Haji Hasan, Orang Gedang dari Empelu


Oleh: Jumardi Putra*

Datuk Haji Hasan benar-benar pergi. Kabar duka itu sampai ke bilik perpesanan pribadi maupun grup WhatsApp di gawai saya dini hari, sekira pukul 02.40 WIB itu. Pelbagai ucapan belasungkawa dan doa datang silih berganti. Demikianlah ketetapan Tuhan sehingga tiada satu pun makhluk di maka bumi ini yang bisa mengelaknya, tidak terkecuali orang-orang terdekat almarhum sekalipun. Tetiba saya teringat penggalan sajak Soebagyo Sastrowardojo, “kematian semakin akrab”.

“Siapa Datuk Haji Hasan setelah kepergiannya bagi mereka yang pernah berinteraksi dengan beliau semasa hidup atau bagi generasi jauh setelahnya seperti saya pribadi?” batinku usai mengirimkan sepotong doa untuknya. 

“Orang-Orang Empelu,” pikirku seketika. Bukan tanpa alasan, Desa Empelu adalah tanah kelahirannya pada 1 Mei 1936. Ia merupakan sesepuh yang dihormati warga Empelu, sebuah kampung yang terletak sekira 30 kilometer dari pusat Kota Bungo dan berjarak hampir 260 kilometer dari ibu kota Provinsi Jambi. Tak syak, kepergian Datuk Haji Hasan bagi warga Empelu boleh dikata sebuah kehilangan, seperti halnya saat kepergian kakak kandungnya yang tak lain adalah ketua Badan Kongres Rakyat Daerah (BKRD) Jambi sekaligus salah satu tokoh pendiri Provinsi Jambi yaitu Haji Hanafie pada 12 Desember 1996.

Sekalipun berada di Kota Jambi, berkat teknologi komunikasi saya bisa mengetahui hal ihwal perjalanan almarhum dari Kota Jambi menuju Desa Empelu menggunakan mobil ambulance diiringi pihak keluarga dan sejawat hingga tiba di rumah duka yang tak lain adalah peninggalan orangtuanya. Begitu juga saya menyaksikan Gubernur Jambi melepaskan keberangkatan almarhum dari rumah duka di Kota Jambi menuju kampung halaman Datuk Haji Hasan di Desa Empelu.

Melalui kiriman video dari sanak saudara di Desa Empelu, saya menyaksikan kerumunan warga di sekitar rumah duka. Tampak anak-anak sekolah mulai dari SD sampai SMA sederajat menyambut sekaligus menghantar almarhum hingga ke tempat peristirahatan terakhir di komplek pemakaman keluarga, tempat bersemayam Haji Hanafie beserta kedua orangtuanya yaitu Haji Thahir dan Hj. Timah Diah.

H. Hasan di masa muda bersama ayah-ibunya di Empelu

Tidak hanya itu, jalan yang membelah Desa Empelu pun disesaki kendaraan maupun warga yang berdatangan dari pelbagai profesi, jabatan dan usia, yang kesemuanya memberikan penghormatan kepada almarhum untuk terakhir kalinya. Bahkan, Wakil Bupati Bungo bertindak sebagai Inspektur upacara pelepasan jenazah sekaligus memberi penghormatan atas dedikasi beliau semasa hidup bagi masyarakat Kabupaten Bungo dan Provinsi Jambi umumnya. 

Mencermati sepak terjang pengagum Bung Hatta dan Mahatma Gandhi ini semasa hidup, hemat saya kepergiannya tidak saja dirasakan semata oleh warga Empelu, melainkan juga masyarakat provinsi Jambi. Apa sebab? Sebelum tutup usia, ia telah malang melintang dalam dunia birokrasi pemerintahan Provinsi Jambi yakni mulai bekerja sebagai Pegawai Bulanan Kantor Gubernur Jambi dengan pangkat Ahli Tata Usaha tahun 1967, mendapatkan penyesuaian pangkat menurut PGPS tahun 1968 dan dipercaya menjadi Pegawai Bulanan Penata Muda Tingkat 1/Kepala Distribusi pada Direktorat Perekonomian Kantor Gubenur Jambi.

Selanjutnya ia diangkat menjadi PNS di kantor Gubernur Jambi tahun 1968, menjabat Kepala Bagian Penelitian Pengembangan Direktorat Perekonomian kantor Gubenur Jambi tahun 1970, Subdir Perekonomian Kantor Gubernur Jambi tahun 1972, berlanjut menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah Tingkat 1 Jambi tahun 1973-1975, dan puncaknya diangkat menjadi Bupati Bungo-Tebo dua periode 1975-1986. Selepas itu ia kembali bekerja di kantor Gubernur Jambi mengepalai Biro Bina Pemerintahan tahun 1986, lalu diangkat menjadi Asisten 1 Sekwilda Tingkat 1 Jambi tahun 1987 dan sempat menjabat sebagai Pelaksana Tugas Bupati Sarolangun-Bangko periode 1987-1988.

