Mujur Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak: Fragmen Corona

 

ilustrasi. sumber: kontan.co.id.

Oleh: Jumardi Putra*

Berikut ini penggalan-penggalan refleksi saya, yang mulanya saya tulis singkat sebagai status di aplikasi perpesanan whatsapp, sebagai sebuah cerminan pergumulan pikiran, batin dan sikap di tengah pagebluk corona yang belum sepenuhnya berakhir. Mungkin saja ada gunanya.

***

Saya berteman baik dengan beberapa pemiliki Café di Kota Jambi. Umumnya mereka pendatang baru di jagad bisnis yang meniscayakan kegigihan, selain kecerdasan membaca potensi pasar.

Meski didukung modal yang minim, keberadaan café milik mereka terus tumbuh sejak dibuka kali pertama menutup tahun 2019. Memasuki gerbang 2020 pengunjung datang silih berganti. biaya operasional teratasi. Omset harian membuat hati mereka berbunga-bunga. Menekuni bisnis café sepertinya opsi yang menjanjikan.

Bahkan kehadiran Café di Kota Jambi bak cendawan di musim hujan. Sepanjang jalan kota Jambi hampir bisa dipastikan warna-warni oleh kerlipan cahaya dari satu café ke cafe lainnya. Babak baru yang menandai eksistensi ekonomi tanah pilih pusako betuah kota Jambi.

Diakui mereka, jalan bisnis ke depan tampak lempeng (untuk menyebut optimistik), meski menyadari memilih bisnis café tidak lain mencoba peruntungan di tengah persaingan dan ekspansi pemodal kelas kakap, lebih-lebih dalam situasi ekonomi nasional maupun dunia yang melamban.

Tak muluk-muluk dalam angan mereka. Cukup untuk membiayai operasional, gaji karyawan, dan menabung untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari bersama istri, anak dan karyawan tentunya.

Saya senang mengunjungi café milik mereka, karena selain menjajaki minuman dan makanan khas dengan harga terjangkau, sesuai grand desain café masing-masing, terdapat ruang diskusi berbagi pemikiran dan tak jarang disediakan buku-buku bacaan bermutu bagi pengunjung.

Bak peribahasa, “Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”, kegembiraan mereka hanya berlangsung sebentar. Terhitung sejak kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di tanah air, Maret 2020, keberadaan café mereka mulai goyah. Pengunjung sepi bersamaan dengan penerapan pembatasan sosial. Omset menurun drastis. Modal terus menipis. Biaya operasional tidak tertanggungkan. Mereka pun angkat bendera putih. Gulung tikar. 

Memang, masih ada sebagian dari mereka yang berusaha bertahan sampai sekarang, sekalipun harus tertatih-tatih. Corona sempat melandai dalam rentang akhir 2020 sampai awal 2021, tapi bersamaan agenda vaksinasi hingga Juli 2021, angka warga terpapar maupun meninggal dunia akibat Covid-19 kembali melonjak. Beberapa skenario PPKM telah diterapkan oleh pemerintah, lengkap dengan otokritik dari warga dan para pakar. Sedihnya, corona belum teratasi dengan baik.

Ini hanyalah cerita kecil di tengah lautan masalah mendasar di masa pandemi corona di republik yang kita cintai ini. Keadaan demikian itu saya jumpai juga pada para pemulung, pedagang buku, penulis, tukang gojek, dan sederatan pekerja di sektor informal yang menggantungkan kehidupannya pada pendapatan harian.

Keselamatan jiwa adalah hal yang utama, tetapi corona jelas bukan semata urusan kesehatan, tetapi juga berkait erat dengan urusan perut (ekonomi). Pemerintah tidak bisa memaksa warga yang berkemampuan ekonomi miskin bertahan hanya dengan merapal lagu Indonesia Raya saban hari sembari memekik keras menolak terorisme dan radikalisme demi “NKRI harga mati”. Mereka butuh bantuan kongkrit untuk bertahan dan menyambung asa.  Tidak lebih. 

Karena itu, bantuan sosial dan modal dari pemerintah pusat maupun daerah harus datang cepat dan tepat sasaran bagi mereka yang terdampak. Jangan ada korupsi lagi, lagi, dan lagi. Itu tidak lain adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak termaafkan.

(16 Juli 2021)    

 

Sepekan terakhir ini berita seputar dr. Lois meruap ke publik. Pandangannya tentang Covid-19 seolah menjustifikasi anggapan mereka yang jauh sebelum ini memang menaruk ketidakpercayaan terhadap virus mematikan itu, meski faktanya jutaan warga telah terpapar corona dan puluhan ribu meninggal dunia karenanya, terhitung sejak kasus pertama Covid-19 ditemukan di tanah air awal Maret 2020. Tidak terkecuali tenaga kesehatan harus bertaruh nyawa di garda terdepan dan bahkan sebagian besar dari mereka meregang nyawa.  

