Suatu Siang di Telanaipura, di Penghujung Agustus yang Mencekam

Mobil Dinas DPRD Provinsi Jambi dibakar massa aksi (29/8)


Oleh: Jumardi Putra

Pekik seruan revolusi mengiringi unjuk rasa di Gedung DPRD Provinsi Jambi yang berujung ricuh akibat serangan massa yang sukar diidentifikasi. Aksi meluas menjadi anarkis saat lemparan batu dan kayu memecahkan kaca lobi, merusak ruang kerja, serta melukai bagian kepala dan wajah sejumlah personel kepolisian. Anarki kian memuncak ketika satu unit mobil dinas berplat merah dibakar hingga meledak, kendaraan sekitar rusak dilempari, baliho jumbo Gubernur/Wagub dibakar, serta pagar besi dan relief sejarah dirusak lalu dijarah. Meski polisi berkali-kali melontarkan gas air mata untuk mengurai kerumunan dan memfasilitasi mediasi, aksi massa tak kunjung mereda di tengah suasana riuh yang sulit terkendali.


Siang itu, sekitar pukul 13.25 WIB, dering telepon dari Noki Hidayat, Kepala Bagian Persidangan SETWAN DPRD Jambi, memecah ketenangan (Jumat, 29/8/25). Ia meminta saya segera datang ke kantor untuk mendampingi Pimpinan DPRD yang berniat menerima audiensi dari aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil. Pada dasarnya, lembaga wakil rakyat ini siap membuka diri dan mendengarkan aspirasi maupun autokritik.

Saya pun segera memacu sepeda motor menembus jalanan Kota Jambi. Lalu lintas dari arah Beliung (Jalan 16) menuju Telanaipura awalnya nampak biasa saja. Namun, saat melintas di depan kampus Universitas Jambi (UNJA) Telanaipura, atmosfer riuh mulai terasa; barisan motor mahasiswa memadati area parkir hingga halaman depan kafe di seberangnya, siap bergerak menuju titik kumpul di perempatan Bank Indonesia dan Bank Jambi.

Tiba di kantor sekira pukul 13.45 WIB, suasana internal di lantai atas gedung masih terbilang kondusif. Staf bagian Produk Hukum Sekretariat DPRD sudah bersiap di depan ruang Ketua, yang di dalamnya sudah berkumpul seluruh pimpinan. Di lantai dasar dan halaman luar gedung, puluhan polisi berjaga santai di sekitar mobil medis, patroli, hingga armada water cannon. Tak ada barikade beton yang dipasang, seolah unjuk rasa ini diperkirakan akan berjalan seperti aksi damai pada umumnya. 

Informasi mengenai gerakan Aliansi Masyarakat Sipil dan Mahasiswa Jambi Melawan bertagar #tolakbayarpajak dan #bubarkandpr sebenarnya sudah beredar luas di berbagai kanal media sosial dan bilik perpesanan WhatsApp sejak sehari sebelumnya, mengonsolidasikan civitas akademika dari kampus-kampus besar seperti Universitas Jambi, Universitas Islam Negeri STS Jambi, Universitas Batanghari, Universitas Nurdin Hamzah, Universitas Muhammadiya Jambi, STITEKNAS, UNDABA, UNAJA, Poltekkes, hingga STIKBA Jambi.

Demonstrasi di Gedung DPRD Provinsi Jambi (29/8). Dok. Penulis

Namun, kedamaian itu runtuh dengan cepat begitu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 13.55 WIB. Gelombang massa mengalir deras dari arah perempatan BI memasuki pekarangan gedung DPRD melalui pagar patung Angso Duo. Di antara barisan mahasiswa beralmamater, terselip gerombolan remaja berpakaian bebas yang bergerak jauh lebih agresif. Tanpa diduga, suara benturan keras menggema; hujan batu beterbangan merusakkan kaca lobi gedung. Kepanikan langsung pecah. Aparat kepolisian tergopoh-gopoh mengambil posisi bertahan, sementara para pegawai Setwan dan Anggota DPRD yang tengah bersiap rapat pembahasan Perubahan KUA-PPAS APBD 2025 di Ruang Badan Anggaran terpaksa membatalkan agenda dan berlarian menyelamatkan diri lewat pintu belakang. Saya sendiri belum lama memasuki Ruang Banggar, lalu segera meninggalkannya searah unjuk rasa yang mulai anarkis. Begitu juga Sekretaris Dewan dan Pimpinan DPRD telah meninggalkan kantor untuk selanjutnya berkoordinasi dengan jajaran Forkopimda.

Memasuki pukul 14.40 WIB, setelah mengamankan sepeda motor dari arah parkiran bagian dalam gedung (dekat ruang TU dan Humas) menuju ke halaman kantor BAPPEDA, saya melangkah mendekati pusat pergerakan. Di tengah situasi yang makin panas, tampak beberapa pedagang minuman dingin dengan santainya menjajakan es teh dan air mineral di depan gedung BAPPEDA dan bahkan sebagian merangsek masuk ke tengah peserta demo. Tak pelak, massa pengunjuk rasa yang kehausan di bawah terik matahari membeli air dijaja pedagang.

