Telusur Masjid Laksamana Muhammad Cheng Hoo di Kenali Asam

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Kenali Asam Bawah
Oleh: Jumardi Putra*

Setahun berjalan ini kehendak untuk piknik di akhir pekan kerapkali dihantui rasa was-was dan umumnya berujung gagal lantaran pemberlakuan pembatasan sosial di ruang-ruang publik dan tempat-tempat yang mengundang keramaian sebagai upaya memutus matarantai virus corona.

Beradaptasi dengan situasi demikian (familiar disebut new normal), pilihan tempat piknik menjadi sangat menentukan. Galibnya saya mengajak istri dan dua jagoan kami, Kaindra Gafna al Farisi dan Agrata Rendra Raffasya, mengunjungi toko buku, museum dan situs bersejarah, seperti kawasan seberang Kota Jambi dan situs Percandian Muarojambi (baca di sini: Piknik di Tengah Pandemik: Catatan Perjalanan Ke Situs Percandian Muarajambi). Begitu juga kami pernah mengunjungi situs warisan budaya dunia (world heritage site) kawasan bekas tambang batubara di Kota Sawahlunto, provinsi Sumatra Barat (baca di sini: Menapaki Kota Tua Bekas Tambang Batubara Sawahlunto dan  Dari Lubang Tambang Mbah Soero Ke Puncak Cemara Sawahlunto).

Pertimbangan memilih piknik di tempat-tempat tersebut, dengan tetap mematuhi prokes Covid-19, yaitu selain ingin mengakrabkan anak-anak dengan ilmu pengetahuan serta artefak sejarah dan budaya, juga menghindari karumunan warga, dan alhamdulillah sampai sekarang tempat-tempat demikian itu aman, nyaman dan sekaligus ramah bagi isi dompet.

Demikian hari Minggu ini, 25 Juli 2021. Meski hari teramat terik, saya bersama Kaindra dan Rendra memilih mengunjungi masjid Muhammad Cheng Hoo yang beralamat di kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Jarak tempuh dari tempat tinggal kami untuk sampai ke lokasi masjid ini kurang lebih 35 menit dengan mengendarai roda dua.

Bagian dalam masjid Muhammad Cheng Hoo

Dari kejauhan di Jalan Ibrahim Ripin, atap utama bangunan masjid Cheng Hoo ini terlihat jelas. Setiba di gapura pintu masuk komplek masjid telah berjejer 5 mobil dan belasan motor yang terparkir rapi. Umumnya pengunjung melaksanakan shalat zuhur dan dilanjutkan menikmati keindahan seisi ruangan bangunan masjid tersebut.

Saya perhatikan lamat-lamat, gerak-gerik pengunjung selama di Masjid Cheng Hoo ini menunjukkan ketakjuban (kalau bukan keingintahuan) karena menyaksikan gaya bangunan rumah ibadah tersebut di luar yang umum mereka lihat sehari-hari.

Bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo ini didesain oleh Ir. Retno Wiriati dan diresmikan pada 12 Februari 2021 atau bertepatan dengan tradisi imlek.  Melihat masjid ini dengan seksama mengingatkan kita pada konstruksi Kelenteng, rumah peribadatan warga Tioghoa, terutama umat Konghucu. Pembangunan masjid ini terinspirasi dari Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, masjid pertama bergaya arsitektur budaya Tionghoa di Indonesia.

Mimbar dan tempat shalat Imam masjid Muhammad Cheng Hoo


Arsitektur masjid Cheng Hoo ini kental gaya Tionghoa dan itu terlihat jelas dari tiap bagian Masjid. Kubah utamanya berbentuk berundak-undak menyerupai pagoda yang menjadi ciri khas rumah ibadah warga Tionghoa. Sementara atap yang terpatri dari masjid itu di setiap ujungnya berbentuk sanding tunggal dengan tingkat kemiringan yang menjuntai ke atas, yang juga khas arsitektur bangunan Tionghoa.

