Frieda Amran, Penekun Naskah Klasik Belanda Tentang Sumatra


Frieda Amran

Oleh: Jumardi Putra*

Pembaca rubrik telusur Kajanglako.com tentu tak asing dengan nama Frieda Amran. Saban Sabtu catatannya seputar sejarah Jambi, yang mengacu sumber naskah klasik Belanda setia menyapa. Nah. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mewawancarai Frieda Amran di sela kunjungannya ke tanah air. Maklum, sejak 1986 hingga sekarang, antroplog kelahiran 21 Agustus 1959, ini menetap di Belanda bersama suami dan empat anaknya.

Mulanya pertemuan kami diniati di Tanah Pilih Pusako Betuah Kota Jambi. Apatahlagi setelah mengetahui salah satu daerah yang dikunjunginya selama di Indonesia, yakni selain Medan, Jakarta, dan Bandung, adalah Palembang, tetangganya Jambi.

Namun karena jadwalnya cukup padat dan singkat, pertemuan antara saya dengan pengagum musik jazz dan penyanyi Norah Jones ini berlangsung di Lot 9, sebuah restoran makanan khas Indonesia, di Jalan Arteri Bintaro, Kota Tanggerang Selatan.

Ini kali pertama kami berjumpa, setelah hampir tujuh bulan sebelumnya berkorespondensi lewat media sosial, tepatnya melalui jejaring facebook, whatsaap dan sesekali surel. Di luar itu, tambahan informasi saya dapatkan dari sastrawan Lampung, Arman AZ, yang mengetahui riwayat rubrikasi   “Lampung Tumbai” yang diasuh Frieda di Lampung Post Minggu pada tahun 2014.

Jauh sebelum itu, perihal perempuan bernama lengkap Frieda Agnani Amran ini saya ketahui melalui bukunya tentang Kapten Woodes Rogers dan Dr. Strehler di Batavia (Kompas, 2012). Sebuah buku yang menghimpun catatannya selama menjadi kontributor tetap di rubrik ‘Wisata Kota Toea’, Harian Warta Kota, Jakarta.

Sepanjang percakapan kami di lini maya, dalam benak saya tersimpul kuat, bahwa putri dari Prof Dr Amran Halim, Rektor Universitas Sriwijaya (1986-1994) sekaligus Guru Besar Ilmu Linguistik, Program Pascasarjana, UNSRI (2000), ini seorang perempuan muda penuh semangat sekaligus bersetia menekuni naskah-naskah klasik Belanda, utamanya mengenai Sumatra.

Meski kelakarnya pada saya, bahwa sudah nenek-nenek (untuk menyebut uzur), nyatanya anggapan saya tidak meleset. Hampir empat jam percakapan kami, kecintaan perempuan berusia 59 tahun ini menggeluti literatur sejarah Sumbagsel (untuk menyebut Jambi, Palembang, Bengkulu dan Lampung) benar-benar membuat decak kagum.

“Sesama Sumatranis mesti saling menguatkan”, celetuknya mencairkan suasana temu perdana kami.

Sebelum menikah, penyuka cerita detektif dan roman sejarah ini sempat mengajar di antropologi, FISIP-Universitas Indonesia (1986-1988). Lalu, setelah menikah, di Belanda, pada 1989-1995, ia mengajar bahasa Indonesia di Volksacademie, Delft dan mengajar akulturasi di Indonesia dan Asia Tenggara di biro konsultan (yang dibawahi oleh Universitas Leiden).

Saat ini, lulusan  antropologi Universitas Indonesia (1978—1983) yang pernah menjadi mahasiswa di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda (1983—1986) ini tidak lagi mengajar apa pun di mana pun. Hanya fokus menulis, terlibat dalam beberapa penelitian serta menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga.

Berikut wawancara saya bersama Frieda Amran sedari pukul 13.30 WIB sampai tiba waktu magrib pada 7 Mei 2018:

Bagaimana Kepustakaan Indonesia di Belanda sekarang?

Perpustakaan Universitas Leiden sejak dulu banyak menyimpan buku-buku mengenai Indonesia. Perpustakaan tersebut kerap mendapatkan hibah buku dan dokumen warisan dari guru besar, peneliti dan mantan pegawai Hindia-Belanda yang meninggal dunia.