***

Kembali ke arah lobi utama, aksi pengrusakan kian bertambah parah. Beberapa pemuda memanjat teralis besi untuk merusak kamera CCTV yang terpasang di atas pintu utama gedung DPRD. Karena pintu utama terkunci rapat, massa mengalihkan sasaran ke sisi kiri gedung hingga berhasil menjebol pintu masuk di sebelah Ruang Badan Musyawarah (Banmus), merusak interior di dalamnya, serta memecahkan kaca Ruang Perpustakaan dan Ruang Tenaga Ahli/Kelompok Pakar DPRD.

Poster Unjuk Rasa

Tak lama kemudian, raungan mesin water cannon dan letupan gas air mata membubung ke udara, mendesak massa mundur ke arah lapangan Kantor Gubernur Jambi. Kepulan asap putih terbawa angin hingga membuat mata saya terasa terbakar hebat dan dada sesak. Dalam kepanikan itu, seorang jurnalis TV lokal menghampiri dan menyodorkan pasta gigi untuk dioleskan di bawah mata, perlahan memberikan rasa dingin hingga saya bisa bergeser mundur ke arah Pos Satpam Kantor Gubernur.

Lepas azan Asar berkumandang sekitar pukul 16.15 WIB, bentrokan sempat mereda sejenak. Di sudut pelataran gedung, seorang polisi berseragam pengaman lengkap merebahkan tubuhnya yang letih di pelataran lobi gedung. Dengan napas terengah, ia bergumam tentang dilema yang mereka hadapi di lapangan: rasa lelah dan marah yang terperangkap dalam kondisi serba salah, mengingat ketegangan nasional pasca-tewasnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, akibat terlindas mobil rantis Brimob di Jakarta malam sebelumnya (28/8). Banyak orang di luar peserta demonstrasi ikut mendengarkan dilema sang polisi, tidak terkecuali Kasubag Humas dan Protokol SETWAN DPRD Jambi.

Kondisi Gedung DPRD Provinsi Jambi rusak oleh demonstran (29/8)

Aksi anarkis di gedung DPRD Provinsi Jambi. Sumber foto: inews.id

Namun, jeda itu tidak berlangsung lama. Massa kembali bergerak agresif, merobohkan pagar di dekat videotron DPRD, lalu tanpa ragu membakar satu unit mobil dinas Toyota Innova berplat BH 1346 Z dan melempar kendaraan lainnya yang terparkir di dekatnya. Kobaran api dan asap hitam membubung tinggi, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh petugas Damkar setengah jam kemudian. Di saat yang sama, jagat media sosial riuh memperlihatkan aksi unjuk rasa di berbagai daerah lain yang juga berujung kerusuhan. Beberapa Brimob dilengkapi motor mengejar para demonstran yang mulai berlarian hingga keluar komplek kantor Gubernur Jambi, terutama berlarian di sepanjang jalan Jenderal Ahmad Yani, Telanaipura.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.55 WIB ketika saya bersama Kabag Persidangan membersamai para petugas dan Satpam memindahkan sisa kendaraan dinas lain ke lokasi aman. Dari musala kantor, lantunan ayat suci Al-Qur'an terus berkumandang, berpadu dengan upaya mediasi yang dipimpin Kapolresta Jambi untuk mengurai massa yang menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang ditahan.

Tepat pukul 17.10 WIB, saya memutuskan melangkah keluar dari kompleks perkantoran dan melaju pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, bayangan mobil yang hangus terbakar dan serakan pecahan kaca terus menyelinap dalam ingatan. Hari Jumat itu berakhir dengan sebuah pertanyaan besar yang menggantung di kepala: tentang betapa tipisnya batas antara perjuangan menyampaikan aspirasi dan luapan api kemarahan massa ketika krisis kepercayaan publik kepada pejabat maupun elite politik negeri ini telah memuncak.

***

Bukannya mereda, demonstrasi berlanjut hingga malam hari dengan massa yang berbeda dibanding aksi pagari hari.Bahkan, aksi massa kali ini kian mencekam di sepanjang jalan protokol Jenderal Ahmad Yani. Beberapa Brimob dilengkapi motor beberapa kali mengejar para demonstran agar menjauh dari komplek kantor Gubernur Jambi dan gedung DPRD Provinsi Jamb hingga mereka meninggalkan jalan Jenderal Ahmad Yani. Saya tidak berada di dekat peristiwa itu, kecuali mengikuti laporan para jurnalis dan informasi dari pelbagai kanal media sosial yang mengabarkan aksi tersebut.


*Kota Jambi, 28-1 September 2025

*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Quo Vadis BUMD PT Jambi Indoguna Internasional (JII) ?

2) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025

3) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi

4) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?

5) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan

6) Pilgub Jambi 2024 dan Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan

7) Prabowo, Sang Bibliofil

8) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi

9) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023

10) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024

11) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023

12) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023

13) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024

14) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023

15) Dua Tahun Jambi Mantap Al Haris-Sani, Sebuah Timbangan

16) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan

17) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar

18) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini

19) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi

20) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi

21) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi

22) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai

23) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik

24) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park

25) Kode Keras "Palu Godam" KPK di Jambi

26) Menguji Kebijakan Anti Korupsi Al Haris-Sani

27) Menyingkap Tabir Disertasi Sekda Provinsi Jambi

Posting Komentar

0 Komentar