![]() |
| Rodiyati Ningsih |
Oleh: Jumardi Putra*
Kesan kita tentang orang-orang, penting atau tidak penting, sebagian ditentukan oleh pilihan-pilihan ketertarikan kita. Bisa jadi ini kurang tepat (tidak adil) karena tidak sedikit orang yang sesungguhnya ikut berperan dalam hidup dan profesi yang kita jalani sehari-hari, tapi acapkali terlupakan.
Jarum jam
menunjukkan pukul 02.35 WIB. Di luar sana, warga Kota Jambi telah lama
terlelap, namun di dalam ruang Badan Anggaran DPRD Provinsi Jambi, kantuk
adalah kemewahan yang tertunda. Suasana masih menderu. Debat panas, sanggahan
tajam, dan deretan angka-angka APBD Perubahan 2025 terus berkejaran antara
pimpinan dewan dan tim pemerintah daerah (TAPD). Ruangan itu dinamis, terkadang
menegang, seolah masa depan Jambi sedang ditaruhkan di atas meja oval tersebut.
Satu jam
berselang, keriuhan itu mereda. Kursi-kursi digeser, tumpukan dokumen dirapikan,
dan para peserta rapat satu per satu melangkah pulang menembus embun pagi.
Namun, bagi sebagian orang, kerja justru baru saja dimulai.
Saat
ruangan mulai kosong, dua sosok muncul dengan langkah tenang namun cekatan.
Mereka adalah Rodiyati Ningsih, dibantu Beni. Di tengah sisa aroma kopi dan
tumpukan berkas yang berserakan, mereka datang bukan untuk berdebat soal angka,
melainkan untuk merapikan puing-puing lelah yang ditinggalkan para wakil
rakyat.
Bu De,
begitu Rodiyati Ningsih akrab disapa pegawai di lingkup SETWAN DPRD Provinsi
Jambi. Di usianya yang menginjak 58 tahun, raut wajahnya adalah sebuah peta
perjalanan hidup. Keriput halus di sudut matanya menyiratkan lelah yang
disembunyikan dengan rapi. Sejak 2018, gedung ini telah menjadi saksi bisu
ketulusannya. Bersama Beni, kolega mudanya yang setia, Bu De adalah
"tangan tak terlihat" yang memastikan setiap rapat berjalan tanpa
kendala dahaga dan lapar.
Namanya familiar di kalangan pegawai dan Anggota DPRD Provinsi Jambi, karena hari-hari bertugas menyiapkan snack dan makanan yang dibutuhkan Anggota DPRD maupun pegawai di lingkup Sekretariat Dewan, terutama saat rapat kerja baik Komisi-Komisi maupun Alat Kelengkapan Dewan lainnya seperti Badan Anggaran, Badan Kehormatan, Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) dan Badan Musyawarah DPRD Provinsi Jambi. Begitu juga bila ada rapat-rapat Panitia Khusus (Pansus). Saya pribadi dan beberapa kawan sekantor lainnya kerap meminta bantuannya membuatkan minuman kopi atau teh, dan itu ditunaikannya segera.
![]() |
| Beni, teman seprofesi Bu De Rodiyati Ningsih |
Saya
memilih tetap tinggal sejenak, duduk di sudut ruangan sambil memerhatikan
mereka berdua mengumpulkan piring-piring kotor dan gelas-gelas sisa kopi dan teh
peserta rapat. Kami bersendagurau kecil. Di balik denting sendok yang beradu
dengan piring, ada sebuah pesan yang menyeruap: bahwa hidup seringkali tidak
adil dalam memberikan panggung.
Sebagian
dari kita sering kali terlalu terpukau pada mereka yang memegang palu sidang
atau mereka yang bicaranya lantang di depan kamera. Kita begitu mudah mengingat
nama pejabat dengan gelar berderet panjang, namun seringkali alpa pada mereka
yang menyiapkan kopi atau the di pagi buta. Kita lupa pada pramusaji, petugas
kebersihan, atau satpam yang menjaga pintu kantor kita saban hari. Padahal,
tanpa mereka, panggung-panggung besar dan ruang kerja yang nyaman itu hanyalah
ruang kosong yang berdebu.
Kepada Bu
De Rodiyati Ningsih dan Beni, begitu juga buat seluruh kawan-kawan pekerja informal
di SETWAN DPRD Provinsi Jambi, saya menitipkan rasa terima kasih yang mendalam.
Kalian adalah bukti bahwa mengabdi tak selamanya harus di bawah kilatan lampu
kamera atau siaran langsung media sosial. Tugas adalah tugas, dan kalian
menunaikannya dengan hati.
Dari
perempuan kelahiran 1967 ini, saya belajar sebuah arti penting: bahwa martabat
seseorang tidak ditentukan oleh strata sosial atau kemewahan yang ia pamerkan,
melainkan pada tanggung jawab dan ketulusan dalam menjalankan amanah yang
mandatakan, sesederhana apa pun itu. Di setiap helai napas Bu De dan Beni,
tersimpan tekad yang tidak pernah sirna demi dapur yang tetap mengepul dan
tugas yang tuntas.
Saat saya
melangkah keluar gedung, matahari pagi mulai mengintip dari ufuk timur. Saya
menoleh ke belakang, melihat jendela ruangan yang masih terang. Di sana, ada
ketulusan yang sedang bekerja dalam sunyi.
Semoga
Allah Azza Wa Jalla senantiasa
menjaga kesehatan kalian dan memudahkan setiap urusan kalian, para pejuang di
balik layar. Amin.
*Kota Jambi, 27 Agustus 2025.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
2) Esok, Kita Menemukan Sekali Lagi, Kenyataan Dunia Ini
4) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
5) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica
6) Barangkali Memang Kita Harus Berduka
7) Langkah Kaki Haruki Murakami
8) Besak Ota
9) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
10) Mereka Pulang Sebagai Orang Yang Sama Seperti Sebelum Pergi
11) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
12) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
14) Kehidupan Ini Tidak Kita Biarkan Jatuh dalam Ratapan dan Tangisan
15) Kongkow di Kediaman Novi yang Asri
17) Dari Hari Ke Hari: Fragmen X
18) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IX
19) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VIII
20) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VII
21) Dari Hari Ke Hari: Fragmen VI
22) Dari Hari Ke Hari: Fragmen V
23) Dari Hari Ke Hari: Fragmen IV
24) Dari Hari Ke Hari: Fragmen III
25) Dari Hari Ke Hari: Fragmen II



0 Komentar