Setahun sebelum koleksi KITLV pindah ke perpustakaan universitas, pada tahun 2013, perpustakaan Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) di Amsterdam pun terpaksa menutup pintu karena kekurangan biaya.

Sebagian dari koleksi lembaga ini dibeli oleh perpustakaan besar di Timur Tengah, sebagian lagi—yang sudah dipilih terlebih dahulu—dihibahkan kepada perpustakaan Universitas Leiden.
Setelah penyatuan koleksi buku dari tiga perpustakaan besar di negeri Belanda, yaitu perpustakaan KITLV, perpustakaan KIT dan koleksinya sendiri, maka perpustakaan Universitas Leiden memiliki koleksi buku dan dokumen yang melimpah.

September 2017, Universitas Leiden membuka Asia Library. Perpustakaan ‘baru’ ini sebetulnya merupakan penggabungan koleksi semua buku dari berbagai perpustakaan fakultas-fakultas di Leiden (bahasa dan sastra, arkeologi, ilmu sosial, sejarah) ke dalam satu katalogus maha besar. Asia Library—yang merupakan ruangan tambahan di atas salah satu bagian perpustakaan lama—kini menyediakan ruang multi-media untuk memutar film-film koleksinya, alat-alat fotokopi, printer dan unggahan digital dari sebagian buku dan naskah tua yang tersimpan.

Begitu juga meja-meja belajar yang dilengkapi dengan stopkontak listrik, komputer, wifi tersedia di ruangan-ruangan luas yang dipenuhi oleh mahasiswa dan peneliti.

“Orang yang memasuki ruangan-ruangan Asia Library takkan mendengar suara apa pun kecuali ketuk jemari di atas komputer dan gemerisik halaman buku yang dibalik oleh pembacanya”, imbuhnya.

Bagaimana Pandangan Anda tentang Penulisan Sejarah Sumatra?

Pilihan untuk memperhatikan Sumatera (Lampung, Bengkulu, Palembang dan Jambi) tersebab selama ini dan bahkan, sampai sekarang, amat banyak perhatian diberikan kepada sejarah sosial-budaya di Pulau Jawa dan Bali.

Daerah lain di Indonesia seolah terpinggirkan. Maka, karena dirinya berasal dari Sumatera, tentunya ia lebih tertarik pada Sumatera daripada daerah lain.

“Saya bermimpi untuk dapat mengolah dokumentasi empat daerah sumbagsel: Palembang, Lampung, Bengkulu dan Jambi karena menurut sejarah dan perkembangan budaya keempat daerah itu saling kait dan tidak terpisahkan. Dan sekarang perlahan-lahan mimpi itu terealisasikan bersama kawan-kawan yang senafas dengan gagasan tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Frieda, tiap daerah itu mempunyai banyak ahli—yang masing-masing mengolah dan mengkaji daerah masing-masing. Rasanya, belum ada seorang pun yang mencoba menyeberangi batas-batas daerahnya untuk mendapatkan gambaran yang mendekati utuh. Mungkin tampak utopis. Tapi ia mulai saja perlahan-lahan dengan Palembang, Lampung, dan Jambi hingga sekarang.

Apa Pertimbangan Anda Memilih Sumber Naskah Belanda?

Literatur sejarah khususnya mengenai Sumbagsel (Sumsel, Jambi, Bengkulu, dan Lampung) diakuinya belum banyak digali. Termasuk fakta bahwa sedikit sekali orang yang peduli dan mendermakan uang dan tenaga untuk menggali nilai-nilai sejarah dan budaya, yang oleh kebanyakan dibilang bukan sebagai ladang basah (untuk menyebut banyak uang).

Namun, bagi ibu empat anak ini, kepedulian terhadap literatur sejarah menjadi sangat penting dan tentu saja mendesak dari sekarang dan ke depan. Diakuinya, bermodalkan kemampuan berbahasa Inggris dan Belanda, banyak arsip telah dialih-bahasakan oleh dirinya dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia.

“Saya merasa terpanggil untuk kembali membaca sejumlah arsip tentang Sumatra yang tersimpan di sejumlah museum di Belanda. Termasuk karya-karya lama Djambi yang hasilnya bisa kita baca pada setiap akhir pekan di kolom Telusur kajanglako.com. Semoga memberi manfaat langsung bagi mereka yang terkendala askses dan teks bahasa Belanda,” kilahnya.

Kenapa Hanya Fokus pada Naskah Klasik Belanda?