Masjid ini memiliki tiga pintu utama yang berbentuk bulat yang dibalut warna hijau tua. Begitu pula tempat imam salat di dalam masjid juga berbentuk bulat. Perpaduan warna merah, kuning dan hijau tua membuat masjid ini tampak khas. Di bagian dalam masjid terdapat mimbar, jam berukuran besar berbahan kayu jati dan rak tempat menyimpan alquran dan kitab yasin serta pembatas antara jamaah perempuan dan laki-laki.

Selain bergaya arsitektur Tionghoa, bangunan masjid ini juga memuat unsur Arab dan Melayu. Unsur Arab tampak pada ukiran dan kaligrafi pada beberapa bagian dinding masjid, seperti ukiran arab berupa lafaz Allah dan Muhammad pada dinding bagian atas mimbar atau tempat imam shalat. Sedangkan unsur budaya Melayu terlihat pada bagian teras masjid.

Lukisan dinding tentang Laksamana Cheng Hoo

Kehadiran masjid Muhammad Cheng Hoo di Kota Jambi ini, sebagaimana bangunan rumah ibadah umat Islam Tionghoa di banyak daerah di tanah air, menghadirkan pesan dengan satu tarikan nafas yang sama yaitu kemajemukan. Sesuatu yang patut kita apresiasi karena menunjukkan bukti nyata perjumpaan beragam identitas dan budaya di daerah yang sekarang dikenal sebagai Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah.

Sejurus dengan sejarah panjang Jambi, yang dimulai dari Melayu Kuno (Hindu-Budhis) hingga masuk fase Islam dan sampai sekarang selalu berinteraksi dengan budaya Cina, Arab, India dan beragam budaya lokal Nusantara lainnya, seperti Melayu, Jawa, Minang dan Bugis. Tak syak, masjid ini bisa menjadi salah satu masjid yang tepat untuk dikunjungi bagi traveler muslim dan sesiap saja yang menaruh perhatian pada keragaman agama dan budaya di Nusantara.

Sebelum memasuki ruangan utama masjid Laksamana Muhammad Cheng Hoo ini, pengunjung akan melewati tangga berkeramik abu-abu dan di bagian tengahnya terdapat karpet berwarna merah. Keberadaan dua tiang berukuran cukup besar dengan dilengkapi lampion pada sisi kiri dan kanan pada atap bagian depan masjid makin membuatnya elok dipandang dan karenanya akan selalu dikenang. Sebagaimana umumnya warga memilih berswafoto di depan pintu utama masjid ini, saya bersama Kaindra dan Rendra juga mengabadikan peristiwa serupa.

Pintu depan Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid berukuran 20X 20 meter ini menyediakan dua sisi bangunan tempat bersuci (wudhu) bagi jamaah. Bagian kanan khusus untuk lelaki dan sisi kiri bagi kaum perempuan. Di sisi kanan maupun kiri masjid, selain laman parkir yang luas di hadapannya, dijadikan pengunjung sebagai tempat rehat barang sejenak. Suasananya teduh dan nyaman karena bersentuhan dengan angin sepoi-sepoi, lebih-lebih bila terik matahari di paroh hari.  

Masjid Muhammad Cheng Hoo ini digagas oleh seorang mualaf yang dulunya merupakan mantan ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Provinsi Jambi, yaitu bapak Haji Rusli. Pembangunan masjid seluas 2.380 meter persegi ini memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun dan sempat mangkrak hampir tiga tahun karena kendala biaya. Pembangunan Masjid Laksamana Cheng Hoo sendiri merupakan kebutuhan bagi mualaf keturunan Thionghoa yang ingin berkumpul dan memperdalam agama Islam.

Pentabalan nama Laksamana Cheng Ho pada masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada sosok Cheng Hoo, laksamana asal Cina yang beragama Islam. Ia melakukan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara dengan mengemban beberapa misi, di antaranya berdagang, menjalin persahabatan, serta menyebarkan ajaran agama Islam.

