanya itu, kami juga singgah ke tempat-tempat yang berhubungan dengan perjalanan
hidup saya tiga dekade silam, salah satunya Simpang Saumil
(sering disebut Simpang Somel) terletak di Jalan Lintas Sumatra, Desa/Dusun
Embacang Gedang, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Jambi. Lokasi strategis ini berjarak sekitar 18 kilometer
dari pusat kota Kabupaten Bungo.
Bagi mereka yang kerap melintasi jalur Lintas Sumatra, Simpang Saumil mungkin hanyalah sebuah
titik transit yang bising. Sebuah persimpangan strategis di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun yang
ditandai dengan deretan warung, ruko, papan pengumuman pemerintah, dan debu
jalanan yang tak pernah benar-benar hinggap. Namun bagi saya, Simpang Saumil
adalah sebuah "ruang tunggu" paling emosional dalam sejarah hidup
saya, selain tentu saja berkaitan dengan mendiang almarhumah kakak perempuan saya yang telah lebih dulu menginjakkan
kaki tahun 1997 di daerah tapal kuda, nun jauh di ujung timur bagian utara pulau Jawa, tepatnya nyantri di
Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukerojo-Situbondo, sebuah pesantren besar-kenamaan
yang didirikan oleh ulama K.H. Raden Syamsul Arifin dan dilanjutkan oleh
anaknya yaitu sosok karismatik K.H. Raden As’ad Syamsul Arifin, yang juga menjadi
salah satu pendiri Nahdhatul Ulama (NU) bersama Khadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari pada 31 Januari 1926.
| Ngah Bus di hadapan jasad almarhumak kakak perempuan saya (2001) |
Keberadaan Simpang Saumil tidak hanya menandai momen nostalgik berangkat-pulang menimba ilmu dari pulau Jawa (2001-2010), tapi juga mengabadi saat saya masih nyantri di Pesantren Modern Darussalam Sungai Mancur dengan segala pernak-perniknya. Bahkan, bapak saya juga cukup lama mengajar di Sekolah Dasar Negeri No 200/II Simpang Teluk Pandak, Kacamatan Tanah Tumbuh (kini menjadi Desa/Dusun Embacang Gedang, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas) yang berlokasi tidak jauh dari Simpang Saumil, sebelum akhirnya pindah mengajar ke SDN No 11/II di Desa Teluk Pandak, Kecamatan Tanah Sepenggal, hingga tutup usia pada 5 Juni 2017.
Rumah di Tepi Lintas: Saksi Bisu
Pada hari keempat Idulfitri, usai menyambung silaturahmi dengan kerabat di
Rimbo Bujang di Unit II (tidak jauh dari Pesantren Assalam hingga Unit I—menemui
keluarga Pak De Toha, Pak De Famili, Mas Dayat, dan Wia sekeluarga —saya
memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah mendiang Ngah Bustari (biasa dipanggil Ngah Bus), salah satu kakak dari Emak—memiliki enam saudara, anak
dari pasangan M. Ajoeub dan Siti Juleha.
Kendati sudah direnovasi (belum tuntas), rumah itu masih berdiri dengan
tegar di dekat persimpangan Saumil. Duduk sambil bercakap-cakap di laman
depannya bersama putra sulung Ngah Bus yakni Bang Ip dan adik bungsunya yaitu
Mah bersama suaminya-Zulkifli, saya seolah melihat siluet diri saya sendiri tiga dekade
silam. Di titik inilah, saya berdiri dengan tas ransel yang berat dan hati yang
lebih berat lagi, menunggu bus yang akan membawa saya melanjutkan sekolah ke
Pulau Jawa—itu artinya berpisah dengan bapak-emak dan adik serta keluarga besar
di Empelu.
Simpang Saumil adalah saksi betapa seringnya saya menelan kecemasan saat menunggu jemputan bus dari arah Padang menuju tujuan terjauh yaitu Terminal Bungorasih, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, lalu melanjutkan perjalanan menempuh jarak sekitar 73 kilometer untuk sampai di Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kabupaten Jombang. Ringkasnya, di rumah Ngah Bus-lah, rasa cemas itu diredam dengan segelas teh hangat, air putih, mie rebus dan percakapan-percakapan ringan kami sekeluarga yang berusaha mengalihkan kesedihan perpisahan antara anak dan orang tua.
