Selamat Jalan, Pak Bahsin

Pak Bahsin, Maret 2020. Dok. Penulis


Oleh: Jumardi Putra*

Mendapatkan kabar sahabat sekantor meninggal dunia karena sakit menjadi sesuatu yang semakin sering kita alami, "dan kematian semakin akrab", kata penyair Soebagyo Sastrowardojo.

Belum kering rasanya gundukan tanah yang saban hari disirami air oleh istri mendiang pak Andi Mirdah, tenaga ahli Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jambi, sebagai doa sekaligus cintakasih pada belahan jiwanya (baca: https://www.jumardiputra.com/2020/08/selamat-jalan-kawan.html), kini tetiba kita menerima berita lelayu, pak Bahsin, begitu beliau akrab disapa, dipanggil Allah Azza Wajalla sekira pukul 19.07 WIB dalam usia 54 tahun (Kamis, 20/08/20). Memang, tiga bulan terakhir ini beliau berjuang melawan sakit yang dideritanya, dan harus keluar-masuk rumah sakit maupun berikhtiar melalui jalan pengobatan alternatif. Tentu saja kepergiannya terhitung cepat, tetapi tak ada seorang pun yang dapat menghambat ketetapan Tuhan.

Saya bukan orang yang tergolong dekat, tetapi dalam kesempatan yang tidak terlalu banyak bergaul dengan almarhum, memiliki beberapa ingatan pengalaman tersendiri yang bagi saya penting untuk dikenang.

Masih segar dalam ingatan saya, dan saya yakin teman-teman sekantor tahu, dalam rentang Februari-Maret 2020, pak Bahsin tanggap menghimpun setiap usulan bantuan masyarakat melalui anggota DPRD Provinsi Jambi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Beliau tergolong aktif mengirim foto kepada saya tahap per tahap pemindaian proposal bantuan melalui gawai. Semua tahapan dilalui penuh tanggung jawab. Meski saya tahu kondisi fisiknya tidak lagi prima. Tak jarang, beliau harus bolak-balik Kumpeh Ulu-Telanaipura demi memastikan usulan masyarakat yang tentu saja menyita waktu, menguras energi dan pikiran yang mesti berdamai dengan keadaan. Belum lagi tugas-tugas lain dirinya sebagai sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Provinsi Jambi.

Saya yakin, di luar tempat beliau bekerja selain sebagai Tenaga Ahli Fraksi PKB yang belum genap setahun ini, ada banyak sanak-saudara, warga sedusun, komunitas dan institusi, tempat beliau berdialektika dan berkontribusi hingga tutup usia, merasakan kehilangan akan kepergiannya. Hanya doa terbaik yang kita pinta pada Tuhan dan kenangan baik beliau semasa hidup yang dapat kita kenang.

Benar saja, Jumat, 21 Agustus 2020, jelang almarhum dikebumikan, sebagai wujud penghormatan terakhir untuknya, kediaman almarhum ramai didatangi oleh warga, sanak saudara, handai taulan, dan kawan seprofesinya, tak terkecuali rekan-rekanya dari DPW PKB Provinsi Jambi. 

Saya pun sempat bercakap-cakap dengan K.H. Yahya A. Kadir, ketua Dewan Syuro PKB Provinsi Jambi. Di mata K.H. Yahya, begitu beliau akrab disapa, pak Bahsin merupakan pribadi ulet. Tak banyak cakap. Semasa bekerja sebagai kepala kantor DPW PKB Provinsi Jambi, pak Bahsin melaksanakan tugasnya dengan baik. Administrasi kantor DPW PKB Provinsi Jambi menjadi tertata rapi berkat kerja kerasnya. “Kami betul-betul kehilangan sosok beliau. Semoga amal baik almarhum semasa hidup diterima di sisi Allah SWT dan segala kesalahan beliau diampuni oleh SWT. Beliau orang baik,” imbuh Kiai sepuh yang juga sehari-hari menjadi imam Mesjid Raya Megatsari, Kecamatan Pasar Jambi ini.

Hal senada diungkapkan perwakilan warga Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Uluh, Kab. Muarajambi, saat memberangkatkan jenazah dari rumah duka menuju masjid untuk dishalatkan.  Pak Bahsin dikenal warga sebagai imam shalat dan guru mengaji di Mesjidurrahmat, Dusun I, Desa Pudak, tempat Pak Bahsin beserta istri dan ketiga putrinya tinggal.

Satu lagi, saya yakin sebagian teman-teman TA DPRD Provinsi Jambi masih ingat, keripik pisang yang sengaja beliau kirimkan melalui puteri sulungnya untuk teman-teman, segera ditunaikannya tak lama setelah mengetahui  sebagian dari kita (ayo masih ingatkan siapa itu) menginginkan keripik pisang yang gurih dan enak itu. Tak kepalang bahagia almarhum mengetahui sebagian dari kita menyantapnya bersama-sama dengan penuh sukacita. Di sini, di ruang TA yang melegenda itu.

Kebaikan tetaplah kebaikan. Menyertai kalimat tayyibah yang diucapkan para petakziah, usai mendiang dishalatkan dan menuju peristirahatan terakhir, menyembul di hati saya kalimat menggugah penyair Mesir, Abd Al-Rahman Shukri, “Hidup tak lain dari kematian demi kematian melulu. Kebaikan dan kesenangan hanya pinjaman, lekas berlalu.”

Selamat jalan, Pak Bahsin. Bahagialah engkau di sisi Allah SWT. Kami yang kau tinggalkan hanya menunggu giliran. Entah kapan pastinya. Terimakasih atas pertemanan dan budi baiknya.

*Kota Jambi, Jumat, 21 Agustus 2020.

0 Komentar