Saya, Rendra dan Kaindra

Penjelasan singkat tentang masjid Muhammad Cheng Hoo ini dibuat oleh panitia pembangunan dalam bentuk lukisan dinding di sisi kanan masjid, tepatnya berdampingan tempat wudhu bagi pengunjung laki-laki. Pengunjung juga dapat melihat lukisan laksamana yang bernama lengkap Muhammad Cheng Hoo bersama kapal yang digunakan saat mengarungi Samudera Hindia.

Di situ pula dijelaskan mereka yang terlibat dalam proses pembangunan masjid ini, yaitu atas prakarsa pengurus Yayasan Laksamana Cheng Hoo Jambi yang berdiri pada tanggal 12 Desember tahun 2012 dengan notaris H. Syahrir Tanzi, SH. Adapun pendiri Yayasan antara lain H. Ruslicatong, Hj. Linda Zulpida, H. Megawati (Acu), Mubarok, Marfian Danny (Akim), Helmy, M. Bakri, Serwanto, Muhammad Hendry (Akim), dan alm. H. Ibnu Hajar.

Peletakan batu pertama pembangunan masjid Muhammad Cheng Hoo ini pada 12 Juli tahun 2012 oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) dan disaksikan oleh Ketua DPRD Provinsi Jambi (Efendi hatta), Wali Kota Jambi (Dr. Bambang Priyanto), Ketua MUI Provinsi Jambi (Prof. Hadri Hasan), Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi (Mahbub Daryanto), Wakil Kapolda Jambi (Kombes Kristianto), H. Anton Medan (mantan ketua DPP PITI Jakarta), dan H. Harden Saad (Pendiri Peratusan Islam Tinghoa Indonesia Jambi).  

Tidak hanya itu, di lukisan dinding yang sama terpahat nama tukang fisik masjid ini yaitu Ahmad Yuli dan Slamet Boto (aric) serta tukang pada bagian rangka atap yakni Maulani dan Alm. Hendra Wijaya Fashi, sang mualaf. Melihat hal yang demikian, terlintas di pikiran saya, di luar nama-nama beken para pejabat tersebut di atas, selalu ada “orang-orang kecil” yang sesungguhnya telah berperan besar dalam pembangunan masjid ini.

Apresiasi demikian tentu sesuatu yang baik, dan saya senang mengetahuinya. Bahkan saya yakin masih ada nama-nama tukang lainnya yang belum disebutkan di situ, sekecil apapun peran mereka. Pada mereka semua, apapun latar belakangnya, terima kasih dan penghormatan layak ditambatkan. 

Keterangan Pendirian Masjid Muhammad Cheng Hoo

Tidak terasa dua jam lebih saya bersama Kaindra dan Rendra menyusuri seisi ruangan dan komplek Masjid Laksamana Muhammad Cheng Hoo ini, setelah sebelumnya sempat menunaikan ibadah shalat zuhur bersama untuk kali pertama di masjid ini.

Melihat bangunan ini sejatinya menguatkan pemahaman saya bahwa agama sebagai keyakinan dan budaya sebagai ekspresi yang bersinggungan dengan realitas masyarakat yang majemuk telah menghasilkan kebudayaan yang dinamis sekaligus sarat akan nilai berbeda dalam persaudaraan dan bersaudara dalam perbedaan.  

Dengan demikian, masjid laksamana Muhammad Cheng Hoo ini menegaskan bahwa Islam dalam sejarah panjangnya tidak hadir dalam ruang “kedap suara”, melainkan senantiasa berjumpa dengan ragam budaya di mana ia bertumbuh. Dalam makna tersebut, masjid menjadi simbol perdamaian umat beragama di tengah realitas kebudayaan tanah air yang plural.

*Tulisan ini terbit pertama kali di portal jamberita.com pada Minggu, 25 Juli 2021.

0 Komentar