Sayangnya, hingga kini saya belum menemukan dokumentasi foto-foto jadul saya bersama Ngah Bus plus suasana
rumah awal milik Ngah Bus (sebelum renovasi) di Simpang Saumil ketika itu. Saya meminta kepada Bang Ip dan Mah untuk mencarikannya. Semoga ketemu.
Dialog Melampaui Jarak
Interaksi saya dengan Ngah Bus, yang juga seorang guru sekolah dasar, terjalin
sejak saya berusia sekolah dasar hingga intens saat menempuh sekolah menengah
pertama. Beliau adalah sosok yang riang. Suatu masa ekonomi keluarganya sempat
sampai di puncak karena memiliki warung di pusat ekonomi Simpang Saumil. Berjalannya
waktu, meski jarak antara kami membentang jauh setelah saya berkeluarga dan menetap
di Kota Jambi sejak tahun 2012, pria kelahiran 15 April 1954 ini sesekali menghubungi
saya via telepon.
Masih segar dalam ingatan saya, momen ketika ia menelepon saya usai dirinya
menyaksikan saya menjadi salah satu narasumber dalam dialog Beranda Budaya
TVRI Jambi, JEK TV dan Jambi TV dalam kurun waktu 2012-2015. Di matanya yang
mulai senja, ia melihat saya bukan lagi anak kecil yang dulu menunggu bus di
depan rumahnya di simpang Saumil, melainkan seorang pria yang sedang bicara
tentang identitas dan marwah daerahnya.
| Simpang Saumil dan Rumah Ngah Bus |
Bahkan, ketika saya dipercaya menjadi host dialog Beranda Budaya TVRI tahun 2016-2017, Ngah Bus beberapa kali menelepon saya lantas memberi apresiasi. Tak jarang ia juga mengajak berdiskusi tentang materi yang saya bawakan, memberikan perspektif dirinya. Hubungan demikian itu adalah momen di mana "Simpang Saumil" dan "Kota Jambi" melebur dalam frekuensi yang sama—sebuah dialog yang melampaui hubungan antara seorang ponakan dengan sang paman.
Pusara di Hari Fitri: Melunasi Rindu
Takdir seringkali mengetuk pintu tanpa kita tahu kapan tiba waktu pastinya.
Saat beliau berpulang pada 7 Agustus 2021, saya tidak bisa pulang ke Simpang
Saumil lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kepergian istrinya, Ngah Asiah, di
tahun 2024 juga meninggalkan luka serupa; saya gak punya kesempatan untuk
memberikan penghormatan terakhir di saat tanah makam mereka masih basah.
Maka di momen lebaran kali ini, ziarah ini menjadi sebuah keharusan.
Ditemani Mah (putri bungsu Ngah Bus) dan suaminya, saya dan istri melangkah
menuju pusara mereka yang terletak tidak jauh dari kediaman Ngah Bus (hanya berjarak
sepelemparan batu dari SPBU Simpang Saumil). Di hadapan nisan mereka, riuh
rendah jalan lintas Sumatra mendadak sunyi.
Saya tertunduk di antara dua makam yang hanya berjarak beberapa meter
saja dalam kawasan Tempat Pemakaman Umum tersebut. Saya menyadari bahwa
kehidupan adalah sebuah persimpangan jalan yang lebih luas dari Saumil. Ada
saat kita menunggu untuk berangkat, ada saat kita singgah untuk menetap, dan
ada pula saat kita harus pulang ke haribaan-Nya.
Terima kasih, Ngah Bus dan Ngah Asiah. Terima kasih telah menjadi bagian
dari tempat saya berangkat dan tempat saya belajar “pulang” dari menimba ilmu di Pulau Jawa,
tiga dekade silam. Bahagialah kalian berdua di sana. Di tempat yang tak lagi
mengenal jarak, bus yang terlambat, atau telepon yang kerap terputus karena sinyal
hilang-timbul.
*Kota Jambi, 5 April 2026.
*Berikut link tulisan saya mengenang almarhum bapak Akulah si Telaga: Berlayarlah di Atasnya dan tentang almarhumak kakak perempuan saya Kiai As'ad, Empelu dan Pilihan Kakak ke Ujung Timur Pulau Jawa

0 Komentar