Corona Berjalan Ke Rumah Kita Melalui Pintu Depan Sebagai Monster yang Tidak Asing

Ilustrasi. Corona Virus. Sumber: theguardian.com

Oleh: Jumardi Putra*

Kekhawatiran saya sepekan ini lebih dari biasanya. Meski tidak semua pasien positif terpapar virus corona bersikap terbuka, tapi sebagian lainnya tidak menutup-nutupinya. Hampir setiap tahapan pengobatan semasa menjalani isolasi di Rumah Sakit diceritakan ke publik. Mereka menulis detail baik melalui lini facebook atau IG dan medium interaktif lainnya. Kerap kali kita yang membacanya ikut merasakan suasana kebatinan mereka. Dari situ kita mengetahui, yaitu setiap orang memiliki kemampuan bertahan (survival) sendiri-sendiri.

Korona bukan aib sehingga tak perlu dirahasiakan. Virus ini membutuhkan media (tubuh) untuk bertahan dan bermutasi. Kerentanan terpapar sangat bergantung pada mobilitas orang per orang, apalagi berkurumunan, dan bahkan bisa bertahan dengan durasi beragam bila melekat pada setiap permukaan benda.

Saya tidak bermaksud menyebarluaskan kepanikan, lebih-lebih di tengah pandemik sekarang ini. Kondisi positif terpapar korona yang dialami rekan kerja maupun sesiapa saja di seantero negeri ini justru membuat saya mawas diri. Ketika berangkat kerja, lebih-lebih bila harus ke luar daerah, saya harus memastikan seluruh perkakas protokol Covid-19, seperti masker, penyanitasi tangan, vitamin C, dan melakukan penjarakan fisik seperti yang dianjurkan. Sepulang kerja juga demikian, saya tidak langsung bercengkrama dengan istri dan anak-anak sebagaimana galibnya. Pakaian yang saya kenakan segera kujeblosin ke dalam mesin cuci, lalu mandi dan barulah kemudian kami berkumpul seperti normalnya. Kebiasaan baru ini, mesti terasa berat, tak lain adalah ikhtiar, selain tentu saja bermunajat memohon pertolongan kepada pemilik kehidupan, Allah SWT.   

Meski jelas berbeda, tetapi dengan kekalutan yang hampir menyerupai, pagebluk korona ini mengingatkan saya pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang begitu hebat sekira lima tahun lalu di wilayah provinsi Jambi dan daerah-daerah lain di tanah air. Meski berjarak cukup jauh dengan lokasi titik api, karena disertai angin kencang, asap pekat tersebut sampai juga ke bedeng, tempat kami sekeluarga tinggal. Langit kota Jambi ketika itu mendung, bukan karena hujan tapi tersebab asap pekat yang bersumber dari ribuan hektar hutan dan lahan yang terbakar.

Masih segar dalam ingatan, sekalipun pintu dan jendela rumah ditutup rapat-rapat, asap tetap bisa menyelinap masuk melalui celah sempit ke dalam rumah. Pernah ventilasi kami tutup, dan tak kepalang suasana di dalam rumah. Sumpek. Kipas angin seolah kehilangan fungsinya. AC pun tak punya. Purna sudah. Mau ke mana menyelamatkan diri? Bandara tutup. Jalanan dipenuhi asap. Kualitas udara beracun. Memilih mengungsi ke daerah tetangga justru keadaannya tidak lebih baik. Ketika itu hari-hari saya membaca dan menonton berita yaitu tidak sedikit anak-anak maupun orang dewasa terkena ISPA, iritasi mata, hidung, tenggorokan, kulit, dan sederet penyakit lainnya. Bahkan, beberapa warga berujung tutup usia. Imbas massif lainnya, sekolah diliburkan, aktivitas penerbangan lumpuh, petani gagal panen, kelangkaan air bersih, dan kekeringan meluas. Puncaknya, roda ekonomi nasional melamban.

Alhamdulillah, meski belum sepenuhnya sirna, kejadian Karhutla tidak lagi berulang di tahun-tahun berikutnya hingga sekarang, karena pemerintah pusat dan pemerintah daerah belajar dari peristiwa mencekam tersebut. Hari-hari ini saya melihat beberapa helikopter bolak-balik melintasi langit Kota Jambi dengan membawa ember berukuran raksasa berisikan air. Terima kasih dan hormat sehormat-hormatnya bagi mereka yang berjibaku di lapangan memastikan agar Karhutla tidak terulang kembali.