Meski agenda vaksinasi terus berjalan, angka yang sedemikian mengerikan itu diam-diam membuat kita merasa khawatir karena hanya perkara menunggu giliran terpapar saja.

Sekalipun pandangan dr Lois bukanlah hal baru, tetapi tetap menemukan relevansinya bagi dunia kesehatan dan percepatan penanggulangan Covid-19 dalam kaitan ketahanan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pendidikan di tengah pagebluk, sebut saja seperti manajemen resiko di rumah sakit, ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan, pemberdayaan warga selain tim gugus tugas secara berjenjang, maksimalisasi vaksinasi, pemantapan peta jalan penanggulangan dan lalulintas data Covid-19, sinergisitas dan koordinasi antara lembaga baik vertikal maupun horizontal serta belanja anggaran kesehatan dan penyediaan jaring pengaman sosial bagi warga terdampak.   

Di tengah pandemi, pandangan dr Lois sejatinya membutuhkan kanal yang tepat untuk direspon secara memadai dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar. Apa dan kenapa? Bukan memenjarakannya dan atau menciptakan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu terhadap pandangan seorang warga negara yang dijamin oleh konstitusi.

Pandangan dr Lois menjadi “masalah”, dikarenakan ketiadaaan kanalisasi yang tepat dan tanggap dari pemerintah, sehingga justru menciptakan keriuhan baru lantaran masyarakat awam yang menerima potongan-potongan informasi bersumber dari dr Lois di layar tivi, media sosial, dan aplikasi perpesanan pribadi maupun grup seperti WhatsApp dan telegram, berlagak laiknya dokter atau tenaga kesehatan.

Kesimpangsiuran informasi bersamaan buruknya sistem komunikasi penanggulangan Covid-19 di semua level birokrasi pemerintah baik pusat maupun daerah membuatnya masuk ke bilik-bilik pribadi perpesanan WhatsApp maupun telegram dengan kecepatan yang mencengangkan dan tidak pula didukung self cencorship para pengguna seluler yang beragam dari sisi profesi, usia, pengalaman dan juga kepentingan.  

Di abad informasi sekarang ini, gawai bisa menjadi budak yang memudahkan, tetapi kali lain bisa menjadi majikan yang mengerikan. Dalam konteks transmisi informasi dr Lois tersebut di atas, potensi kegaduhan mulai beralih menjadi ancaman di tengah semua kita membutuhkan kesatupaduan dan kepastian penanggulangan Covid-19. Situasi sekarang seolah menegaskan pemerintah gagap fase II penanggulangan corona.

Mari kita semua kembali fokus dan jangan lupa menjaga imunitas tubuh dan pikiran untuk melalui jalan panjang pandemi ini dengan penuh kecermatan. Bukan panik. Bukan pula menyebarkan pandangan-pandangan yang tidak segaris dan sebangun terhadap percepatan penanggulangan Covid-19.

(15 Juli 2021)      


Pandemi corona merubah segalanya. Aktivitas sehari-hari semuanya tidak sebagaimana galibnya (untuk menyebut perlunya penyesuaian dengan kebiasaan baru).

Meski peritiwa makan bersama mudah kita jumpai di ruang-ruang publik sekarang ini, tapi harus membuat jarak. Bahkan hotel-hotel tempat saya menginap dalam sebulan terakhir ini, meniadakan makan dengan cara perasmanan. Makanan diantar ke kamar-kamar penginapan.

Penyanitasi tangan tidak boleh tertinggal dalam tiap kesempatan, karena itu sebuah ikhtiar yang menentukan agar tranmisi virus corona tidak masuk ke area-area vital di tubuh kita. Di ruang publik, memakai masker menjadi sebuah kesemestian agar tidak terpapar virus yang telah menelan ribuan nyawa manusia di planet bumi ini. Pemberlakuan jam malam bagi warung-warung di tepi jalan terus diberlakukan. Begitu juga pada tempat-tempat yang mengundang keramaian.

Keberangkatan melalui jalur udara mensyaratkan swab antigen, dan itu hanya berlaku selama 2 x 24 jam. Demikian itu sebagian kecil dari praktik penyesuaian yang tidak bisa tidak menjadi perhatian bersama untuk dipatuhi selama dalam masa pagebluk Corona.

Perhatian dan kepatuhan pada protokol kesehatan tersebut menjadi kunci utama kita sebagai pembelajar, selain tentu saja tidak melupakan keberadaan alam dan Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Mari tiada henti bermunajat padaNYA untuk meminta pertolongan sepenuh-penuhnya.

(20 Februari 2021)


Sebagaimana ekonom, epidimolog, hukum, dan kesehatan, ketika membicarakan dan meneliti musabab datangnya virus mematikan corona, esais dan penyair Afrizal Malna juga berusaha melihat corona dalam perspektif kebudayaan.

