Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap

 

kongkow di JCH


 Oleh: Jumardi Putra*


Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi. Punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan- by Dee Lestari.

 

Bulan lindap, malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya meredup, menyisakan semu oranye dari lampu jalan yang memantul di kaca jendela hotel tempat saya menginap. Aspal Jalan Wahid Hasyim—diambil dari nama ayahanda Gus Dur—keduanya pahlawan nasional--masih basah setelah diguyur hujan lebat sejak sore hari .

Bahkan, saat mendarat sehari sebelumnya di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, langit Jakarta baru saja tenang setelah didera hujan badai—cuaca ekstrem kombinasi hujan lebat dan angin kencang. Kondisi itulah yang menyebabkan keberangkatan kami dari Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Kota Jambi—tanah pilih pusako betuah--, terdampak penundaan (delay) selama hampir tiga jam.

Jarum jam menunjukkan pukul 21.05 WIB (Selasa, 13/1/26). Usai menyantap nasi ayam bumbu hitam khas Madura di Jalan Sabang, saya dan beberapa sejawat kantor melangkahkan kaki menuju Jakarta Coffee House (JCH) atas ajakan Noki Hidayat, kepala bagian persidangan di tempat kami bekerja. Noki, yang telah lebih dahulu tiba di lokasi, tidak sendirian. Ia ditemani Ammar, adik tingkat jauh dibawahnya--sesama alumni kampus kedinasan IPDN.

Dalam banyak kesempatan, saya kerap berkelakar kepada mereka berdua, “ayo, kapan kita membuat diskusi bertajuk filsafat pemerintahan? Jangan melulu disibukkan urusan administratif atau perihal pasal demi pasal. Pikiran yang tidak diasah tak layak mendiami tubuh ditandai ”Cogito, ergo sum”—Rene Descartes.” Mendengar itu, mereka hanya tersenyum mengamini, meski hingga kini rencana itu tak kunjung menjadi kenyataan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di JCH dari arah pangkal Jalan Sabang—pusat kuliner malam hari--, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Begitu melewati pintu masuk lalu menaiki anak tangga ke lantai atas kafe yang berlokasi di Jalan KH Wahid Hasyim No. 59, Menteng ini, aroma kopi yang kuat langsung menyambut, lengkap dengan pemandangan mesin sangrai (roaster) di dalamnya. Ini adalah kali pertama saya singgah di sini, begitu pun bagi Bang Firman, Ade, dan Ardi.

Galibnya di ibu kota, di sela kegiatan kantor, saya sesekali menyisihkan waktu untuk kongkow bersama kawan sembari menulis di kafe Filosofi Kopi, Sarinah. Secara pribadi, saya memang lebih menyukai kafe yang tidak terlalu ramai dan menyediakan bahan bacaan alternatif (selain buku bergenre “how to”). JCH, dengan konsep micro-coffee roastery-nya, dikenal sebagai destinasi ikonik bagi pencari pengalaman kopi autentik sekaligus ketenangan di tengah hiruk-pikuk Menteng.

Di bawah cahaya temaram lampu cafe, saya teringat kalimat sarat makna novelis Dee Lestari dalam buku Filosofi Kopi, "Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi. Punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan."

Meski bukan seorang pencinta kopi (coffee enthusiast), saya tetap menikmati suasana kafe dan cerita dari mereka yang setia menyeduh kopi saban hari. Bagi para pencinta kopi, aroma kafe selalu menghadirkan cerita-cerita tak terduga, seperti terangkum dalam kalimat berikut ini, "Kopi tidak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karena di hadapan kopi, kita semua hanyalah jiwa yang mencari hangat."

Di sudut kafe yang tenang, dunia luar yang riuh seolah kehilangan suaranya, digantikan deru rendah mesin kopi dan denting sendok yang sesekali beradu dengan cangkir. Begitu juga di balik jendela, lampu kendaraan merambat menyerupai aliran lava pijar. Di dalam sini, waktu seolah berhenti berdetak. Pada momen itulah, kafe bukan lagi sekadar place (tempat-fisik), melainkan telah menjadi space—ruang tempat segala sesuatu layak direnungkan.

