WS Rendra, Puisi Protes, dan Bersetia di Jalur Seni



WS. Rendra

Oleh: Jumardi Putra*

...Inilah sajakku
pamflet masa darurat
Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan.

(WS. Rendra)

Berselang dua hari setelah berpulangnya seniman jalanan, Mbah Surip (4 Agustus 2009), langit Indonesia kembali dirundung duka, yaitu WS Rendra, dramawan sekaligus penyair kembali ke pangkuan Sang Ilahi dalam usia 74 tahun, tepat pada kamis malam, pukul 22.50 (6 Agustus 2009) di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat.

Dalam situasi negeri yang jumpalitan kini, kepergian sastrawan sekaliber Rendra tentu merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, utamanya publik seni. Pasalnya, di bidang teater dan puisi, Rendra yang berjuluk si "Burung Merak" ini telah menunjukkan vitalitas, kualitas dan menjadi tonggak dalam sejarah teater modern Indonesia, serta telah malang-melintang di kancah internasional, seperti mengikuti berbagai festival, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979); The Valmiki International Poetry Festival (New Delhi, 1985); Berliner Horizonte Festival (Berlin, 1985); The First New York Festival Of the Arts (1988); Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival (Bhopal, 1989); dan World Poetry Festival (Kuala Lumpur, 1992); serta Tokyo Festival (1995).

Merujuk pendapat budayawan Radhar Panca Dahana (Majalah Intisari, 2009), “Rendra, dengan kerja dan pengorbanannya, telah menciptakan kesadaran, menumbuhkan dan mendewasakan kebudayaan, mempertinggi khasanah dan pemaknaan dunia simbolik. Karena di level itulah, negeri ini berjaya, dihormati dunia, mempertahankan integritasnya, dan melanjutkan tradisi kulturalnya yang tua.”
Tak heran bila Jafar M Sidik (Antaranews, 2009), menyebutkan jika Ceko mempunyai Vaclav Havel dan Chile memiliki Pablo Neruda, maka Indonesia juga dihuni para pujangga (seorang di antara itu adalah WS Rendra), yang mungkin sekaliber dengan keduanya dalam memotori bangkitnya kesadaran nasional dan mendedikasikan hidup untuk memberi jiwa pada masyarakat kering etik dan senjang nurani.

Memilih Jalur Seni

Nama WS Rendra dalam dunia persajakan, perlakonan dan kebudayaan memiliki makna dan punya “maqam” tersendiri. Tak syak, Rendra begitu disegani oleh kawan dan lawan. Bahkan namannya kerap dibicarakan bersama nama Sapardi Joko Damono, Subagio Sastrowardoyo hingga Sutardji Calzoum Bachri.

Dalam esai-esai di media tahun 1980-an, pernah ada perdebatan soal penyair yang terunggul pada generasi itu, tetapi Rendra memiliki jejak lain, dia justru muncul dalam diskursus sosial-politik di masa Orde Baru. Rendra muncul pada ruang dan waktu yang tepat. Tak heran, bila di pra dan pasca tahun 1990-an, nama Rendra melompat melebihi beberapa nama seniman segenerasinya. Suatu hal yang membuktikan bahwa ia bukan seorang penyair biasa.

Selain itu, lelaki kelahiran Solo 7 November 1935, dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra juga dikenal tak segan bermain teater sekali pun dilarang. Tak segan membuat judul yang tajam, sekalipun dicekal rezim. Ia pun tak jarang ikut turun demonstrasi. Tidak cukup dengan itu, terhadap penyair lain yang berkutat dalam “anggur dan rembulan”, dia menulis Sajak Sebatang Lisong dan menuding mereka bak penyair salon. Pendek kata, suara penyair dan teaterawan jebolan American Academy of Dramatical Art (New York, 1967) itu adalah bahasa tandingan dari jargon kekuasaan pada masanya.

Laku kesenian Rendra demikian itu, mengingatkan saya pada perkataan filsuf Cina, Shang Yang-di dalam negara yang kuat, seperti pendapat seorang–seperti juga teori diktator Nicholo Machiavelli–yang muncul adalah rakyat yang lemah. Rakyat kuat maka negaralah yang lemah. Maka, sebagai negara yang kuat, kata Shang Yang, lumpuhkanlah kesenian dan adat istiadat.