Kabut asap menyisakan trauma. Kabut asap, dengan caranya, mengembalikan manusia ke labirin (ke)gagah-gagahan(nya) yang serba lemah. Apatahlagi macam corona, virus kejam tak terlihat ini yang efeknya jauh lebih berbahaya.

Meski sempat melandai usai lebaran Idul Fitri, September berjalan ini jumlah warga terpapar corona terus meningkat. Khusus di Provinsi Jambi, meski tidak secepat IbuKota, lamban namun pasti warga postif korona mengalami peningkatan. Sepekan ini, selain berita, lalu lalang video maupun pesan pendek yang masuk ke dalam aplikasi perpesanan Whatsapp, yakni berisikan pengakuan dari mereka yang positif terpapar korona. Atas keterbukaan mereka jelas saya mengapresiasi, tetapi saya juga tidak menampik, pekerjaan pemerintah pusat maupun daerah masih jauh dari selesai. Pemerintah tidak boleh lengah, apalagi menyepelekan. Belum lagi, Desember mendatang berlangsung pemilihan umum kepala daerah. Kluster baru rentan tercipta bila semua unsur pemerintah dan masyarakat abai terhadap protokol Covid-19.

Ironinya lagi, meski jumlah kasus meningkat, belum terlihat upaya Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Jambi melakukan pengetatan di ruang-ruang publik. Penutupan kantor pun masih dibuat parsial, menunggu korban positif terpapar. Kerja-kerja preventif  belum tampak dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi antara kabupaten/kota dalam provinsi. Situasi sekarang tampak lebih longgar bila dibandingkan masa awal korona ketika mulai memakan korban.

Terlintas di pikiran saya, apa arti virus corona di tengah semua ini?

Situasi sekarang mengingatkan saya pada pandangan Mike Devis, penulis buku The Monster at Our Door: The Global Threat of Avian Flu, yang menyebutkan “Virus corona berjalan ke rumah kita melalui pintu depan sebagai monster yang tidak asing”. Lebih jauh Devis ingin mengatakan, sebagaimana ditulis Arif Novianto, pada prolog buku Slavoj Zizek edisi terjemahan Indonesia (Pandemik Mengguncang Dunia, PIN, Mei 2020), bahwa “monster yang tidak asing” itu adalah wabah yang merupakan hasil dari cara kerja sistem ekonomi kapitalistik kita saat ini. Itu mengapa, monster tersebut tampak akrab, mereka berjalan melalui pintu depan layaknya para tamu yang hendak singgah ke rumah kita. Alih-alih membawa kabar gembira, para tamu itu justru membawa kabar buruk bagi masa depan umat manusia. Kabar buruk yang dibawa ada dua hal, pertama bahwa cara kerja sistem ekonomi kita ini mendorong semakin dekatnya wabah ke kehidupan manusia, kedua sistem berbasis  pada dorongan  akumulasi ini telah merusak kekebalan tubuh sosial (dampaknya ke kekebalan tubuh individual), sehingga menjadikan keberadaan wabah semakin berbahaya.

Kini, dunia berada di titik terlemahnya. Tak pandang bulu, entah itu negara maju maupun berkembang. Virus corona menghantam sendi-sendi kehidupan modern yang dicirikan dengan kecepatan dan keterhubungan yang melewati batas-batas teretorial negara. Ribuan manusia meninggal dunia. Ratusan ribu lainnya terinfeksi virus tak kasat mata ini. Tak heran bila visualisasi planet bumi sekarang ini memerah dirundung corona.

Beragam analisis maupun otokritik terhadap Covid-19 dalam kaitan sistem ekonomi politik global terus bermunculan. Selain Mike Devis di atas tadi, muncul kritik tajam dari Slavoj Zizek, seorang filsuf terkemuka Eropa kontemporer, yang meluncurkan buku berjudul “Pandemic! Covid-19 Shakes the World” April lalu. Bagi Zizek, kondisi global sekarang ini menandai perlunya reorganisasi ekonomi global, yang tidak lagi bergantung pada mekanisme pasar bebas, tapi misalnya ia menyebut pada semacam organisasi global yang dapat mengatur dan mengendalikan ekonomi dunia, yang bisa saja membatasi kekuasaan negara-bangsa.

Masih menurut Zizek, Covid-19 telah memaksa banyak pihak, dalam istilahnya “menemukan kembali komunisme”. Jelas pikiran demikian menimbulkan kontroversi lantaran istilah "komunisme" itu. Namun maksud Zizek sederhana, yaitu situasi pelik yang melanda dunia sekarang ini telah mampu melahirkan solidaritas global di mana perbedaan-perbedaan kelas, agama, etnik, ras, dan sebagainya menjadi tidak berarti, karena kita semua menurut Zizek sedang berusaha mencari solusi, yang melampaui perbedaan identitas tersebut. Solusi yang dibayangkan Zizek adalah masyarakat dengan solidaritas baru, yang berbeda dengan bentuk solidaritas sebelumnya.