Walau sudah ada perpustakaan modern dengan koleksi yang hampir lengkap baik di tanah air maupun di Belanda, masih ada kendala besar yang menghambat penelitian seorang ahli sejarah atau ilmu sosial Indonesia.

Buku-buku kontemporer acapkali ditulis dalam bahasa Inggris; akan tetapi, buku, majalah dan dokumen yang sangat diperlukan dan harus dibaca oleh pengkaji sejarah sosial dan budaya masyarakat-masyarakat nusantara di zaman penjajahan tidak ditulis dalam bahasa Inggris.
Hampir semuanya ditulis dalam bahasa Belanda abad ke-18 dan ke-19. Sementara tak banyak ahli sejarah atau ahli ilmu sosial Indonesia yang menguasai bahasa Belanda, apalagi yang kuno.

“Meski bahan kajian tentang masa lalu di nusantara tersedia, sebagian besar pakar itu terpaksa menggunakan sumber-sumber acuan kedua atau ketiga—yang ditulis di dalam bahasa Inggris oleh peneliti asing--untuk penelitiannya. Tentu ini kendala yang perlu dicarikan jalan keluarnya” harapnya.

Selain di Kajanglako.com, Media Apa Saja tempat Anda Menulis Rutin?

“Saya beruntung mendapatkan kesempatan menulis dan mengasuh rubrik Telusur untuk Kajanglako.com. Ini media online pertama di Indonesia dimana saya menulis secara rutin untuk bacaan di akhir pekan,” ungkapnya

Hingga sekarang, selain mengasuh rubrik Telusur di Kajanglako.com, Frieda juga dipercaya mengasuh rubrik ‘Palembang Tempo Doeloe’ di harian Berita Pagi, Palembang ( sejak 2010), dan ‘Lampung Beni’ di harian Fajar Sumatera, Bandar Lampung (sejak 2015).

Bagaimana Anda Membagi Waktu Menulis Tiga Artikel dalam Waktu Bersamaan untuk Tiga Media dalam Satu Minggu?

Mulanya cukup merepotkan. Namun itu semacam tantangan sekaligus cara mendisiplinkan dirinya agar terus menulis. Nyatanya hingga sekarang untuk tiga media tersebut, catatan Frieda konsisten hadir menemui pembaca setianya.

Di tiga media tersebut, lanjut Frieda, memuat artikel-artikel mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Sumatera (Jambi, Pelambang dan Lampung)  berdasarkan tulisan-tulisan berbahasa Belanda dari abad ke-18 sampai abad ke-20.

Selain Menulis Artikel Setiap Minggu, Apa Proyek Tulisan Anda Lainnya?

Sekarang ini terlibat dalam Kajian Etnografis Tanah Adat di Humbang-Hasundutan bersama peneliti-peneliti lainnya. Kehadiran dirinya ke tanah air sekarang ini, salah satunya, adalah bagian dari penelitian tersebut.

“Aku turun ke lapangan juga—ke halaman-halaman buku tua yang berisi tulisan tentang Tano Batak, khususnya Toba di Belanda. Awal 2018, jadilah sebuah kajian etnografi yang diakronis (karena juga melihat budaya dan masyarakat Toba di masa lalu),” ungkapnya.

Di samping itu, diakui Frieda masih ada beberapa program penulisn secara bersama, baik di Sumatra maupun di Kalimantan.

“Semoga dilancarkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut,” sahutya.

Apa saja Karya Anda yang Diterbitkan Menjadi Buku?

Meski telah banyak menulis artikel, menerjemahkan arsip-arsip tentang Sumatera, Frieda belum sempat membuat semacam buku riset, tentang budaya yang berkembang di Sumbagsel. Ia sendiri belum terpikir untuk melakukannya.

Sebetulnya, ia lebih berharap bahwa para pembaca akan tertarik untuk menuliskan catatan mengenai sejarah masyarakat dan budayanya sendiri. Mengapa hanya peneliti luar (orang asing) saja yang menulis tentang Jambi, misalnya, padahal yang paling banyak tahu mestinya kita orang Jambi?