Malam itu pengunjung cukup ramai. Kami memilih duduk di area luar yang menghadap ke jalan. Bangku-bangku belum sepenuhnya kering dari sisa hujan, namun pramusaji dengan sigap membersihkannya sembari menawarkan menu andalan café ini. Lantaran kami sudah makan malam, perjamuan malam itu cukup ditemani berbagai minuman: kopi, susu cokelat, kapucino, dan kafe latte, lengkap dengan seporsi pisang goreng.

Di atas meja kayu, aroma pekat kopi dan minuman lainnya menyela pembicaraan kami yang menyentuh banyak topik, tanpa diikat oleh dogma kebenaran tunggal. Yang mengemuka hanyalah luapan ide--terfragmentasi—sebuah dialektika yang wajar untuk menjaga kewarasan di tengah hidup yang kian kompleks. Kami saling bertukar gagasan, sesekali berdebat atau menolak pandangan satu sama lain. Bagi saya, itulah indahnya perbedaan. Jika muncul opini bernada "gugatan", itu hanyalah cara untuk mempertanggungjawabkan sebuah pemikiran.

Sesekali kami menyinggung situasi politik nasional kiwari, tapi selang kemudian mempercakapkan kapasitas keuangan negara dan daerah yang terbatas—seperti berlari di ruang sempit—, lalu menyinggung dunia kampus, buku dan penerbitan hingga ihwal pembangunan yang tak selalu bergerak linear dengan pelbagai pertimbangan teknokratis yang telah disusun.

Menjelang tengah malam, saya melontarkan topik sejarah kelam yang jarang ditilik dalam buku sekolah bahwa biaya revolusi kemerdekaan negeri ini salah satunya ditopang oleh hasil perdagangan opium. Topik ini sontak memicu perdebatan hangat di antara kami. Namun, fakta pahitnya adalah opium memang pernah menjadi "penyelamat" finansial Republik yang baru lahir di tengah blokade ekonomi Belanda (1945–1949). 

Untuk topik yang belum sepenuhnya kelar dibentangkan itu, saya berjanji akan mengirimkan kepada sejawat beberapa literatur (e-book) yang menyingkap tabir sejarah tersebut. Ringkasnya, kendati publik di negeri ini belum banyak mengetahui kaitan antara opium dengan perjuangan kemerdekaan republik ini--itu tidak lantas menihilkan fakta tentang barang "terlarang" itu. Dengan kata lain, memodifikasi kalimat Dee Lestari di awal tulisan bahwa sesempurna apapun sejarah resmi negeri ini diracik (dituliskan), sisi kelam tentang keberadaan opium itu tak bisa disembunyikan. Sebagai kenyataan sejarah, itu adalah bagian dari perjalanan bangsa ini.

Tidak terasa, jarum jam menunjukkan pukul 23.15 WIB. Pengunjung lain mulai beranjak, dan lampu-lampu ruangan mulai dimatikan satu per satu. Kami segera mengakhiri pembicaraan dan kembali ke penginapan. Jalan Wahid Hasyim masih basah, namun pikiran kami justru terus bergejolak.

Begitulah kami merayakan malam itu: bertukar pikiran sembari mencari damai di dasar cangkir masing-masing, sebelum esok dunia kembali menuntut kita semua untuk berlari dengan kepala tegak.

 

*Kota Jambi, 18 Januari 2025.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) 2025 Pergi, 2026 Datang

2) Esok, Kita Menemukan Sekali Lagi, Kenyataan Dunia Ini

3) Sepotong Hati Rodiyati Ningsih

4) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

5) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

6) Barangkali Memang Kita Harus Berduka

7) Langkah Kaki Haruki Murakami

8) Besak Ota

9) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

10) Mereka Pulang Sebagai Orang Yang Sama Seperti Sebelum Pergi

11) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

12) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

13) Digergaji Konsumsi 

14) Kehidupan Ini Tidak Kita Biarkan Jatuh dalam Ratapan dan Tangisan

15) Kongkow di Kediaman Novi yang Asri

16) Dari Hari Ke Hari: Fragmen X

17) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IX

18) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VIII

19) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VII

20) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VI

21) Dari Hari Ke Hari: Fragmen V

22) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IV

23) Dari Hari Ke Hari: Fragmen III

24) Dari Hari Ke Hari: Fragmen II

25) Dari Hari Ke Hari: Fragmen I

0 Komentar