![]() |
| Geleri Seni Museum Toeti Heraty |
Oleh: Jumardi Putra
Kawasan Menteng di Jakarta Pusat menyimpan berlapis-lapis cerita. Di antara deretan bangunan kolonial yang tersisa di pusat ibu kota, terdapat Cemara 6 Art Gallery, yang kini juga dikenal sebagai Toeti Heraty Museum. Tidak jauh dari Galeri dan Museum Toeti Heraty ini juga terdapat Ruang Belajar Prof. H.A.R. Tilaar di Jalan Wahid Hasyim Nomor 27--menyimpan ribuan koleksi buku pribadi semasa hidupnya. Menteng, dengan demikian, bukan sekadar pusat administrasi yang sibuk, melainkan oase sunyi bagi mereka yang merindukan kedalaman gagasan.
Rabu siang yang terik, sekira pukul 14.15 WIB (13/5/2026), saya
melangkahkan kaki keluar dari hotel di Jalan Wahid Hasyim. Menggunakan jasa
ojek daring, saya menyusuri jalanan ibu kota menuju Jalan Cemara Nomor 6. Tersebab
pengembangan area galeri dan museum, yang semula rumah mendiang Prof. Toeti
Heraty beralamat di Jalan Cemara 6, kini akses pintu utama melalui Jalan
Bagi saya, kunjungan perdana ini bukan sekadar pelesiran ke sebuah
galeri seni. Ini adalah sebuah ziarah kebudayaan—sebuah ikhtiar batin untuk
menyelami kembali jejak pemikiran salah satu begawan filsafat, feminis, dan
budayawan terkemuka Indonesia, mendiang Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi.
Dengan tiket masuk seharga 35.000 rupiah, petualangan rasa dan pikir pun dimulai. Melangkah masuk ke lantai dasar Cemara 6 Art Gallery, saya langsung disambut oleh atmosfer yang tenang namun berdenyut hidup. Ruang galeri ini secara konsisten menjadi panggung bagi perupa kontemporer, dengan kurasi karya yang tajam menyuarakan isu-isu sosial, kemanusiaan, dan gender—sejalan dengan garis perjuangan intelektual Toeti Heraty semasa hidup.
![]() |
| alm. Prof. Toeti Heraty |
Mata saya dimanjakan oleh berbagai koleksi lukisan karya maestro seni rupa tanah air, mulai dari karya Salim, Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, dan Mochtar Apin, hingga karya-karya perupa kontemporer yang sarat akan kritik sosial dan ekspresi estetik. Di sudut lain lantai ini, sebuah kafe kecil dan ruang terbuka hadir memberikan kehangatan. Di sela aroma kopi yang menguar ringan, seni terasa runtuh dari jaraknya yang elitis; ia mewujud menjadi ruang intim yang mempertemukan kembali keindahan visual dengan realitas sosial yang kerap kali getir.
Langkah saya siang itu ditemani oleh Mas Muhammad Mahdiyansyah, pemandu galeri yang dengan takzim merawat ruang ini. Ia menjelaskan dengan telaten setiap sudut dan potongan sejarah yang berkelindan di dalam gedung. Kami pun melangkah menuju lantai atas.
Menapaki anak tangga demi tangga terasa seperti memasuki ruang privat
yang sarat akan memori. Di sinilah jantung dari Toeti Heraty Museum sebenarnya
berdenyut. Dinding-dindingnya menolak sunyi; mereka seolah
"berbicara" lewat deretan foto hitam-putih, dokumentasi kegiatan,
serta sketsa wajah Sang Profesor yang dilukis oleh tangan-tangan dingin para
maestro seni rupa Indonesia. Di lantai atas ini, batas antara ruang domestik
dan ruang intelektual melebur total. Saya seperti diajak menyaksikan bagaimana
keseharian seorang ibu, perempuan, dan manusia dirajut bersama dedikasinya yang
tanpa batas pada dunia gagasan.
| Penulis di Perpustakaan Prof. Toeti Heraty |
Namun, bagian yang paling memikat sekaligus menggetarkan hati saya adalah ruang perpustakaan pribadinya. Di dalam ruangan yang dijaga rapi ini, sekitar 7.000 jilid buku berbaris kokoh di rak-rak kayu yang tinggi, seolah menjaga warisan yang tak boleh lekang oleh waktu. Keberadaan Mbak Dewi yang sehari-hari menjaga perpustakaan ini dengan ramah membuat suasana terasa kian nyaman. Atas kebaikannyalah, saya diizinkan menelusuri dan membaca buku-buku yang saya butuhkan.
Koleksi buku, jurnal dan enkslopedi di sini menganggit khasanah ilmu pengetahuan, menegaskan betapa luasnya
jangkar intelektual seorang Toeti Heraty seperti filsafat dan teori kritis yang menjadi fondasi sekaligus kompas
utama latar belakang akademik beliau, terutama semasa aktif mengajar di
Universitas Indonesia dan pernah mengemban amanah sebagai Rektor
Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selanjutnya, buku-buku tentang sosial, antropologi, politik serta sastra dan kebudayaan mulai deretan
novel, cerita pendek, hingga buku puisi berjejer rapi.
Begitu juga koleksi buku tentang studi gender
dan feminisme.
Hampir satu setengah jam saya menenggelamkan diri di ruang perpustakaan
ini. Ruangan ini jelas bukan sekadar gudang buku mati, tapi boleh dikata ia adalah laboratorium
pemikiran yang terus hidup, bernapas, dan menantang zaman.
Tidak terasa, lebih dari dua jam saya melarutkan diri di dalam rumah
kebudayaan ini. Perjalanan siang itu meninggalkan catatan reflektif yang
membekas bagi saya pribadi untuk bersetia di jalan ilmu. Pada akhirnya, melalui ruang sunyi di jantung
Menteng ini, warisan intelektual Prof. Toeti Heraty menolak membeku menjadi
sekadar pajangan mati di dalam etalase kaca yang berdebu. Ia tetap hidup,
memanggil generasi baru—termasuk saya yang datang Jambi—untuk tidak sekadar
singgah, tetapi pulang dengan membawa keberanian: berani berpikir kritis,
berani mencintai seni, dan yang paling utama, berani merawat kemanusiaan.
*Jakarta, 14 Mei 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi, Obituari Nirwan Arsuka
3) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita
5) Suatu Siang di Erasmus Huis
6) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar
7) Ngadem di Freedom Institute Library
8) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja
9) Setengah Abad Arena: Perjalanan yang Tidak Mudah
10) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron
11) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja
12) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
13) Jogja yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang



0 Komentar