Mereka Pulang Sebagai Orang yang Sama Seperti Sebelum Pergi



Oleh: Jumardi Putra*

Di banyak lokasi wisata, budaya dan tempat-tempat bersejarah, saya kerap mencermati sikap pengunjung datang tidak untuk mengamati keistimewaan alam, karya budaya dan dinamika kehidupan orang-orang di sekitarnya. Umumnya mereka sekedar selfie dan bergaya dengan latar belakang lingkungan, keindahan alam dan pernah-pernik budaya yang asing dan eksotik, lalu diabadikan sebagai konten story instagram dan media sosial lainnya. 

Selfie kerapkali dianggap sebagai gejala budaya yang terobsesi pada diri sendiri dan, beberapa berpendapat, kemunduran masyarakat - tapi selfie memiliki implikasi budaya yang jauh lebih dalam yang membuat stereotip tersebut semakin kompleks.

Kecenderungan warganet yang digambarkan berwatak “selfie” nyatanya tidak saja pada tempat-tempat wisata dan lokasi bersejarah (duniawi), tapi juga kerap kita jumpai saat pelaksanaan ritus keagamaan di tempat-tempat suci.

Mencermati orang-orang yang berjalan di tempat yang sangat indah maupun sikap saat berada di tempat-tempat suci sambil bercakap-cakap di ponsel atau scrolling media sosial sejatinya menegaskan bahwa mereka memang hadir (secara fisik) di tempat itu, tapi pada dasarnya juga absen.

Pernah suatu ketika, alih-alih duduk merenung di dekat pantai atau memandang dengan kagum bentangan alam pegunungan ciptaan Tuhan, saya melihat para pengunjung baik kalangan dewasa maupun anak-anak muda terobsesi mengambil foto pemandangan demi pemandangan. Bukannya membiarkan pemandangan itu menemukan tempat yang intim di dalam pikiran dan hati mereka, tapi justru menjarakkan diri mereka darinya. Tak syak, alam pun menjadi realitas yang disimulasikan. Di akhir cerita, mereka pulang ke daerah (rumah) sebagai orang yang sama seperti sebelum pergi.

Sulit menyangkal bahwa kehidupan perkotaan dan teknologi yang menyerap seluruh perhatian kita telah mengasingkan kita dari alam, sehingga bahkan film-film yang mengangkat kekhawatiran masa depan umat manusia akibat perubahan iklim barangkali gagal untuk menjangkau sanubari kita yang terdalam.

Hal penting dari setiap perjalanan, tidak terkecuali kunjungan ke lokasi wisata dan budaya serta tempat-tempat suci, bukan semata peristiwa perpindahan fisikal dari satu tempat ke tempat (place) lainnya (sehingga disebut orang super sibuk), tetapi lebih dari itu adalah kemampuan kita memaknai ruang (space) yang penuh seluruh di sana. Dalam konteks demikian itu, tempat yang kita kunjungi adalah “ruang kelas” baru bagi kita mengenal orang lain beserta ekspresi kebudayaan dan seluruh dimensi yang membersamainya.

Gayung bersambut, di era serba terhubung sekarang ini, plus kemudahan akses serta intensitas yang tinggi orang-orang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, diperlukan sebuah paradigma bertemunya makna perihal tempat (place) dan ruang (space) sekaligus. Dengan demikian, kita tidak tergolong ke dalam manusia global tapi terkurung di dalam tempurung.

*Kota Jambi, 7 November 2023.

0 Komentar