Menapak Senja di Ujung Jabung

 

Jembatan "Water Front City" Kuala Tungkal

 

Oleh: Jumardi Putra


Di sini, kebahagiaan terasa sangat bersahaja. Sesederhana melihat kapal-kapal bersandar dengan selamat setelah berhari-hari melawan gelombang.

 

Mobil yang membawa kami sebenarnya sudah berada di jalur menuju Jambi. Namun, hati saya berbisik lain. Rasanya tidak akan pernah benar-benar genap jika kita berkunjung ke kota Kuala Tungkal tanpa menyempatkan singgah di Titian Orang Kayo Mustiko Rajo Alam—sebelumnya bernama Water Front City--, terlebih lagi sore hari, ketika kota ini bersiap menuju ambang batas antara aroma laut yang asin, deru mesin pompong, dan matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala Pantai Timur Sumatera (29/1/26).

Sebelum langkah kaki benar-benar menginjak destinasi kota berkultur tua ini, kami sempat menyinggahi Toko Super One, tak jauh dari Monumen Tugu Kemerdekaan, untuk membeli kerupuk dan oleh-oleh khas Tungkal. Setelahnya, barulah kami menyusuri jembatan hingga ujung titian, tempat di mana warga menggantungkan hidup pada pasang surut Selat Berhala. Jam di tangan kiri saya menunjukkan pukul lima sore, dan seketika, ritme kota ini menyeruapkan makna.

Memaknai detak waktu di Titian Orang Kayo Mustiko Rajo Alam berarti menyapa aroma perpaduan antara bau air payau, ikan udang yang sedang dijemur, dan uap kopi panas dari warung-warung kecil di bibir pelabuhan. Di kejauhan, speedboat dan pompong nelayan hilir mudik membelah air yang berwarna cokelat pekat. Karena air sedang pasang, ombaknya tak sampai menabrak tiang-tiang jembatan, melainkan hanya mengayun lembut tongkang-tongkang yang bersandar—seolah raksasa berbahan kayu itu pun butuh sejenak melepas lelah setelah bertarung di lautan.

Di salah satu sudut titian--tak jauh dari barisan warung yang berjejer--saya merengkuh nyanyian alam yang menyentuh hati. Sejauh mata memandang, terpampang wajah-wajah kehidupan yaitu buruh panggul yang masih berpeluh di sisa hari, gadis-gadis remaja dengan senyum rekahnya, serta anak-anak yang berlari kecil ditemani orang tua mereka di bibir  pagar tepian destinasi. Di tempat ini, kebahagiaan terasa sangat bersahaja. Sesederhana melihat kapal-kapal bersandar dengan selamat setelah berhari-hari melawan gelombang.

di Jembatan "Water Front City" Kuala Tungkal

Kami pun menepi, menyantap nasi kotak yang kami bawa sedari Sabak siang tadi. Air kelapa muda menjadi penawar dahaga yang sempurna, sementara angin laut yang lembap menyapu sisa-sisa lelah di wajah kami sore itu—setelah sebelumnya menempuh perjalanan panjang menembus debu dan kerikil dari Sabak menuju Tungkal.

Bagi warga Kuala Tungkal, sore hari boleh dikata momen terbaik untuk melepas litak. Saya melihat para pemuda duduk berjajar dengan joran pancing di tangan di beberapa bagian di sepanjang titian, sementara para tetua bercengkerama. Saya tidak tahu pasti isi percakapan mereka, apa mungkin tentang harga pinang yang naik-turun atau tangkapan hasil laut hari itu. Namun yang jelas, di sini perbincangan mengalir setenang arus air.

Saat matahari mulai turun, langit Tungkal berubah menjadi kanvas yang indah. Warna jingga keemasan memantul di permukaan air, menciptakan siluet kapal-kapal yang sedang lego jangkar. Ada rasa damai yang ganjil di tengah hiruk-pikuk pelabuhan ini—sebuah kesadaran bahwa hidup, sekeras apa pun arusnya, akan selalu menemukan tempat untuk bersandar.

Saya menyadari bahwa di ujung Tanjung Jabung Barat ini, senja bukan sekadar tanda berakhirnya hari, melainkan cara alam merayakan rasa syukur atas segala riuh rendahnya kehidupan, seperti terekam dalam sajak berikut ini:

 

Senja keburu berganti malam, tetapi sukar membayangkan bila sehari penuh tanpanya. Tersebab fajar memercikkan embun sebelum mentari menyiangi, senja juga begitu, bersukacita membersamai matahari pulang ke peraduannya sekaligus menyambut bintang-bintang dan rembulan menjalani takdirnya. Senja, sekalipun singkat, darinya kita memungut serpihan makna, yang bila tanpanya tiada purna.


Satu setengah jam berlalu dengan begitu cepat. Lampu-lampu di sepanjang jembatan titian mulai menyala satu per satu, berpendar layaknya kunang-kunang yang menari di atas air. Perlahan, bentangan laut Tungkal semakin menjauh dari penglihatan kami dari balik kaca mobil, namun keyakinan saya tetap tinggal di sana bahwa tempat ini akan selalu menjanjikan harapan baru bagi mereka yang akan melaut saat fajar menyingsing.


*Kota Jambi, 3 Januari 2026.

*Sepilihan catatan perjalanan penulis di link berikut ini:

1) Dari Pantai Botubarani ke Benteng Otonaha Gorontalo

2) Menapak Nol Kilometer Indonesia di Pulau Weh, Aceh

3) Dari Rumah Cut Nyak Dhien ke Pusara Sultan Iskandar Muda

4) Sampai Juga di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam

6) Kembali Ke Jogja, Lagi

7) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja

8) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron

9) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja

10) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan

11) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap

12) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946

13) Jejak Pangeran Diponegoro di Tegalrejo

14) Istana Matahari Timur Siak Sri Indrapura

15) Dari Rumah Tuan Kadhi ke Makam Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah di Senapelan

16) Kembali Ke Candi Muarojambi: Dari Madilog Tan Malaka sampai Mimpi-Mimpi Pulau Emas

17) Semilir Angin di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa

18) Menapaki Kota Tua Sawahlunto

0 Komentar