Langkah Kaki Haruki Murakami

 

Memoar karya Haruki Murakami


Oleh: Jumardi Putra


Pain is inevitable. Suffering is optional.

 

Siapa yang tak mengenal Haruki Murakami? Bagi para pencinta sastra, namanya adalah jaminan bagi kisah-kisah yang memikat. Namun, catatan saya kali ini tidak sedang membedah labirin cerita dalam novel-novel larisnya seperti Norwegian Wood, 1Q84, atau Kafka on the Shore. Saya ingin berbagi pengalaman setelah menyelami sebuah memoar berjudul "What I Talk About When I Talk About Running". Sebuah buku yang menyingkap tabir antara denyut nadi lari jarak jauh dengan proses kreatif seorang penulis yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa.

Pertemuan saya dengan buku ini bermula dari rasa penasaran di rak toko buku Gramedia Matraman, Jakarta Pusat. Judulnya menggelitik, bermula dari modifikasi Haruki atas karya Raymond Carver, "What We Talk About When We Talk About Love". Murakami melakukannya setelah meminta izin langsung kepada keluarga Carver (hal 182).

Awalnya, saya mengira ini hanyalah kumpulan cerita pendek biasa. Namun, sepanjang perjalanan di atas Whoosh rute Jakarta–Bandung (PP), medio Juli 2025, lembar demi lembar buku ini justru menuntun saya pada refleksi filosofis yang mendalam. Di balik deru kereta cepat, saya menemukan narasi tentang disiplin, ketekunan, dan makna kehidupan yang terselip di setiap ayunan langkah kaki Haruki Murakami sepanjang menjalani hobi lari.

Melalui buku setebal 183 halaman ini, Murakami berbagi catatan pribadi saat ia menaklukkan maraton di berbagai sudut kota di Amerika Serikat dan Jepang. Meski ditulis oleh seorang pesohor sastra dunia, naskah yang lahir antara musim panas 2005 dan musim gugur 2006 ini jauh dari kesan pamer. Tidak ada aroma kesombongan atas pencapaian atletik maupun kemasyhurannya sebagai novelis kenamaan.

Kendati digolongkan ke dalam genre pengembangan diri (self-improvement), buku ini terasa berbeda. Karena ditulis oleh seorang sastrawan, gaya berceritanya memiliki jiwa yang tak akan kita temukan dalam buku motivasi karya manajer perusahaan atau motivator arus utama di banyak forum seminar pengembangan diri atau acara di layar kaca televisi. Kalimatnya jauh dari kesan rumit, tetapi sederhana, jujur, dan sangat reflektif—khas Murakami. Substansi dari ide pokoknya membuat buku ini terasa relevan, bahkan bagi mereka yang sama sekali tidak hobi berlari.

Memoar Haruki Murakami (Bentang Pustaka, terjemahan)

Bagi saya, Murakami berhasil menjadikan maraton dan triatlon sebagai metafora yang indah untuk menulis dan menghadapi realitas kehidupan yang kompleks. Ia menunjukkan bahwa disiplin berlari belasan hingga puluhan kilometer berbanding lurus dengan dedikasinya dalam merangkai kata. Seperti yang tertuang dalam bab-bab tengah buku ini, lari bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah laku untuk menjaga konsistensi dalam berkarya.

Banyak pembaca menganggap buku ini sebagai sumber inspirasi karena memperlihatkan sisi manusiawi seorang maestro: sisi pekerja keras yang percaya bahwa keajaiban sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Buku ini adalah pengingat tentang kesabaran dan pentingnya memahami batas diri sendiri.

Pria kelahiran Kyoto, 12 Januari 1949 ini mengakui bahwa menulis dan berlari memiliki akar yang sama yaitu fokus, kerja keras, dan daya tahan. Berlari puluhan kilometer menuntut latihan konsisten dan fisik yang tangguh. Begitu pula saat menyusun sebuah novel dan atau produk dokumentasi ilmu pengetahuan—ia adalah sebuah lari jarak jauh, bukan sprint sesaat.

Melalui memoar ini, saya belajar kembali tentang arti kesetiaan pada proses untuk sampai pada tujuan. Bahwa meski tantangan kerap datang mengadang, langkah kaki—dan jemari yang menulis—tak boleh berhenti selama jantung masih berdetak.

Demikian itu makna yang saya tangkap dari perenungan mendalam seorang Haruki Murakmi seperti bunyi kalimat di awal tulisan bahwa rasa sakit itu tidak bisa dihindari (saat berlari atau hidup), tetapi apakah kita akan menderita karenanya atau tidak, itu adalah pilihan kita sendiri.


*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) 2025 Pergi, 2026 Datang

2) Esok, Kita Menemukan Sekali Lagi, Kenyataan Dunia Ini

3) Sepotong Hati Rodiyati Ningsih

4) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

5) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

6) Barangkali Memang Kita Harus Berduka

7) Keluar dari Jeratan Trauma 1965

8) Besak Ota

9) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

10) Mereka Pulang Sebagai Orang Yang Sama Seperti Sebelum Pergi

11) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

12) Digergaji Konsumsi 

13) Kehidupan Ini Tidak Kita Biarkan Jatuh dalam Ratapan dan Tangisan

14) Dari Hari Ke Hari: Fragmen X

15) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IX

16) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VIII

17) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VII

18) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VI

19) Dari Hari Ke Hari: Fragmen V

20) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IV

21) Dari Hari Ke Hari: Fragmen III

22) Dari Hari Ke Hari: Fragmen II

23) Dari Hari Ke Hari: Fragmen I

0 Komentar