Paradoksnya adalah, ketika saat ini digaungkan seruan untuk kerjasama internasional, masing-masing negara terpaksa harus memikirkan kepentingannya sendiri terlebih dahulu untuk bisa bertahan. Ironinya, setiap negara memiliki kemampuan bertahan (survival) sendiri-sendiri, dan tidak sedikit negara yang bakal menderita lebih berat karena kemampuan melenting (resilence) nya rendah. Tak syak, Hukum Darwin survival of the fittest akan berlaku dalam pertempuran melawan Covid-19 ini.

Pandangan Zizek agaknya relevan menjawab paradoks di atas, tetapi itu bukan pandangan final sekaligus mutlak, sebagaimana pandangan dari pemikir lainnya masih terus berdatangan, seperti Yuval Noah Harari dan analis dari Foreign Policy, seperti Stephen M. Walt, Robin Niblett, G. Jhon Ikenberry, dan K. O’Neil, yang memprediksi perubahan tatanan global selepas serangan virus Covid-19. Daya rusak Covid-19 seperti mengganggu pasar dan sekaligus mengungkapkan kompetensi atau ketiadaan pemerintah, menyebabkan perubahan permanen dalam kekuatan politik dan ekonomi dengan cara yang tak terduga. Bagaimana persis prediksi bentuk-bentuk perubahan tersebut, tidak dalam catatan ini saya hamparkan.

Jelas, Covid-19 tidak lagi murni persoalan kesehatan, melainkan juga berimplikasi terhadap sosial, ekonomi dan politik (social, economic and political recovery dari worst case scenario), yaitu akibat terburuk dari gempuran musuh tidak terlihat yang bernama Covid-19 ini. Faktanya, hari-hari ini kita membaca berbagai pendapat ekonom yang menyebutkan, paling tidak, dua hal yang mengancam ekonomi nasional kita, yakni terjadi pendarahan devisa karena modal asing hengkang dari pasar finansial dalam negeri mencari negara yang lebih aman, dan kedua, tingkat konsumsi masyarakat merosot tajam. 

Menilik ke belakang, kita boleh kesal, saat pandemi korona ini pertama kali menjangkiti masyarakat di Wuhan, Cina, pada Januari-Februari lalu, pemerintah Indonesia terkesan menyepelekan, sehingga menghilangkan kesempatan terbaik untuk menyiapkan agenda-agenda preventif maupun promotif ke dalam skema kebijakan dan program/kegiatan yang terencana dan terukur bila virus tersebut menggempur Indonesia. Konsekuensinya, memasuki pekan kedua Maret, dan sempat melandai usai lebaran Idul Ftiri, hingga kembali melonjak tinggi pada September berjalan lini, kita merasakan daya rusak virus ini bagi manusia dan telah memberi efek buruk terhadap sistem ketahanan ekonomi nasional seperti tersebut di atas.

Nasi sudah jadi bubur. Sikap saling menyalahkan tidak ada gunanya. Kritik konstruktif terhadap pemerintah tetap diperlukan. Pengalaman negara kita, Indonesia, menanggulangi wabah korona akan menjadi pelajaran yang penting di mata dunia. Pelbagai kajian telah menunjukkan dampak sosial dan ekonomi yang besar, tetapi dampak politik juga perlu dicermati. Karena itu, di tengah pagebluk corona yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir ini kerja bersama antara pemerintah (pusat dan daerah) maupun seluruh elemen masyarakat sangat menentukan. Perhatian negara, selain pada sektor kesehatan, yang tak kalah penting juga adalah keberadaan mereka yang menggantungkan hidup pada sektor informal.

Sebagai warga Negara, yang bisa kita lakukan adalah mematuhi protokol Covid-19 dan berjejaring membuat gerakan donasi terutama untuk warga terdampak Covid-19. Agaknya, kita bisa belajar pada masyarakat di kota Wuhan, Cina, yang berhasil selama dua bulan pertama mengatasi penyebaran virus mematikan ini. Tentu saja mengehendaki secara persis seperti mereka tak bisa disebabkan banyak faktor. Tetapi yang tampak jelas dari mereka adalah mentalitas untuk bersama-sama melawan wabah virus tak kasatmata ini. Semoga

*Tulisan ini terbit pertama kali di rubrik Perspektif portal kajanglako.com pada Minggu, 27 September 2020.

0 Komentar