Bambang Budi Utomo: Sepotong Dunia Penekun Kajian Sriwijaya

Arkeolog Bambang Budi Utomo

Oleh: Jumardi Putra*

Belum lama ini, publik dikejutkan berita pernyataan kontroversi Ridwan Saidi di kanal youtube “Macan Idealias”, yang menyebutkan Sriwijaya adalah kerajaan fiktif. Tak syak, mulai dari masyarakat awam (lebih-lebih netizen di sosial media), hingga para sarjana, terutama berlatar belakang sejarah dan arkeologi, turut ambil bagian menanggapi pendapat budayawan betawi tersebut.

Di antara para peneliti yang getol menyangkal pendapat babe berusia 77 tahun itu, adalah arkeolog senior Bambang Budi Utomo. Sanggahan peneliti bidang arkeologi di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit-Arkenas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ini secara lengkap dapat dibaca di sini: http://kajanglako.com/id-9031-post-kerajaan-sriwijaya-fiktif-sangkalan-atas-pandangan-ridwan-saidi.html. Bahkan, muncul catatan terbaru di kanal facebook pribadinya, masih dalam satu tarikan nafas yaitu kembali meneguhkan sanggahannya terhadap pendapat penulis buku Facta Documenta Jakarta (Yayasan Renaissance, 2017) itu, seperti termuat di laink berikut ini: https://www.facebook.com/bambang.budiutomo.7/posts/2606073772757066.

Pandangan Bambang Budi Utomo tersebut bertumpu pada dua hal utama, yaitu menjelaskan keberadaan Kedatuan Sriwijaya dan sosok bikshu Buddha sekaligus pengelana I-Tsing, yang keduanya ditelisik berdasarkan sumber berita-berita Tionghoa sekaligus temuan artefak maupun prasasti di Palembang, Sumatera Selatan. Seturut hal itu, dalam rentang kajian Sriwijaya yang panjang, Bambang tak menampik adanya beberapa pendapat ahli mengenai posisi lokasi Sriwijaya.

Idealnya, bagi Bambang, penelitian sejarah tidak alergi terhadap temuan-temuan baru, tidak terkecuali kajian Sriwijaya. Dan arkeologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang bisa membantu mendapatkan kesimpulan penting sebuah kajian. Namun, bagi pria yang kerap menyebut dirinya sebagai kerani rendahan Puslit Arkenas itu, haruslah didukung dengan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bukan sangkaan, apatahlagi sekadar ‘cocokologi’. Sebaliknya, bila tidak didukung oleh bukti-bukti yang sahih, menurutnya perlu disikapi secara serius agar publik tidak terbelenggu dalam arus ketidakpastian.

Kondisi demikian itu, pernah dilakukan Bambang Budi Utomo ketika berusaha “meluruskan” sejarah yang sudah terlanjur berkembang, yaitu Majapahit sebagai kerajaan maritim yang mempunyai angkatan laut serta memiliki luas wilayah hampir seluas Indonesia sekarang. Faktanya, menurut kajian Bambang, merujuk data tentang teknologi perkapalan, baik data arkeologis yang berupa temuan runtuhan kapal/perahu dari abad ke-13-15, relief bangunan, maupun dari data prasasti dan naskah kuna, hingga kini nyaris tidak ada atau belum ditemukan.

Nun. Rasanya belum reda polemik Sriwijaya, yang katanya fiktif itu, bak gayung bersambut, sekira pukul 15.40-an, Selasa, 27 Agustus 2019, saya bertemu dan bercakap-cakap dengan Bambang Budi Utomo di warung kopi Sedjenak, di ujung Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Sebelum sua, diakuinya baru saja dipanggil oleh pihak Direktorat Sejarah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk memberikan masukan berkaitan pernyataan Ridwan Saidi, yang kadung menjadi viral itu.

Sejatinya, perjumpaan dengan arkeolog penyuka jenis musik Melayu Deli dan musik klasik seperti Walt dan Polka ini bukan kali pertama, setelah sebelumnya di Borobudur Writers and Cultural Festival, Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah (22-25 November 2018) dan Seminar sejarah bertajuk Hulu ke Hilir Batanghari: Representasi Kebudayaan Jambi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jambi, tiga tahun lalu, tepatnya 10 November 2016. Hanya saja, dalam dua kesempatan itu tak cukup waktu bagi saya berbicara panjang lebar dengan ayah satu anak ini.