Puisi Bernada Protes

Pada masa pemerintahan Orde Baru, dengan kekhasannya, WS Rendra membacakan puisi-puisi bernada protes. Untuk situasi politik saat itu, tentu ia digolongkan sebagai penyair yang sungguh berani dan berenergi. Dengan vokal suara yang lantang, ia menyuarakan protes.

Di panggung-panggung kesenian, nalurinya sebagai seniman tak bisa diam saat berhadapan dengan ketidakberesan sosial, baik langsung atau pun sebaliknya, seperti diakui oleh Syu’bah Asa, “Rendra menggebrak untuk kepentingan orang-orang terlempar itu-tidak kepada langit, atau hidup, melainkan kepada dunia, kepada lingkungan yang nyata.” (Kompas, 4/2/2000).

Bagi Rendra, mendedikasikan diri di jalur seni bukanlah laku tunanilai, tetapi pekerjaan yang memuat fa’al sosial. Melalui puisi dan teater, WS Rendra mampu menyulut pikiran jernih lintas generasi untuk segera memanggul segala bentuk modal kekuatan yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Itulah kenapa sajak-sajak WS Rendra berhasil merasuki relung terdalam hati nurani siapa pun sekaligus membangkitkan kesadaran kritis terhadap realitas di sekitarnya.

Relevan kita merenungi ungkapan penyair Inggris keturunan Hongaria, George Szirtes bahwa tema puisi itu kehidupan dan politik adalah bagian dari kehidupan. “Puisi ditulis seperti politik dimengerti," ungkapnya. Hal senada juga dikatakan jurnalis dan penulis Palestina, Lamyaa Hashim, sebagaimana dikutip Jafar M. Sidik dalam tulisannya, In Memoriam WS Rendra (2009), “Kekuatan puisi dan karya sastra melebihi kritik politisi dan mengangkangi dahsyatnya tembakan meriam. Perang terabadikan oleh stanza-stanza. Patriotisme atau kekerabatan menebal (karena puisi)".

Prolog Menuju Tuhan

Melalui puisi, WS Rendra bergaul dengan kehidupan, mendekatkan diri dengan sang Pencipta, dan mengekspresikan kasih, serta berdiri gagah mendampingi mereka yang ter(di)pinggirkan, seperti tercermin pada puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Bahkan di tengah deraan sakit, Rendra masih mencipta puisi rindunya pada Sang ilahi Rabbi, “Aku ingin kembali pada jalan alam/Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah/Tuhan, aku cinta padaMu!”

Apa makna di balik situasi tersebut? Hemat saya, keterbatasan usialah yang memberhentikan laku kesenian seorang Rendra. Karena itu, tak ada yang perlu disesalkan atas kepergiannya. Di balik usia panjangnya, kewajiban Rendra sebagai manusia telah dilunasi, persis seperti yang ia ungkapkan dalam puisi berjudul Sajak Peperangan Abimanyu (untuk puteraku, Isaias Sadewa) berikut ini, “Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru/Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya/Hatinya damai/Di dalam dadanya yang bedah dan berdarah/karena ia telah lunas/menjalani kewajiban dan kewajarannya”.

Rendra telah bernyanyi, mencinta, menangis, mengecam, mengkritik, dan berdoa dengan puisi maupun proses teater sepanjang hidup. Maka dari itu, mengenang Rendra, dengan cara mempelajari pemikiran dan konsistensinya di jalur seni adalah tepat. Lebih dari itu, agar “artefak-artefak” kebudayaan yang telah ditemu-kenali olehnya bisa dilestarikan oleh generasi saat ini dan masa yang akan datang.
Bahagialah di sisi Allah, Mas Willy! Sosokmu adalah kitab terbuka bagi sesiapa saja. Benar yang dikau sampaikan sebelum pergi menuju Ibukota keabadian, “Suatu hari nanti/Semua akan sampai pada kematian/Hidup hanyalah prolog menuju Tuhan.”

* Tulisan ini terbit di portal kajanglako.com pada Selasa, 07 November 2017.

0 Komentar