Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

J.K. Rowling



Oleh: Jumardi Putra*

Mungkin saya terlambat membaca buku ini, tapi mengatakan isinya tak lagi relevan dengan masa kini adalah sebuah kekeliruan besar. Itulah kesan pertama yang terlintas saat saya menyesap lembar demi lembar Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination. Buku ini merupakan alih bahasa dari pidato ikonik Joanne Kathleen Rowling—yang lebih kita kenal sebagai J.K. Rowling—pada pertemuan tahunan asosiasi alumni Universitas Harvard tahun 2008 silam.

Meski naskah pidatonya bertajuk  "University of Magic," Rowling sama sekali tidak sedang mendongeng tentang Harry Potter. Ia tidak bicara tentang tongkat sihir atau ramuan ajaib yang melambungkan namanya. Sebaliknya, ia bicara tentang realitas yang sering kita hindari dalam hidup ini yaitu kegagalan.

Sepintas, judulnya menyerupai buku-buku motivasi "How To" yang menjanjikan kesuksesan instan—jenis buku yang tidak begitu saya gemari. Bagi saya, panduan praktis sering kali merampas kesempatan pembaca untuk menyelami kompleksitas di balik sebuah peristiwa yang tertuang dalam sebuah buku. Namun, karena ini adalah J.K Rowling, saya berharap menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tips sukses, galibnya isi buku-buku bergenre self-empowerment.

Harapan itu terjawab. Membaca teks pidato perempuan berusia 42 (saat 2008) rasanya seperti menemukan oase. Kalimat-kalimatnya mengalir jernih, menyemburkan kritik reflektif yang tajam, namun dibalut dengan humor yang hangat. Di sini, J.K. Rowling bukan sekadar penulis pesohor; ia adalah juga seorang ibu tunggal dan pekerja yang pernah babak belur dihantam banyak rintangan, namun berhasil bangkit dengan kepala tegak.

J.K. Rowling mengenang masa mudanya dengan jujur. Dua puluh satu tahun sebelum pidato itu disampaikan, ia berdiri di persimpangan jalan yang sesak, dihimpit oleh keraguan.

Saat memulai studi perguruan tinggi, ia memilih jurusan Sastra Klasik, sebuah program studi yang dianggap tidak punya masa depan oleh orang tuanya.

"Setengah perjalanan hidup saya dulu, saya risau memikirkan keseimbangan antara mengejar ambisi dan memenuhi harapan orang-orang terhadap diri saya," akunya. Sebuah kegelisahan yang rasanya masih menghantui banyak dari kita hingga hari ini.

Ia tidak menutup-nutupi masa kelamnya. Hanya tujuh tahun setelah lulus kuliah, hidupnya tampak seperti reruntuhan: pernikahan yang singkat, status pengangguran, beban sebagai orang tua tunggal, dan kemiskinan yang mencekik—meski tidak sampai menjadi tunawisma. Sebelum dunia mengenalnya sebagai miliarder lewat karya novel laris, Rowling adalah perwujudan dari ketakutan terburuk orang tuanya, sekaligus ketakutan terburuk dirinya sendiri.

Bagi J.K. Rowling, kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah "pembersihan" dari hal-hal yang tidak penting. Ia berhenti berpura-pura menjadi orang lain dan mulai mencurahkan seluruh energinya untuk satu-satunya pekerjaan yang ia cintai yaitu menulis novel.

Kepada para lulusan Harvard yang cemerlang, ia memberikan pesan yang getir namun nyata: mustahil hidup tanpa pernah gagal, kecuali jika kita hidup dengan sangat hati-hati hingga seolah-olah kita tidak hidup sama sekali. Jika itu terjadi, kita telah gagal secara otomatis (failure by default).

Hal paling menyentuh dalam buku ini adalah bagaimana Rowling memaknai ulang kata "Imajinasi." Baginya, imajinasi bukan hanya alat untuk menciptakan makhluk ajaib, melainkan kapasitas untuk berempati. J.K. Rowling menekankan perlunya keberpihakan (empati) terhadap mereka yang tak punya kesempatan, tak mampu bersuara dan butuh bantuan dari mereka yang berhasil menikmati jenjang pendidikan tinggi (apalagi lulus dari kampus Harvard).