Masih berjejer pengalaman kerja beliau lainnya semasa hidup baik dalam dunia organisasi maupun kontribusinya di tengah-tengah masyarakat, sebut saja seperti menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jambi periode 1995-2000, pengurus Dewan Harian Daerah Angkatan 45 periode 1995-2005 dan Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi periode 1996-2006. Bahkan, tahun 1997 ia sempat dipercaya menjabat sebagai Direktur salah satu BUMD milik pemerintah provinsi Jambi yaitu PD. Angso Putih Jambi khusus untuk menunjang pemasaran hasil-hasil alam Jambi yang potensial. Ia juga sempat menjadi tim fasilitator otonomi daerah provinsi tahun 2003 dan bahkan (katanya) sempat menjadi Tenaga Ahli DPRD Provinsi Jambi.

Meski telah lama berkecimpung dalam birokrasi Pemerintahan Provinsi Jambi, yang tentu saja berpusat di Kota Jambi, tidak lantas membuat Haji Hasan lupa kampung halamannya. Ia kerap balik ke Dusun sekedar menengok kebun dan tentu saja menginap di rumah orang tuanya, yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah orang tua saya di Desa Empelu. Apatah lagi, rumah orang tua Datuk Haji Hasan ini adalah rumah terpandang di Desa Empelu. Selain karena bangunannya yang megah lantaran di tanah bebukitan, juga letaknya yang strategis di depan jalan utama dari arah Tanah Tumbuh ke Kota Bungo. Selain itu, rumah ini tergolong berusia tua karena dibangun sekira tahun 1931 dengan struktur dan desain interior yang tidak dimiliki warga Empelu pada umumnya.

Secara usia Datuk Haji Hasan jelas terpaut jauh dari saya, bahkan ia tergolong dari sedikit sesepuh Empelu (warga Bungo) di Kota Jambi yang masih hidup. Terakhir kali saya berjumpa Nek (kakek) Haji Hasan, begitu ia akrap di sapa di lingkungan keluarga Empelu, saat takjiah kepulangan almarhumah istri dari Haji Zuharfan (Mei 2023), yang tak lain adalah anak sulung hasil dari pernikannya dengan Nek Hj. Zuhanni. Saat itu beliau tidak banyak bicara, melainkan menyapa seperlunya kepada setiap mereka yang datang. Selain pendengarannya yang menurun, beliau juga tidak bisa berjalan tanpa dibantu tongkat.

Upacara penghormatan atas Datuk Haji Hasan

Masih segar dalam ingatan saya, sekira empat tahun sebelumnya, saya pernah berjumpa beliau di kediamannya di Kota Jambi, dan beliau menyerahkan kepada saya sebuah buku memoar dirinya dan beberapa lembar copian dokumen tentang Haji Hanafie, kakak kandungnya. Dokumen itu sampai kini saya rawat dengan baik seperti buku biografi Haji Hanafie, sang ketua BKRD Provinsi Jambi yang ditulis oleh sejarahwan Fakhruddin Saudagar.

Yang tidak berubah dari sosok Haji Hasan dalam pandangan saya adalah tipikal serius, keras dan disiplin. Saya memang tidak intens berjumpa dan berdialog dengan beliau semasa hidup. Bukan saja karena faktor usia yang terpaut jauh, tetapi juga karena lepas sekolah dasar di SD 12 Desa Empelu, dan sempat satu semester di SMP di kampung yang sama, saya mulai meninggalkan kampung halaman untuk nyantri atau mondok di Pesantren Darussalam Sungai Mancur dan berikutnya melanjutkan sekolah ke pulau Jawa, tepatnya di Pesantren Tebuireng di Jombang dan nyambung kuliah di Yogyakarta. Ringkasnya, kesempatan saya berjumpa beliau sangatlah terbatas. Namun demikian, sepak terjang almarhum semasa hidup tidak luput oleh perhatian saya, lebih-lebih beliau pernah kuliah di jurusan Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan dipercaya menjadi ketua Asrama Mahasiswa di Jalan Bausasran di Yogyakarta sekaligus termasuk salah satu pendiri Yayasan Jambi IX Lurah di Yogyakarta dalam rentang waktu 1957-1967. Pada tahun 1957 Datuk Haji Hasan bersama sejawatnya membentuk Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta (KPJY). Selama di Yogyakarta dalam rentang waktu 1957-1967 Datuk Haji Hasan berkecimpung dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Suatu hari, sekira tahun 2016, di ruang deposit Perpustakaan Provinsi Jambi, saya menghabis waktu cukup lama mencermati sekaligus memfoto ulang dokumentasi foto kegiatan Datuk Haji Hasan semasa menjabat sebagai Bupati Bungo-Tebo periode tahun 1975-1986 dalam sebuah buku terbitan pemerintah provinsi Jambi. Begitu juga di Perpustakaan milik DPRD provinsi Jambi saya menemukan laporan kegiatan Datuk Haji Hasan semasa menjadi anggota DPD RI periode 2004-2009. Dari dokumen tersebut saya berpandangan bahwa beliau orang yang cerdas, aktif dan disiplin, ciri khas yang mudah kita jumpai pada generasi ASN masa Gubernur Jambi Masjchun Sofwan hingga Abdurrahman Sayoeti.