Kajian Sriwijaya

Merunut jauh ke belakang, pria kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1954, ini bukanlah nama asing di kalangan peneliti arkeologi. Terlebih sejak 1982 fokus penelitiannya ialah kajian Sriwijaya dan Melayu dengan pendekatan kajian regional.

Menurut Bambang, pendekatan regional meniscayakan penelitian di berbagai tempat yang mendapat pengaruh Sriwijaya di Sumatera, Kalimantan Barat, Semenanjung Tanah Melayu, dan Thailand Selatan. Bahkan, terhadap tinggalan budaya yang sejaman dengan Sriwijaya (abad ke-8-9 Masehi) di Jawa juga dikaji.

Setakat hal itu, sejak 2007 fokus kajiannya berpangkal pada arkeologi dan sejarah bahari. Ada dua alasan untuk kajian itu, yaitu pertama dalam mengkaji Sriwijaya seharusnya mengkaji juga budaya bahari, dan kedua memperkenalkan sekaligus menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia adalah bangsa bahari yang tinggal di sebuah Negara Kepulauan.

“Bagaimana kajian maritim di Indonesia sekarang ini,” tanya saya.

Indonesia merupakan negara maritim beribu pulau yang terhubung oleh laut. Meski begitu, penelitian sejarah di bidang arkeologi kemaritiman hingga sekarang sangat terbatas. Bahkan, dari yang sedikit itu, banyak berorientasi pada daerah bawah laut. Belum menyentuh hingga ke sungai dan danau. Padahal, menurut Bambang, arkeologi bawah laut itu hanya bagian dari bidang arkeologi kemaritiman.

Bambang Budi Utomo menambahkan, dengan luas wilayah perairan mencapai dua pertiga dari daratan yang ada, berapa banyak potensi benda-benda arkeologi dari sisa kebudayaan maritim di Nusantara. Bukti kuat kebudayaan di masa lampau itu tidak hanya berupa kapal karam di laut, tetapi juga di wilayah perairan sungai dan danau.

“Apa yang mesti dilakukan?” balas saya segera.

Banyak aspek kemaritiman yang bisa dikaji. Ambil misal, penelitian mengenai teknologi permukiman kuno di pesisir pantai, lahan basah, penelitian di pelabuhan, menara api, jaringan pelayaran perdagangan Nusantara, benteng laut, dan galangan kapal.

"Begitu berlimpah potensi sejarah, tetapi tenaga ahli kita sangat minim," tegasnya.

Menyadari masih banyak ‘pekerjaan rumah’ bagi peneliti maupun institusi ilmu sejarah dan arkeologi, suami dari pengajar arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Ibu Ingrid H.E. Pojoh, ini tidak pesimistis. Dirinya akan terus melakukan penelitian dan turun ke lapangan bersama arkeolog-arkeolog lainnya. Hingga sekarang penyuka makanan tongseng ini masih terlibat melakukan penelitian di lapangan, seperti di di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusatenggara Barat.

Dalam pada itu, Bambang yang  sejak 1 September 2019 ini resmi purnabakti sebagai peneliti di Puslit Arkenas, masih sering mengikuti pertemuan ilmiah nasional maupun internasional. Tulisan populernya seputar arkeologi dan budaya bahari dimuat di koran lokal maupun nasional, seperti Kompas, The Jakarta Post, The Point, Sriwijaya Pos, dan Suara Pembaruan. Juga dapat ditemukan di website budpar, indoarchaeology, arkeologijawa, melayuonline, sriwijaya, paramadina, kompas, tempo, dan lain-lain.

Selain itu, penulis buku Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari (2011) ini kerap diundang sebagai narasumber tayangan semi dokumenter ilmu pengetahuan pada stasiun televisi swasta (RCTI, SCTV, Metro-TV, TV-One) serta Film promosi pariwisata Indonesia untuk Jepang bekerjasama dengan Asian-Japan Centre (AJC Project).

“Apa publikasi terbaru Anda?” tanya saya.