Beberapa bukunya yang telah terbit, baik pribadi maupun secara kolektif, antara lain: Catatan Lapangan Antropolog (2017); Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler dan PJ Veth (2017); Corat-coret Koentjaraningrat (1997), Pangeran Katak & Sang Putri (Kumpulan sajak bersama Hendry Ch Bangun dan Wahyu Wibowo, 2011), Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler (Kompas, 2012), Cerita Rakyat Batangari  Hari (kumpulan sajak, 2013), dan Mencari Jejak Masa Lalu: Lampung Tumbai 2014 (2016); Antologi puisi bersama Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit  (Jakarta, Komunitas Radja Ketjil, Juni 2014); Cerita Rakyat Batanghari Sembilan Bersama Soufie Retorika (Jakarta: Pustaka Spirit. 2013; Sembilan Ribu Hari (antologi puisi). Jakarta: Pustaka Spirit. 2013; Back to Ubud: Another Village Called Home–A Bilingual Anthology of Indonesian Writers. (Frieda Amran, ed). Ubud: Forum Sastra Indonesia-UWRF. 2013; Pengaruh Aspek Sosial Budaya terhadap Hubungan Kerja Pengusaha Indonesia dan Belanda di Indonesia . Den Haag: Kedutaan Besar Republik Indonesia. 1992; “Kavelruil in Drenthe: A Case of Negotiation or Adjudication?,” dalam Nieuwsbrief voor Nederlandstalige Rechtssociologen, Rechtsantropologen en Rechtspsychologen No. 2, 1985. Nijmegen,1985; dan Etnografi Penduduk Pulau Enggano: Sebuah Laporan Sementara (bersama Mulyawan Karim, Sri Sulistinah, Emmed Madjid), Jakarta: 1979.

Apa Pendapat Anda tentang Pelestarian Sejarah dan Budaya oleh Pemerintah dan Komunitas-komunitas di tanah Air?

Budaya merupakan hakikat yang membentuk identitas dan keistimewaan kepada manusia-manusia pendukungnya. Maka Pelestarian budaya tidak dapat diserahkan pada pemerintah semata.
Pelestarian budaya harus dan hanya dapat dilakukan oleh masyarakat pendukungnya sendiri. Pemerintah berada sebagai fasilitator dan pemenuhan segala yang dibutuhkan untuk keberlangsungan budaya itu sendiri. Antara masyarakat dan pemerintah harus bersinergi.

“Suatu bentuk budaya—apakah itu gagasan budaya, pola prilaku (adat-istiadat) atau benda budaya—hanya akan lestari kalau masyarakat membanggakan bentuk budaya itu,” tegasnya.

Fakta buruk, untuk menyebut contoh, baru-baru ini terjadi pembongkaran  bangunan pasar bersejarah, Cinde, di Kota Palembang, dengan dalih revitalisasi oleh pemerintah. Ini betul-betul langkah pemerintah Kota maupun provinsi Sumatera Selatan yang tidak tepat sekaligus tidak menunjukkan kepedulian terhadap situs cagar budaya.

“Meski posisi saya di Belanda, saya ikut menanda tangani penolakan pembongkaran pasar Cinde bersama kawan-kawan di Palembang. Akan tetapi, nyatanya pasar yang dibangun pada 1957 itu sudah rata dengan tanah. Saya betul-betul kecewa,” ungkapnya.

Kebudayaan bersifat dinamis. Ada yang hilang, ada yang terlupakan dan ada pula bentuk-bentuk baru yang muncul. Bagaimana menurut Anda?

Selain upaya melestarikan (dengan membuat program revitalisasi dari hulu hingga hilir), lanjut Frieda, perlu dibuatkan dokumentasi lengkap supaya walau suatu bentuk budaya menghilang, kita masih memiliki catatan lengkap mengenai hal yang pernah dipikirkan, dilakukan dan diyakini oleh pemilik dan pendukung kebudayaan jauh sebelum generasi kita sekarang.

Tak terasa. Jarum jam menunjukkan angka 17.54-an. Pun dua cangkir kopi gayo Aceh yang menemani bincang-bincang kami sore itu tinggal ampasnya.

“Kapan Ibu Frieda bisa berkunjung ke Jambi?” tanya saya menutup pembicaraan.

“September atau Oktober 2018. Insyallah,” jawabnya.
Amin. Semoga.

Esoknya saya pulang ke Jambi. Sedangkan Frieda Amran, dua hari setelah pertemuan bertolak ke Belanda.

 *Jakarta-Jambi, 7-24 Mei 2018. Tulisan ini terbit pertama kali di portal kajanglako.com pada 29 Mei 2018.

0 Komentar