Ia mengenang masa mudanya saat bekerja di Amnesty International, mendengarkan kesaksian para tahanan politik dan korban penyiksaan. Di sana ia belajar bahwa imajinasi adalah kemampuan untuk membayangkan penderitaan orang lain yang tidak pernah kita alami, dan kemudian bergerak untuk membantunya.

J.K. Rowling mengingatkan kita semua—terutama mereka yang berpendidikan tinggi—untuk tidak menjadi penghuni "menara gading." Meminjam istilah Romo Mangun Wijaya, agar kita tidak sekadar "berumah di atas angin," namun tetap memijak bumi dan peduli pada mereka yang tak mampu bersuara.

J.K. Rowling memaknai “imajinasi” sebagai empati dan bagaimana hal ini sangat penting di tengah kehidupan manusia yang tidak mudah dalam abad “run-away” sekarang. Karenanya, J.K. Rowling menekankan perlunya keberpihakan (empati) terhadap mereka yang tak punya kesempatan, tak mampu bersuara dan butuh bantuan dari mereka yang berhasil menikmati jenjang pendidikan tinggi (apalagi lulus dari kampus Harvard). Pada titik ini, J.K. Rowling mengisahkan riwayat pekerjannya di awal umur 20-an di departemen penelitian Afrika di markas besar Amnesty International di London. 

Banyak dari rekan kerja J.K. Rowing adalah ex-tahanan politik, orang-orang yang telah mengungsi dari rumah mereka, atau melarikan diri ke pengasingan, karena mereka memiliki keberanian untuk berbicara menentang pemerintah mereka. Semasa bekerja di Amnesty inilah J.K. Rowling belajar banyak tentang kebaikan manusia. Diakuinya kekuatan empati manusia yang mengarah pada tindakan bersama berhasil menyelamatkan banyak jiwa dan membebaskan banyak tawanan. Agaknya, keterlebitan yang demikian itu tak lain dari cara J.K. Rowling mengingatkan para lulusan kampus untuk tidak menjadi kelompok yang berada di “menara gading”, atau dalam istilah Romo Mangun Wijaya “berumah di atas angin”. Terlepas dari realitas sosial di sekitar.

Memungkasi ceramahnya, J.K. Rowling mengutip kata-kata dari Seneca (filsuf yunani yang tinggal di kerajaan romawi sebagai penasehat kaisar), salah satu dari orang-orang Roma tua yang ia temukan ketika dirinya lari menyusuri koridor Classics, mundur dari tangga karir, mencari kebijaksanaan kuno "Seperti suatu dongeng, begitulah hidup: bukan tentang berapa lamanya, tapi seberapa baik hidup ini, inilah yang penting".

Petuah bijak ini sebenarnya familiar di tengah kaum muslim, merujuk sabda Nabi Muhammad SAW, yakni “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang bagaimana cara sukses, tapi tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh melalui kegagalan dan empati, lalu bangkit dan bangkit lagi.

 

*Tulisan ini pertama kali terbit di portal kajanglako.com

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) 2025 Pergi, 2026 Datang

2) Esok, Kita Menemukan Sekali Lagi, Kenyataan Dunia Ini

3) Sepotong Hati Rodiyati Ningsih

4) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana

5) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

6) Barangkali Memang Kita Harus Berduka

7) Langkah Kaki Haruki Murakami

8) Besak Ota

9) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling

10) Mereka Pulang Sebagai Orang Yang Sama Seperti Sebelum Pergi

11) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi

12) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang

13) Pallubasa Serigala

14) Kehidupan Ini Tidak Kita Biarkan Jatuh dalam Ratapan dan Tangisan

15) Kongkow di Kediaman Novi yang Asri

16) Cerita dari Jalan Sabang

17) Dari Hari Ke Hari: Fragmen X

18) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IX

19) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VIII

20) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VII

21) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VI

22) Dari Hari Ke Hari: Fragmen V

23) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IV

24) Dari Hari Ke Hari: Fragmen III

25) Dari Hari Ke Hari: Fragmen II

26) Dari Hari Ke Hari: Fragmen I

0 Komentar