Jogja Yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang

Yogyakarta. Sumber foto : instagram/apipjunoy

Oleh: Jumardi Putra*

Januari 2010 saya memutuskan pulang ke Jambi setelah hampir enam tahun menimba ilmu di Yogyakarta dan sebelumnya tiga tahun nyantri di pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Keputusan pulang ke kampung halaman lebih karena ingin mengamalkan ilmu yang didapat selama menempuh studi di kota pelajar itu.

Selain itu, tentu saja ingin segera berkumpul bersama orangtua setelah lama mereka berbesar hati menyekolahkan kami, anak-anaknya ke ujung pulau Jawa, sehingga jarang kumpul bersama, sekalipun dalam suasana lebaran Idul Fitri.  

Jujur, berat rasanya meninggalkan Yogyakarta dengan segala pengalaman, idealisme, romantika dan warna warni-wicarana, sebuah kota yang menghadirkan iklim diskusi dan tradisi intelektualisme yang mengakar kuat melalui kehadiran pelbagai universitas, pusat studi dan komunitas epistemik lainnya yang tumbuh dan berhasil mencetak generasi hebat pada zamannya. 

Saya merasa tidak perlu menderetkan satu per satu nama-nama atau pun figur intelektual yang tumbuh besar berkat tradisi akademik di Yogyakarta. Saya menghormati mereka hingga kini karena dedikasi sekaligus sikap asketisnya, sesuatu yang sulit saya temukan di Kota Jambi. Anggapan ini bisa jadi tidak sepenuhnya benar, tetapi itulah yang saya rasakan hingga sekarang.

Di Yogyakarta, setidaknya yang saya rasakan dan saya cermati bahwa tradisi akademik tidak melulu berpusat pada kampus semata, melainkan terserak juga di luar kampus, sehingga ruang dilektika semacam itu memberi kesempatan bagi siapapun dari pelbagai universitas untuk berjumpa dan bertukar pikiran. Belum lagi keberadaan lembaga pers mahasiswa dan organisasi intra dan ekstra kampus. Ringkasnya, ide sekaligus berfungsi sebagai lumbung perjumpaan mereka dari pelbagai latar belakang kampus yang berbeda, dan dari situlah wacana tentang filsafat, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sejarah, budaya dan agama, terus tumbuh dalam ruang-ruang yang mencerahkan. 

Bahwa dalam perjalanannya muncul pro-kontra sebagai konsekuensi dari perjumpaan antara ide dan bahkan tak jarang meletupkan kontroversi, itu sejatinya adalah keniscayaan. Saya berpandangan hal itu tidak perlu membuat kita terlalu gusar, apatahlagi sampai ketakutan, karena tradisi pengetahuan yang panjang telah membentuk kultur berpikir terbuka sekaligus menghargai perbedaan. Dengan demikian, menjadi orang yang terbuka atau tertutup adalah sebuah pilihan. Dan, bangsa ini bisa terus tumbuh justru karena pertukaran gagasan dan sikap terbuka terhadap pelbagai perbedaan.

Keputusan pulang ke Jambi, sekalipun berat awalnya, membawa saya pada satu titik kesadaran bahwa perasaan nyaman tinggal di Yogyakarta, yang segala sesuatu sudah terbentuk dan tersedia bakal berubah menjadi persoalan pelik karena bisa membuat saya (dan siapapun) menjadi orang yang terasing dari persoalan kehidupan, lebih-lebih di kampung halaman saya yang notabene tidak semaju Yogyakarta dalam segi apapun.

Karena itu, Yogyakarta saya maknai sebagai laboratorium pengetahuan, tempat untuk mendiagnosa pelbagai persoalan yang muncul di sekitar kita. Namun realitas di luar laboratorium itu, di manapun tempatnya di tanah air ini, adalah medan laga yang sesungguhnya yang mengehendaki orang-orang yang mampu memberi solusi sekaligus mewarnai keseharian dengan hal-hal berguna.

Memang, selain belajar di ruang-ruang kelas kampus, tradisi pengetahuan yang tumbuh di luar universitas signifikan ikut membentuk pandangan (world view), karakter sekaligus sikap saya terhadap realitas sosial yang kompleks sampai hari ini. Saya kerap mendengar adigium berikut ini di Yogyakarta, “kuliah orak tahu melebu, demonstrasi orak tahu melu, ngomong/diskusi orak tahu mutu”. Meski adigium itu kerap muncul dalam suasana candaan, saya berpandangan sejatinya itu memuat otokritik bahwa mahasiswa akan menjadi pribadi yang berhasil manakala ia benar-benar menggunakan seluruh kemampuannya untuk senantiasa belajar sekaligus mengasah kepekaan sosial dengan terlibat langsung dalam kerja-kerja advokasi dan mencari solusi atas persoalan di sekitarnya. Bukan justru menjadi mahasiswa yang hidup di menara gading sehingga tidak pernah tahu persoalan riil di sekitarnya, lantas menjadikannya manusia ahistoris. Benar, perguruan tinggi memiliki Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai medan aktualisasi mahasiswa, tetapi faktanya itu tidak sepenuhnya berhasil dikarenakan lebih dilandasi semata kewajiban untuk menyelesaikan seluruh tahapan dalam proses pembelajaran agar dapat dikukuhkan sebagai sarjana.

