![]() |
| Bu Meriyati dan Pak Hoegeng. Sumber: kompas.id |
Oleh: Jumardi Putra
"Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng." — KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Kabar
duka itu datang menyelinap di antara riuh rendah berita politik nasional kiwari.
Ibu Meriyati Roeslani Hoegeng—yang akrab disapa Eyang Meri—perempuan tegar
kelahiran Yogyakarta seabad silam, telah berpulang pada 4 Januari 2026. Di usia
ke-100 tahun (1925-2026), ia menyusul sang suami, Jenderal Hoegeng Iman Santoso
yang wafat 14 Juli 2004.
Kepergian
Eyang Meri bukan sekadar berita duka keluarga, melainkan sebuah kehilangan
simbolis bagi bangsa yang sedang tertatih mengeja arti kejujuran di tengah
gerusan materialisme akut. Di balik ketokohan Pak Hoegeng yang legendaris, ada
Ibu Meri yang mendampingi dengan keteguhan prinsip yang sama kuatnya. Mereka
adalah sepasang kekasih yang membuktikan bahwa di puncak kekuasaan sekalipun,
kesederhanaan bukanlah pilihan yang memalukan, melainkan sebuah kemewahan
martabat.
Melalui
buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan (Kompas, 2016) karya Suhartono
dan buku Meriyati Hoegeng: 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian (2025)
karya cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng, kita disuguhi jalan hidup mereka yang
tidak mudah. Integritas keduanya terpancar bukan dari polesan konsultan komunikasi,
melainkan dari konsistensi sikap yang radikal dan tanpa kompromi hingga akhir
hayat.
![]() |
| Buku Biografi Bu Meriyati (2025) dan Pak Hoegeng (2014) |
![]() |
| Bu Meriyati (2025/2026). Sumber: detik.com |
Tepat
pada 1 Juli 2026 ini, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merayakan Hari
Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara yang ke-80. Angka delapan dekade bukanlah usia
yang muda bagi sebuah institusi penegak hukum. Namun, alih-alih dirayakan
dengan kepuasan mutlak, momentum emas ini justru datang di tengah badai krisis
kepercayaan publik yang mendalam.
Ingatan
publik tentang Hoegeng yang diringkas oleh seloroh cerdas Gus Dur di atas abadi
bukan karena kelucuannya, melainkan karena kegetiran yang dikandungnya. Humor tersebut
seolah menemukan pembenaran aktualnya hari ini. Wajah institusi Kepolisian Republik Indonesia kontemporer kerap
kali lebam oleh berbagai skandal sistemik—mulai dari penyalahgunaan wewenang,
kompromi hukum, hingga aksi pamer kemewahan (flexing) para pejabat
beserta keluarganya di media sosial.
Ketika
masyarakat mempertanyakan asal-usul kekayaan berlimpah oknum aparat di tengah
himpitan ekonomi, potret Jenderal Hoegeng (Kapolri periode 1968-1971) hadir
bagaikan oase sekaligus tamparan keras. Ada jurang pemisah yang mahaluas antara
realitas masa kini dan standar moral yang pernah ditegakkan Hoegeng setengah
abad silam.
Kesederhanaan
Pak Hoegeng dan Ibu Meri bukanlah "pencitraan" yang dirancang oleh
konsultan komunikasi publik sebagaimana lazimnya laku pejabat hari ini
menjelang kontestasi politik. Integritas mereka bersifat substansial dan
preventif.
Salah
satu contoh paling konkret adalah keputusan Pak Hoegeng menutup toko bunga
milik Ibu Meri sesaat setelah ia dilantik sebagai Kepala Jawatan Imigrasi
(1961-1966). Alasannya sangat ideologis: ia tak ingin jabatan yang dipangkunya
menjadi magnet bagi para pemburu rente yang mencari jalan pintas kekuasaan
melalui bisnis istrinya.