Karakter sekaligus kepribadian semacam itu tentu tidak datang tiba-tiba, melainkan berkat tempaan orang tuanya sedari kecil. Hal itu diakui oleh Datuk Haji Hasan dalam sebuah memoar berjudul Langkah dan Perjalanan Hidup (Editor Mahpudin S. Indrapraja dan Taufik Hidayat, Mei 2006), disebutkan dalam halaman 8 seperti saya sertakan berikut ini:

Suasana di laman Rumah Haji Thahir, ayah dari Haji Hasan

“Oleh ayah pada waktu itu saya diajarkan untuk disiplin dan menghargai waktu. Dengan kata lain, apa yang dapat dikerjakan hari ini, mengapa harus ditunda besok. Saat itu saya dipercaya untuk mengurus ternak dan memberikan makan sapi ke ladang rumput. Setiap hari setelah sholat subuh saya harus bersiap-siap memberikan makan ternak. Sekitar jam 7 pagi saya harus membawa sapi ke ladang rumput untuk diberikan makan. Setelah menambatkan sapi di ladang saya kemudian pulang untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Selepas sekolah tugas saya adalah memberi minum sapi yang sejak pagi berada di ladang. Sore harinya saya harus belajar agama, kemudian membawa pulang sapi dan memasukan ternak ke kendang”.

Datuk Haji Hasan menempuh pendidikan bangku sekolah dasar tahun 1942, bertepatan dengan perang Dunia II yang mengakibatkan Belanda harus angkat kaki karena kalah dengan Jepang. Namun kesempatan bersekolah tersendat-sendat saat itu. Sedari 1942-1945 aktivitas pembelajaran sekolah kerap berhenti karena berada dalam kondisi perang gerilya Marga Tanah Sepenggal di Lubuk Landai. Barulah 1947 ia melanjutkan pendidikan ke kelas 4, naik ke kelas 5 sekolah rakyat di Muara Bungo. Ringkasnya, masa sekolah dasar ia tempuh selama 9 tahun dalam situasi gejolak perang. Setelah itu ia melanjutkan sekolah SMP APPI Cikini di Jakarta pada tahun 1951 sampai 1954 dan meneruskan ke tingkat SMA di Bukit Tinggi, Sumatera Barat tahun 1954-1957.

Kecerdasan pria lulusan Fakultas Ekonomi UGM tahun 1967 itu sudah mulai terlihat dari kecil, dimana saat masih kelas empat di bangku sekolah dasar, Haji Hasan sudah dipercaya oleh ayanya mengurusi pembukuan hasil-hasil pertanian karet sekaligus mengawasi para pekerja. Walaupun masih kecil saat itu dia mengawasi sekitar 153 kepala keluarga yang bekerja untuk ayahnya. Kebanyakan dari mereka bukan penduduk asli Jambi melainkan para pendatang dari daerah lain. Oleh ayahnya mereka dibuatkan bedeng (tempat tinggal) bagi keluarganya.

H. Hasan, Bupati Bungo-Tebo bersama Gubernur Jambi, Masjchun Sofwan

Selain mengawasi para pekerja saat itu, Haji Hasan juga bertanggungjawab menghitung seluruh uang yang masuk dari hasil penjualan getah/karet. Galibnya setiap satu minggu sekali yaitu pada hari Jumat seluruh hasil dari menderes (memanen) karet itu dikumpulkan lalu ditimbang dan kemudian dijual. Hari Jumat dipilih karena hari tersebut bagi warga Empelu merupakan hari besar khususnya bagi umat Islam yang biasanya melaksanakan shalat Jumat. Sedangkan pada hari Jumat malam ia ditugaskan oleh ayahnya sebagai kasir yaitu menghitung uang dari hasil getah/karet yang telah dipanen/ditimbang.

Didikan Haji Thahir terhadap Haji Hasan semasa kecil telah membentuk sekaligus mengasah jiwa kepemimpinan Haji Hasan di masa produktifnya baik sebelum diangkat, saat menjadi ASN hingga setelahnya. Apatah lagi Haji Thahir juga merupakan Rio atau kepala Desa Empelu yang memiliki pengalaman dan sukses berdagang hasil pertanian karet pada masanya, dan kerap bepergian ke Padang dan Singapura. Secara ekonomi Haji Hasan lahir dari keluarga berkecukupan, bahkan mereka sudah memiliki mobil, kendaraan roda empat yang tentu saja tidak dimiliki umumnya warga Desa Empelu masa itu. Namun demikian, tidak lantas membuatnya jumawa dan sombong.

Demikian sekelumit catatan saya tentang Datuk Haji Hasan, pria berbadan kecil tapi sejatinya adalah orang gedang (besar) karena jejak dan kontribusinya semasa hidup. Selamat Jalan, Datuk. Bahagialah bersama kebaikan yang telah engkau pancangkan semasa hidup. Kebaikan tetaplah kebaikan. Sedangkan kesalahan tempatnya kita sebagai manusia. Kepada Tuhan, Allah SWT, kita memohon ampunan. Amin.

 

*Empelu, 2 Agustus 2023.

0 Komentar