Afrizal meneroka manusia dalam lintas sejarah yang panjang secara ontologis. Ia juga berupaya mendekonstruksi dalam garis waktu yang panjang (sedari wabah Athena) melalui genre seni dan teknologi. Teknologi di sini tidak dimaksudkan sebagaimana kita membaca buku-buku tutorial membuat sebuah perangkat lunak, melainkan sebuah usaha masuk lebih jauh dan dalam mengamati sekaligus mendewasakan makna simbol-simbol kebudayaan dalam perjalanan peradaban manusia.

Covid-19 tidak bisa dibaca melalui kacamata hitam-putih, melainkan sebagai peristiwa bersegi banyak. Karena itu meniscayakan beragam pendekatan dan sudut pandang.

(14 Februari 2021)


Covid-19 belum berakhir. Bahkan menunjukkan grafik peningkatan. Beberapa negara berhasil menekan angka penularan, tapi tidak sedikit negara di planet bumi ini masih terus berjuang dengan jumlah warga meninggal dunia yang terus melonjak.

Dunia ilmu pengetahuan tiada henti mengidentifikasi virus mematikan ini dengan harapan menemukan solusi. Vaksin jelas membuat sedikit lega, kendati realitas pengendalian virus Corona belum sepenuhnya membuat kita sepenuh-penuhnya yakin. 

Kurun satu tahun ini Covid-19 menelanjangi sikap gegabah institusi negara (birokrasi) dalam merespon pandemi, dan batas antara negara maju dengan negara berkembang menjadi kabur. Covid-19 tidak terkendalikan. Sistem kesehatan dan ekonomi nasional betul-betul berada di bibir jurang. 

Kritik atas ekonomi politik secara global terus menguat, lebih pada paradoks yang selama ini diakibatkan oleh neoliberalisme yang memosisikan negara lemah di bawah kuasa modal yang menelorkan kebijakan ekstraktif atas sumber daya alam, dan berujung pada gagalnya mewujudkan keseimbangan.

Covid-19 kembali mengajak seluruh warga di planet bumi berpikir keras tentang solidaritas global.

(16 Januari 2021)


Dalam pelaksanaan penanggulangan Covid-19, saya melihat ada ketidakjelasan (sehingga berkonsekuensi pada keakurasian dengan variabel-variabelnya) yakni data jumlah sasaran warga terdampak Covid-19 antar lembaga pemerintah daerah maupun pusat yang tidak siap pakai dalam tempo yang cepat, sehingga membuat realisasi bantuan sosial yang bersumber dari APBN maupun APBD provinsi terlambat diterima oleh masyarakat terdampak.

Belum lagi soal tumpang tindih kebijakan dan mis-koordinasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/Kota. Dalam pada itu, efektifitas pelayanan kesehatan juga belum membuat masyarakat merasa lebih aman dan nyaman.

Pemerintah provinsi Jambi bersama Kabupaten/Kota juga belum memiliki peta (grand-desain) percepatan penanggulangan Covid-19. Fatalnya, sekalipun kita menyadari sedang berhadapan dengan virus yang tidak terjamah ini, yang bisa menempel sekaligus bertahan dalam rentang waktu yang bervariasi pada permukaan benda, namun kerja mesin birokrasi di tengah pandemi tak ubahnya penanggulan bencana alam yang jelas teritori dan terang benderang pola eksekusi sekaligus pelokalisirannya.

Begitu juga paradigma penanggulangan Covid-19 di provinsi Jambi masih bersifat parsial dan kuratif, dan sayangnya, itu pun kedodoran. Paradigma penanggulangan bencana nonalam demikian tidak saja berbiaya tinggi, tapi juga terkendala oleh fasilitas kesehatan mupun tenaga medis yang terbatas.

(23 September 2020)


Keterangan:

Berikut artikel saya seputar Pandemi Covid-19:

1) Piknik di Tengah Pandemik: Catatan Perjalanan Ke Masjid Muhammad Cheng Hoo di Kenali Asam Bawah (25 Juli 2021)

2) Pandemi Corona dan Wajah Buram Kita (6 Juli 2021)

3) Kisah Mas Rudin di Pasar Kenari (19 November 2020)

4) Dari Palasari Ke Pasar Kenari (15 November 2020)

5) Corona Berjalan Ke Rumah Kita Sebagai Monster yang Tidak Asing (27 September 2020)

6) Muhammad Febiansyah, Covid-19 dan Hal-hal Yang Belum Selesai (23 September 2020)

7) Kisah Ramdani Sirait Berjuang Melawan Corona (11 September 2020)

8) Piknik Ke Candi Muarojambi di Tengah Pandemi (2 Agustus 2020)

*Catatan di atas perlu dibaca sesuai konteks, sebagaimana penanggalan pada setiap catatan tersebut di atas.

0 Komentar