Meski hanya menyelesaikan s1 kajian arkeologi FIB UI (1974-1981), dan sempat melanjutkan ke strata dua arkeologi (tapi tidak diselesaikannya), Bambang Budi Utomo telah menghasilkan 20 buku serta belasan karya tulis ilmiah yang dimuat di jurnal-jurnal.  Bahkan, dirinya bersama seorang teman, arkeolog, kini sedang menyelesaikan sebuah buku mengenai arkeologi Sumatra. “Ya semacam cindera mata saya bagi institusi tempat saya bekerja sekaligus kontribusi bagi kajian arkeologi,” kilahnya. Adapun 20 buku karya Bambang dapat dibaca di sini: http://kajanglako.com/id-9098-post-ridwan-saidi-sebut-sriwijaya-fiktif-bambang-budi-utomo-itu-pendapat-ngawur.html

Meski sepi dari “tepuk tangan”, apalagi penghargaan materi, Bambang Budi Utomo mengaku tidak pernah menyesal menekuni kajian Sriwijaya lebih dari 35 tahun. Dalam rentang waktu yang panjang itu, jelas banyak suka duka yang ia alami dalam berbagai penelitian di sejumlah situs di Tanah Air.

“Apa refleksi anda terhadap kerja-kerja arkeologis selama ini?” ulik saya.

Tiap kali menyelidiki sebuah peninggalan sejarah, ambil misal, ketika dirinya meneliti situs-2 di Pantai Timur Sumatra sekitar Air Sugihan dan penemuan U-boat Jerman di Karimunjawa, dirinya bertindak bak detektif, yang sangat berhati-hati mengumpulkan bukti-bukti berupa benda, bangunan, atau naskah. Perlakuan kita terhadap objek kajian tidak boleh semena-mena, sekalipun itu benda mati. Karena menurut penyuka sate kambing dan salad ini, dari sana bisa ditelusuri lebih lanjut gambaran kondisi masyarakat, mata pencarian, sistem religi, dan sebagainya.

Tak heran, bila Bambang Budi Utomo termasuk arkeolog yang rewel terhadap aktivitas arkeolog yang tidak hati-hati saat melaksanakan tugas di lapangan. Seperti yang baru-baru ini, tanpa tedeng aling-aling dirinya menanggapi proses eskavasi situs perahu kuno di Lambur, Sabak, Kabupaten Tajung Jabung Timur, Provinsi Jambi, yang menurutnya tidak hati-hati, seperti menginjak-injak papan perahu yang sudah rapuh karena lama terendam tanah basah (tanah rawa) serta sebagian dari runtuhan perahu yang ditemukan pada kedalaman sekitar 1 meter itu dibiarkan terbuka. Singkatnya, bagi Bambang, tatkala meneliti sebuah benda bersejarah, bekerjalah dengan hati-hati sebagaimana galibnya kerja-kerja ahli forensik.

Jarum jam menunjukkan angka 17.59 WIB. Tak terasa, lebih dari 3 jam-an percakapan antara kami di warung Sedjenak, yang tak begitu besar tempatnya, tapi cukup memberi ketenangan untuk bercakap-cakap sedikit serius.

Sebelum pisah, kepada arkeolog berusia 65 tahun ini, saya menyampaikan bahwa arkeolog-arkeolog muda terus bermunculan di banyak daerah di tanah air. Apa harapan Anda terhadap mereka? 

Cagar budaya (tangible-intangible) merupakan warisan masa lalu yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Karena itu menurutnya wajib dijaga dan dilestarikan. Sejurus hal itu, arkeolog tidak hanya peduli terhadap benda artefak semata, tapi juga nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat pendukungnya. “Kita tidak ingin tanah air tercinta ini menjadi dongeng, sebagai cerita pengantar tidur belaka,” pungkasnya.

Kami pun berpisah. go-car yang ditumpanginya melesat jauh meninggalkan saya, menuju tempat dirinya sehari-hari bekerja. Sedangkan saya meneruskan langkah menuju alamat penginapan.  Dalam derap langkahku itu, saya teringat sebait pantun Bambang Budi Utomo, yang termuat di salah satu makalahnya tentang Majapahit dalam Lintas Pelayaran dan  Perdagangan Nusantara  (29 Juni 2009), berbunyi:

Saudagar Tionghoa arungi lautan
Kota Lasem tempatnya merapat
Jangan cepat ambil simpulan
Sebelum ada bukti tepat.

*Wawancara penulis bersama arkeolog Bambang Budi Utomo berlangsung pada Selasa, 27 Agustus 2019 di Warung Kopi, Sedjenak, Jl. Haji Agus Salim No. 23, Menteng, Jakarta Pusat. Tulisan ini terbit di kajanglako.com pada 10 September 2019.

0 Komentar