Kembali ke soal awal. Bersamaan keputusan pulang kampung, saya berpandangan bahwa diskursus yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta adalah kondisi yang diperlukan untuk merawat akal sehat sekaligus melatih kepekaan sosial di tengah globalisasi yang berlari kencang, sehingga saat saya di kampung perlu menjaga komunikasi agar tidak terputus dengan individu-individu maupun kelompok yang saya anggap selama ini telah menghadirkan ruang dialektika pengetahuan sekaligus sharing informasi tentang apa saja yang relevan untuk mendukung tugas dan pekerjaan.

Maka, sesampai di Kota Bungo, sesuatu yang ingin segera saya miliki adalah modem internet. Masa itu harga modem tergolong mahal, selain karena belum banyak digunakan oleh warga di Bungo, juga keberadaan jaringan internet belum secepat sekarang.

Modem pembelian orang tua

Saya beruntung memiliki orang tua yang selalu mendukung kebutuhan saya, meski saya belum bekerja tetap dan menghasilkan uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan saya pribadi. Melalui modem itu komunikasi saya tidak terputus dengan kawan-kawan dan komunitas epistemik di Yogyakarta. Hal itu cukup membantu saya agar selalu update informasi maupun wacana yang berkembang di pulau Jawa dan tanah air umumnya.

Simultan, sembari mengamati kerja-kerja intelektual dan pergumulan wacana yang berkembang di Yogyakarta, saya mulai membangun komunikasi dengan kawan-kawan di Kabupaten Bungo dan bahkan di Kota Jambi. Mereka datang sebagai orang-orang baru buat saya, tapi kami dipertemukan berkat pengalaman pernah berorganisasi di kampus masing-masing. Begitu juga saya berjumpa dan melakukan kerja-kerja kebudayaan (pengetahuan) bersama sejawat yang dulunya pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Umumnya mereka adalah pembaca buku yang tekun sekaligus penulis-penulis yang karya tulisnya terbit di koran lokal, nasional dan bahkan terpublikasi di jurnal-jurnal bereputasi.

Satu persatu organisasi dan komunitas pun terbentuk, yang itu semua diniatkan bagian dari upaya merawat akal sehat, kohesi sosial dan satu lagi yaitu sebuah komunitas yang tidak dibuat untuk semata mengejar materi. Jelas ini terkesan paradoks di saat saya sendiri belum sepenuhnya berhasil menghidupkan diri saya sendiri, apatahlagi tidak lama setelah saya pulang kampung, saya memutuskan untuk menikah. Gaji sebulan sebagai guru honorer di sebuah Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bungo dan juga mengajar di sebuah Pesantren belumlah cukup membiayai segala keperluan keluarga kecil saya. Namun keadaan demikian itu tidak membuat saya menenggelamkan niat, pandangan (kalau bukan cita-cita), sekaligus sikap tetap memberi ruang dalam hidup saya untuk menghadirkan ruang-ruang dialektika, sekalipun dalam skala kecil, yang tidak sepenuhnya bergantung pada hal-hal material.

Waktu terus menggelinding. Komunitas maupun organisasi yang turut saya bidani bersama kawan-kawan di Bungo maupun di Kota Jambi dalam rentang 2010 sampai sekarang ada yang mampu bertahan, tapi ada juga yang tenggelam. Saya tidak pernah berkecil hati menghadapi fenomena itu, karena segala sesuatu yang bertumpu pada nilai sejatinya tidak akan pernah sirna. Kerja-kerja untuk pengetahuan maupun kebudayaan, sekalipun tidaklah populer dan familiar, tidak lekang oleh panas maupun hujan. Maka, merayakan dunia gagasan sebagai kerja kebudayaan adalah jalan sunyi sekaligus menantang, dan tentu saja mensyaratkan nafas yang panjang. Panjang umur gagasan dan pergerakan untuk Jambi agar tidak sepenuhnya bertumpu dan terjerembab pada segala yang berbau materi.


*Refeksi pribadi

0 Komentar