Hoegeng memahami betul konsep conflict of interest (konflik kepentingan) jauh sebelum istilah itu populer dalam diskursus tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Begitu pula ketika ia menjabat sebagai Kapolri. Hoegeng tidak sungkan turun langsung ke jalan untuk mengatur lalu lintas di bawah terik matahari, mengembalikan fungsi polisi sebagai pelayan publik, bukan penguasa jalanan. Ia bahkan pernah membuang perabot pemberian pengusaha keluar dari rumah dinasnya—sebuah gestur simbolis bahwa otoritas moral lahir dari satunya kata dengan perbuatan, dan bahwa kehormatan Korps Bhayangkara tidak bisa dibeli, apalagi disewa.
Reformasi Struktural
Jika kita
bandingkan dengan realitas kontemporer, terjadilah apa yang disebut dekadensi
kultural. Polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat justru sering kali
terlihat sebagai kasta elit yang tak tersentuh (untouchable), terlindung
di balik dinding kaca kemewahan dan relasi kuasa oligarki. Kesenjangan gaya
hidup ini menciptakan jarak emosional dan sosial yang melebar antara polisi dan
warga yang mereka layani.
Krisis
kepercayaan publik ini tidak akan bisa diobati hanya dengan kampanye kosmetik
di media sosial, pengubahan slogan, atau pembuatan konten-konten humanis yang
artifisial. Memasuki usia ke-80, Polri memerlukan transformasi yang menyentuh
dua aspek fundamental sekaligus.
Pertama, membangun sistem pengawasan
internal yang ketat, transparan, dan akuntabel. Harus ada penegakan hukum yang
tanpa pandang bulu terhadap oknum yang melanggar, serta perbaikan sistem rekrutmen
dan promosi berbasis meritokrasi, bukan nepotisme atau setoran.
Kedua, menginternalisasi kembali
filosofi hidup Hoegeng ke dalam kurikulum pendidikan kepolisian di semua
tingkatan. Kepemimpinan berbasis teladan harus dimulai dari puncak piramida
(para jenderal) hingga ke level bintara di lapangan.
Mengingat
kembali sosok Jenderal Hoegeng dan Ibu Meri di perayaan HUT Bhayangkara ke-80
ini adalah langkah awal untuk menyadari bahwa institusi Polri pernah memiliki
standar moral yang sangat tinggi. Tugas besar kepolisian masa kini adalah
menciptakan ekosistem yang memungkinkan "polisi-polisi jujur" untuk
tumbuh, berkembang, dan dihargai.
Masyarakat
merindukan sebuah institusi di mana polisi yang hidup sederhana tidak dianggap
aneh, dan mereka yang bekerja dengan integritas tidak merasa terasing atau
disingkirkan oleh sistem yang korup.
Ibu
Meriyati kini telah berpulang menyusul Pak Hoegeng ke keabadian. Namun, api
keteladanan yang mereka nyalakan tidak boleh ikut padam. Di tengah redupnya
kepercayaan publik pada usia ke-80 Polri saat ini, biarlah kisah setia
pengabdian mereka tetap menyala sebagai kompas moral—mengingatkan setiap insan
Bhayangkara bahwa pada akhirnya, kejujuran dan kehormatan adalah segalanya.
*Kota Jambi, 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya berikut ini:
1) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
2) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
5) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan
6) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad
8) Menziarahi Bung Hatta dan Mula Berjumpa Datuk Syahrul Akmal
9) Laku Hidup Romo Iman Budhi Santosa
10) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
11) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
12) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
13) Kamal Firdaus dan Penegakan Hukum Yang Rapuh
14) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan
15) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi
16) Bambang Budi Utomo, Sepotong Dunia Penekun Studi Sriwijaya
17) Rendra, Puisi Protes dan Bersetia di Jalan Kesenian
18) Jokpin: Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
19) Jang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916
20) Membaca Sabeni, Mengenal Marzuki Usman



0 Komentar